Headlines News :

Latest Post

Aksi Protes UKT Mahasiswa IAIN Raden Intan Lampung Berujung Referesifitas. Perjuangan Harus Semakin Digelorakan

Written By Front Mahasiswa Nasional on Selasa, 24 Mei 2016 | 21.47




Maraknya persoalan didalam kempus IAIN Lampung, buruknya fasilitas kampus, merajalelanya praktek Pungutan Liar dan biaya kuliah yang setiap tahun mengalami peningkatan di bawah system UKT. Telah membuat mahasiswa menderita, dimana biaya yang mahal tapi tidak sesuai dengan fasilitas dan pelayanan memadai yang diterima oleh mahasiswa . Keadaan kampus yang buruk akibat dari kebijkan rektor yang anti terhadap mahasiswa telah menuai protes terhadap mahasiswa sebagai cara untuk merubah kampus agar lebih baik.

Aksi damai yang dilakukan oleh kurang lebih ratusan mahasiswa IAIN Lampung di depan perpustakaan IAIN pada tanggal 20 mei 2016 dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional dan  melawan kebijakan rektor IAIN yang anti demokrasi dan anti mahasiswa seperti  praktek  pungli bagi mahasiswa baru dan mahasiswa yang akan wisuda dan tidak adanya transparasi infak oleh birokrasi kampus menjadi momok bagaimana bobroknya birokrasi kampus IAIN.

Aksi yang berlangsung damai dengan waktu yang cukup lama, berujung pada tindakan anti demokrasi, pembubaran aksi, pemukulan dan hingga penangkapan 16 massa aksi adalah tindakan biadap yang ditunjukkan rektor terhadap mahasiswa. kampus sebagai  lembaga institusi pendidikan tinggi yang menjungjung tinggi tridarma perguruan tinggi, telah dinodai oleh kebijakan rektor IAIN tentang Pungutan liar dan tidak transparasi kampus dalam pengelolaan anggaran.

Tindakan tidak demokratis dari rektor IAIN telah nyata nyata melanggar UUD 45 yang merupakan Konstitusi Tertinggi di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) , dimana dalam pasal 28E ayat 3 yang menyatakan  Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.Selain itu UU No.09 Tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat dimuka umum (rativikasi konvenan HAM).

Dengan tidak ada demokratisasi di dalam kampus akan berdampak pada semakin terbelangkangnya kebudayaan mahasiswa sehingga menjadi sarjanan yang berkualitas akan menjadi mimpi mimpi semata. Sehingga kami dari Front Mahasiswa Nasional mengajak seluruh Mahasiswa IAIN untuk memperjuangakan tegaknya demokrasi didalam kampus, kami menuntut rektor IAIN bertanggung jawab atas mahasiswa yang sedang dioperasi di rumah sakit atas tindak kekerasan satpam dan polisi dalam aksi yang lalu.


 FMN IAIN Raden Intan Lampung


Hari Kebangkitan Nasional 108 Tahun

Written By Front Mahasiswa Nasional on Kamis, 19 Mei 2016 | 21.43




Bangkitkan Semangat Perjuangan Melawan Penghisapan dan penindasan Terhadap Rakyat
Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908, tentu menjadi masa keemasan dalam sejarah perjuangan rakyat Indonesia melawan penghisapan dan penindasan kolonial Belanda dan tuan tanah feodal. Perjuangan rakyat di daerah-daerah Nusantara, melebur menjadi satu-kesatuan untuk meneguhkan jalan pembebasan nasional menghangcurkan cengkraman kolonial Belanda beserta sekutunya tuan tanah feodal. Kesadaraan perjuangan nasional melawan kolonial Belanda dan tuan tanah feodal yang termanifestasikan di 20 Mei 1908, merupakan sebuah keniscayaan atas cita-cita rakyat meraih kemandirian dan kedaulatan bangsa sepenuhnya.

Hari Kebangkitan Nasional menjadi tonggak perjuangan rakyat Indonesia abad 19 yang ditandai dengan era kebangkitan pembangunan organisasi-organisasi rakyat untuk  melawan kolonial Belanda dan tuan tanah feodal. Organisasi-organisasi rakyat dan secara khusus didominasi kepeloporan dari organisasi pemuda pelajar-mahasiswa, telah menanamkan semangat untuk berjuang atas kemerdekaan sepenuhnya di tangan rakyat. Nilai cinta tanah air, anti penindasan, melandasi kuat kesadaraan akan musuh-musuh rakyat yang menjerat kemajuan rakyat Indonesia selama ini. Perjuangan  Boedi 0etomo yang dipimpin oleh Dokter Wahidin Soedirohoesodo dan Dokter Soetomo tersebut kemudian dilanjutkan  oleh kaum muda pada tahun 1928 yang kemudian melahirkan Soempah Pemoeda yang mengikarkan bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu.

Pasca hari Kebangkitan Nasional, terbentuk berbagai organisasi rakyat yang berkembang berbasikan klas dan sektor untuk bertujuan menguatkan perjuangan melawan kolonialis Belanda dan Tuan tanah feodal. Berdirinya Indische partij, Saraket Dagang Islam, Muhammadiyah, Saraket Rakyat, VSTP, ISDV menjadi organisasi pelopor yang memimpin rakyat Indonesia secara nasional untuk melawan kolonial Belanda. Selain itu, seperti ISDV paling aktif mempropagandakan perjuangan untuk melakukan perlawanan terhadap tuan-tuan tanah (feodalisme) sebagai sekutu kolonial Belanda yang membelenggu rakyat Indonesia. selanjutnya, Revolusi Agustus 1945 hingga Gerakan Penumbangan Rejim Fasis Soeharto 1998, organisasi-organisasi rakyat telah menunjukkan peran sejarahnya untuk senantiasa melawan penghisapan dan penindasan terhadap rakyat.

20 Mei 2016 tepat Hari Kebangkitan Nasional telah menginjakkan usianya ke-108 Tahun. Tentu menjadi pertanyaan bagi kita, apakah semangat Hari kebangkitan Nasional hanya semata-mata seremonial melalui upacara bendera dan ziarah ke makam pahlawan sebagaimana kegiatan yang diselenggarakan pemerintah Jokowi-JK saat ini ? Tentu tidak. Karena sejatinya Hari Kebangkitan Nasional bukanlah terhenti di dalam perjuangan melawan Kolonialis Belanda yang menjajah Indonesia selama 350 tahun dan Jepang 3,5 Tahun. Karena nyatanya pasca Revolusi Agustus 1945 dan puncaknya Konferensi Meja Bundar Desember 1949, Indonesia resmi menjadi negara setengah jajahan dan setengah feodal. Bentuk penjajahan Baru (setengah jajahan/neo-kolonial) dengan mempertahankan basis sosial di Indonesia setengah feodal sebagai sekutunya, masih senantiasa menjadi akar persoalan rakyat Indonesia untuk mencapai kemerdekaan sepenuhnya baik secara ekonomi, politik, sosial dan budaya. Maka,

Jadi, memaknai Hari Kebangkitan Nasional bukanlah sebagaimana tema pemerintahan Jokowi-JK saat ini yaitu “Mengukir Makna kebangkitan Nasional dengan mewujudkan Indonesia yang bekerja nyata, mandiri dan berakarakter”.

Karena kenyataannya, Jokowi-JK mengarahkan seluruh rakyat Indonesia untuk menerima skema investasi dan utang luar negeri yang menjadi sandaran utama pembangunan ekonomi Indonesia. Dengan diksi “kerja nyata” tersebut hanyalah berupaya mendorong masyarakat untuk melayani borjuasi-borjuasi internasional khususnya AS, borjuasi-borjuasi komprador dan tuan tanah besar. Kebijakan Neoliberalisasi Imperialisme AS yang diintensifkan Jokowi-JK dan dikemas dalam Paket kebijakan Ekonomi Jilid I-XII, di sisi lain hanya akan memperparah krisis ke krisis di tengah rakyat. Kemiskinan dan penderitaan hanyalah menjadi hari depan setiap kebijakan Jokowi-JK tersebut. Jadi, Dalih untuk menstimulus ekonomi Indonesia hanyalah memuluskan kepentingan imperialisme AS dan feodalisme untuk semakin menghisap dan menindas rakyat serta melakukan perampokan-perampokan atas kekayaan alam rakyat Indonesia.

Selain itu, Pidato Menteri Komunikasi dan Informatika sebagai komandan yang mengkordinasikan peringatan Harkitnas tahun ini, menyinggung persoalan mempertahankan keutuhan NKRI,  melawan gerakan teroris dan radikalisme di Indonesia.

Pesan ini mencoba mendiskreditkan gerakan-gerakan demokratis rakyat yang berjuang atas hak-hak dasarnya. Apalagi pemerintah saat ini, coba menunjukkan berbagai sikap-sikap fasis terhadap rakyat. Tentu isu NKRI, Teroris, gerakan radikal hingga simbol-simbol laten, hanya menjadi menifestasi fasisme yang semakin masif dan meluas di tengah-tengah rakyat. Usaha untuk meredam gerakan rakyat atas kebangkitan perjuangan massa di tengah kebijakan Jokowi-JK yang menyengsarakan, menjadi latar belakang atas meningkatnya kadar fasisme di Indonesia hari ini dan ke depan.

Hari Kebangkitan Nasional ke 108 Tahun tentu menjadi momentum yang berharga bagi rakyat. Berbeda dengan rejim yang hanya menjadikan semangat Hari Kebangkitan Nasional 1908 yang menjauhkan semangat perjuangan rakyat untuk melawan imperialisme, feodalisme dan kapitalisme birokrat. Bagi rakyat, Hari Kebangkitan Nasional ke-108 Tahun menjadi kekuatan untuk menyatukan pandangan ide dan tindakan atas perjuangan untuk melawan imperialisme, feodalisme dan kapitalisme birokrat. Perampasan dan monopoli tanah, politik upah murah, PHK dan lapangan kerja terbatas, pendidikan dan kesehatan mahal, penguasaan SDA oleh Asing yang semakin diintensifkan Jokowi-JK, menjadi agenda perjuangan utama rakyat. Dengan demikian, Makna akan Hari kebangkitan Nasional menjadi roh semangat perjuangan rakyat yang berjuang atas hak-hak dasarnya yang dirampas oleh imperialisme AS, feodalisme dan kapitalisme birokrat. Di bawah pemerintahan Jokowi-JK yang semakin mengintensifkan kebijakan neoliberalisasi di Indonesia, menjadi keharusan bagi seluruh organisasi-organisasi rakyat untuk menggerokan perjuangan dan perlawanan. Karena hanya dengan persatuan dengan kepimpinan organisasi massa rakyat,  perjuangan rakyat akan menuju kemenangan sejatinya.

Secara khusus, FMN sebagai Ormass Mahasiswa Pemuda, harus menjadikan momentum Hari Kebangkitan Nasional untuk mengobar perjuangan massa mewujudkan pendidikan ilmiah, demokratis dan mengabdi kepada rakyat, serta melawan segala bentuk komersialisasi, liberalisasi dan privatisasi di dunia pendidikan. Dan terpenting, FMN memahami bahwa hari Kebangkitan Nasional tahun ini, mengingatkan kembali bahwa organisasi pemuda adalah pelopor yang senantiasa bertalian erat dengan perjuangan organisasi massa rakyat khususnya klas buruh dan kaum tani. Perjuangan umum rakyat atas landreform sejati dan industrialisasi nasional yang bebas dari cengkraman imperialisme dan feodalisme, menjadi syarat pokok hari depan Indonesia yang mandiri dan berdaulat sepenuhnya di tangan rakyat.


Rachmad P Panjaitan (Ketua PP FMN)

Gelorakan Perjuangan Massa Mahasiswa di Hari Lahirnya FMN Ke-13 Tahun

Written By Front Mahasiswa Nasional on Selasa, 17 Mei 2016 | 20.54




“Perjuangan Klas buruh, Kaum Tani, Nelayan, Miskin Perkotaan, Masyarakat Adat, Buruh Migran, dan Perempuan, adalah Laboratorium utama Perjuangan Mahasiswa dan FMN. Lawan Komersialisasi Pendidikan”

Salam Demokrasi,

Salam hangat bagi seluruh pimpinan, anggota  FMN se-Indonesia.

Kawan-kawan sekalian, kita tahu Perjuangan massa mahasiswa tidak datang ibarat halilintar di siang bolong. Demikian keterlibatan mahasiswa di dalam perjuangan rakyat, bukanlah sebuah teori dan praktek yang tiba-tiba turun dari langit.  Perjuangan mahasiswa yang mengabdi kepada rakyat bukan juga menjadi kisah heroik semata, ibarat Tentara AS yang sok jago perang di dunia. Mahasiswa yang diberi cap kaum intelektul tidak juga serta merta lahir tanpa sebuah perubahan dari perjuangan klas agar menjadi kaum intelektuil progresif yang berdiri di tengah-tengah rakyat.

Tidak, perjuangan massa mahasiswa telah lahir sejak periode panjang di dalam perkembangan masyarakat. Di Amerika Latin, Perjuangan mahasisa telah menunjukkan kegigihannya untuk berjuang melawan imperialisme dan feodalisme yang merampas segala kemerdekaan hak-hak rakyat. Salah-satu moment sejarah yang harus diperas pelajarannya, adalah Manifesto Cordoba tahun 1918 di Argentina. Manifesto Cordoba ini merupakan sebuah deklarasi mahasiswa Argentina yang menuntut otonomi akademik (kebebasan mimbar akademik, otonom keilmuan) dan menuntut adanya keterlibatan mahasiswa dalam pengambilan kebijakan di kampus. Manifesto Cordoba ini juga menjadi kritikan atas buruknya sistem birokrasi dan otoriternya pendidikan di Argentina. Manifesto Cordoba di Argentina ini kemudian menjadi inspirasi bagi perjuangan di kawasan Amerika Latin; di Peru tahun 1919, Chili 1920, Kolumbia 1924, Paraguay 1927, Brazil dan Bolivia 1928, Meksiko 1929, Kosta Rika 1930, dan Kuba pada tahun 1933 dan 1952. 

Sama halnya dengan gerakan mahasiswa di Indonesia. kaum intelektuil tersebut lahir sejak era politik etis tahun 1870 yang diterapkan Belanda di Indonesia. Tentu pendidikan yang diajarkan bukanlah untuk membebaskan masyarakat Indonesia dari penghisapan dan penindasan kolonialis dan feodalisme. Pendidikan juga bukan diperuntukkan bagi rakyat khususnya kaum tani dan klas buruh. Akan tetapi, pemuda pelajar saat itu memahami betul fungsi dari pendidikan yang merupakan alat kebudayaan yang memajukan kesadaran klasnya untuk menghncurkan dominasi kolonialis dan feodalisme. Selanjutnya, kaum-kaum intelektuil ini senantiasa menjadi sahabat bagi rakyat hingga saat ini.

Kawan-kawan sekalian, tugas-tugas pokok mahasiswa adalah belajar. Tentu pengertian belajar ini juga diterjemahakan oleh musuh-musuh rakyat. Belajar bagi mereka adalah proses ketertundukan pada pendidikan lama yang hanya berorientasi untuk menciptakan tenaga-tenaga kerja murah maupun kaum-kaum intelektuil teknorat yang mengabdi kepada imperialisme, feodalisme dan kapitalisme birokrat.  Sedangkan rakyat mengartikan Belajar adalah mereka yang terdidik dengan teori dan praktek maju untuk berjuang demi kebenaran, keadilan dan pembebasan sejati bagi kehidupan rakyat. Sebab, pendidikan bukalan suatu pembodohan massal, tetapi untuk mencapai kebenaran sejati bagi kehidupan. Tidak memahami arti belajar yang berguna bagi rakyat, tentu menjadi permasalahan yang serius bagi kita. Apalagi belajar yang hanya semata-mata meletakkan mata pisau kebenarannya dan mengangkat tinggi-tinggi sikap pragmatis, liberal, non ilmiah dan anti perubahan bagi massa. Maka  saat ini kita harus mengerti bahwa seluruh tenaga, pikiran dan waktu hanya untuk belajar bagaimana mengubah keadaan rakyat yang masih dihisap dan ditindas dalam sistem setengah jajahan setengah feodal. maka tentu jawabnya adalah kita akan BERJUANG HINGGA MERAIH KEMENANGAN, “Dare To Struggle, Dare To Win”.

Kawan-kawan Sekalian, 18 Mei 2003 menjadi hari yang bersejarah bagi perjuangan rakyat khususnya bagi perjuangan mahasiswa. Tentu bukan sikap berlebih-lebihan. Tapi tak dapat dipungkiri bahwa hari tersebut menjadi periode panjang perjuangan mahasiswa yang melahirkan sebuah organisasi massa mahasiswa yang bergaris Demokrasi Nasional. Iya, itu adalah kita FRONT MAHASISWA NASIONAL (FMN), anak zaman yang dikandung dari sistem setengah jajahan setengah feodal. 18 Mei 2003, di Balai Utan Kayu Jakarta, menjadi saksi sejarah diselenggarakannya Founding Congres FMN. Seluruh perwakilan mahasiswa dari kampus-kampus di Indonesia, mulai mengobarkan perjuangan Demokrasi Nasional untuk meraih kemenangannya atas kekuatan imperialisme AS, feodalisme dan kapitalisme birokrat.

Lahirnya FMN menjadi harapan bagi mahasiswa dan rakyat sebagai penentang sejati rejim boneka yang mempertahankan sistem setengah jajahan setengah feodal yang menghisap dan menindas. Itu pula yang meneguhkan FMN menjadi ormass mahasiswa yang berpegangan teguh dan menyandarkan dirinya pada kekuatan massa mahasiswa. Dan dengan segala kerendahan hati, FMN menyadari bahwa klas buruh dan kaum tani menjadi aliansi dasar dalam perjuanga rakyat Indonesia menghancurkan dominasi imperialisme dan feodalisme serta rejim boneka di dalam negeri.

Lahirnya FMN bukan suatu eksistensi borjuasi kecil yang mempunyai ekspresi politik mengekor pada kepentingan imperialisme dan feodalisme. Namun FMN lahir atas fase-fase penuh perjuangan semenjak membangun jejaring nasional di kampus-kampus seluruh Indonesia, dilanjut fase menghimpun hingga fase Founding Congres.  

Lahirnya FMN sebagai anak zaman menjadi perasan atas perjuangan mahasiswa yang meneguhkan dirinya sebagai ormass mahasiswa yang mengabdi kepada perubahan-perubahan mendasar bagi mahasiswa dan rakyat. Kita bukan hanya gagah dalam berteori, tapi kita dikenal juga sebagai FMN yang tiada henti-hentinya membangkitkan, mengorganisasikan dan menggerakkan perjuangan massa yang anti imperialisme, feodalisme dan kapitalisme birokrat. Karena menurut FMN, bahwa perlawanan yang hebat terhadap 3 musuh rakyat, menjadi prasyarat pokok merosotnya sistem setengah jajahan setengah feodal yang membelenggu rakyat selama ini.

Kini, usia 13 Tahun telah dilalui FMN. Berbagai pengalaman teori dan praktek telah kita raih. Capaian-capaian  telah kita raih pula. Dan tidak pernah sedikit pun FMN berhenti belajar. Tidak berhenti-henti juga garis massa menjadi dasar dalam menjalani setiap aktivitas politik dan organisasi. KOK menjadi senjata ampuh bagi kita untuk memperbaiki segala kesalahan perjuangan politik dan organisasi FMN. 

Memajukan perjuangan massa di kampus dan di tengah rakyat adalah tugas mulia yang selalu diemban oleh anak zaman. Menjadikan FMN sebagai sekolah gerakan Demokrasi Nasional adalah tantangan bagi kita. memperjuangkan pendidikan dan lapangan kerja bagi pemuda adalah program perjuangan yang kita jalankan. Tak Luput Isu komersialisasi khususnya tentang UU Dikti dan UKT, Harus menjadi kampanye yang bisa kita tingkatkan. Menciptakan aktivis-aktivis yang mengabdi kepada rakyat adalah perjuangan internal yang kita galakkan. Dan Menjadikan Klas buruh, Kaum Tani, masyarakat adat, nelayan, buruh migran, perempuan sebagai laboratorium Mahasiswa dan FMN, adalah keharusan bagi Ormass Mahasiswa Demokrasi Nasional.

Kawan-kawan sekalian, akhir kata saya ucapakan selamat Hari Lahirnya FMN ke-13 Tahun. Saya menyampaikan rasa hormat kepada seluruh pimpinan dan anggota FMN se-Indonesia yang selalu setia dan militan menjalankan kerja-kerja massa membangkitkan, mengorganisasikan dan menggerakkan. Di tengah krisis semakin sulit di bawah pemerintahan boneka Imperialisme AS Jokowi-JK, maka keharusan bagi kita untuk menentang seluruh kebijakan-kebijakannya yang anti rakyat serta melipatgandakan perjuangan-perjuangan massa. Tak lupa juga, FMN mengucapkan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia khususnya klas buruh dan kaum tani sebagai pemimpin dan sokoguru pembebasan yang selalu mengajarkan kami cara berjuang untuk meraih kemenangan sejati. Majulah Perjuangan Massa, Majulah Perjuangan FMN !

18 Mei 2016,
Hormat saya,



Rachmad P Panjaitan
Ketua PP FMN

Negara Mbok Jangan Nakut-nakutin, Gak seseram itu. Yang Menyeramkan ini, Rakyat makin Miskin PAK

Written By Front Mahasiswa Nasional on Jumat, 13 Mei 2016 | 23.13




Krisis menjadi ladang subur tumbuhnya Fasisme. Negara sekian kali Membungkam Kebebasan Rakyat

Krisis yang terus-menerus semakin akut dan kronis di tubuh imperialisme, telah mendorong berbagai rakyat negara-negara dunia harus menanggung bebannya. Kemiskinan, pengangguran, PHK massal, pendapatan dan daya beli menurun, perampokan sumber daya alam besar-besaran menjadi cerminan imperialisme di dunia.  Iya, imperialisme menggali lubang kuburnya sendiri. Watak eksploitasi, ekspansi dan akumulasi kapital, hanya akan melahirkan krisis ke krisis. Mengapa tidak ? sejak kapitalisme muncul di era abad ke 16 hingga kapitalisme mencapai puncaknya Kapitalisme monopoli internasional  (Imperialisme) di abad 19, krisis menjadi tanda kegagalan sistem sosial yang ditawarkan kepada masyarakat.

Perihal dalam catatan sejarah, imperialisme tidak dapat menyelesaikan kontradiksi krisis yang ada di tubuhnya. Era kebijakan liberalisme hingga Neo-liberalisme yang sudah dijalankan imperialisme, hanya semakin memperparah keadaan yang berimplikasi pada kehidupan rakyat yang bertambah menderita. Mengapa ? karena krisis ke krisis yang dimunculkan, hanya akan mengintensifkan penghisapan, penindasan, penjarahan atas hasil kerja rakyat yang dibarengi dengan perampokan besar-besar atas sumber daya alam. Dewasa ini, kebijakan-kebijakan Neo-liberal yang disebar ke seluruh dunia dengan berbagai varian beserta renovasinya, hanya melipatgandakan beban penghisapan dan penindasan kepada rakyat. Inilah yang disebut “imperialisme menggali lubang kuburnya sendiri”.

INGAT, Krisis ke krisis akan melahirkan kegaduhan/krisis politik. Negara sesama imperialisme itu akan saling memprovokasi rakyat dunia yang tujuan untuk memberikan keleluasan kepada imperialisme mendominasinya. Bukan provokasi dengan berbagai cap saja, namun dewasa ini mereka gencar pula mengembangkan isu demokrasi, ham, yang sejatinya adalah kedok untuk menjalankan skema penghisapan dan penindasannya terhadap rakyat dunia. Tapi, di tengah krisis yang semakin memberikan lonceng kematian bagi borjuasi internasionalnya, mereka bahkan memilih akan mengobarkan Perang di seluruh penjuru negeri untuk mendikte negara-negara dunia. Apakah itu menjadi sekutunya, atau menjadi negara-negara jajahan dan setengah jajahannya.  Iya imperialisme dan rejim reaksioner dalam negeri-negeri, akan menunjukkan sifat FASISME untuk membungkam dan merampas seluruh hak-hak dasar rakyat baik dalam aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Liat saja, Perang dunia I dan II.  Tentara-tentara Hero negara-negara imperialisme yang berperang, tidak sedikitpun untuk menyelamatkan rakyat dari kemiskinan. Sebaliknya, tentara-tentara imperialisme yang berperang dan bahkan melibatkan rakyat-rakyat dunia, hakekatnya adalah perang antar imperialisme. Iya kita mengenal ada 2 blok kekuatan imperialisme saat itu yakni Sekutu (Inggris, Prancis, AS) dan Sentral (German, Italia, Jepang). Dan dua kekuatan ini akan menarik seluruh negara-negara jajahannya untuk ambil bagian. Perang antar imperialisme ini hakekatnya hanya persaingan untuk keluar sebagai pemenang. Alhasil, pasca perang dunia ke II, AS keluar sebagai pemenangnya dan menjadi penguasa tunggal di antara imperialisme menguasai dunia dan bahkan hingga saat ini.

Pasca perang dunia ke II disebut Perang dingin. Ya yaaaa, perang ini lagi-lagi bagaimana memainkan perang ideologi diantara Blok Barat dan Timur. Perkembangannya AS dan sekutunya menang. AS semakin meneguhkan dirinya menjadi penguasa tunggal dunia dan mampu mengontrol sekutunya (G7), negara kapitalis hingga mendirikan negara-negara bonekanya yang banyak di Asia, Afrika dan Amerika Latin (indonesia masuk tuh).

Tapi lagi-lagi hukum dalam perkembangan imperialisme tidak dapat diperbaiki walaupun dengan berbagai cara memperbaruhinya. Maka jelas hari depannya tidak akan pernah memberikan keadilan maupun kesejahteran terhadap rakyat dunia. Dari Invisible Hand hingga era monopoli, keadaan rakyat tetap jatuh ke dalam jurang yang memiskinkan. Walaupun golongan-golongan borjuasi, memoleskan dengan “indah” namun imperialisme akan tetap menjalankan penghisapan, penindasan, perampokan dengan cara-cara halus hingga keji/fasis. Walaupun kaum intelektuil borjuis kemudian disuruh meneriakkan pemerataan ekonomi, namun lagi-lagi ketimpangan akan menghantuinya hingga di akhir hidupnya.

Iya krisis imperialisme era di tahun 2008 tidak bisa diselesaikan hingga saat ini. Yang ada, kondisi rakyat dunia semakin kacau, perang terus dikobarkan yang dikomandoi AS. Lagi-lagi rakyat menjadi korbannya, kawan. Di Indonesia, krisis imperialisme secara langsung semakin memerosotkan kehidupan rakyat. mengapa ? karena Indonesia adalah negeri setengah jajahan setengah feodal (SJSF) ? apa itu SJSF ? SJSF adalah negeri yang dikuasai oleh imperialisme AS dalam bentuk penjajahan barunya (setengah jajahan) melalui topangan basis sosial di dalam negeri yakni borjuasi besar komprador, tuan tanah besar (setengah feodal. jadi liat semata-mata raja atau bangsawan ya feodal hihi). Nah, persekutuan antara imperialisme AS dan feodalisme, melahirkan pemerintahan boneka broooo yang melayani. Tuh, makanya di desa-desa tanah dikuasai ama imperialisme borjuasi besar komprador dan tuan tanah besar. Apakah setan itu berbentuk PT. Freeport, Chevron, Sinar Mas, Lonsum, Lippo Group, Astra Group dan banyaklah (padahalkan tanah adalah alat produksi kaum tani. Iya klo dimonopoli, kaum tani hanya akan menjadi buruh tani atau tani miskin yang terus dililit kekuatan feodal). ahh, liat juga pabrik-pabrik kita, yang ada hanya industri manufaktiur dan rakitan, kagak ada juga yang menunjukkan pengembangan industri nasional. Atau bahasa pemerintah itu dari hulu ke hilir. Makanya persoalan monopoli tanah menjadi akar persoalan rakyat Indonesia yang ebrdampak pada kegagalan pembangunan industri nasional yang mandiri, berdaulat bebas dari kekuatan imperialisme AS dan feodalisme.   

Kebijakan neoliberalisasi imperialisme semakin dimasifkan di Indonesia. Pake kebijakan ekonomi Jilid I-XII menjadi bukti konkrit manifestasinya di dalam negeri. Efisiensi 3 jam, pemberian pajak insentif, pengadaan fasilitas logistik dan infrastuktur, liberalisasi BANK, dan sebagainya, semuanya memberikan keleluasan yang seluas-luasnya pada tuan imperialisme AS dan sekutunya (ehh Borjuasi besar komprador dan tuan tanah besar juga ya).
Sudah pasti paket kebijakan ekonomi Jilid I-XII ini melahirkan kemiskinan yang semakin parah. Mengapa ? karena paket ini sejatinya hanya menjadi dikte imperialisme dan feodalisme untuk semakin menghisap dan menindas nilai lebih kelas buruh dan hasil kerja kaum tani serta perampokan secara maksimal atas kekayaan alam di Indonesia dari Aceh hingga Papua Barat.

Karena paket kebijakan ekonomi merugikan rakyat dan bangsa, sudah tentu gerakan rakyat Bangkit. Nah, gitu-gitu latar belakang menguatnya fasisme saat ini kawan. Jadi bukan juga serta merta lahir secara alamiah yang tanpa penyebab.



Pembungkaman, Pembodohan semakin Nyata
 
Saat ini sangat santer berbagai isu yang menghantui rakyat Indonesia di tengah penghidupan ekonominya semakin menurun (jangan disusah-susahin, kami mau berjuang). Mulai dari isu China (Ohh iya, kita bukan nolak pekerja China omm, nanti ngikut pada gerakan Neo-fasis dikembangkan imperialisme di eropa dan amerika yang nolak imigran. Klas pekerja seluruh dunia itu bersahabat, musuh mereka adalah imperialisme) lambang, simbol yang mengidentifikasikan bahaya-bahaya Laten.

2 Pedagang di Blok M diringkus tim gabungan Polri dan TNI, karena kedapatan menjual kaus bergambar palu dan arit, yang identik dengan simbol organisasi yang dilarang negara. Bukan polisi aja yang nagkap tapi bersamaan dengan Kapendam Jaya Kolonel Inf Heri Prakosa.

Naas bagi pedagang ini, karena mereka hanya berjual baju yang selama ini bertemakan kaos-kaos band dari luar. Dan kaos yang ditangkap ini adalah gambar grup band kreator asal Berlin, German[1] (wah, sangat anti sekali dengan perkembangan seni budaya ya. Hmm, mati sudah kreativitasmu berseni).

Penangkapan tidak berhenti disitu ahh, Dua pemuda di Lampung diamankan aparat TNI setempat karena memakai kaus palu arit (09/05/2016). Lambang itu melukai hati bangsa, “ujar TNI sebagai alasan penangkapannya (hhmm, Baper nih).

Lalu seorang Pria diamankan Polres Malang lantaran memakai kaos gambar palu-arit, Sabtu (7/5/2016). Tragis! Pria bernama berumur 36 ini setelah diperiksa mengaku tidak tahu-menahu soal arti gambar pada kaos yang dipakainya. Ia sekadar memakainya saja. Jadi Pria ini berulang kali menjelaskan bahwa dirinya tidak mempunyai motif apa-apa akan simbol itu. Tapi pihak Polres Malang tetap saja memprosesnya.

Aksi penangkapan terjadi lagi terhadap mereka yang mengenakan benda-benda yang dianggap identik dengan phobia yang dibangun negara. Semalam, empat aktivis di Ternate, Maluku Utara, ditangkap aparat TNI dari Komando Distrik Militer 1501 Ternate[2].
Di antara mereka, tercatat dua aktivis Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Maluku Utara: Adlun Fiqri dan Supriyadi Sawai. Dua orang lainnya berstatus mahasiswa, Muhammad Yunus Alfajri (Universitas Khairun Ternate), dan M. Radju Drakel (Universitas Muhammadiyah Maluku Utara) pada jumat, 13 Mei 2016.

Mereka diamankan karena mengoleksi sejumlah kaus dan buku yang dianggap berpahamkan ideologi yang dilarang negara. Kaos “Pecinta Kopi Indonesia” dianggap sangat identik dengan partai yang dilarang itu.

Berbagai alasan penangkapan yang digunakan oleh Negara
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyatakan mulai emosi dengan isu penyebaran kembali paham komunisme di tengah masyarakat. Dia menuding (tidak jelas siapa) ada pihak yang hendak membangkitkan kembali Partai Komunis Indonesia secara terselubung[3].

“Saya berkali-kali mengingatkan agar jangan ada pihak-pihak yang memancing, memantik emosi, lama-lama terpancing juga ini,” kata Ryamizard dalam acara silaturahmi purnawirawan TNI/Polri serta ormas keagamaan dan kepemudaan yang digelar di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (13/5). Menhan ini menyatakan dasar penangkapan dan referesif kepada masyarakat sipil atas kasus ini mengacu pada Ketetapan MPRS Nomor XXV Tahun 1966 yang berisi pembubaran PKI dan pelarangan penyebaran paham komunisme.

Sementara alasan Kapolri atas berbagai penangkapan ini adalah tindakan kejahatan akibat penyebaran paham yang dilarang oleh negara. Itu diatur dalam UU nomor 27 tahun 1999 yang merupakan perubahan dari Pasal 107 KUHP yang berkaitan dengan kejahatan terhadap keamanan negara. Kapolri menjelaskan bahwa siapa yang menyebarkan paham ini akan ditindak secara tegas oleh pihak kepolisian

Dirinya menjelaskan tempat yang boleh menjadi sarana diskusi atau diizinkan untuk menunjukkan lambang palu arit disebutnya misalkan dalam sesi kuliah. Sebab itu disebut Badrodin dalam kapasitas akademik. Tapi sangat Hipokrit di dalam kenyataan dunia pendidikan. Karena realitanya banyak diskusi-diskusi kajian ilmiah atas paham ini dibubarkan kepolisian, TNI dan organisasi paramiliter di kampus-kampus[4].

Sedangkan Kepala BIN menyikapi permasalah ini dengan reaksioner. Dirinya menilai penindakan terhadap maraknya penyebaran atribut berlambang palu arit masih sesuai aturan dan undang-undang yang berlaku. Jadi tidak ada kebablasan dalam penindakan yang dilakukan TNI/Polri.

Dirinya menegaskan Regulasi yang mengatur larangan soal komunisme, marxisme, dan leninisme adalah Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS Tahun 1966 tentang Larangan Partai Komunis Indonesia masih berlaku di Indonesia. Ketetapan ini tidak termasuk yang diubah dalam TAP MPR Nomor 1 Tahun 2003[5].

Dan akhirnya Kepala dan wakil Negara/Pemerintahan kemudian memberikan arahan kepada TNI/Polri untuk melakukan pendekatak hukum (hmm, maka pendekatan militer sudah pasti diserukan) menindak para pelaku yang ditanggkap. Wakil Presiden JK, menjelaskan bahwa kita tidak perlu takut dengan komunisme. Karena paham ini sudah gagal di Indonesia. sama halnya dengan di Uni soviet maupun RRT (Hmm, belajar lagi ya pak, gimana kedua negara ini merestorasi kapitalisme disitu) sudah runtuh.

Presiden Jokowi tegas kemudian mmengintrusikan kepada jajaran pemerintahan khususnya TNI dan Polri menggunakan pendekatan hukum menyikapi maraknya atribut berlambang palu arit di Indonesia. Simbol palu arit digunakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Hal ini menjadi keputusan pertemuan antara Presiden Joko Widodo, Jaksa Agung Prasetyo, Kepala Badan Intelijen Negara Sutiyoso, dan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Mulyono, mewakili Panglima TNI. Jokowi tetap menegaskan menggunakan Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS Tahun 1966 tentang Larangan Partai Komunis Indonesia dan Pasal 107 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999 tentang perubahan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang berkaitan dengan Kejahatan terhadap Keamanan Negara.

Iyaa mereka menuai ketakutan, pembungkaman untuk merampas kebebasan rakyat memperjuangkan Hak-haknya. Lawan Fasisme.

Iya, krisis imperialisme yang ditransformasi di dalam negeri, menjadi akar menguatnya fasisme di Indonesia. Sebab, sudah menjadi Hukumnya apabila kebijakan neoliberalisasi imperialisme semakin menghisap dan menindas rakyat, maka fasisme akan berjalan secara beriringan. Fasisme merupakan wujud nyata dari kapitalisme birokrat (pemerintah) untuk menindas dan menghisap rakyat sebagai usaha untuk memuluskan kebijakan-kebijakan anti rakyat dan berpihak pada kepentingan imperialisme dan feodalisme. Di sisi lain, Penindasan dan penghisapan pasti melahirkan perjuangan. Apakah itu bersifat spontanitas ataupun terorganisir yang ditujukan untuk menuntut hak-hak dasar rakyat yang dirampas oleh imperialisme, feodalisme dan kapitalisme birokrat. Demikianlah fasisme semakin kuat yang esensinya adalah usaha untuk meredam gerakan rakyat memperjuangan hak-hak dasarnya.

Pemerintah akan melancarkan fasisme terselubung dan terbuka. Fasisme terselubung dilakukan dengan wujud mempertahankan dan mengeluarkan kebijakan yang merampas hak-hak rakyat untuk berekspresi, berpendapat dan berorganisasi. Lihat RUU Kamnas, UU Organisasi masyarakat, UU Intelijen, Re-militerisme (Revisi UU TNI, OBVNI dan sebagainya. Selain itu, akan menghembuskan  isu SARA hingga bahaya-bahaya laten sebagai jalan untuk membungkam dan mereferesif rakyat. Sementara bentuk Fasisme terbuka akan secara terang-terang menggunakan kekuatan TNI/POLRI hingga organisasi paramiliter untuk memukul hingga membantai seluruh rakyat yang melakukan perjuangan atas hak-hak dasarnya. Contohnya; Menangkap, memobilisasi TNI/Polri untuk merampas tanah yang diikuti kriminalisasi, menjaga kawasan industri hingga memukul gerakan buruh, membungkam dan mereferesif gerakan mahasiswa di kampus.

Jadi jelas bray, sist, bahwa fasisme itu menjadi salah-satu ciri kapitalisme birorakrat yang tujuannya hanya untuk; memuluskan kepentingan imperialisme dan feodalisme merampas hak-hak rakyat, mencegah dan memberangus gerakan rakyat sejatinya atas perjuangan hak-hak  ekonomi, politik dan budaya. Dan akhirnya, kita pun menyebutkan bahwa fasisme adalah buah dari krisis yang dimunculkan imperialisme beserta kaki tangannya di dalam negeri.  Karena perampasan dan monopoli tanah, politik upah murah, reklamasi, megaproyek infrastuktur, investasi, komersialisasi pendidikan, membutukan fasisme. Ohh iya, karena itu ini, menhan minta dinaikkan tuh anggarannya hahaha

Yukk sama-sama lawan fasisme dan perjuangkan kebebasan berekspresi, berpendapat dan berorganisasi serta majukan perjuangan rakyat atas akses demokrasi. 

Rachmad P Panjaitan (Ketua PP FMN)

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger