Headlines News :
Home » » Rakyat Dunia Bersatu Melawan Penghisapan Imperialisme!

Rakyat Dunia Bersatu Melawan Penghisapan Imperialisme!

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Sabtu, 28 Januari 2012 | 22.41


“Sekaratnya Sistem Kapitalisme dan
Bangkitnya Gerakan Perlawanan Rakyat dunia”


Imperialisme merupakan tahapan tertinggi dan  fase akhir dari Sistem Kapitalisme sebagai bentuk yang paling keji dan brutal. Imperialisme sudah tak Asing ditelinga dan Mulut rakyat, sebab mereka telah memahami bahwa Imperialisme adalah sumber petaka bagi seluruh Rakyat dunia. Krisis dan penderitaan Rakyat adalah akibat dari kerakusannya dan, Kebangkitan Gerakan perlawanan Rakyat adalah keniscayaan hingga kehancuran itu mutlak Baginya!

Krisis Global yang kian hebat, Menandakan Sekaratnya Sistem Kapitalisme.


Watak “Eksploitatif (Penghisapan dan Pengerukan), Akumulatif (Penumpukan bahan mentah dan hasil produksi), dan Ekspansif (Perluasan: Penguasaan atas pasar dan sasaran penghisapan)” adalah cermin kerakusan dari system kapitalisme. Dengan watak tersebut sudah menjadi hukumnya bahwa Imperialisme pasti akan melahirkan krisis. Dari berbagai tesis yang pernah ada, tidak terbantahkan bahwa Imperialisme tidak akan pernah mampu menyelesaikan deritanya atas krisis tersebut kecuali kehancuran yang akan menjadi penghujungnya.


Dibawah kepemimpinan Amerika Serikat (AS), krisis global didalam tubuh Imperialisme tersebut secara bertahap, bahkan dengan begitu cepat terus merosot dan semakin memburuk. Faktanya bahwa krisis tersebut, kini semakin hebat, kronis dan terus meluas. Krisis ekonomi dan keuangan global yang terjadi di AS pada tahun 2008 akibat over-produksi atas barang-barang teknologi tinggi, elektronik dan senjata telah menyebabkan depresi ekonomi dunia yang berat hingga sekarang. Situasi tersebut, kini semakin merosot dan telah diperparah dengan krisis keuangan akibat kerakusan spekulasi keuangan tak terkendali oleh kapitalis monopoli itu sendiri. Barang-barang komoditas produksi massal yang dihasilkan semakin menumpuk di tengah perkembangan pasar yang semakin menyempit dan merosotnya daya beli rakyat.

Krisis susulan pasca krisis keuangan 2008-2009 yang menimpa perusahaan-perushaan besar dunia, kini menjelma krisis utang yang menimpa negeri-negeri besar seperti AS dan Uni Eropa seperti Yunani, Portugal, Spanyol, Italia, Irlandia, dan Hongaria. Krisis utang ini meliputi masalah pembengkakan utang publik yang telah melewati batas wajar karena melebihi PDB suatu negeri dan masalah ancaman gagal bayar (default). Krisis utang publik tersebut, kini telah membawa dampak serius terhadap moneter, perbankan, kemerosotan ekonomi, naiknya jumlah pengangguran dan kemiskinan. Kemerosotan ekonomi yang menimpa dunia sekarang ini menandakan ketidakberdayaan seluruh negeri imperialis (G-8) beserta institusi keuangan dunia bentukan imperialis (IMF, Bank Dunia, EOCD, ADB). Skema dana talangan (Bail-out) yang selalu menjadi solusi utama (andalan) dalam menyelesaikan krisisnya, sejak fase perkembangan dari system kapitalisme hingga zaman Imperialisme saat ini, tidak pernah terbukti mampu menyelesaikan krisis yang dideritanya.

Dalam situasi demikian, Imperialisme terus menimpakan beban tersebut diatas pundak Rakyat diseluruh dunia dengan berbagai skema penghisapan yang dibentuknya. Melalui perjanjian-perjanjian dan kerjasama bilateral maupun multilateral, Rezim boneka yang telah dibentuknya diberbagai negeri dipaksakan untuk terus mengimplementasikan skema-skema tersebut secara maksimal, terutama di negeri-negeri setengah jajahan dan setengah feodal seperti Indonesia. Bahkan, terhadap Negara-negara yang melakukan proteksi atas dominasi Imperialis didalam Negerinya, dihadapkan dengan Agresi dan berbagai provokasi yang sudah pasti menyengsarakan Rakyat.

Selain dengan upaya-upaya tersebut, Imperialisme juga melakukan Konsolidasi atas negara-negara kawasan, baik di Kawasan Eropa maupun Asia untuk memperkuat pengaruh dan dominasinya untuk memaksa Negara-negara dalam kawasan tersebut ikut bertanggungjawab atas krisis yang dialaminya. Kongkritnya, selain pemaksaan untuk melakukan pemotongan subsidi Publik, menaikkan pajak dan menjalankan kebijakan neo Liberal yang manifes dalam bentuk Komersialisasi dan privatisasi atas berbagai sector public dan jasa, Negara-negara tersebut juga tetap akan dijadikan sebagai sumber penghisapan bahan mentah, sumber tenaga kerja murah dan pasar yang luas bagi pasar produksi Imperialisme yang telah lama tertimbun dan terus menumpuk.

Konsolidasi Imperialisem dikawasan Asia, melalui ASEAN, dengan Negara-negara yang kaya akan sumber daya alam dan populasi yang besar tentu dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan bahan mentah dan tenaga kerja murah, sekaligus sebagai pangsa pasar yang besar. Sehingga konsolidasi ASEAN terus diperluas dan dikembangkan untuk konsolidasi Asia timur yang disandarkan pada empat Negara besar yang memiliki jaminan atas bahan mentah dan populasi tersebut yaitu, China, India, Australia dan Indonesia. Komposisi keanggotaan EAS yang begitu penting dalam ekonomi dunia, membuat Amerika Serikat semakin agresif dalam melakukan dominasi dan memegang kendali atas EAS.

Selain dengan skema-skema perjanjian ekonomi, Politik dan Kebudayaan tersebut, Imperialisme AS juga terus melakukan promosi dan membangun kerjasama militer dan pertahanan dengan menggunakan isu terorisme. Dalam aspek tersebut, selain kepentingannya atas perdagangan senjata, Imperailisme AS sangat berkepentingan membangun kerjasama Militer untuk meng-counter gerakan Rakyat anti Imperialisme yang terus meluas. Bahkan Imperialisme AS sendiri telah menjalankan program Counter Insurgency-nya (COIN) dan telah menerbitkan buku panduan (Guide Book) untuk menjalankan COIN tersebut diberbagai Negeri. Artinya bahwa, segala upaya akan dilakukan oleh Imperialisme dalam melakukan penghisapan dan upaya penyelamatan dirinya atas krisis yang tengah diderita, baik dengan perjanjian kerjasama ataupun jalan kekerasan bahkan agresi militer.

Gerakan Rakyat Tak Pernah Mati, terus Bangkit dan meluas ke seluruh Negeri
Kemiskinan terus meluas dan penderitaan rakyat semakin hebat, demikian kondisi yang telah diciptakan Imperialisme atas kerakusannya dalam melakukan penghisapan seluruh aspek kehidupan rakyat. Kesakitan-kesakitan, keterpurukan dan berbagai bentuk penderitaan lainnya terus terakumulasi dan semakin membesar sebagai pemantik bangkitnya gerakan perlawanan rakyat untuk membebaskan diri dari penindasan keji Imperialisme bersama borjuasi komprador dan rezim bonekanya.

Semakin hari gerakan perlawanan rakyat diberbagai Negeri terus bermunculan dan Intensif. Hal tersebut membuktikan bahwa gerakan perlawanan rakyat telah bangkit dan terus meluas hingga seluruh penjuru dunia dari berbagai sector dan golongan. Teriakan-teriakan Rakyat menuntut pemenuhan Hak-hak dasarnya, kecaman-kecaman terhadap Imperialisme atas  penidasan dan penghisapan serta pembelejetan atas berbagai kebijakan Anti Rakyat dari rezim Boneka dalam Negeri terus menggema diberbagai negeri, terutama di Negeri-negeri jajahan, setengah jajahan dan setengah feudal seperti Indoneisa yang gerakannya mulai bermunculan baik di perkotaan maupun pedesaan.

Gerakan rakyat di Filipina dan Negeri lainnya dikawasan Asia, Gerakan Rakyat di Timur tengah, Hingga Eropa bahkan di Amerika Serikat sendiri telah mencerminkan gerakannya yang anti terhadap Imperilisme. Gerakan-gerakan tersebut telah muncul baik secara spontan maupun terorganisir dan terencana. Sudah sejak 10 (Sepuluh) tahun yang lalu, telah lahir Organisasi Rakyat yang berskala Internasional dengan Watak Anti Imperialisme, yaitu Liga Perjuangan Rakyat Internasional (International League of People’s Struggle/ILPS). ILPS menghimpun Organisasi-organisasi rakyat anti Imperialisme diberbagai sector dan golongan serta dengan berbagai isu spesifik diseluruh dunia.

Pada Bulan Juli lalu, tepatnya tanggal 07-09, ILPS telah menyelenggarakan Kongresnya yang ke-4 dengan berbagai rangkaian kegiatan sebagai upaya untuk memaksimalkan propaganda atas berbagai persoalan rakyat diberbagai sector atas dominasi dan penghisapan Imperialisme. Acara tersebut dihadiri oleh sedikitnya 500 Orang peserta perwakilan dari 300an Organisasi dari 40 (Empat puluh) Negara, termasuk salah satunya adalah ILPS Indonesia yang sudah memiliki 12 Organisasi Anggota hingga sekarang. Dalam Acara tersebut, ILPS Indonesia mengirimkan 15 Orang Delegasi dari: Gabungan Serikat Buruh Independent (GSBI), Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia (ATKI), INDIES, Serikat Pekerja Hukum Progressif (SPHP), Liga Premuda Bekasi (LPB) dan, Front Mahasiswa Nasional (FMN).

Untuk hasil yang Objektif dalam menilai dan menganalisa situasi Internasional atas berbagai persoalan Rakyat yang ditimpakan oleh Imperialisme, telah dilakukan pendiskusian-pendiskusian yang dalam melalui forum-forum sektoral dan multisektoral yang diselenggarakan sebagai rangkaian kegiatan kongresnya. Simpulan program perjuangan ILPS yang akan dijalankan oleh seluruh anggota disetiap Negara selama 4 (Empat) Tahun kedepan, dibacakan oleh perwakilan Masing-masing komisi. Sorak-sorai penuh antusias seluruh peserta semakin memeriahkan acara tersebut dan, mencerminkan semangat persatuan Internasional dan komitmen perjuangan yang kuat melawan Imperialisme.

Tepat setelah acara Internasional tersebut diselenggarakan, ILPS diberbagai Negeri telah menunjukkan peranannya dalam memimpin gerakan Rakyat yang menohok kepada Imperialisme dan penguasa didalam negeri atas penindasannya yang semakin brutal. Di Filipina misalnya, Gerakan rakyat disetiap sector terus meluas dan melakukan protes tiada henti dipusat-pusat pemerintahan dengan kemampuan mobilisasi mulai ratusan hingga puluhan ribu massa. Di Amerika sendiri, ribuan Massa membludak turun kejalan dan berujung pada pendudukan Wallstreet (Occupy Wall Street) dan, tepat tangal 15 Oktober 2011 ILPS secara serentak di 83 Negara menyelenggarakan Aksi bersama dengan Tema “Hari Aksi Global Melawan Imperialisme, Perampokan, Agresi dan Perang”. Selain menunjukkan kemarahan, kejenuhan dan komitmen perjuangan rakyat melawan penghisapan Imperialisme, gerakan hari aksi Global tersebut juga membuktikan persatuan kuat Rakyat dunia anti Imperialisme atas kesamaan pandangan dan sikap meletakkan Imperialisme sebagai sumber petaka dan musuh bersama bagi Rakyat tertindas diseluruh Dunia.

Berbagai pergolakan dan bentuk-bentuk perjuangan Rakyat diseluruh dunia semakin membuktikan bahwa gerakan Rakyat tidak pernah terhenti, melainkan terus berkembang, meluas dan semakin kuat dan akan menghantarkan Imperialisme pada puncak kehancurannya. Gerakan-gerakan tersebut akan terus menjadi Inspirasi bagi Rakyat tertindas lainnya diberbagai negeri, bahwa tiada jalan lain untuk melepaskan diri dari ketertindasan saat ini melainkan dengan mengorganisasikan diri dan berjuang bersama. Bagi Rakyat tertindas di Negeri jajahan, setengah jajahan dan setengah Feodal (SJSF) seperti Indonesia, tidak lagi bisa dikibuli dengan Ilusi demokrasi palsu ataupun janji kesejahteraan atas nama pembangunan.

Bagi Rakyat di Negeri SJSF. Dengan pemerintahan yang berada dibawah kuasa Rezim penghamba seperti Susilo Bambang Yudhoyono yang telah semakin terang menunjukkan Watak Fasisnya, Anti kritik, anti rakyat dan anti demokrasi. Telah terang tiga Musuh utamanya “Imperialisme, Feodalisme dan Kapitalisme Birokrat”, maka terang pula jalan keluarnya yaitu Perjuangan Demokratis Nasional yang mencerminkan perspektif perjuangan Anti Imperialisme dan Anti Feodal dengan watak Patriotik, Demokratik dan Militant.

Jayalah Perjuangan Rakyat!
Jayalah Solidaritas Perjuangan Internasional!   
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger