Headlines News :
Home » » Refleksi 9 (Sembilan) Tahun

Refleksi 9 (Sembilan) Tahun

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Kamis, 17 Mei 2012 | 20.47


Front Mahasiswa Nasional (FMN)

Atas nama, segenap Kollektif Pimpinan Pusat, Dewan Pimpinan Pusat (PP-DPP) dan keluarga besar Front Mahasiswa Nasional (FMN), kepada Seluruh jajaran Organisasi FMN, kepada massa pemuda dan mahasiswa, kepada massa rakyat dalam semesta perlawanan Kami Ucapkan:

“SELAMAT ULANG TAHUN KE-IX”
Front Mahasiswa Nasional (FMN)

Terus bergerak menuju kualitas termaju seiring kedewasaannya, tetap jaya dan selalu menjadi Organisasi Massa Mahasiswa yang kritis, progressif dan senantiasa tulus melayani massa dan mengabdi pada perjuangan.




Terus Tingkatkan Rekruitmen dan Konsolidasi Anggota, Intensifkan Kerja Massa untuk memperluas jangkauan dan pengaruh Organisasi!
“Perkuat Kembali FMN Sebagai Alat Perjuangan Massa Pemuda-Mahasiswa dan, Senantiasa Mengabdi Pada Rakyat”.



A.     Pengantar
Perkembangan situasi Internasional dan Nasional
Untuk kesekian kalinya, melalui berbagai media tidak bosan dan tak hentinya kita akan terus membongkar dan Meng-update setiap perkembangan atas situasi dunia yang semakin terhimpit akan krisis yang tak jua membaik dan terus meluas dan meningkatnya gerakan Rakyat diseluruh penjuru dunia.

Hingga menjelang pertengahan tahun 2012 ini, perkembangan situasi dunia tersebut tidak sedikitpun menunjukkan keadaannya untuk membaik sebagai jawaban dan harapan bagi Rakyat akan perubahan hidup dan pendereritaan yang kian hebat. Promosi-promosi dan berbagai bentuk propaganda palsu atas pertumbuhan Ekonomi China maupun India sebagai keberhasilan atas sistem kapitalisme hanyalah kebohongan semata yang akan terus dibangun oleh Imperialisme untuk memperkuat “Ilusi-nya” terhadap Rakyat akan kebaikan dari Sistem Kapitalisme. Demikian pula dengan promosi dan propaganda akan keberhasilan Indonesia dan Thailand dalam menerapkan Sistem Demokrasi, yang sejatinya hanyalah Demokrasi Palsu yang semakin membodohi Rakyat yang tengah kehilang perlindungan atas keselamatan dan keamanannya.

Hal tersebut, terbukti bahwa segala upaya yang dilakukan oleh kapitalisme monopoli (Imperialisme) dalam menyelesaikan deritanya akan krisis yang terus memuncak sejak tahun 2000an telah melahirkan krisis-krisis baru yang tiada lain hanya akan terus menyisakan penderitaan yang semakin tajam bagi rakyat. Kenyataannya, Krisis ekonomi sebagai akibat dari over produksi barang berteknologi tinggi, persenjataan dan komoditas lainnya telah melahirkan krisis keuangan yang menguras seluruh sumber dan cadangan Financial Imperialisme itu sendiri.

Hal tersebut, tampak dari kenyataan bahwa defisitnya anggaran yang dimiliki oleh lembaga-lembaga keuangan Internasional milik Imperialisme itu sendiri, seperti IMF, Word Bank, serta defisitnya Anggaran dan Kas negara yang dialami oleh Negara-negara Imperialis dikawasan Eropa seperti Jerman, Spanyol, Italia, dan Francis yang juga mengalami defisit yang tak kalah merosotnya. Bahkan Negara Imperialis seperti Inggris (United Kingdom) sekalipun, pada pertengahan 2010 lalu telah dihadapkan dengan Kekosongan Kas Negara.

Situasi demikian tersebut adalah senyata-nayata akibat dari spekulasi yang dilakukan oleh Imperialisme dalam upaya pemulihan dan penyelamatan atas perusahaan-perusahaan besar milik Imperialisme yang telah mengalami kerugian bahkan kebangkrutan (Colaps) akibat overproduksi yang tidak dapat mengembalikan besarnya beban biaya produksi yang telah dikeluarkan. Upaya-upaya tersebut telah dilakukan dengan cara pemberian dana talangan (Bail Out) serta dana Fiskal yang selain menguras anggaran Negara, Anggaran dari Lembaga keuangan dan perbankkan yang ada, bahkan telah mendongkrak pungutan pajak yang tinggi bagi Rakyat.

Situasi demikian kembali telah mendorong Imperialisme semakin mengintensifkan Eksport kapital keberbagai Negara, baik dalam bentuk Investasi maupun utang yang tak terjamin realisasi pengembaliannya, sehingga ancaman akan “gagal bayar” bagi Negara-negara penghutang tersebut adalah Konsekwensi yang tak terhindarkan. Faktanya, situasi tersebut dalam perkembangannya telah melahirkan krisis Utang yang menimpa Negara-negara Imperialis dan negara-negara lainnya dikawasan Eropa, bahkan Amerika Serikat itu sendiri yang beban utangnya terus meningkat.

Selain karena kegagalannya dalam menstabilkan situasi Ekonomi Dunia atas krisis tersebut, juga didasarkan atas watak dasarnya yang “Eksploitatif, Akumulatif dan Ekspansif” Imperialisme terus menerus melimpahkan beban tersebut diatas pundak rakyat diseluruh penjuru dunia, dengan semakin Mengintensifkan Penghisapan dan penguasaannya atas sumber-sumber daya alam (bahan mentah), Tenaga produksi (Manusia dan alat kerja) serta pasar yang luas dengan berbagai skema liberalisasi. Situasi tersebut, tidak terhindarkan hanya melahirkan penderitaan yang semakin hebat bagi Rakyat. Bahkan, tidak terhindarkan pula cara-cara kekerasan dengan melakukan provokasi bahkan Agresi terhadapa negara-negara yang secara lansung mengambil posisi berhadap-hadapan dengan Imperialisme itu sendiri akan selalu menjadi Cara utama bagi Imperialisme dalam menancapkan Dominasi dan Intervensinya untuk Menguasai Negara-negara tersebut dengan seluruh kekayaan yang dimilikinya.
    
SBY tetap Rezim Paling Loyal sebagai Boneka bagi Imperialisme
Dalam berbagai kenyataan, melalui perjanjian dan kerjasama serta kebijakan-kebijakan yang dibentuknya didalam negeri, SBY telah menunjukkan ketidak berpihakannya terhadap rakyat. Dari berbagai tindakan reaksinya terhadap rakyat secara lansung, Rezim ini terus membuktikan loyalitasnya kepada Sang Tuan (Imperialis), bahkan dengan tanpa ragu menjadikan rakyat sebagai tumbalnya. Melalui forum-forum Internasional, Regional maupun Bilateral yang melahirkan berbagai perjanjian kerjasama bilateral dan multilateral telah menciptakan penderitaan rakyat yang semakin hebat. Perjanjian kerjasama Komprehensif US-Indo yang mencakup seluruh sector dan dalam berbagai aspek kehidupan rakyat, melalui pertemuan Bilateral Obama-SBY di Jakarta pada akhir tahun 2010 lalu, oleh SBY beserta seluruh jajaran Pemerintahannya terus disempurnakan dengan berbagai Program dan kebijakan yang dilegalkan dengan berbagai Regulasi yang secara terang-terangan telah merenggut hak dan kedaulatan Rakyat.

Pembagian wilayah untuk pembangunan Ekonomi serta berbagai Sektor khusus lainnya, yang diikuti dengan kucuran Investasi dan hutang terus dikembangkan. Program perdagangan tenaga kerja melalui Program Fleksibelitas pasar Tenaga kerja (Labor Market Flexibility) untuk mendapatkan tenaga kerja murah serta Program atas upaya-upaya penghapusan bea Eksport-Import secara bertahap yang ditargetkan hingga titik “NOL” untuk menjamin terbukanya pasar didalam negeri dan terlaksananya perdagangan bebas.  Sedangkan dilapangan kebudayaan tetap melakukan efisiensi dan relevansi pendidikan (Terutama pendidikan Tinggi) yang diorientasikan untuk mencetak tenaga-tenaga kerja berketrampilan rendah yang hanya dapat dijadikan sebagai buruh murah pelayan Imperialisme, serta sebagai upaya lansung untuk mempertahankan budaya terbelakang didalam negeri dan penerapan Ide dan kebudayaan imperialis yang semakin menjauhkan Rakyat dari kenyataan Objektifnya.

Liberalisasi dan kebijakan Anti Rakyat SBY-Boediono juga tampak dari Program yang saat ini sedang digencarkan oleh Pemerintah, yaitu Program “Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)” yang akan semakin mensyaratkan terjadinya perampasan tanah rakyat dalam skala besar dan penggusuran terhadap rakyat miskin diperkotaan dengan dalih untuk pembangunan dan kepentingan umum. Esensi program tersebut sesungguhnya akan semakin intensifnya penghisapan Imperialisme atas seluruh sumberdaya alam Indonesia dan sebagai upaya untuk mempermudah (Efisiensi) produktifitas Industri Imperialis yang bercokol didalam negeri.

Untuk melegitimasi seluruh skema penghisapannya, selain dengan Mengesahkan UU Pengadaan Tanah pada tahun 2011 lalu untuk mengintensifkan perampasan dan monopoli atas Tanah, Pemerintah juga telah mengesahkan UU Intelejen pada 11 Oktober 2011, sebagai legitimasi atas tindak kekerasan dan upaya untuk menghambat dan memberangus gerakan Rakyat yang sudah pasti akan terus meningkat. Selain itu, Untuk Melegitimasikan Privatisasi dan Disorientasi Pendidikan, serta berbagai bentuk Liberalisasi lainnya, Pemerintah juga telah membentuk RUU Pendidikan Tinggi yang kini semakin Mengancam Sektor Pendidikan, khususnya Pendidikan Tinggi. Bahkan Saat ini, Pemerintah telah mengesahkan Undang-undang Penyelesaian Konflik Sosial (UU PKS) yang sejatinya akan semakin mengukuhkan Watak Fasis dari Pemerintahan SBY dengan memasukkan atau memberikan kewenangan kepada militer (TNI dan POLRI) terintegrasi dalam setiap penyelesaian konflik, serta masih banyak lagi kebijakan anti rakyat lainnya.

Manifestasi dari seluruh skema yang dijalankan oleh Pemerintah tersebut, telah menghadapkan rakyat dengan kenyataan dan situasi dimana selain persoalan harga saranan produksi pertanian (Saprotan) yang tinggi dan harga produksi yang rendah, kaum tani juga dihadapkan dengan perampasan dan monopoli atas tanah yang kian meluas, terutama untuk perkebunan dan pertambangan. Demikian juga kaum buruh yang tak putus-putusnya dihadapkan dengan perampasan upah dan berbagai skema politik upah murah, PHK dan pemberangusan serikat oleh Perusahaan maupun oleh Pemerintah secara lansung. Hal demikian dan berbagai bentuk penindasan lainnya juga dihadapai oleh Rakyat diberbagai sektor lainnya, seperti penggusuran pemukiman penduduk, penggusuran pedagang kaki lima dan lain sebagainya.

Situasi demikian telah menyebabkan rakyat semakin menderita, sehingga kejenuhan Rakyat yang senantiasa terancam atas keselamatan dan keberlansungan hidupnya, tidak sedikit Rakyat (Khususnya kaum tani dan pendudukan  Desa) harus bermigrasi ke Kota atau dengan terpaksa mengikuti skema perdagangan tenaga kerja (Terutama untuk bekerja keluar Negeri sebagai TKI/BMI) yang dijalankan oleh Pemerintah. Namun seiring meningkatnya kesadaran  dan bangkitnya gerakan rakyat atas penindasan tersebut, tidak sedikit Rakyat yang telah dengan gagah berani mempertaruhkan hidupnya mengambil posisi berhadapan dengan Aparat (TNI, POLRI maupun Sipil yang dijadikan Alat pemaksa dari Pemerintah) untuk menuntut dan mempertahankan haknya.

Situasi Umum Pemuda dan Pendidikan di Indonesia:
Relevansi dan Efisiensi Pendidikan serta stabilitas angka pengangguran adalah skema Pemerintah dalam menyediakan tenaga kerja murah yang melimpah bagi Imperialisme.
Dengan berbagai persoalan atas hilangnya kedaulatan rakyat atas sumber daya alam dan seluruh kekayaan Indonesia, telah menjebak rakyat dalam berbagai skema penghisapan oleh Imperialisme melalui perpanjangan tangannya didalam negeri, yaitu borjuasi besar komprador dan Rezim boneka. Artinya bahwa, sudah menjadi persoalan pokok rakyat Indonesia hingga saat ini, yaitu perampasan dan monopoli atas tanah baik yang dilakukan oleh Perusahaan-perusahaan swasta milik Imperialisme ataupun oleh Negara secara lansung telah mengantarkan rakyat Indonesia dalam jurang kemiskinan yang mendalam. Dengan kenyataan bahwa mayoritas (Mencapai 65%) populasi Indonesia adalah kaum tani, seiring perampasan dan monopoli atas tanah yang kian massif diseluruh wilayah Indonesia secara terus menerus menambah angka buruh tani yang semakin besar, bahkan menduduki jumlah terbesar dari total jumlah petani yang ada.

Dengan kondisi demikian, sudah pasti mengakibatkan semakin hilangnya mata pencaharian sebagian besar rakyat Indonesia, ditambah lagi dengan persoalan sistem pendidikan di Indonesia yang sama sekali taidak mampu mengakomodir kepentingan Rakyat, untuk dapat memecahkan persoalannya secara mandiri dengan seluruh potensi yang dimiliki dan kekayaan alam Indonesia. Dimana pendidikan sebagai topangan mendasar akan maju dan berkembangnya kebudayaan suatu bangsa yang tercermin dalam kemampuannya memecahkan setiap persoalan yang ada disekitarnya baik secara politik, ekonomi maupun kebudayaan. Kenyataan pendidikan di Indonesia sudah sangat jauh dari perspektif dan Orientasinya untuk memajukan budaya dan mensejahterakan Rakyat Indonesia. Hal tersebut, tampak dari sistem penyelenggaraan, pembiayaan dan kurikulum yang jauh dari kenyataan hidup Rakyat.

Sementara itu, ditengah perampasan dan monopoli tanah yang meluas dan, disorientasi pendidikan yang menghambat berkembangnya sumberdaya manusia yang ada, Pemerintah juga tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang merata dan dapat diakses oleh seluruh Rakyat sebagai jaminan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, telah menciptakan angka pengangguraan yang melimpah. Besarnya angka pengangguran tersebutlah yang kemudian menjadi salah satu primadona akan dagangan pemerintah untuk menarik investasi ataupun perdagangan tenaga kerja murah baik didalam negeri maupun diluar Negeri.

Untuk tenaga kerja yang dijual keluar Negeri (BMI), telah ditargetkan oleh pemerintah untuk  dapat melakukan Eksport tenaga kerja dengan jumlah yang besar (Minimal 1 juta pertahun) dengan dalih untuk mengurangi angka pengangguran dan meretas kemiskinan. Buruh migrant yang telah disebarkan keberbagai negeri (Kurang lebih 40 Negara) telah memberikan devisa yang besar bagi Negara (menempati urutan kedua tertinggi) dalam sumber pendapatan Negara. Saat ini Indonesia berhasil meningkatkan ekspor buruh migran hingga lebih dari 8 juta orang di Luar Negeri dengan kontribusi remitansi sebesar Rp 100 triliun per tahun.

Dilain sisi, Buruh migrant juga tidak terbebaskan dari persoalan perampasan atas upah dan tidak adanya jaminan perlindungan dari pemerintah, karenanya tidak heran jika banyak BMI yang pulang dengan tangan kosong, meninggalkan hutang, bahkan tidak sedikit yang pulang tak bernyawa akibat tindak kekerasan ataupun penyiksaan yang dilakukan oleh majikan diluar Negeri. Ironisnya, dari berbagai kasus yang ada pemerintahan SBY-Boediono tidak pernah memberikan pertanggungjawaban yang kongkrit atas persoalan-persoalan yang dialami BMI dan keluarganya. Pemerintah justeru jauh lebih sibuk menunjukkan pertanggung jawabannya dengan politik pencitraan dan pembenaran atas apa yang sudah dilakukan, seperti pembentukan satgas-satgas yang hanya menghabiskan anggaran negara dan tidak berhenti melakukan perampasan upah terhadap BMI.

FMN sebagai Alat Perjuangan Pemuda-Mahasiswa dan ter-Integrasi dalam Perjuangan Rakyat
Problem pemuda atas pendidikan, lapangan pekerjaan, ketersediaan dan produktifitas lahan pertanian tidak terlepas dari ancaman imperialisme melalui berbagai bentuk kebijakan dan skema penghisapan. Persoalan pengangguran juga tidak terlepas dari upaya negeri-negeri imperialis untuk membuat perekonomian tidak berkembang pesat dan maju melalui sebuah industri nasional yang kuat dan reforma agraria sejati sebagai dasarnya. Hal ini untuk memudahkan proses eksploitasi terhadap tenaga kerja murah dan penguasaan sumber-sumber agraria serta berjalannya berbagai skema penindasan lainnya didalam negeri oleh negeri-negeri imperialis. Sementara Rezim boneka dengan watak anti Rakyat seperti SBY-Boediono yang telah terbukti paling setia terhadap tuan Imperialisnya dibandingkan rezim-rezim sebelumnya, akan selalu bersedia menyerahkan seluruh sumber kekayaan didalam negeri dengan suka rela. Dengan pemaparan di atas, maka pemuda dan mahasiswa di Indonesia memiliki beberapa tugas-tugas penting yaitu:

1.       Membangkitkan, mengorganisasikan dan menggerakkan massa mahasiswa untuk menuntut hak-hak demokratis-nya.
Atas dasar kenyataan kongrit persoalan Pemuda dan Mahasiswa atas lapangan pekerjaan, Pendidikan yang makin tidak terjangkau dengan kualitas yang rendah, maka menggencarkan Perjuangan atas “Sistem Pendidikan Nasional yang ilmiah, Demokratis dan Mengabdi pada rakyat” sebagai salah satu program utama dari gerakan Pemuda dan Mahasiswa. Selanjutnya, yang harus dipahami oleh seluruh jajaran Anggota FMN khususnya, Pemuda dan Mahasiswa pada umumnya, bahwa hal tersebut hanya bisa dicapai ketika massa pemuda dan mahasiswa bangkit, berorganisasi dan bergerak bersama. Karenanya, Organisasi-organisasi massa pemuda dan mahasiswa termasuk Front Mahasiswa Nasional (FMN), harus menyadari betul bahwa pekerjaan-pekerjaan membangkitkan, mengorganisasikan dan menggerakkan massa mahasiswa adalah hal pokok dalam setiap  aktifitas yang dilakukan.

Membangkitkan kesadaran massa atas persoalan-persoalan konkret yang dihadapi hingga pada tingkat pemahaman lebih kompleks akan akar persoalan penindasan imperialisme, feodalisme dan kapitalisme birokrat. Hal tersebut kemudian hanya bisa dijawab ketika kerja-kerja pendidikan dan propaganda terus dilakukan secara Intensif, Massif dan, berkelanjutan, baik secara solid maupun luas ditengah-tengah massa. Tanpa membangkitkan massa, maka sulit bagi sebuah organisasi massa mahasiswa untuk bisa mengorganisasikan ataupun menggerakan massa mahasiswa dalam memperjuangkan hak-hak demokratisnya. 

Dengan berlandaskan pada kesadaran bahwa hanya kekuatan massa yang bisa melakukan perubahan, maka pekerjaan Mengorganisasikan massa adalah langkah untuk bisa menghimpun kekuatan massa seluas mungkin. Disinilah peran organisasi sebagai alat perjuangan massa untuk mencapai cita-cita perjuangan sangat dibutuhkan. Hanya massa yang terorganisir dengan baik, dipandu oleh garis politik yang tepat dan di bawah kepemimpinan organisasi yang tepat yang akan bisa melakukan perubahan. Pengorganisasian massa dengan bertopang pada propaganda sekaligus pengorganisasian solid adalah kunci utama dalam mengorganisasikan massa. Menekankan pembangunan basis pokok mahasiswa (Kampus) dengan memadukan kerja propaganda dan pendidikan solid dan luas, pembentukan grup-grup pengorganisasian solid di tingkat kampus menjadi tugas-tugas mendesak untuk membesarkan gerakan massa mahasiswa.

Selanjutnya, Menggerakan massa mahasiswa setelah kesadarannya dibangkitkan dan diorganisasikan dalam sebuah organisasi, adalah langkah untuk keluar dari segala persoalan yang dihadapi massa. Karena hanya dengan jalan perjuangan massa, tuntutan-tuntutan massa bisa diperjuangkan. Perjuangan massa juga nantinya akan melahirkan pimpinan-pimpianan massa. Untuk itulah perubahan disebut “karya massa”.

2.   Membangun Persatuan (Front) bersama kekuatan pemuda dan mahasiswa di Indonesia untuk memperjuangkan hak-hak demokratis pemuda dan mahasiswa
Dalam memperjuangkan hak-hak demokratis pemuda dan mahasiswa, maka diperlukan juga persatuan dari seluruh kekuatan pemuda dan mahasiswa dengan membangun front sektoral pemuda dan mahasiswa. Organisasi-organisasi massa mahasiswa, lembaga-lembaga mahasiswa, unit-unit kegiatan mahasiswa hingga komunitas-komunitas mahasiswa di kampus, harus menyadari bahwa pemenuhan hak-hak demokratis pemuda dan mahasiswa, baik di kampus hingga yang berkaitan langsung dengan kebijakan pemerintahan secara umum terhadap pemuda dan mahasiswa, harus diperjuangkan secara bersama-sama.

Membangun persatuan pemuda dan mahasiswa dalam memperjuangkan hak-hak demokratisnya, memiliki arti penting sebagai sebuah tugas untuk memperbesar dan memperluas pengaruh gerakan massa demokratis di kalangan massa pemuda dan mahasiswa secara luas, untuk dapat memenangkan setiap tuntutan dan memecahkan setiap persoalannya. Memperkuat persatuan di gerakan massa demokratis pemuda dan mahasiswa sekaligus sebagai bagian dari upaya untuk meng-isolir atau mengucilkan kekuatan klik paling reaksioner di Indonesia, mulai dari tingkat kampus hingga tingkat nasional.

3.   Mengabdi pada rakyat dengan mencurahkan seluruh tenaga dan pikiran untuk meningkatkan taraf kebudayaan rakyat Indonesia
Tugas ini merupakan salah satu tugas mulia yang harus diemban oleh gerakan pemuda dan mahasiswa di Indonesia. Disadari bahwa sistem pendidikan yang tidak ilmiah, tidak demokratis dan tidak mengabdi pada rakyat, telah mengakibatkan tingkat kebudayaan rakyat Indonesia sangat terbelakang. Jumlah putus sekolah dan angka buta huruf yang masih cukup tinggi, setidaknya menjadi cerminan betapa masih terbelakangnya tingkat kebudayaan rakyat Indonesia.

Gerakan pemuda dan mahasiswa yang memiliki tingkat mobilitas sosial dan politik yang cukup tinggi, serta dibekali dengan sejumlah kecakapan ilmu dari bangku kuliah, mau tidak mau harus berupaya memecahkan hal tersebut dengan mencurahkan segala tenaga dan pikiran demi meningkatkan kemajuan kebudayaan rakyat Indonesia. Saling merangkul dan Integrasi menyelami kehidupan rakyat, terutama klas buruh , kaum tani dan kaum miskin perkotaan—melalui kegiatan-kegiatan pelayanan sosial di bidang pendidikan, kebudayaan, olahraga dan kesehatan kepada rakyat secara sukarela dan cuma-cuma harus dijadikan sandaran sebagai salah satu bentuk pengabdian pemuda dan mahasiswa kepada rakyat Indonesia.

Hal ini juga ditujukan untuk terus memperteguh keyakinan pemuda dan mahasiswa agar selalu setia dalam berjuang. Karena hanya dengan mengetahui secara langsung kenyataan konkret kehidupan rakyat tertindas Indonesia, pemuda dan mahasiswa bisa menyadari sesungguhnya realitas kemiskinan dan keterbelakangan yang dihadapi oleh rakyat Indonesia. Karena kenyataan tentang kehidupan rakyat Indonesia, tidak didapatkan dari bangku kuliah yang terus mendidik mahasiswa dengan ide-ide atau nilai-nilai imperialisme dan feodalisme melalui sistem pendidikan yang dijalankan oleh Pemerintah yang semakin Liberal, dan jauh dari esensi dan hakekat dari pendidikan itu sendiri.

4.   Terlibat aktif bersama seluruh rakyat Indonesia dalam front multisektor untuk memperjuangkan hak-hak demokratis seluruh rakyat Indonesia
Gerakan pemuda dan mahasiswa bukanlah sebuah gerakan yang terpisah dari gerakan rakyat Indonesia lainnya. Gerakan pemuda dan mahasiswa adalah satu kesatuan atau menjadi bagian dari perjuangan dan gerakan rakyat di Indonesia secara keseluruhan. Untuk itu, dalam upaya memperjuangkan hak-hak demokratis rakyat sekaligus sebagai upaya melawan dominasi imperialisme dan rejim boneka-nya di Indonesia, gerakan pemuda dan mahasiswa harus selalu sigap dan cepat dalam merespon setiap persoalan yang dialami oleh Rakyat, baik persoalan pokok rakyat yang telah mengakar  kuat bersama sistem yang terus dipertahankan oleh pemerintah saat ini, maupun dalam merespon setiap isu dan perkembangan Situasi yang muncul secara Insidensial, Kasuistik ditengah massa rakyat saat ini yang sejatinya adalah akibat dari sistem yang dipertahankan oleh Pemerintah tersebut.

Selanjutnya, Pemuda dan Mahasiswa harus terlibat aktif dalam membangun front multisektor yang terdiri dari seluruh kekuatan rakyat Indonesia yang anti imperialisme dan anti feodalisme. Front multisektor yang terdiri dari berbagai kekuatan rakyat yang anti imperialisme dan anti feodalisme tersebut, harus diupayakan berdasarkan persekutuan kekuatan pokok kelas buruh dan  kaum tani di bawah kepemimpinan kelas buruh. Hanya front multisektor demikianlah,  yang sanggup memperluas pengaruh gerakan massa demokratis di kalangan massa rakyat luas dan mengucilkan klik paling reaksioner di Indonesia.

Peranan aktif gerakan pemuda dan mahasiswa di dalam front multisektor ini adalah siap berjuang dan bahu membahu dengan kekuatan klas buruh dan kaum tani dalam menggelorakan perjuangan massa. Gerakan pemuda dan mahasiswa harus menunjukkan bahwa pemuda dan mahasiswa patriot muda sejati dan pelayan setia bagi rakyat Indonesia yang siap sedia selalu bersatu dan berjuang bersama rakyat untuk menegakkan demokrasi dan kemerdekaan sejati bagi bangsa dan rakyat di negeri ini.  

5.   Membangun front internasional dengan gerakan pemuda dan mahasiswa serta rakyat di dunia atas dasar solidaritas internasional anti imperialisme
Perampokan dan perang agresi imperialis terhadap negeri-negeri jajahan dan setengah jajahan yang dipimpin oleh imperialis Amerika Serikat (AS), telah mengakibatkan rakyat di berbagai belahan dunia hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan, tak terkecuali bagi Indonesia.
                                 
Demi nafsu menguasai sumber-sumber minyak dan berbagai sumber kekayaan alam lainnya, eksploitasi terhadap tenaga kerja murah dan penguasaan pasar, imperialisme pimpinan AS tidak saja berupaya menancapkan dominasinya secara politik, ekonomi dan budaya di suatu negeri, tetapi bahkan secara militer. Hal ini dibuktikan dengan invasi yang pernah dilakukan imperialis AS ke Afghanistan, Irak, Lebanon, Libya, Suriah maupun provokasi-provasi yang dilakukan terhadap berbagai Negeri. Imperialis AS adalah sang barbar yang selalu haus darah dan membunuh ratusan ribu hingga jutaan rakyat tak berdosa hanya untuk memenuhi nafsu serakah kaum kapitalis monopoli internasional.     

Dominasi imperialisme juga telah mengancam hak-hak pemuda dan mahasiswa di berbagai belahan dunia. Terjadi monopoli ilmu pengetahuan dan teknologi di tangan Negara-negara imperialis dan perusahaan-perusahaan raksasa kaum kapitalis monopoli internasional. Diberlakukannya privatisasi pendidikan sebagai komoditi jasa yang telah diatur dalam organisasi perdagangan dunia (WTO), pencabutan subisidi pendidikan termasuk di negeri-negeri induk imperialis hingga pembatasan lapangan pekerjaan bagi kaum pemuda. Hal yang telah menimbulkan kebangkitan perlawanan kaum pemuda dan mahasiswa di berbagai belahan dunia dalam tahun-tahun belakangan ini, sebagaimana yang terjadi di Prancis, Spanyol, Jerman, Italia, Yunani, Inggris bahkan di Amerika Serikat sendiri. Demikian pula gerakan Pemuda dan Mahasiswa dikawasan Asia yang juga tidak kalah meluasnya dalam menuntut kesetaraan atas akses pendidikan, penolakan penaikan biaya pendidikan dan pemotongan subsidi pendidikan dan ketersediaan atas lapangan Pekerjaan.

Dominasi imperialisme AS dan rejim boneka-nya di berbagai belahan dunia, juga telah menciptakan krisis yang terus menajam sehingga telah melahirkan kebangkitan perlawanan rakyat dari negeri-negeri jajahan dan setengah jajahan. Di Amerika Latin, tampil rejim-rejim populis seperti Hugo Chavez dan Evo Morales yang dengan lantang berani menentang dominasi imperialisme AS. Di timur tengah, rakyat Irak, Iran, Lebanon dan Palestina tidak berhenti untuk terus menunjukkan perlawanannya terhadap dominasi imperialis AS. Di India, Nepal, Filipina, Turki, Mesir, Yaman dan Suriah perlawanan rakyat juga tidak pernah surut terhadap dominasi imperialis dan rejim boneka-nya.

Untuk itulah, sangat penting bagi gerakan pemuda dan mahasiswa di Indonesia, untuk membangun front internasional bersama gerakan pemuda dan mahasiswa serta rakyat di dunia sebagai bagian dari perjuangan seluruh rakyat di dunia melawan dominasi imperialis AS. Front internasional tersebut, didasarkan atas dasar perjuangan anti Imperialisme dan solidaritas perjuangan internasional yang menekankan perjuangan pokok pada perjuangan massa di dalam suatu negeri terhadap dominasi imperialisme dan rejim boneka-nya.

B.   Sejarah dan Perkembangan FMN dari Tahun ke Tahun
1.   FMN Lahir seiring meningkatnya gerakan Rakyat dibawah Kuasa Rezim Fasis Orde Baru
Front Mahasiswa Nasional (FMN) adalah sebuah organisasi massa mahasiswa yang lahir atas dialektika (Perkembangan) sejarah dan situasi objektif yang ada dalam perkembangan Masarakat Indonesia. Perjalanan FMN telah dirintis sejak dimana upaya pemberangusan gerakan Rakyat terjadi begitu keras oleh Diktator Orde Baru (Soeharto), tidak terkecuali terhadap Gerakan Mahasiswa yang dikekang dengan kebijakan yang sampai saat ini dikenal dengan “Normalisasi Keamanan Kampus dan Badan Koordinasi Kampus (NKK-BKK)”.

Dalam cengkaraman Rezim fasis orde baru, 32 Tahun Rakyat Indonesia terbelenggu atas keterbelakangan yang demikian dalam, kemiskinan yang begitu meluas, tindak kekerasan dan tindakan anti Demokrasi yang begitu nyata serta berbagai bentuk penindasan lainnya.

Seiring penindasan dan kesengsaraan Rakyat yang begitu hebat, telah lahir bebagai Organisasi yang dijadikan sebagai alat perjuangan bagi Rakyat disetiap Sektor. Perkembangan gerakan rakyat yang tak pernah surut dalam upaya memperjuangkan haknya, telah dihadapkan dengan berbagai kebijakan dan tindakan pemberangusan oleh Pemerintahan Orde baru yang otoriter. Hampir sebagaian besar organisasi Rakyat dibekukan, gerakan rakyat terus ditumpulkan dengan berbagai tindakan reaksi dan penuh dengan provokasi. Hingga penguhujung tahun 80an dan memasuki awal tahun 90an, pelarangan Organisasi dan pemberangusan gerakan rakyat tak hentinya terus ditumpas. Hal tersebut, tidak terkecuali terhadap Organisasi-organisasi dan berbagai bentuk gerakan Mahasiswa.

Selain dengan pelarangan dan pembekuan Organisasi, pelarangan menjalankan aktifitas budaya mupun politik didalam Kampus, Gerakan mahasiswa juga tidak terhindarkan dari pemberangusan hingga kampus-kampus bahkan dengan menggunakan kekuatan Militer yang tentunya tidak sedikit mengakibatkan korban bagi Mahasiswa, baik yang terluka, tertangkap maupun kehilangan Nyawa. Dalam situasi demikian, pelarangan Aktifitas budaya dan politik didalam kampus, berorganisasi dan mengemukakan pendapat, Pemerintah juga telah memberlakukan suatu kebijakan sebagai skema pengekangan yang hingga sekarang masih dikenal dengan “Normalisasi keamanan kampus dan Badan Koordinasi Kampus (NKK-BKK)”.

Meski demikian, Situasi objektif Rakyat yang begitu kelam akibat hantaman Krisis moneter di Tahun 1990an dan berbagai skema penindasan Orde baru dengan berbagai bentuk ancaman, terror dan tindak kekerasan tidak pernah menyurutkan semangat Rakyat untuk terus membangun persatuan dan mengembangkan diri untuk melakukan perlawanan secara kolektif. Begitu pula gerakan Pemuda dan Mahasiswa dengan ciri khususnya yang dinamis dan aktif serta kemampuan analisisnya yang tajam selalu menjadi topangan gerakan rakyat disektor lainnya. Bangkitnya gerakan rakyat yang kian meluas sampai pada tumbangnya Soeharto tahun 1998, kembali membuktikan kemampuan dari kekuatan massa. Sebagai bagian dari sejarah gerakan Rakyat Indonesia peristiwa tersebut dikenal dengan gerakan Reformasi 1998.

Semangat persatuan dan perlawanan Mahasiswa saat itu tampak dari Eksisnya berbagai Organisasi pemuda dan mahasiswa yang terus melakukan pengorganisiran dan perlawanan, meskipun sebagian besar dilakukan dengan cara terturtup. Hal tersebut juga tampak dari munculnya berbagai Organisasi mahasiswa diberbagai daerah yang kian massif. Itulah yang dikemudian hari menjadi Embrio lahirnya FMN yang terus meluas dan semakin solid melalui Komunikasi Intensif dan pertemuan-pertemuan tingkat kota hingga Nasional. Melalui pertemuan nasional yang diselenggarakan di Bandung pada tahun 1997 kemudian terbentuk sebuah jaringan nasional sebagai identitas dan wadah persatuan yang dibangun.

Ide dan inisiatif maju terus bermunculan dari internal Jaringan melalui pertemuan-pertemuan dan komunikasi yang dibangun untuk menyatukan diri dan melakukan penilaian atas perkembangan pekerjaan dan situasi kongkrit dimasing-masing daerah. Peretemuan-pertemuan tersebut kemudian membuahkan hasil yang semakin maju, ditandai dengan berkembang dan menguatnya jaringan menjadi sebuah organisasi mahasiswa nasional dengan nama Forum Mahasiswa Nasional. Sejak itu FMN terus melakukan perluasan dan melakukan pembenahan di Internal organisasi, membangun komite-komite organisasi dari tingkat pusat (nasional) hingga kampus dan mulai menggunakan identitas FMN dalam perjuangan politik organisasi.

Setelah melalui proses dan perjalanannya yang cukup panjang, akhirnya di tahun 2003 FMN dideklarasikan menjadi organisasi massa mahasiswa nasional melalui acara Kongres Pendirian Organisasi (founding Congress) di Balai Rakyat Utan Kayu-Jakarta. Dalam momentum bersejarah tersebut,  hadir 700 anggota FMN dari berbagai kota dan kemudian 740 orang anggota mengikuti aksi Nasional perdana FMN di Jakarta. Melalui forum kongres pendirian tersebut pula terjadi peralihan nama dari Forum Mahasiswa Nasional menjadi Front Mahasiswa Nasional. Acara Funding Congress tersebut, kemudian ditetapkan sebagai hari lahir FMN, yaitu tanggal 18 Mei 2003 yang diperingati setiap tahunnya oleh seluruh jajaran anggota disetiap levelan Organisasi.

2.   FMN Menemukan Kualitas termajunya secara Politik dan Gerakan Pembetulan 2006-2008 Implementasi Kritik Oto Kritik
Paska Funding Congress di Jakarta, Operasionalisasi Organisasi terus dijalankan dengan meletakkan upaya-upaya penguatan menjadi pekerjaan utama dari badan pimpinan Nasional yang dibentuk melalui Funding Kongres. Seiring dinamika Organisasi yang terus berkembang secara kualitas dan kuantitas, tidak dapat dihindari berbagai fenomena dan penyakit yang menjangkiti badan pimpinan yang ada saat itu. Dengan semangat persatuan yang tinggi dan kerja keras dalam upaya memperbaiki, memperbesar dan memperkuat Organisasi, sehingga pada tingkat termajunya saat itu, FMN telah menetapkan garis Politiknya yang “Anti Imperialisme, Anti Feodalisme dan Anti Kapitalisme Birokrat” melalui Kongres I yang diselenggarakan di Bandar Lampung pada Bulan Mei tahun 2004, bertepatan dengan Hari lahir FMN yang ke-2.

Dengan berbagai pelajaran penting dan berharga yang diraih selama dua tahun, baik secara teori maupun praktek bagi terciptanya Ormas Mahasiswa dengan garis politik dan langgam kerja yang tepat, dua tahun kemudian diselenggarakan kembali Kongres II, pada bulan September 2006 di Bandung dengan semangat meneguhkan diri sebagai Organisasi Massa Mahasiswa dengan karakter perjuangan Demokrasi Nasional. Gerakan pembetulan demi pembetulan atas organisasi terus dilakukan dan ditancapkan untuk meneguhkan langgam kerja dan merapikan pekerjaan-pekerjaan organiasasi, mencakup wilayah politik dan organisasi.

Gerakan Pembetulan Organisasi sebagai salah satu rekomendasi dari Kongres II tersebut, tiada lain adalah sebagai upaya untuk terus memperkuat Internal secara politik dan Organisasi, dengan keteguhan pada prinsip dan garis perjuangan yang akan manifest dalam semangat dan sikap hidup seluruh jajaran anggotanya sehari-hari, baik dalam memecahkan persoalan domestiknya, persoalan dalam menjalankan pekerjaan Organisasi, sampai pada sikap melayani dan memecahkan persoalan massa. Gerakan pembetulan dilandaskan atas kesadaran dan sebagai dasar untuk meraih cita-cita yang kita inginkan. Dari semangat gerakan pembetulan tersebut tentu telah memberikan banyak capaian bagi Organisasi, namun demikian tentunya juga banyak menemukan kendala, terutama dalam memahami secara Komprehensif Makna dari Gerakan pembetulan. Wujud lansung dari gerakan pembetulan tersebut, salah satunya adalah perubahan beberapa dokumen organisasi kita pada Kongres II FMN dengan lahirnya Program Perjuangan, perubahan konstitusi terkait dengan perubahan bendera, prinsip-prinsip organisasi, azaz perjuangan dan susunan organisasi, yaitu dengan menetapkan basis terendah organisasi ialah Kampus, dengan harapan akan meningkatkan pekerjaan membangkitkan, mengorganisasikan dan menggerakkan massa secara lebih luas akan mampu segera kita rasakan dampak dan hasilnya dikemudian hari.


C.   FMN dengan Perkembangannya saat ini
Dengan memahami bahwa persoalan sektoral yang dihadapi oleh Mahasiswa maupun Pemuda secara umum, tidak terlepas dari persoalan rakyat disektor lainnya, FMN terus menghubungkan diri dan terlibat aktif dalam perjuangan rakyat disektor lainnya (buruh, tani, kaum miskin kota, dan kaum perempuan) untuk memperjuangkan hak-hak demokratisnya serta untuk terus memperluas dan memperkuat semangat pengabdian kepada Rakyat dan Perjuangan. Sehingga pada Kongres ke-III di Mataram pada Bulan Maret 2009, selain terus menegaskan Garis Politik dan Organisasinya, Memperkuat dan memperluas Organisasi, FMN kembali meneguhkan diri sebagai Organisasi yang akan terus secara konsisten mendukung dan terlibat aktif dalam perjuangan Rakyat disektor lainnya.

Didasarkan pada semangat tersebut, terus berupaya memecahkan kebuntuan-kebuntuan dalam menjalankan pekerjaan Organisasi sebagai simpulan atas pengalaman kerja selama 2 (Dua) tahun sebelumnya, secara kollektif terus menilai setiap pengalaman praktek untuk dapat menemukan metode dan taktik dalam menjalankan kerja massa, khususnya dalam kerja “Membangkitkan, Mengorganisasikan dan Menggerakkan Massa” sehingga dapat dengan mudah diterima ditengah-tengah massa, sehingga selain amandemen atas beberapa poin dalam Konstitusi, Program perjuangan, Kongres III di Mataram juga mengamanatkan untuk diselenggarakannya Konferensi Nasional Pendidikan dan Kerja Massa, guna memeriksa dan merumuskan metode kerja massa, Sistem pendidikan dengan seluruh kurikulumnya.

Melalui Konferensi Nasional Pendidikan dan Kerja Massa (KONFERNAS Pendidikan dan Kerja Massa Komprehensif) dan Pleno III DPP yang melibatkan Pimpinan Cabang dan Ranting (Delegatif) telah menghasilkan beberapa perubahan. Perubahan tersebut terletak pada perubahan kurikulum pendidikan dan beberapa Program yang akan dijalankan selama minimal 6 (Enam) bulan berikutnya hingga Kongres selanjutnya. Dalam perjalanannya, Implementasi dari program dan beberapa perubahan pada kurikulum pendidikan tersebut, tentunya memberikan implikasi bagi Organisasi baik adanya suatu perkembangan sebagai capaiannya ataupun beberapa kelemahan dan penurunan yang harus dipahami sebagai kritik oto kritik yang harus dibetulkan kedepannya.

1.   Organisasi menemukan berbagai kelemahan sebagai kendala dalam menjalankan setiap pekerjaan 
Paska Kongres III di Mataram, tahun 2009. Dalam usianya yang ke 6 (Enam) Tahun, Secara bertahap, seiring perjalanan waktu ditengah terus bangkitnya gerakan massa secara Nasional, dengan berbagai dinamika Organisasi dengan berbagai persoalan didalamnya, FMN terus berupaya memperbaiki setiap kelemahan dan kekurangan didalam Organisasi, sehingga dapat dengan maksimal terus melayani massa secara Konsisten.

Semangat dan arti penting dari penyelenggaraan KONFERNAS Pendidikan dan Kerja Massa  yang diamanatkan oleh Kongres III tentunya adalah sebagai upaya untuk terus memperbaiki, memperbesar dan memperkuat Organisasi. Dengan  menyederhanakan, mengurangi ataupun menggabungkan beberapa materi dalam kurikulum pendidikan kita adalah sebagai upaya untuk bisa menjelaskan garis dan kebijakan Organisasi secara sederhana dan dapat dengan mudah dipahami dan dimengerti oleh Anggota dan massa, sehingga kita dapat dengan lebih mudah membangkitkan dan meningkat kesadsaran massa dan Anggota dan dapat merangkul massa jauh lebih besar dengan tingkat konsolidasi yang Tinggi.

Dengan terlaksananya Konfernas pendidikan dan kerja massa, kita telah dapat menerbitkan satu modul dan kurikulum pendidikan baru dengan setiap jenjangnya. Kita juga telah dapat menerbitkan beberapa panduan kerja Organisasi dengan spesifikasi-spesifikasi khusus sebagai panduan teknis dan pelaksana bagi seluruh jajaran Anggota dalam menjalankan seluruh aktifitas dan pekerjaan Organisasi. Kita juga telah berhasil menyelenggarakan “Training Of Trainer (TOT)” sebagai upaya untuk mencetak Instruktur-instruktur pendidikan Organisasi, yang telah diselenggarakan diseluruh Cabang FMN disetiap Kota.

Dengan seluruh upaya dan kerja keras yang dilakukan oleh Seluruh jajaran Anggota disetiap levelan Organisasi untuk memperkuat Internal, memperluas jangkauan dan memperbesar pengaruh ditengah-tengah massa, kita telah menemukan banyak persoalan yang dialami oleh Organisasi sebagai salah satu kendala dalam memaksimalkan setiap upaya perjuangan. Sehingga dengan situasi demikian, adanya beberapa penurunan didalam Organisasi adalah kondisi yang tidak dapat dihindarkan. Namun tentunya, dengan kondisi tersebut juga telah memberikan banyak pelajaran berharga dan semakin menambah semangat yang lebih besar untuk menjalankan seluruh pekerjaan secara Maksimal ditengah-tengah Massa.


2.   Perkembangan Organisasi yang kembali menguat dan terus meningkat adalah Hasil Kerja keras dan Semangat yang tinggi seluruh jajaran Organisasi yang harus di Apresiasikan

Melalui forum Pleno DPP ke V (Lima) yang diperluas dengan melibatkan perwakilan dari Cabang dan Ranting pada Bulan Desember bulan 2011 lalu, Organisasi telah dapat menilai dan mengambil suatu kesimpulan atas berbagai kelemahan dan kendala serta capaian-capaian yang telah diraih oleh Organisasi. 

Dalam perkembangan saat ini, patut diketahui dan disadari pula oleh seluruh jajaran Organisasi, bahwa seiring perkembangan situasi politik secara nasional maupun perkembangan situasi dan kenyataan penderitaan Rakyat yang semakin hebat, demikian pula gerakan Rakyat terus menunjukkan eskalasinya yang terus meningkat. Dengan konsistensi seluruh jajaran Organisasi dalam menjalankan Resolusi Organisasi dan ditopang dengan kerja keras dan semangat yang luar biasa untuk terus berupaya memperbaiki, memperkuat dan memperluas Organisasi, serta yang paling pokok adalah semangat pelayanan pada massa dan pengabdian pada perjuangan yang tinggi, telah memberikan hasil yang signifikan pada perkembangan Organisasi secara politik dan Organisasi.

Dalam berbagai momentum dan situasi yang ada, Organisasi telah dapat menunjukkan kemandiriannya secara Politik serta keteguhan dan konsistensinya yang ambil bagian dalam setiap bentuk perjuangan Rakyat. Demikian pula dilapangan Organisasi, meskipun belum menjadi suatu capaian yang besar, Organisasi telah kembali menunjukkan kemandiriannya dilapangan Organisasi yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan dalam jumlah konsolidasi, peningkatan jumlah Anggota hingga terdapatnya kampus-kampus dan Cabang baru Organisasi yang menunjukkan meluasnya jangkauan dan pengaruh Organisasi ditengah-tengah massa. Hal tersebut juga ditunjukkan dari meningkatnya kepercayaan massa terhadap FMN yang dapat diidentifikasikan dengan diterima dan didukungnya analisis, statemen maupun garis Organisasi (FMN) baik analisis atas situasi sektoral maupun situasi dan problem rakyat lainnya sebagai rujukan dalam menetapkan sikap dan tindakan Organisasi dalam menyikapi berbagai situasi.

Dengan setiap capaian tersebut, maka patutlah kita memberikan Apresiasi setinggi-tingginya bagi Seluruh Anggota dan massa serta segenap jajaran pimpinan disetiap levelan Organisasi yang senantiasa penuh semangat dan Konsistensi yang tiada kenal kata menyerah dalam upaya memperbesar dan memperkuat organisasi dengan terus memperbaiki setiap kelemahan dan kekeliruan yang ada didalam Organisasi. Selanjutnya, tugas kita untuk kembali terus saling menguatkan, bahu-membahu untuk mempertahankan dan terus meningkatkan setiap capaian yang telah diraih untuk dapat secara terus menerus menggencarkan perjuangan didalam kampus dan senantiasa mengabdikan diri pada rakyat dan perjuangan.

D.  Yang harus di lakukan oleh FMN
1.   Lakukan Pemeriksaan atas situasi Organisasi dengan sungguh-sungguh dan Mendalam
Dampak dari berbagai kekeliruan dan kelemahan yang ada, telah kita lihat dan rasakan berbagai dampaknya terhadap Organisasi. Karenanya, hal yang tidak boleh luput dari kita (seluruh jajaran Organisasi) dalam menjalankan setiap aktifitas Organisasi adalah pemeriksaan atas setiap perjalanan dan perkembangan setiap pekerjaan maupun situasi didalam organisasi secara menyeluruh, sehingga kita dapat mengidentifikasikan secara cepat setiap kelemahan dan kekeliruan maupun setiap capaiannya yang tentunya kemudian harus direspon secara cepat.

Pemeriksaan atas setiap perkemabangn tersebut tidaklah bisa dilakukan secara asal-asalan atau serampangan, apalagi tidak melakukannya samasekali. Pemeriksaan situasi Organisasi atas setiap perkembangannya haruslah dilakukan secara serius, menyeluruh dan mendalam,  sehingga kita tidak terjebak kedalam penyakit Politik dan Organisasi yang akan sangat merugikan Organisasi, massa dan perjuangan. Pemeriksaan atas setiap perkembangan Organisasi tersebut juga harus dapat diikuti dengan pemeriksaan dan analisis mendalam atas persoalan massa dan setiap perkembangan situasi yang ada ditengah-tengah massa, sehingga Organisasi dapat dengan segera memberikan respon, dan memimpin massa secara politik maupun Organisasi dalam menyelesaikan setiap persoalannya.

2.   Displin atas Kritik Oto Kritik dan Senantiasa Belajar dari Massa
“Kritik oto Kritik adalah cara memecahkan kontradiksi didalam Internal Organisasi untuk dapat menemukan penilain dan resolusi yang objektif sebagai solusi atas setiap persoalan yang ada didalam Organisasi”.

Penggalan kalimat diatas adalah penjelasan dari salah satu dari 5 (Lima) prinsip Organisasi yang telah diatur didalam konstitusi kita, sebagai panduan dalam menyelesaikan setiap persoalan yang ada didalam Organisasi, baik persoalan yang meliputi pekerjaan, maupun kontradiksi antar kawan sampai pada situasi Organisasi secara menyeluruh. Prinsip ini haruslah dipahami dan tetap dipegang teguh dan ditaati oleh Organisasi dan setiap jajarannya, sehingga tidak memecahkan persoalan secara serampangan dan subjektif dengan menyerang (Mengkritik kawan) secara persoanal, ataupun mengkritik dibelakang dan tidak menjalankan disiplin Organisasi. Hanya dengan cara demikianlah kita dapat memberikan penilaian atas setiap situasi dan perkembangan Organisasi secara objektif, sehingga dapat memberikan resolusi yang objektif pula.

Selanjutnya, setiap kesimpulan dan keputusan yang dihasilkan dalam KOK tersebut haruslah dijalankan secara displin dan konsisten, sehingga tidak kembali terjebak dalam kesalahan dan kekeliruan yang sama dikemudian hari.

Demikian pula Halnya dengan “Belajar dari Massa” adalah salah satu implentasi dari salah satu prinsip Organisasi “Segaris dengan Massa” yang dimanifestasikan dari objektifitas program yang akan dijalankan oleh Organisasi yang sesuai dengan keadaan, aspirasi dan tingkat kesadaran massa itu sendiri. Artinya, harus dipahami bahwa “Perubahan adalah karya Massa” tidak hanya dimengerti sebagai suatu aktifitas atau aksi dengan melibatkan banyak Orang dalam memecahkan suatu masalah, akan tetapi hal tersebut harus dapat dipahami secara Esensial bahwa perubahan yang dimaksud adalah perubahan atas nasib dan ketertindasan dari massa itu sendiri sehingga hanya dengan bersatu bersama massa-lah kita dapat melakukan perubahan atas suatu keadaan tersebut.

Sementara itu, haruslah dapat dipahami pula bahwa untuk dapat melibatkan massa dalam setiap perubahan tersebut haruslah didasarkan pada kesadaran atas masalahnya yang tidak boleh disimpulkan secara subjektif tanpa mengamati dan mengkaji secara mendalam atas setiap situasi tersebut. Untuk dapat melakukan hal tersebut, tiada lain cara yang harus dilakukan adalah hanya dengan bersatu dan berada ditegah-tengah mereka untuk dapat belajar dan memahami setiap persoalan, keluhan dan aspirasinya. Hanya dengan cara demikianlah kita dapat menetapkan progaram yang harus dijalankan oleh Organisasi secara objektif, khususnya dalam menetapkan program perjuangan dan pekerjaan membangkitkan, mengorganisasikan dan menggerakkan massa untuk bersama-sama memecahkan setiap persoalan kita dan massa tersebut. Karenanya, setiap kita haruslah dapat dengan rendah hati mengakui setiap kelemahan dan kekurangan dan dengan sunguh-sungguh belajar dari massa.

3.   Perhebat Kerja Massa, Semangat dan tulus melayani Rakyat dan Konsisten Mengabdi Pada Perjuangan.
Dari setiap analisis kita atas setiap persoalan rakyat yang ada saat ini, baik persoalan sektoral pemuda dan mahasiswa maupun berbagai persoalan Rakyat disektor lainnya ialah akibat dari dominasi Imperialisme yang semakin kuat didalam negeri melalui perpanjangan tangannya didalam Negeri, yakni borjuasi besar komprador dan Tuan tanah serta Kapitalisme birokrat yang dipimpin oleh Rezim boneka yang juga terus mengambil keuntungan sebesar-besarnya diatas penderitaan rakyat dengan senantiasa mengabdikan diri pada Imperialisme.

Dengan kenyataan atas berbagai situasi dan persoalan bagi pemuda dan mahasiswa dan pendidikan secara umum, tiada tawaran apapun yang dapat menegasikan kedudukan penting dari kerja massa secara komprehensif dalam membangkitkan, mengorganisasikan dan Menggerakkan massa untuk terus memperbesar, memperkuat dan memperluas Organisasi sebagai alat perjuangan bagi mahasiswa dalam menggencarkan perjuangan dikampus atas pemenuhan hak sosial dan ekonomi maupun hak demokratisnya. Pekerjaan tersebut (Kerja massa) harus terus digencarkan, diperhebat dan diperluas hingga dapat menjangkau massa seluas-luasnya dengan tetap memegang teguh prinsip dan garis politik Organisasi dan menyandarkan diri pada kenyataan akan keadaan kongkrit massa, dengan sungguh-sungguh dan disiplin menjalankan setiap keputusan Organisasi.

Berlandaskan pada simpulan Analisis yang menjadi dasar atas garis perjuangan kita bahwa dibawah sistem usang “Setengah Jajahan dan Setengah Feodal (SJSF)” yang dipertahankan oleh Pemerintah saat ini, maka telah terang pula bahwa Imperialisme, Feodalisme dan Kapitalisme Birokrat adalah kontradiksi pokok Rakyat Indonesia yang harus dihancurkan oleh seluruh kekuatan Rakyat diseluruh sektor yang dipimpin oleh Persatuan klas buruh dan kaum tani. Dengan kesadaran tersebut, maka tiada hal yang dapat membenarkan kita ataupun seluruh pemuda dan mahasiswa untuk memisahkan perjuangannya dengan massa Rakyat disektor lainnya. Perjuangan pemuda dan mahasiswa maupun gerakan pendidikan secara umum harus terhubung secara kuat dengan perjuangan rakyat disektor lainnya.

Untuk dapat secara kuat menyatukan kekuatan dan perjuangan tersebut, maka pemuda dan mahasiswa, selain dengan memberikan pelayanannya terhadap massa rakyat dengan mengabdikan segenap keahlian akademiknya (Ilmu pengetahuan) dan kemampuan praktisnya untuk memajukan kebudayaan massa melalui ktifitas-aktifitas sosial, Pemuda dan mahasiswa hanya dapat memahami keadaan dan berbagai persoalan Rakyat secara mendalam ketika pemuda dan mahasiswa berani berada ditengah-tengah massa (Integrasi) untuk menyelami kehidupannya. Sehingga dapat secara terang dan mendalam memahami dan merasakan penderitaan yang dirasakan oleh Rakyat. Pemahaman dan kesadaran tersebutlah yang akan menjadi dasar kesetiaan dan keyakinan yang teguh bagi pemuda dan mahasiswa untuk selalu setia melayani rakyat dan berjuang bersama.

Sebagai penutup, sekali lagi Kami mengajak kepada kita semua untuk Memberikan Apresiasi setinggi-tingginya (Dengan salut dan Bangga) kepada seluruh Anggota dan massa serta segenap jajaran pimpinan Orgaisasi disetiap levelan organisasi atas semangat dan Konsistensinya pada perjuangan yang kita yakini sebagai keniscayaan dan, seluruh upaya dan kerja keras kita semua yang terus menerus tanpa lelah berupaya memperbaiki, memperbesar dan memperkuat Organisasi sebagai alat perjuangan bagi Massa mahasiswa didalam kampus dan penyambung lidah bagi massa rakyat di luar kampus dengan senantiasa melayani dan terlibat aktif dalam berbagai bentuk perjuangannya. Terakhir, mari bersama-sama untuk kita terus saling bahu-membahu, saling memandu dan saling memajukan serta, bersama-sama sekuat tenaga untuk (Sekali lagi) memperbaiki, memperbesar dan memperkuat Organisasi.

Atas nama, segenap Kollektif Pimpinan Pusat, Dewan Pimpinan Pusat (PP-DPP) dan keluarga besar Front Mahasiswa Nasional (FMN), Kami sampaikan kepada kita semua, kepada massa pemuda dan mahasiswa, kepada massa rakyat dalam semesta perlawanan “SELAMAT ULANG TAHUN KE-IX” bagi Front Mahasiswa Nasional (FMN), terus bergerak menuju kualitas termajunya seiring kedewasaannya, tetap jaya dan selalu menjadi Organisasi Massa Mahasiswa yang kritis, progressif dan senantiasa tulus melayani massa dan mengabdi pada Perjuangan.

Jayalah Front Mahasiswa Nasional!
Hidup Pemuda dan Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!
Jayalah Perjuangan Massa!

Jakarta, 18 Mei 2012

Pimpinan Pusat
Front Mahasiswa Nasional (FMN)



L. Muh. Hasan Harry Sandy Ame
Sekretaris Jenderal





Share this article :

1 komentar:

pemerhati gerakan mahasiswa mengatakan...

mana gerakan kolektifnya sekarang? saya mengusulkan ada pertemuan secara nasional antar gerakan mahasiswa untk membahas visi nasional gerakan mahasisawa..

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger