Headlines News :

Latest Post

Menentang Pengesahan dan Pemberlakuan UU Cipta Kerja Sebagai Alat Imperialis untuk Memassifkan Perampasan Hak Klas Buruh, Kaum Tani, dan Masa Depan Pemuda Mahasiswa

Written By PP FMN on Minggu, 11 Oktober 2020 | 00.24




Salam Demokrasi!

Rezim Joko Widodo semakin memperterang dirinya sebagai pelayan setia kepentingan imperialis dengan mengesahkan RUU Omnibus Law Cipta Kerja melalui sidang paripurna DPR RI pada 5 Oktober 2020. Dengan pengesahan UU Omnibus Law Cipta Kerja maka, borjuasi besar komprador dan tuan tanah besar akan semakin leluasa menghisap dan menindas rakyat.

Pengesahan UU Cipta Kerja pun dilakukan dalam situasi pandemi Covid-19. Dengan kehancuran ekonomi hingga minus 2,7% di kuartal III, Indonesia telah masuk dalam jurang krisis ekonomi. Dampaknya secara cepat meluas, terjadi gelombang PHK besar-besaran akibat krisis Imperialisme yang sudah semakin akut, 30 juta usaha kecil tutup, hingga bertambahnya beban penghidupan rakyat. Pemerintah Jokowi sebagai pelayan Imperialis AS tidak memiliki daya apapun selain menyuap rakyat miskin dengan Bantuan Sosial, serta program yang dihasilkan dari utang luar negeri.

Perampasan hak klas buruh sudah sejak lama di rampas, bahkan UU No.13/2003 tentang Ketenagakerjaan dan PP. 78/2015 tentang Pengupahan pun telah melegitimasi perampasan hak buruh. Front Mahasiswa Nasional (FMN) berpendirian bahwa UU Cipta Kerja akan semakin memperburuk kondisi klas buruh yang sudah buruk, semakin memiskinkan rakyat yang telah lama hidup miskin. UU Cipta Kerja semakin memassifkan pemangkasan upah dengan penghapusan UMK dan UMSK digantikan dengan upah berdasarkan satuan waktu. Semakin mempermudah fleksibilitas ketenagakerjaan melalui kemudahan sistem kontrak  dan outsourching bagi semua jenis pekerjaan, ditambah dengan keleluasaan pengusaha mengatur jam kerja, termasuk memperpanjang waktu lembur, serta terus meningkatkan gelombang PHK. Terus diperburuk dengan perampasan hak pesangon yang semula 32 bulan upah menjadi hanya 25 bulan. Sementara perempuan buruh yang melakukan cuti haid, hamil dan melahirkan upahnya tidak dibayarkan. Sementara di sisi lain perlindungan dan keistimewaan yang semakin besar bagi pengusaha-pengusaha besar terus diberikan oleh pemerintah.

UU Cipta Kerja sejatinya akan memperkuat sistem pertanian terbelakang yang berbasis pada monopoli tanah di perdesaan. Tuan tanah besar mendapat keleluasaan untuk mengeksplotasi tanah dan kaum tani. Alasan bahwa UU Cipta Kerja akan membuka akses luas bagi lapangan pekerjaan yang layak bagi rakyat hanya ilusi dari pemerintah. Kaum tani justru terus terjebak pada semakin meluasnya monopoli tanah. Akibatnya, kaum tani terbelenggu dengan beban sewa tanah yang tinggi. Karena bagi tani miskin dan tani sedang lapis bawah, kepemilikan tanah yang kecil memaksanya untuk menyewa tanah kepada tuan tanah dengan harga yang tinggi. Sedangkan bagi buruh tani, upah yang rendah dan beban kerja yang berat akan semakin diperkuat dengan UU Cipta Kerja. Kaum tani juga terjebak dengan praktik peribaan yang dilakukan oleh tuan tanah. Lilitan riba terus mengikat kaum tani pada kemiskinan. Sementara itu, akibat dominasi imperialis hingga ke pedesaan, menjadikan kontrol harga input dan output pertanian dimonopoli oleh perusaahan besar dan negara. Membuat kaum tani lebih sering merugi dalam produksinya. Ditambah dengan keterbelakangan alat produksi pertanian yang terus dipertahankan. UU Cipta Kerja akan mempertahankan sistem pertanian terbelakang dengan segala bentuk penghisapan kepada kaum tani.

UU Cipta Kerja juga berdampak pada sektor pendidikan. Masalah umum pemuda-mahasiswa tetap berbasis pada monopoli tanah dan tidak adanya industri nasional yang mandiri dan bebas dari intervensi imperialis. Di mana, monopoli tanah adalah penghambat utama dari tumbuh kembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Sistem pendidikan Indonesia hanya mempertahankan pengetahuan usang dan teknologi terbelakang. Kaum intelektual yang ingin maju, memiliki pandangan progresif dan berpihak pada rakyat tidak mendapat ruang untuk berkreasi ilmiah dan mencipta. Kondisi tersebut menjadi semakin buruk dengan UU Cipta Kerja yang seiring dengan skema Kampus Merdeka ala Menteri Nadiem Makarim. Skema ini berupa kampus-kampus membuka luas kerjasama dengan korporasi milik imperialis dan borjuasi besar. Melalui kebijakan tersebut, mahasiswa dipaksa untuk membayar uang kuliah yang mahal hanya untuk menjadi buruh magang, kontrak jangka pendek tanpa pernah mendapat penghargaan dan apresiasi bagi ilmu pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki.

Majukan Perjuangan Mahasiswa Bersama Klas Buruh dan Kaum Tani untuk Pembebasan Sejati Rakyat Indonesia

Perjuangan demokratis nasional adalah jalan keluar bagi penderitaan rakyat dari penghisapan dan penindasan. Menjalankan reforma agraria sejati adalah perjuangan yang terutama dahulu harus dimenangkan oleh rakyat Indonesia. Kaum tani sebagai kekuatan pokok harus terus dimajukan kesadarannya dan dilipatgandakan keterlibatanya dalam perjuangan menghancurkan monopoli tanah. Penghancuran monopoli tanah dan sistem pertanian terbelakang akan membuka jalan bagi pembebasan klas dan sektor rakyat lainnya, sekaligus menghancurkan basis sosial pijakan imperialis di Indonesia.

Bagi klas buruh, harus membangun kesadaran yang luas untuk merelakan kaum tani terbebas lebih dulu dari penghisapan feodal. Klas buruh harus mendukung dan memimpin kaum tani dalam menjalankan reforma agraria sejati untuk menghancurkan monopoli tanah. Bahkan klas buruh juga memiliki tanggung jawab untuk terlibat secara langsung dalam pengorganisasian kaum tani di perdesaan, membangun organisasi tani hingga terlibat perjuangan menghancurkan monopoli tanah. Dengan itu, maka perjuangan buruh untuk pembangunan industri nasional menemukan syarat objektifnya untuk dibangun secara mandiri dan terbebas dari dominasi serta intervensi imperialis dalam bentuk investasi maupun utang.

Sementara itu, bagi gerakan mahasiswa terdapat dua tugas utama di Indonesia. Pertama , memperkuat dan memajukan perjuangan yang intensif di dalam kampus. Gerakan mahasiswa harus mampu menarik dukungan dari jutaan mahasiswa di berbagai kampus. Kampus yang semakin komersil dan anti demokrasi harus dilawan dengan gerakan mahasiswa yang militant dan memiliki perspektif maju. Tuntutan atas pemenuhan hak demokratis mahasiswa harus dimenangkan dengan gerakan massa. Saat ini semakin jelas, bahwa pemerintahan Jokowi terus berupaya melakukan pasifikasi dan depolitisasi terhadap mahasiswa. Upaya reformisme yang mengaburkan serta menumpulkan perjuangan harus dilawan dan dihilangkan dari gerakan mahasiswa.

Kedua, gerakan mahasiswa harus bertalian erat dengan perjuangan rakyat. Jalan terbaik dan paling utama yang harus dilakukan oleh FMN maupun seluruh unsur Gerakan mahasiswa adalah melibatkan dirinya secara aktif dalam pembangunan dan perjuangan Gerakan tani di pedesaan dan Gerakan buruh di perkotaan.

Terbebasnya kaum tani dari monopoli tanah dan penghisapan feodal adalah syarat mutlak majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan lebih jauh lagi adalah pintu untuk memastikan jaminan masa depan bagi mahasiswa. Kita ketahui bersama sistem pertanian terbelakang merupakan bentuk yang terus dipertahankan untuk menindas dan menghisap kaum tani , Sehingga dengan datang terintegrasi ke pedesaan, mahasiswa secara langsung dapat mengabdikan skill, pengetahuan teori, dan pengalaman kerjanya untuk mendukung kaum tani. Dengan demikian, semakin banyak dan kuat mobilisasi dari Gerakan mahasiswa untuk membangkitkan kaum tani, maka akan semakin cepat pula kemenangan terwujudnya reforma agrarian sejati dapat diraih.

Begitu juga dukungan serta keterlibatan gerakan mahasiswa dalam memajukan dan memperbesar gerakan buruh di perkotaan. Gerakan mahasiswa harus aktif ambil bagian dalam pengorganisasi gerakan buruh, terlibat dalam perjuangan klas buruh dan menjadi topangan untuk melawan imperialisme dan tindasan fasis.

Atas dasar itu,Front Mahasiswa Nasional (FMN) menyatakan sikap dan tuntutan sebagai berikut:

  1.   Menentang Pemberlakuan dan pengesahan UU  Cipta Kerja! 
  2. Hentikan segala bentuk tindak kekerasan, intimidasi, penangkapan dan kriminalisasi terhadap rakyat! Bebaskan seluruh rakyat yang ditangkap tanpa syarat!
  3. Berikan konpensasi dan jaminan keselamatan rakyat akibat dampak pandemi Covid-19 dengan pelayanan dan akses kesehatan serta pendidikan yang gratis dan berkualitas!
  4. Hapuskan peribaan di pedesaan! Perbaiki harga komoditas dan keperluan hidup kaum tani serta rakyat Indonesia!
  5. Bagi hasil yang adil bagi penggarap serta upah buruh tani yang lebih baik di perkebunan besar kayu, karet, gula, sawit, serta komoditas ekspor lainnya milik imperialis dan tuan tanah besar nasional!
  6. Menolak segala skema liberalisasi, privatisasi, dan komersialisasi pendidikan serta menuntut diberlakukannya sistem pendidikan yang ilmiah, demokratis, dan mengabdi kepada rakyat!

Front Mahasiswa Nasional dalam momentum ini juga menyerukan kepada seluruh pemuda- mahasiswa untuk memperkuat persatuan dengan klas buruh dan kaum tani demi memajukan perjuangan rakyat melawan pengesahan UU Cipta Kerja dan seluruh tindasan dari rezim Jokowi.


Jakarta, 7 Oktober 2020

Lawan Pemberlakuan Undang-Undang Cipta Kerja Singkirkan Penghalang Baru Land Reform Sejati Dan Industri Nasional

Written By PP FMN on Sabtu, 10 Oktober 2020 | 22.57



Sejak berada di bawah dominasi imperialisme di awal abad 20, bangsa dan rakyat Indonesia telah menghadapi krisis kronis, yang semakin parah saat krisis dunia imperialis mengalihkan bebannya ke negeri setengah koloni seperti Indonesia.

Di tengah pandemi COVID-19, krisis kronis ini semakin tidak tertanggungkan oleh rakyat Indonesia. Pemerintahan Presiden Joko Widodo (JOKOWI) tidak sanggup mengatasi masalah pandemi COVID-19 selain dengan menambah beban utang baru mencapai 400-600 Trilyun, merampas kebebasan politik, dan pertumbuhan ekonomi mencapai minus 2,7%. Rakyat semakin sulit menafkahi keluarganya. Rakyat yang kehilangan dan terancam kehilangan pekerjaan semakin banyak. Para pekerja yang bergantung pada pendapatan harian, seperti sopir, pedagang kecil dan pekerja serabutan yang kehilangan mobilitas selama Pandemi COVID-19 semakin kehilangan syarat bertahan hidup.

Pemerintahan JOKOWI tidak bisa memenuhi keperluan mendesak rakyat untuk hidup serta menggantikan kehilangan pendapatan dan upah serta kebebasan lainnya. Jalan keluar yang ditempuh oleh Pemerintah Joko Widodo, tetaplah utang luar negeri dan investasi asing melalui pemberlakuan penuh kebijakan neo-liberal di Indonesia, salah-satunya, pembuatan Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja yang telah selesai dibahas di DPR dan tinggal menunggu pengesahan kembali Presiden.

Undang-Undang ini jelas adalah upaya baru untuk merintangi tuntutan mendesak rakyat untuk land reform sejati dan industri nasional, bagi gerakan pembebasan bangsa dan rakyat Indonesia dari dominasi imperialisme. Dalih pemerataan lapangan kerja digunakan untuk mempercepat dan memperkuat monopoli tanah melalui pembangunan infrastruktur strategis nasional, perluasan perkebunan skala luas, food estate, corporate farming, pertambangan besar, taman nasional berkedok konservasi. Kaum tani, nelayan, masyarakat adat dan suku bangsa minoritas di Indonesia, akan semakin dirampas tanah dan kekayaan alamnya, dan hanya akan menjadi buruh dengan upah sangat murah atau tani miskin yang dipaksa hidup dalam sistem pertanian skala kecil dan terbelakang dibawah dominasi tuan tanah besar.

Penerapan Undang-Undang ini juga terang-terangan akan merampas hak-hak dasar ekonomi seperti upah, memperpanjang jam kerja, memperburuk kondisi kerja, mempermudah dan menghilangkan kompensasi pemutusan hubungan kerja (PHK), memperpendek waktu untuk proses perizinan bagi imperialis dan kaki tangannya untuk berusaha di Indonesia, dan mempermudah kebebasan bagi tenaga kerja asing bekerja di Indonesia. Seluruh skema perampasan tanah dan upah berkedok lapangan kerja dan pembangunan sepenuhnya ditopang oleh kapital produktif-investasi dan kapital utang milik imperialis dan kembali terakumulasi bagi kekayaan imperialis, khususnya imperialisme dunia pimpinan AS.

Pemerintahan Jokowi memanfaatkan ketakutan rakyat pada Covid-19, “isolasi diri” di rumah-rumah, berharap tidak akan mendapatkan perlawanan yang berarti dalam membahas dan mengesahkan Undang-Undang Cipta Kerja. Di luar dugaan pemerintahan Presiden JOKOWI, gerakan massa demokratis nasional dan gerakan lainnya di lebih dari 40 Kabupaten dan Kota mengekspresikan perlawanannya atas pengesahan UU Cipta Kerja. Klas buruh, kaum tani, dosen, mahasiswa, pemuda, pelajar, perempuan, artis bahkan klik reaksioner yang sedang mempersiapkan dirinya untuk pemilihan umum presiden dan pemilihan lokal ikut menentang penetapan undang-undang ini dengan melakukan aksi di jalan-jalan, kantor pemerintahan maupun di berbagai media sosial.

Alih-alih menjawab dan membatalkan UU Cipta Kerja, Pemerintah Joko Widodo justru mengintimidasi, menangkap, menganiaya buruh, kaum tani, mahasiswa dan rakyat lainnya yang menentang pengesahan UU ini. Para pelajar dipukuli, ditembak dengan gas air mata, dan ditangkap.

Aksi massa di berbagai daerah menjadi ekspresi ketidakpercayaan dan pertentangan nyata massa rakyat terhadap Pemerintah Joko Widodo yang semakin menunjukkan wajah sejatinya sebagai pelayan kapitalis monopoli internasional. Pengajuan dan berikutnya pengesahan UU Cipta Kerja oleh DPR menjadi bukti bagi rakyat bahwa Pemerintahan Jokowi tidak akan memperjuangkan aspirasi sejati rakyat Indonesia untuk land reform sejati dan industri nasional, melainkan penyedia instrument hukum untuk memfasilitasi kepentingan kapitalis monopoli internasional yang disokong oleh Borjuasi Besar Komprador dan Tuan Tanah Besar di dalam negeri.    

Dengan pandangan di atas, kami organisasi yang tergabung di dalam Front Perjuangan Rakyat (FPR) menyatakan Menentang Pemberlakuan Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law) oleh Pemerintahan Presiden Joko Widodo, dan menuntut:

  1. Hentikan segala bentuk kekerasan, intimidasi, penangkapan, dan kriminalisasi terhadap rakyat. Bebaskan seluruh rakyat yang ditangkap tanpa syarat!
  2. Berikan kompensasi dan jaminan keselamatan rakyat akibat dampak Pandemi Covid-19 dengan pelayanan dan akses kesehatan dan pendidikan gratis dan berkualitas!
  3. Hapuskan Peribaan di Pedesaan! Perbaiki harga komoditas dan harga keperluan hidup kaum tani dan rakyat Indonesia!
  4. Bagi Hasil yang adil bagi para penggarap dan upah buruh tani yang lebih baik di perkebunan besar kayu, sawit, karet, gula, komoditas ekspor lainnya milik Imperialis dan Tuan Tanah Besar tingkat nasional!
  5. Jalankan Landreform sejati dan bangun industri nasional yang mandiri sebagai solusi ekonomi bagi rakyat Indonesia!

Kami menyerukan seluruh rakyat Indonesia, klas buruh, kaum tani, nelayan, pemuda, mahasiswa, perempuan, pelajar, pekerja seni dan seluruh kaum profesional untuk terus memperkuat dan memperluas perlawanan rakyat Indonesia melawan pengesahan UU Cipta Kerja, dan berjuang lebih gigih untuk mewujudkan land reform sejati dan industri nasional untuk kesejahteraan rakyat.

 

Jakarta, 11 Oktober 2020

Hormat kami

Front Perjuangan Rakyat (FPR)

 


Rudi HB. Daman

Koordinator Umum

Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI), Pemuda Baru Indonesia (PEMBARU-Indonesia), Front Mahasiswa Nasional (FMN), Serikat Perempuan Indonesia (SERUNI), Serikat Demokratik Mahasiswa Nasional (SDMN), Keluarga Besar Buruh Migran Indonesia (KABAR BUMI), Institute for National and Democracy Studies (INDIES)



Kecaman untuk Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin

Written By PP FMN on Jumat, 25 September 2020 | 00.33

Hentikan Kekerasan dan Intimidasi, Serta Bebaskan Massa Aksi yang Ditangkap dalam Peringatan Hari Tani Nasional 2020 




Peringatan Hari Tani Nasional 2020 diwarnai dengan berbagai penangkapan dan pembubaran paksa massa aksi oleh pihak kepolisian. Penangkapan dan pembubaran paksa hingga kekerasan ini terjadi di empat kota di Indonesia, Makassar, Bengkulu, Solo, dan Kupang.

Di Kota Makassar terjadi pembubaran paksa dan penangkapan terhadap 26 orang massa aksi dari aliansi Gerak Makassar yang melakukan aksi di DPRD Provinsi. Hal lebih brutal terjadi di Solo, di mana pihak kepolisian melakukan tindak kekerasan berupa pemukulan, pengrusakan kendaraan peserta aksi, hingga menangkap 40 orang massa aksi dari Aliansi Pelajar Sukoharjo dan mahasiswa yang akan melakukan aksi peringatan Hari Tani Nasional.

Peringatan Hari Tani Nasional yang dihadapkan tindak represif juga terjadi di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Terjadi penangkapan terhadap 13 orang massa aksi dari Gerakan Rakyat Mahasiswa Untuk Petani (Geram Tani), di mana penangkapan tersebut disertai dengan aksi kekerasan aparat kepolisian terhadap massa. Terakhir di Kota Bengkulu, penangkapan terjadi kepada 8 orang dari Gerakan Bengkulu Berdaulat. Sementara itu aksi Front Perjuangan Rakyat di Jakarta juga mendapat intimidasi dan ancaman penangkapan dari aparat kepolisian.

Kekerasan, intimidasi, hingga penangkapan yang terjadi pada peringatan Hari Tani Nasional 2020 menambah catatan panjang tindakan anti demokrasi rezim Jokowi. Wajah anti kritiknya semakin nampak saat ini, demi memuluskan seluruh kebijakan yang menindas rakyat dan melayani kepentingan imperialisme, bahkan pemerintah rela menukarnya dengan nyawa rakyat Indonesia.

Tentu hal tersebut semakin memperburuk kondisi dan kehidupan rakyat. Di tengah pandemi Covid-19 dan ketidakmampuan rezim Jokowi menjamin pemenuhan dasar rakyat. Menjadi rasional jika rakyat, termasuk gerakan mahasiswa lebih intensif melakukan aksi dan menyampaikan tuntutannya. Sebab pemerintah hanya mampu memaksa rakyat berdiam diri, pasif, dan acuh atas situasi saat ini dengan berbagai sogokan dan tipuan berupa bantuan sosial yang tiada berguna, hidup rakyat hanya dihargai ratusan ribu rupiah oleh pemerintah. Sementara di sisi lain, pemerintahan Jokowi, Tuan Tanah Besar dan Borjuasi Besar Komprador semakin gencar menindas rakyat.

Atas dasar tersebut maka kami dari Pimpinan Pusat Front Mahasiswa Nasional menyatakan sikap mengecam berbagai tindak kekerasan, intimidasi dan penangkapan dilakukan oleh kepolisian terhadap massa aksi yang sedang memperingati Hari Tani Nasional 2020. Kami juga menuntut:

  1. Kepada Kapolri untuk segera membebaskan tanpa syarat seluruh massa aksi yang ditangkap dalam momentum peringatan Hari Tani Nasional 2020!
  2. Berikan konpensasi materil dan non materil terhadap massa aksi yang menjadi korban kekerasan dan penangkapan!
  3. Kepada Pemerintahan Jokowi untuk menghentikan tindak kekerasan, intimidasi, pasifikasi dan penangkapan terhadap rakyat yang berjuang menuntut hak demokratisnya.

Dalam momentum Hari Tani Nasional 2020, FMN juga menyerukan kepada pemuda mahasiswa untu “Pemuda Mahasiswa Terlibat Aktif dalam Pembangunan serta Perjuangan Klas Buruh dan Kaum Tani. Majukan Pengetahuan dan Teknologi di Indonesia dengan Membantu Pembebasan Kaum Tani dari Sistem Produksi Terbelakang dan Tradisional”.

Jakarta, 25 September 2020

Hormat Kami,

Pimpian Pusat

Front Mahasiswa Nasional 


Symphati Dimas Rafi’i

Ketua Umum

Pernyataan Sikap Front Perjuangan Rakyat (FPR) Hari Tani Nasional 2020

Written By PP FMN on Kamis, 24 September 2020 | 00.45


Organisasikan Kaum Tani Lebih Luas, Lipat Gandakan Kesadaran Kaum Tani Sebagai Kekuatan Pokok Perubahan Agraria untuk Pembebasan Bangsa dan Rakyat Indonesia



Amerika Serikat telah berada dalam resesi setelah pertumbuhan ekonominya mencapai minus 32,9 persen pada kuartal II 2020. Konsumsi rumah tangga anjlok 25%. Angka ini melampaui krisis keuangan di angka minus 8,4 % 2008 dan hanya kalah dari resesi tahun 1921. Kantor Statistik Jerman memberikan laporan bahwa pada kuartal II 2020 mencatatkan angka pertumbuhan ekonomi minus 10,1% setelah sebelumnya mencatat angka minus 2%. Beberapa negeri kecil yang sebelumnya menikmati pertumbuhan ekonomi dan mengalami peningkatan kesejahteraan seperti Korea Selatan, Hongkong dan Singapura, bersama-sama dengan Amerika Serikat dan Jerman menjadi lima negara pertama jatuh dalam resesi 2020.

Amerika Serikat telah berada dalam resesi setelah pertumbuhan ekonominya mencapai minus 32,9 persen pada kuartal II 2020. Konsumsi rumah tangga anjlok 25%. Angka ini melampaui krisis keuangan di angka minus 8,4 % 2008 dan hanya kalah dari resesi tahun 1921. Kantor Statistik Jerman memberikan laporan bahwa pada kuartal II 2020 mencatatkan angka pertumbuhan ekonomi minus 10,1% setelah sebelumnya mencatat angka minus 2%. Akan tetapi Amerika Serikat masih berkedudukan sebagai kekuatan adikuasa tunggal imperialis. Di tengah krisis imperialisme yang berulang-ulang yang semakin panjang periode pemulihannya, kekuatan ekonomi, politik, kebudayaan dan kemiliterannya masih belum tertandingi oleh negara industrial kapitalis manapun di dunia.

Amerika Serikat adalah pengarah dan pemimpin utama arah perkembangan Indonesia saat ini. Karena itu, Indonesia sangat vital bagi kepentingan Amerika Serikat dan juga bagi kekuatan imperialis lainnya. Secara strategis kapital finans Amerika Serikat di Indonesia dan instrumen ekonomi-politik lainnya adalah bagian dari upayanya menghambat Indonesia menjadi pesaing besar yang baru, menjadi negeri industrial kapitalis maupun industrial sosialis.

Di bawah sistem ekonomi setengah feodal, Indonesia sangat bergantung pada produksi pertanian terbelakang yang dikuasai oleh para tuan tanah besar yang terhubung langsung dengan imperialisme. Para tuan tanah besar tersebut memproduksi bahan mentah pertanian untuk keperluan ekspor mengandalkan tenaga tidak terampil tani miskin, tani sedang bawah dan buruh tani dengan upah kerja yang sangat ekstrem rendahnya dan sistem bagi hasil yang sangat timpang. Tani kecil perseorangan dengan berbagai jenis tanaman komoditas untuk pasar dalam negeri dan ekspor seluruhnya berada dibawah kontrol tuan tanah besar. Demikian pula dengan para tani kaya dan tuan tanah kecil juga berada dalam kontrolnya.   

Tanpa penghancuran para tuan tanah besar ini pertanian Indonesia tetap akan terbelakang, tanah luas tidak ada gunanya, tenaga kaum tani dan buruh tani tidak berharga, hasil kerja kaum tani tetap diekspor dengan harga sangat murah yang berakibat pada upah kerja dan bagi hasil yang sangat timpang. Tidak ada kemajuan berarti organisasi kerja, pengetahuan dan keterampilan pertanian di pedesaan. Alat kerja tetap tradisional dan bahkan sangat terbelakang melipat-gandakan beban kerja dan mengancam keselamatan buruh tani yang menggunakannya. Dalam negeri, rakyat tetap kekurangan pangan dan material perkakas seperti kayu, rotan dan bambu menjadi langka untuk pembangunan rumah sangat langkah dan mahal. Perlahan seluruh keperluan hidup bergantung pada impor termasuk produk peternakan dan perikanan.

Utang Luar Negeri Indonesia mencapai US$ 409 Milyar Juli 2020. Sebagian utang tersebut adalah utang swasta sebesar US$ 207,9 Milyar dengan pertumbuhan 6,1% dan sisanya utang pemerintah sebesar US$ 201,8 Milyar dengan pertumbuhan sebesar 2,2%.

Pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi Indonesia per kuarter ke II mencapai minus 5,32%, maret 2020 minus 2,41%, memburuk dari minus 1,71% pada Desember 2019 dan 3,06% pada September 2019. Semua data ini sangat jauh berbeda dengan perhitungan negara reaksi dan para ekonom pendukungnya. Ilusi mereka tentang Indonesia menjadi lima besar ekonomi dunia pada tahun 2030 betul-betul seperti “katak hendak jadi Lembu”.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo adalah penerus pemerintah boneka sebelumnya. Ia adalah representasi klas borjuasi besar komprador dan tuan tanah besar yang berkuasa. Kedua klas tersebut adalah kaki tangan imperialis adikuasa tunggal Amerika Serikat yang hanya 2% tetapi menguasai hingga 40% lebih tenaga produktif Indonesia : Tenaga kerja, kapital, tanah, dan kekayaan alam sejak 1949 dan terutama dengan sangat leluasa sejak 1967. Dari penghisapannya di Indonesia, Amerika Serikat dapat mengalihkan beban krisis over-produksi dan mengalirkan penumpukkan kapital yang terancam membusuk.

Selama era Pandemi Covid-19 ini dengan terang memperlihatkan dominasi Imperialis dan inferioritas Indonesia. Ketidak-mampuan Indonesia dalam menangani penyakit ini dan begitu saja mengikuti arahan imperialis Amerika Serikat dan badan-badan PBB yang didominasinya. Berbagai kebijakan dan peraturan utama yang dilahirkan dalam penanganan COVID-19 berada di bawah dikte imperialis. Dua masalah mengemuka sekaligus, pertama penanganan COVID-19 itu sendiri dan kedua, menjaga sistem ekonomi setengah feodal dengan memastikannya tetap tumbuh, setidaknya tidak jatuh dalam resesi yang parah, dan kapital imperialis tetap aman dan dapat membiak. Instrumen utang luar negeri dan investasi adalah mesin utama dalam penanganan COVID-19.

Covid-19 telah membuat kaum tani semakin tenggelam dalam sewa tanah terutama bagi hasil yang timpang, peribaan produksi dan perdagangan, dan upah buruh tani yang sangat ekstrem rendahnya. Hasil kerja kaum tani yang terus merosot dan fluaktuatif berbanding terbaik dengan keperluan produksi dan konsumsi yang terus meningkat dan tetap. Pemerintahan Presiden Joko Widodo tidak bisa berbuat apapun dalam menghadapi masalah ini selain menyerahkannya pada “pasar komoditas internasional” dan meminta utang luar negeri untuk diberikan pada rakyat dalam bentuk kredit sangat mikro dan “Bantuan Sosial” yang tidak seberapa.

Hari Tani Nasional Addalah Peringatan Keras Bagi Gerakan Pembebasan Rakyat di Indonesia. Ini adalah yang kesekian kalinya rakyat khususnya kaum tani Indonesia memperingati Hari Tani Nasional yang ditetapkan Sukarno demi membanggakan keberhasilannya melahirkan Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 tahun 1960.

Memperingati Hari Tani Nasional bagi bangsa dan rakyat Indonesia memperingatkan diri dengan keras agar menghindari dan tidak mengulang dua hal sekaligus :

  1. Keraguan dan setengah hati Pemerintahan Sukarno dalam menjalankan Land reform sejati di Indonesia. Dia melakukan land reform hanya untuk meredam inisiasi gerakan anti tuan tanah besar-termasuk di dalamnya gerakan anti swapraja yang perlahan meluas di Indonesia. Ada dua hal yang dilakukan Sukarno untuk meredam gerakan anti tuan tanah besar yang disebut aksi sepihak oleh klas reaksioner di Indonesia. Pertama, mengambil-alih dengan kompensasi seluruh perkebunan besar karet dan pertambangan milik asing dengan kompensasi pada penghujung 1950-an yang diserahkan pengelolaannya pada tentara yang dianggap sebagai institusi paling modern secara pengetahuan dan manajemen. Setelah tahun 1965, Presiden Suharto segera mengembalikan perusahaan-perusahaan itu kembali pada pemiliknya semula dan dana kompensasi yang telah dibayarkan Sukarno dianggap sebagai SAHAM pemerintah hingga saat ini. Kedua, melahirkkan UUPA No.5 Tahun 1960, berharap land reform dilakukan oleh negara. Puncak dari seluruh “keraguan dan tindakan setengah hati” tersebut adalah penggulingan Sukarno oleh klas reaksioner Indonesia.
  2. Memperingatkan diri pada kekeliruan garis politik Revolusi Indonesia yang oportunis – yang dijalankan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) pimpinan D.N Aidit. Sebagaimana Sukarno, Aidit berusaha menggunakan negara reaksi dan kedudukannya sendiri dalam pemerintahan sebagai Wakil Perdana Menteri untuk mempengaruhi dan menggertak musuh-musuhnya demi “memperkuat kekuatan pro rakyat” dalam negara RI. Salah-satu prakteknya adalah mengubah peraturan-peraturan negara seperti membuat UUPA No.5 Tahun 1960, mendirikan pengadilan Land Reform dan seterusnya. Berharap dengan hal tersebut LAND REFORM sejati dapat dilakukan di Indonesia. Hasilnya, tidak hanya Sukarno digulingkan, tetapi PKI dan gerakan rakyat Indonesia dihancurkan hingga akar-akarnya.

 

Karena itu, land reform sejati tidak boleh lagi mengikuti keraguan Sukarno dan mengikuti garis politik petualanganisme Aidit. Dua-duanya tidak relevan sebagai strategi dan taktik membebaskan bangsa dan rakyat Indonesia yang setengah jajahan dan setengah feodal, di mana rakyat menghadapi tiga masalah pokok : Imperialisme, Feodalisme dan Kapitalis Birokrat. Land Reform sejati hanya sukses apabila bersandar sungguh pada kekuatan pokok tani miskin, buruh tani, tani sedang bawah. Land Reform sejati hanya bisa dimenangkan apabila dipimpin oleh klas buruh yang sadar dengan dukungan penuh dari kaum inteletual dan profesional demokratis di Indonesia. Land reform sejati tidak saja membebaskan kaum tani, tetapi pintu gerbang pembebasan seluruh klas-tertindas dan terhisap Indonesia, pintu gerbang membangun industri nasional. Tanpa pengecualian, dalam tahap perjuangan yang sekarang, seluruh rakyat tertindas dan terhhisap Indonesia harus memerankan dirinya sebagai “aktivis tani-aktivis land reform sejati”. Kita semua harus ambil bagian aktif dengan tugas dan tanggung-jawab masing-masing ambil bagian aktif mengintensifkan perjuangan untuk program minimum land reform utamanya anti sewa tanah dan peribaan di pedesaan.

Hari Tani Nasional 2020, Front Perjuangan Rakyat menuntut menyerukan “Intensifkan Program Minimum Land Reform Sejati dalam Rangka menghancurkan Monopoli Tanah di Indonesia” dan Menuntut :

  1. Bagi Hasil yang adil bagi para penggarap di perkebunan besar kayu, sawit, karet, gula, komoditas ekspor lainnya milik Imperialis dan Tuan Tanah Besar tingkat nasional.
  2. Berikan Upah Buruh Tani yang lebih baik di perkebunan besar milik Imperialis dan Tuan Tanah besar tingkat nasional.
  3. Hapuskan Peribaan di Pedesaan.
  4. Perbaiki harga komoditas dan harga keperluan hidup kaum tani.
  5. Sediakan Input Pertanian, peternakan dan perikanan dari industri nasional sendiri, bukan produksi paten di bawah lisensi dan tidak berbahan baku impor serta tidak bersumber pada pendanaan hutang dan investasi asing.
  6. Sediakan Alat-Alat Pertanian Modern yang mudah di akses oleh kaum tani.  
  7. Sediakan Sistem Pendidikan dan Kesehatan yang lebih baik di Pedesaan.
  8. Sediakan Rumah sakit bersalin dan pusat perawatan anak-anak yang maju, murah dan mudah di jangkau di seluruh pedesaan Indonesia.
  9. Hapus semua pajak atas seluruh komoditas kaum tani
  10. Berikan kompensasi kepada kaum tani yang terdampak Covid 19
  11. Hentikan pengakuan nominal atas tanah-tanah ulayat di pedalaman Indonesia yang bertujuan untuk pembatasan kekuasaan Suku Bangsa Minoritas dan mempermudah perampasan tanah untuk perkebunan besar, HPH, pertambangan dan infrastruktur.

Hidup Rakyat Tertindas dan Terhisap

Jayalah Perjuangan Rakyat

Jakarta, 23 September 2020

Hormat kami

Front Perjuangan Rakyat (FPR)


 

Rudi HB. Daman

Koordinator Umum

 

Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI), Pemuda Baru Indonesia (PEMBARU-Indonesia), Front Mahasiswa Nasional (FMN), Serikat Perempuan Indonesia (SERUNI), Serikat Demokratik Mahasiswa Nasional (SDMN), Keluarga Besar Buruh Migran Indonesia (KABAR BUMI), Institute for National and Democracy Studies (INDIES)

Pernyataan Sikap Bersama

Written By PP FMN on Rabu, 15 Juli 2020 | 03.01

Mengecam Sanksi Drop Out, Skorsing dan Peringatan Keras Terhadap Mahasiswa Universitas Nasional (UNAS) dalam Rangkaian Aksi dan Kampanye Menuntut Pemotongan Biaya Kuliah Selama Masa Pandemi Covid-19





Front Mahasiswa Nasional (FMN) bersama dengan Front Perjuangan Rakyat (FPR) berinisiatif untuk membuat Pernyataan Sikap Bersama ini dan mengajak kepada seluruh organisasi untuk tergabung dan terlibat dengan cara mencantumkan nama Organisasi/Lembaga serta Individu dalam Pernyataan Sikap Bersama ini.
Salam Demokrasi !
Pandemi covid-19 yang terjadi di Indonesia memberikan dampak bagi kondisi perekonomian rakyat. Bagi mahasiswa, membayar biaya kuliah dimasa krisis adalah kesulitan yang dirasakan. Setelah kebijakan potongan Rp 100.000 yang diberikan Universitas Nasional (UNAS), tanpa didasarkan dengan alasan yang ilmiah. Mahasiswa UNAS melalui Aliansi UNAS GAWAT DARURAT (UGD), membangun persatuan untuk menuntut potongan biaya kuliah yang lebih layak. Upaya perjuangan tersebut dimulai sejak 8 Mei 2020 dan berlangsung hingga saat ini.

Aliansi UGD menuntut kepada Rektor UNAS untuk memberikan potongan biaya kuliah lebih besar, jaminan pemberian upah penuh kepada pekerja, dan berikan transparansi laporan keuangan kepada mahasiswa UNAS. Hal tersebut didasari pada kondisi perkuliahan sejak awal masa pandemi Covid-19 hingga sekarang yang tidak menggunakan fasilitas kampus. Artinya kampus UNAS mendapatkan penghematan pengeluaran dari proses tersebut, sementara mahasiswa tidak mendapatkan hak untuk mengakses fasilitas kampus. Belum lagi temuan dari hasil investigasi, bahwa UNAS merumahkan beberapa pekerjanya tanpa diupah, memotong upah pekerja bahkan dosen.

Sejak bulan Mei 2020 hingga saat ini, Aliansi UGD terus melakukan kampanye dan aksi massa. Namun rektorat UNAS tetap tidak menanggapi secara baik tuntutan dan aspirasi dari mahasiswa. Justru mereka kerap melakukan tindak kekerasan dan intimidasi terhadap mahasiswa. Mulai dari pembubaran paksa disertai dengan pemukulan, tendangan, hingga intimidasi dan ancaman yang terus dilayangkan rektorat UNAS terhadap mahasiswa yang berjuang. Dimulai pada 10 Juni 2020, sebanyak 27 mahasiswa UNAS mendapat surat panggilan dari Komisi Disiplin dengan dalih dimintai klarifikasi atas aktivitasnya. Namun yang terjadi adalah pemaksaan untuk menyatakan tindakan mahasiswa tersebut merupakan kesalahan, dipaksa untuk menandatangani surat pernyataan, hingga diancam untuk dikeluarkan bahkan ancaman pemidanaan.

Upaya untuk membungkam suara mahasiswa UNAS terus terjadi, hingga pada 9 Juli 2020 UNAS mengirimkan Surat Sanksi Akademik, berupa Surat Keputusan Drop Out (DO) terhadap tiga mahasiswa (Krisna Aji/Ketua FMN UNAS, Deodatus/Pimpian GMNI UNAS dan Abia Indou), Surat Skorsing satu semester terhadap tiga mahasiswa ( Soleh, Alan dan Sukarno), serta surat peringatan keras kepada sembilan mahasiswa (Dhafa, Fikram, Elsa, Octavianti, Robbi, Thariza, Berkat, Vicky dan Zaman). Seluruh sanksi tersebut diberikan dengan alasan utama yang sama, yaitu melakukan aktivitas kampanye dan aksi demonstrasi. Tentu alasan tersebut sangat tidak rasional dan tidak ilmiah, karena menyampaikan aspirasi dan melakukan demonstrasi bukanlah suatu pelanggaran, bukan juga kejahatan.

Seperti halnya alasan yang tertulis dalam surat DO untuk Krisna Aji, bahwa dianggap tidak menyesali perbuatannya yang melakukan kampanye dan menuntut pemotongan biaya kuliah, tidak menandatangani surat pernyataan yang dibuat sepihak oleh Komisi Disiplin, dan alasan terakhirnya adalah karena tetap melakukan demonstrasi di depan gerbang UNAS.

Kami mengecam pemberian sanksi DO, Skorsing dan Peringatan Keras terhadap mahasiswa UNAS. Tindakan tersebut semakin menambah catatan buruk kondisi demokrasi di dunia pendidikan. Kampus semakin menjelma sebagai institusi yang menjauhkan prinsip demokrasi dan ilmiah dalam kehidupannya.

Atas dasar itu, kami menyatakan kecaman keras terhadap Rektor UNAS yang memberikan sanksi Drop Out, Skorsing dan Peringatan Keras terhadap mahasiswa UNAS. Kami juga menuntut:



  1. Kepada Rektor UNAS untuk mencabut tanpa syarat sanksi Drop Out, Skorsing, dan Peringatan Keras terhadap sebelas mahasiswa UNAS.
  2. Kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menindak tegas rektorat UNAS dan jajaranya yang secara arogan telah memberikan sanksi, melakukan tindak kekerasan, intimidasi dan ancaman terhadap mahasiswa yang berjuang menuntut hak demokratisnya di kampus.
  3. Kepada Rektor UNAS untuk memberikan potongan biaya pendidikan yang layak kepada seluruh mahasiswa UNAS dan menjamin diberikannya upah penuh kepada pekerja UNAS. 
  4. Kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk memberikan pembebasan pembayaran biaya kuliah (UKT) kepada seluruh mahasiswa Indonesia tanpa syarat.


Jakarta, 15 Juli 2020
Hormat Kami,



Daftar Organisasi Dalam Pernyataan Sikap Bersama:

1. Front Mahasiswa Nasional (FMN)
2. Front Perjuangan Rakyat (FPR)
3. Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI)
4. Yayasan Pusaka Bentala Rakyat
5. International League of People Struggle - Indonesia (ILPS-Indonesia)
6. Institute for National and Democracy Studies (INDIES)
7. Serikat Perempuan Indonesia (SERUNI)
8. Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM)
9. Greenpeace Indonesia
10. Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA)
11. Serikat Demokratik Mahasiswa Nasional (SDMN)
12. Linkar Borneo
13. Layung Kalimantan
14. Lembaga Bantuan Hukum Kalimantan
15. Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS)
16. DEMA IAIN Purwokerto
17. Pemuda Baru (PEMBARU) Indonesia
18. Keluarga Besar Buruh Migran Indonesia (KABAR BUMI)
19. Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia - Hong Kong (ATKI-HK)
20. LBH Padang
21. DPM FAI UMP Purwokerto
22. BEM Fakultas Peternakan Unsoed
23. Ambyar Alliance (Bandung Raya)
24. HMI Cabang Purwokerto
25. LPM Obsesi IAIN Purwokerto
26. BEM Unsoed
27. PC PMII Gresik
28. PK. PMII Harun Thohir Bawean
29. Aksi Kamisan Kediri
30. LPM Solidaritas FISIP Unsoed
31. Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (HIMAPOL) Unsoed
32. BEM. Univ Langlangbuana Bandung
33. BEM STMIK AKBA Makassar
34. LPM Libratum Univ. Atmajaya Makassar
35. Aliansi Mahasiswa UAJ-M Pro Demokrasi
36. Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI)
37. PPMI DK Makassar
38. PPMI DK Banjarmasin
39. LPM Progress Univ. Indraprasta PGRI
40. LPM Gemercik Universitas Siliwangi
41. BOPM Wacana, Universitas Sumatera Utara (USU)
42. Media Alternatif Muharrik Gresik
43. Aliansi Mahasiswa Makassar
44. LPM Menteng Univ. Wahid Hasyim Semarang
45. KAMMI Daerah Purwokerto
46. Serikat Pekerja Hukum Progresif (SPHP)
47. Youth for Food Sovereignty (YFS)

Informasi dan Kontak:
Dimas  : 085311348678
Bayu    : 0895803426655

Kronologi Drop Out Mahasiswa UNAS

Written By PP FMN on Sabtu, 11 Juli 2020 | 22.16



Kronologi Kasus Pemberian Sanksi Drop Out, Skorsing dan Peringatan Keras Terhadap Mahasiswa Universitas Nasional

Disusun Oleh: Departemen Pendidikan dan Propaganda FMN UNAS

I.                    Pengantar
Pandemi covid-19 yang terjadi di Indonesia memberikan dampak bagi kondisi perekonomian rakyat. Bagi kondisi pendidikan tinggi, membayar biaya kuliah dimasa krisis adalah kesulitan yang dirasakan. Setelah kebijakan potongan Rp 100.000 yang diberikan UNAS, tanpa didasarkan dengan potongan yang ilmiah. Mahasiswa UNAS melalui Aliansi UNAS GAWAT DARURAT, membangun persatuan untuk menuntut potongan biaya kuliah yang layak.

II.                  Profil Aliansi Unas Gawat Darurat (UGD)
Aliansi Unas Gawat Darurat (UGD) adalah aliansi mahasiswa UNAS yang dibentuk melalui inisiasi dari berbagai organisasi, seperti Front Mahasiswa Nasional (FMN) Ranting UNAS, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Komisariat UNAS, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat UNAS, Himpunan Pencinta Alam (HIMPALA) UNAS, beserta banyak individu mahasiswa dari berbagai fakultas di UNAS. Aliansi dibentuk pada Jumat, 8 Mei 2020.

Pembentukan aliansi UGD didasari atas keresahan mahasiswa UNAS terhadap beban biaya kuliah dalam situasi pandemi Covid-19. Aliansi UGD mempertanyakan mengapa Rektor UNAS hanya memberikan potongan biaya kuliah sebesar Rp 100.000 (Dalam SK Rektor Nomor 52 Tahun 2020 Tentang Pemotongan Biaya Kuliah Semester Genap Tahun Akademik 2019 – 2020). Karena menurut Aliansi UGD, potongan tersebut sangat jauh dari aspirasi mahasiswa dan orang tua di tengah beban ekonomi yang semakin berat dalam masa pandemi Covid-19. Oleh karena itu, wadah ini terbentuk untuk memperjuangkan potongan biaya kuliah agar dapat lebih besar diberikan oleh Rektor UNAS kepada seluruh mahasiswa.

III.                Problematika Kampus UNAS
n  Rendahnya Nominal Potongan Biaya Kuliah Selama Pandemi Covid-19
Rektor UNAS mengeluarkan SK No. 52 Tahun 2020 pada 31 Maret 2020. Di dalamnya mengatur mengenai potongan biaya kuliah sebesar Rp 100.000/mahasiswa. Selanjutnya dalam pemberitaan dari Marketing Public Relation (MPR) UNAS menjelaskan bahwa potongan tersebut ditujukan pada 10.000 mahasiswa UNAS.

Bagi Aliansi UGD nominal potongan tersebut sangat rendah. Pasalnya, selama pandemi Covid-19 terhitung sejak 16 Maret 2020 UNAS menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh dan work form home bagi para pekerjanya. Hal ini tentu mengurangi beban biaya operasional penyelenggaraan pendidikan. Seperti berkurangnya beban biaya listrik, air, perawatan fasilitas, Alat Tulis Kantor (ATK), dan lainnya. Sementara mahasiswa telah membayarkan Uang Paket Semester (UPS), namun tidak mengakses fasilitas yang semestinya. Hal ini akan berlangsung setidaknya hingga 8 Agustus 2020, namun besar kemungkinan akan diperpanjang hingga waktu yang belum bisa ditentukan.

Artinya, kedepan mahasiswa UNAS tetap tidak akan menggunakan sebagian besar dari fasilitas kampus. Sehingga potongan yang hanya Rp 100.000/mahasiswa merupakan kebijakan yang tidak objektif.

n  Transparansi Keuangan yang Buruk
Dalam upaya aliansi UGD melakukan penuntutan untuk penambahan nominal potongan biaya kuliah, banyak argumentasi dan data yang kami sajikan dibantah oleh pihak kampus. Namun ketika dari pihak aliansi UGD meminta dan mempertanyakan mengenai transparansi keuangan kampus, pihak rektorat tidak pernah merespon dengan baik. Dalam Website resmi UNAS pun tidak ada laporan keuangan yang diterbitkan secara publik atau yang dapat diakses oleh mahasiswa UNAS.

Argumentasi yang dibangun oleh pihak kampus tidak memberikan transparansi karena mahasiswa tidak berhak mendapatkanya, tidak perlu mempertanyakannya karena baru beberapa tahun berada dikampus. Sementara mereka yang telah puluhan tahun di kampus saja tidak pernah mempertanyakannya. Argumentasi tersebut tentu sesat dan tidak memiliki landasan yang kuat.

Mahasiswa adalah bagian dari civitas akademika UNAS, jumlah terbesar dan memiliki kontribusi keuangan terbesar melalui pembayaran uang kuliah. Sehingga menjadi hak yang melekat bagi mahasiswa untuk mempertanyakan transparansi keuangan.

n  Masalah Pekerja Kampus
Selama pandemi Covid-19, UNAS menerapkan WFH bagi pekerjanya. Namun tidak hanya itu, terjadi pula kondisi dirumahkannya pekerja parkir. Perumahan pekerja parkir, dilakukan tanpa diupah selama proses perumahan. Pengurangan shift office boy dan cleaning service.

Dari hasil investigasi dan wawancara yang FMN UNAS lakukan, menemukan informasi bahwa terjadi pula pemotongan upah terhadap pekerja di UNAS, termasuk terhadap dosen. FMN menemukan adanya potongan upah sebesar Rp 500.000/bulan terhadap cleaning service dan office boy. Sementara ada pula dosen yang menyatakan upahnya dipotong sebesar Rp 1.100.000/bulan.

Jika pemotongan tersebut benar dilakukan, maka UNAS justru menambah beban kehidupan rakyat.

IV.                Rangkaian Kegiatan Kampanye dan Aksi  Mahasiswa
n  Kampanye Media Sosial
Kampanye media sosial dilakukan oleh Aliansi UGD untuk menyebarkan berita, informasi dan analisis yang secara intensif dilakukan. Kampanye Media Sosial ini dimulai pertama kali pada 16 Mei 2020 dan dilakukan hingga saat ini. Adapun tema dalam kampanye media sosial seputar:
-          Hak Mahasiswa mendapat potongan lebih dari Rp 100.000
-          Pendapatan UNAS dari mahasiswa yang dihitung melalui investigasi dan data yang didapat dari Website DIKTI dan wawancara terhadap mahasiswa.
-          Hak Demokrasi Mahasiswa dalam menyatakan pendapat, demonstrasi dan beraktivitas.
-          Penjelasan tentang tuntutan dari Aliansi UGD
-          Ajakan Aksi Demonstrasi
-          Kecaman terhadap pemanggilan 27 mahasiswa UNAS

n  Aksi Demonstrasi
Aksi demonstrasi dilakukan sebagai upaya dari aliansi UGD untuk menyampaikan aspirasinya secara langsung terhadap pihak rektorat UNAS. Adapun aksi demonstrasi dilakukan beberapa kali:
-          10 – 12 Juni 2020: Menuntut Potongan Biaya Kuliah dan Mengawal Pemanggilan 27 Mahasiswa yang dilakukan oleh Komisi Disiplin UNAS.
-          18 Juni 2020: Aksi dan Konferensi Pers dilakukan di Sekretariat Himpunan Pecinta Alam.
-          24 Juni 2020: Menuntut Potongan Biaya Kuliah
-          25 Juni 2020: Menuntut Potongan Biaya Kuliah dan Mendesak Audiensi Terbuka
-          2 Juli 2020: Menuntut Potongan Biaya Kuliah
-          9 Juli 2020: Menuntut Potongan Biaya Kuliah dan Merespon terbitnya sanksi akademik (DO, Skorsing, dan Peringatan Keras)
-          10 Juli 2020: Mengecam Sanksi Akademik terhadap mahasiswa UNAS

n  Pengajuan Audiensi
Aliansi UGD mengajukan surat audiensi pada pihak Rektorat yang dilakukan pada 7 Juli 2020 dan surat diterima oleh Biro Mahasiswa. Namun sampai saat ini (11 Juli 2020) belum ada jawaban dari pihak rektorat.

V.                  Tindak Represif dan Ancaman Terhadap Mahasiswa
n  Tindakan Represif Dalam Merespon Demonstrasi
-          Dalam aksi demonstrasi yang dilakukan pada 10 Juni 2020, mahasiswa yang melakukan aksi damai dibubarkan paksa oleh Keamanan Kampus. Pembubaran disertai dengan pemukulan, tendangan dan penangkapan satu orang anggota pers mahasiswa. Anggota Pers tersebut dipaksa untuk menghapus dokumentasi pembubaran paksa aksi aliansi UGD.
-          Tanggal 11 Juni, barisan massa aksi diterobos paksa oleh kendaraan (mobil) milik dosen. Mengakibatkan beberapa massa aksi tertabrak dan terserempet. Hal ini kemudian yang memicu mahasiswa melakukan respon dengan memukul mobil tersebut. (Tindakan memukul mobil ini yang dijadikan alasan rektorat UNAS untuk memberikan sanksi bahkan mengkriminalisasi  salah satu mahasiswa). Namun mereka tidak menjelaskan apa yang menjadi pemicu kemarahan mahasiswa hingga memukul mobil tersebut.
-          Dalam setiap aksi yang dilakukan oleh Aliansi UGD, selalu terdapat mobilisasi preman. Terdapat informasi yang mengindikasikan bahwa pelibatan preman tersebut juga diinisiasi oleh kampus.

n  Ancaman dan Intimidasi Terhadap Mahasiswa
-          Pada 26 Mei 2020, Salah satu mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan mendapat SMS (Whatsapp) dari Ka.Prodi Keperawatan diminta untuk menarik unggahan/postingan mengenai kampanye media sosial dari Aliansi UGD.
-          Pada 10 – 12 Juni, Pemanggilan terhadap 27 orang mahasiswa oleh Komisi Disiplin, Wakil Rektor, Ka. Prodi, dan Pusat Bantuan Hukum UNAS untuk melakukan klarifikasi atas keterlibatannya dalam aktivitas aliansi UGD.
·         Undangan yang diberikan adalah klarifikasi, namun kenyataanya yang terjadi adalah intimidasi dan paksaan.
·         Mahasiswa yang dipanggil tidak mendapat ruang klarifikasi, namun justru didesak dan dipaksa untuk menyatakan dirinya bersalah karena telah terlibat dalam kampanye media sosial.
·         Selanjutnya dipaksa untuk menandatangani surat pertnyataan bersalah dan jika tidak bersedia menandatanganinya, mereka diancam dengan UU ITE.
·         Ancaman untuk dikeluarkan dari kampus jika tidak mengakui dan menyatakan diri bersalah.
·         Mereka juga menyatakan bahwa mahasiswa tidak memiliki hak untuk menuntut transparansi.
-          Pada 19 Juni – 11 Juli, Beberapa mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Teknologi Komunikasi dan Informatika, dan Fakultas Bahasa dan Sastra, mendapat intimidasi melalui dosen dan jajaran ka.prodi melalui SMS (Whatsapp) yang melarang mahasiswanya untuk terlibat dalam demonstrasi, mendesak mahasiswa untuk diam, membuat pernyataan maaf melalui video dan audio.

VI.                Pemberian Sanksi Akademik dan Peringatan Keras
n  Sanksi dilayangkan pada 9 Juli 2020 kepada 11 mahasiswa UNAS yang aktif dalam aliansi UGD.
n  Sanksi Akademik dilayangkan pihak kampus terhadap 4  mahasiswa, diantaranya:
Sanksi Drop Out:
1.       M. Wahyu Krisna Aji (FISIP/Ilmu Komunikasi/2017)
2.       Deodatus Sunda Se (FISIP/Ilmu Politik/2016)

Sanksi Skorsing 1 Semester:
1.       Alan Gumelar (FISIP/Adiministrasi Publik/2018)
2.       Rifqi Fadhila Sukarno (FISIP/Administrasi Publik/2019)

n  Sanksi Peringatan Keras diberikan kepada 7 mahasiswa, atas nama
1.       Muhammad Dhafa Rinaldi (FISIP/Ilmu Komunikasi/2018)
2.       Muhammad Fikram Hakim Suladi (FISIP/Ilmu Komunikasi/2019)
3.       Imanuelsa Helmy (FBS/Sastra Inggris/2019)
4.       Octavianti Nurani (FISIP/Ilmu Komunikasi/2019)
5.       Robbi Aimul Fajri (FISIP/Ilmu Politik/2017)
6.       Thariza Oktafany (FBS/Sastra Inggris/2019)
7.       Zaman Zam Baharsyah Abdurachman (FBS/Bahasa Korea/2019)

n  Secara umum sanksi yang diberikan, semua beralasan karena aktivitas mahasiswa yang bersangkutan terlibat aktif dalam kegiatan aliansi UGD dalam menuntut dan menyampaikan aspirasi mahasiswa.

VII.              Penutup
Demikian kronologi dari perjuangan Aliansi UGD hingga berujung pemberian sanksi akademik dan peringatan keras terhadap mahasiswa UNAS. Kronologi ini disusun untuk memberikan objektifitas dalam menilai perjuangan yang dilakukan oleh FMN bersama aliansi UGD di satu sisi dan di sisi lain kebijakan dan tindakan pihak UNAS terhadap mahasiswa.

Jakarta, 11 Juli 2020

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger