Headlines News :
Home » » Komnas pendidikan, Demo tolak RUU PT, Anugerahkan Piagam buat Pak Menteri dan Ketua Panja

Komnas pendidikan, Demo tolak RUU PT, Anugerahkan Piagam buat Pak Menteri dan Ketua Panja

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Kamis, 12 Juli 2012 | 09.05


Fenomena Rancangan Undang-undang Pendidikan Tinggi (RUU PT)

“DPR sibuk melakukan Revisi, Pemerintah mendesak pengesahan-Penolakanpun tak terhentikan”
 









Rancangan undang-undang pendidikan tinggi (RUU PT) ialah rumusan kebijakan yang dirancang sebagai pengganti UU BHP yang telah dicabut oleh Mahkamah Konstitusi pada tahun 2010 silam.  Sejak diterbitkan pertamaka kali, RUU tersebut terus mangalami penolakan dari berbagai kalangan karena dinilai tidak berpihak kepada Rakyat. RUU tersebut dalam berbagai pasalnya mencerminkan orientasi akan liberalisasi, privatisasi dan komersialisasi pendidikan. Selain berdampak akan semakin mahalnya biaya pendidikan tinggi sehingga akses rakyat akan semakin sempit, tentu saja hilangnya demokratisasi didalam kampus adalah salah satu dampak yang juga tak terelakkan bagi civitas akademika.
Demikian penggalan analisis yang diterbitkan oleh komite nasional pendidikan (KOMNAS pendidikan) dalam diskusi terbuka dan konferensi pers di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, 06/07/12.

Hari ini (12/07/12), Komite Nasional Pendidikan kembali menggelar Aksi demonstrasi didepan kantor dewan perwakilan rakyat (DPR) RI dengan mengusung isu yang sama, yaitu penolakan atas RUU PT. Aksi demonstrasi dimulai pukul 10.30-13.00 WIB. Aksi tersebut diikuti oleh sekitar seratus massa perwkilan dari berbagai organisasi mahasiswa, organisasi serikat guru, serikat pekerja, NGO dan berbagai elemen lainnya. Aksi dimeriahkan dengan berbagai pernak-pernik dan perlengkapan aksi seperti spanduk, poster dan selebaran. Komnas pendidikan juga menganugerahkan piagam penghargaan yang ditujukan kepada Kemendikbud (M. Nuh) dan Ketua Panja RUU PT DPR RI (H. Syamsul Bachri, M.Sc.) sebagai perwakilan Pemerintah dan parlemen yang telah berusaha keras memperjuangkan perumusan dan pengesahan RUU PT sebagai legitimasi akan Liberalisasi, privatisasi dan komersialisasi pendidikan.

Setelah dibuka oleh coordinator lapangan aksi (Yogo Daniyanto), Aksi dilanjutkan dengan penyampaian pandangan secara bergantian oleh perwakilan seluruh organisasi yang tergabung dalam komnas pendidikan. Aksi kita hari ini, bukanlah aksi perdana kita dalam menolak RUU PT, namun aksi ini adalah aksi yang kesekian kalinya dan, tentu apapun hasilnya esok, kita akan terus melakukan perlawanan atas setiap kebijakan yang anti terhadap rakyat seperti RUU PT ini, tegas Yogo.

Harry Sandy Ame (Sekejnd. PP-Front Mahasiswa Nasional) dalam orasinya menegaskan bahwa, lahirnya RUU ini tidaklah terlepas dari sejarah panjang pendidikan dan penindasan yang panjang di Negeri ini. Sejak tahun 70an silam, telah dilahirkan berbagai kebijakan yang tidak terlepas dari intervensi kapitalisme monopoli dunia (Imperialisme) tentang pengelolaan pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Ditengah krisis keuangan (crisis Finance) yang hebat, melalui ratifikasi GATS sebagai hasil perjanjian kerjasama dalam organisasi perdagangan dunia (WTO) yang diikuti Indonesia sejak tahun 1994, Pendidikan telah dimasukkan menjadi sector jasa yang dapat diperjual belikan. Dengan demikian, “Sandy melanjutkan” anggaran pendidikan yang sudah menjadi tanggungjawab Negara dapat dialihkan untuk membantu penanganan krisis imperialisme dengan mengalihkan dana public menjadi dana talangan bagi perbangkan dan perusahaan milik imperialis yang Colaps ketika itu.  

Karenanya, setelah UU BHP dicabut oleh MK, Pemerintah terus memaksakan kehendaknya untuk melahirkan UU baru sebagai legitimasi akan berlansungnya Liberalisasi, privatisasi dan komersialisasi pendidikan di Indonesia, Ungkap Sandy. Sebelum menutup orasinya, Sandy menyampaikan bahwa, sikap kita dalam menolak RUU ini tidaklah hanya untuk kepentingan kita (Mahasiswa) saja, namun juga kaitannya dengan kepentingan kaum tani dan klas buruh sebagai komposisi yang mayoritas dalam masyarakat Indonesia, serta bagi rakyat tertindas lainnya yang kian terancam tidak akan mampu membiayai pendidikan anaknya.

Faldo Maldini (Ketua BEM Universitas Indonesia) juga menyampaikan, kita telah melihat kenyataannya dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, khususnya melalui penerapan PT BHMN dan UU BHP bagaimana pendidikan kian sulit bagi Rakyat. Dengan kebijakan-kebijakan liberalisasi seperti demikian telah melahirkan kesenjangan bagi mahasiswa dan rakyat secara luas. Karenanya, bagaimanapun caranya kita tidak akan pernah berhenti untuk menolak kebijakan Liberalisasi tersebut, lanjut Faldo. Esok, kita akan turun lagi, meskipun jika tetap akan disahkan, kita akan terus mengikutinya sampai ke Mahkamah konstitusi dengan melakukan Judisial Review, tegas Faldo.

Setelah secara bergantian menyampaikan orasi, Aksi kemudian ditutup oleh korlap dengan pembacaan statemen bersama yang dipimpin oleh Faldo Maldini (Ketua BEM UI). Komnas pendidikan menuntut: 1). Tolak Pengesahan RUU PT, 2). Hentikan Liberalisasi, Privatisasi dan Komersialisasi Pendidikan, 3). Hentikan kekerasan dan tindakan anti demokrasi lainnya didalam kampus dan diseluruh jenjang pendidikan, 4). Wujudkan Pendidikan Ilmiah, Demokratis dan Mengabdi pada Rakyat. Aksi masih akan dilanjutkan kembali esok pagi, ungkap Faldo mengingatkan kepada seluruh massa Aksi.

Organisasi-organisasi yang tergabung dalam Komnas pendidikan:
Front Mahasiswa Nasional (FMN), Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), Pembebasan, FORMASI-IISIP Jakarta, BEM UI, BEM FH-UI, BEM FKM-UI, BEM FT-UI, BEM FE-UI, BEM FISIP-UI, BEM UNJ, BEM Satyagama, REMA UPI, Kabinet KM ITB, BEM KM UGM, Forum Komunikasi Mahasiswa (FKMU) UIN, KOMPAK, Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), Paguyuban Pekerja Universitas Indonesia (PP-UI), Federasi Guru Swasta Indonesia (FGSI), Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Serikat Perempuan Indonesia (SPI), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, LBH-P, Lembaga Advokasi Pendidikan Anak Marjinal (LAPAM), Pusat Study Hukum dan Kebijakan (PSHK),  ELSAM, LBH Padang.
Red. Gelora FMN: Harry Kusuma
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger