Headlines News :
Home » » Press Release: Mengecam Aksi Pemukulan dan Penyekapan Mahasiswa

Press Release: Mengecam Aksi Pemukulan dan Penyekapan Mahasiswa

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Kamis, 04 Oktober 2012 | 06.50


Mengecam Aksi Pemukulan dan Penyekapan Mahasiswa oleh Satuan Keamanan kampus-Mengutuk Tindakan Anti Demokrasi Rektorat Universitas PGRI Kupang!

Penuhi sarana prasana belajar dan hentikan pungutan liar didalam kampus-Hentikan tindak kekerasan dan Bebaskan 6 (Enam) Mahasiswa yang disekap didalam Rektorat!


Sepanjang sejarah pendidikan di Indonesia tidak pernah terlepas dari persoalan “Terbatasnya akses, mahalnya biaya dan Rendahnya anggaran, Kekerasan dan diskriminasi, serta berbagai bentuk tindakan anti demokrasi lainnya”. Berbagai kebijakan yang mengatur tentang pendidikan (khususnya pendidikan tinggi), meski telah dipoles dengan berbagai peraturan dan dibungkus dengan berbagai orientasi baik yang diberlakukan secara khusus maupun umum, kesemuanya hingga saat ini tidak samasekali mampu mengubah keadaan pendidikan yang semakin suram (tidak berkualitas), semakin tidak terjangkau (mahal), diskriminatif dan sarat dengan berbagai bentuk kekerasan dan tindakan anti demokrasi.

Sesuai dengan paparan dalam pembukaan dan batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945, penjelasan tentang UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003 tentang “pendidikan sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran dan memajukan budaya masyarakat Indonesia” dan, Ketentuan umum dan penjelasan UU Pendidikan Tinggi No 12 Tahun 2012 bahwa “Pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasanakhlak mulia, serta ketrampilanyang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dann Negara”. Dengan demikian, artinya bahwa selain penyelenggaraan pendidikan secara luas, pembiayaan yang terjangkau dan dengan jaminan akan mutu pendidikan itu sendiri, maka pemenuhan atas fasilitas dan sarana-prasana pendidikan harus menjadi perhatian pokok dan wajib dipenuhi, baik oleh pemerintah maupun penyelenggara pendidikan tertentu dilingkungan suatu lembaga atau institusi pendidikan.

Hal tersebut ialah sebagai salah satu upaya serius untuk menjamin terlaksananya proses belajar-mengajar yang baik dan maksimal sehingga dapat mencapai tujuan dan harapan bangsa sesuai dengan yang diamantkan dalam UUD 1945 tersebut. Namun sangat disayangkan bahwa hal tersebut, sampai dengan saat ini belum mampu dipenuhi secara merata disetiap lembaga dan jenjang pendidikan yang sesungguhnya dapat menunjukkan praktek pemerintah secara lansung dalam menerapkan keadilan di Indonesia.

Fenomena lainnya, tentu peserta didik yang haus akan ilmu pengetahuan dan pengembangan skill yang diharapkan dapat diraih melalui suatu lembaga dan jenjang pendidikan yang dijalaninya akan sangat membutuhkan (Bahkan dalam aspek tertentu akan sangat bergantung) ketersediaan fasilitas dan sarana-prasana pendidikan yang memadai. Karenanya, tidak lagi menjadi rahasia umum ketika mahasiswa maupun civitas akademik lainnya seringkali melakukan aksi-aksi protes guna menuntut pemenuhan atas haknya, termasuk dalam menuntut pemenuhan fasilitas dan sarana-prasana pendidikan. Kendati demikian, meskipun upaya-upaya tersebut dilegalkan secara hukum (mengeluarkan pendapat dimuka umum), namun pemerintah maupun rektorat sebagai pengelola suatu lembaga pendidikan cenderung menyikapi hal tersebut dengan tindakan reaksi yang sesungguhnya semakin merugikan peserta didik (mahasiswa).

Hal seperti demikian (Intimidasi dan tindak kekerasan), kali ini kembali terjadi terhadap mahasiswa jurusan PJKR Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI Kupang, 01/10/2012 dan 03/10/2012. Mereka (Mahasiswa) yang menggelar aksi demonstrasi didepan rektorat tersebut pada hari pertama menuntut pemenuhan fasilitas kampus, penghentian Pungli dan mendesak rektorat untuk memperjelas data mahasiswanya di DIKTI, serta mendesak agar diaktifkannya kembali Organisasi kemahasiswaan (LKM) yang ada dilingkungan kampus PGRI. Massa aksi ditemua oleh Rektor dan diminta untuk hearing di Aula kampus lantai 3, ternyata Mahasiswa hanya dipancing oleh Rektor hingga masuk ruangan kemudian disekap dan dipukuli oleh pihak keamanan kampus. Akibatnya tidak sedikit mahasiswa kemudian mengalami luka dan pendarahan, salah satunya  Reymond Lobo, mahasiswa PJKR semester 5 dipukul dengan menggunakan borgol dibagian wajah, hingga tulang hidung mengalami luka memar dan pendarahan.

Menilai tindakan reaktif lansung rector tersebut, pada hari Rabu, 03 Oktober 2012 Mahasiwa jurusan PJKR kembali mengelar aksi protes menyikapi tindakan represif tersebut bersama massa dari fakultas lainnya. Dalam aksinya, mahasiswa kembali dihadapkan dengan tindakan yang sama, dipukuli dan disetrom secara brutal dan membabibuta oleh pihak keamanan. Ino Sentius Naitio (Mahasiswa jurusan Sejarah) yang tengah berorasi ditikam oleh satpam menggunakan kunci motor pada bagian leher. Dalam peristiwa kekerasan tersebut, pihak rektok memobilisasi petugas keamanan dari Satpam dan Pegawai Kampus sekitar 50an orang, rektorat bahkan melibatkan Mahasiswa, khususnya mahasiswa dari organisasi resimen mahasiswa (MENWA) Universitas PGRI Kupang. Massa aksi juga mengindikasikan bahwa dalam peristiwa tersebut juga melibatkan preman dari luar kampus. Dilain sisi, aparat keamanan dari pihak kepolisian (Polresta Kupang) yang juga ada ditempat kejadian, justeru diam dan tidak melakukan tidakan apapun melihat aksi kekerasan yang dilakukan oleh pihak kampus.

Akibat dari peristiwa tersebut, sedikitnya 6 (Enam) orang massa aksi mengalami luka-luka dan beberapa orang lainnya dirawat dan divisum di Rumah Sakit Bhayangkara Kupang. Sementara Camelius Hakeng (Koordinator BPC FMN Kupang), diminta untuk menghadap rektor karena dianggap telah memberikan tekanan terhadap kampus dan, 6 (Enam) orang lainnya masih disekap didalam gedung dan rencananya akan dibawa ke Polresta Kupang, namun hingga release ini diterbitkan belum ada keterangan yang jelas terkait kondisinya.

Kenyataan atas peristiwa kekerasan tersebut semakin membantah “Ilusi” Demokrasi palsu yang terus digembar-gemborkan oleh Pemerintah. Lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi gudang ilmu dan laboratorium yang akan mencetak tenaga-tenaga ahli dan professional sebagai tenaga produktif harapan bangsa, untuk memajukan budaya masyarakat dan mewujudkan kedaulatan bagi kesatuan Negara Republic Indonesia. Tindakan Rektor beserta seluruh jajarannya tersebut, sama sekali tidak menunjukkan itikad baik untuk menjawab keresahan mahasiswa dan memenuhi kebutuhannya. Tindakannya justeru telah merendahkan hakekat dan tujuan pendidikan dan melecehkan arti demokrasi di Indonesia. Menyikapi hal tersebut, Pimpinan Pusat Front Mahasiswa Nasional (FMN) menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya dan dukungan penuh atas perjuangan yang dilakukan oleh Mahasiswa Universitas PGRI Kupang, dan kami Menyatakan sikap: Mengecam keras aksi pemukulan dan penyekapan mahasiswa oleh satuan keamanan kampus-Mengutuk seluruh tindakan anti demokrasi rektorat Universitas PGRI”. Bersama ini, kami juga menuntut:
1.      Realisasikan seluruh tuntutan PJKR Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI Kupang
è Pemenuhan fasilitas ruangan kelas,
è Pengaturan penjualan modul,
è Memperjelas nama mahasiswa yang tidak terdaftar di DIKTI
è Hapuskan pungutan liar,
è Pecat dosen-dosen yang tidak bertanggungjawab dalam proses kuliah, mengeluarkan nilai-nilai mahasiswa yang tidak membayar modul,
è Aktifkan organisasi mahasiswa intra kampus yang ada, menjadi ruang kreasi dan pengembangan bakat bagi mahasiswa dan sebagai wujud demokratisasi didalam kampus
2.      Hentikan Intimidasi, tindak kekerasan dan segala bentuk tindakan anti Demokrasi didalam Kampus
3.      Bebaskan 6 (enam) mahasiswa yang masih ditahan di tahan didalam kampus

Bersama ini, kami juga mengajak kepada seluruh mahasiswa, khususnya keluarga besar Front Mahasiswa Nasional (FMN), mahasiswa Universitas PGRI Kupang dan, Mahasiswa diseluruh Indonesia dan rakyat disektor lainnya untuk bersama-sama memberikan dukungan dan solidaritas atas perjuangan kawan-kawan di Kupang dan mendesak kepada pihak rektorat untuk merelisasikan tuntutan mahasiswa dan segera menghentikan segala bentuk tindak kekerasan didalam kampus.

Hidup Mahasiswa Indonesia!
Hidup Rakyat Indonesia!
Jayalah Perjuangan Massa!


Jakarta, 03 Oktober 2012



Pimpinan Pusat
Front Mahasiswa Nasional (FMN)



L. Muh. Hasan Harry Sandy Ame
Sekretaris Jenderal
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger