Headlines News :
Home » , » SPP Mahal, Universitas Brawijawa Berjuang. Dukung dan Tolak Biaya Kuliah Mahal

SPP Mahal, Universitas Brawijawa Berjuang. Dukung dan Tolak Biaya Kuliah Mahal

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Selasa, 20 Agustus 2013 | 09.36

 
Mendukung Penuh Perjuangan Mahasiswa Universitas Brawijaya Menuntut Penurunan Biaya Kuliah
“Hentikan Privatisasi dan Komersialisasi Pendidikan
 
 
 
Liberalisasi pendidikan tinggi di Indonesia dimulai sejak adanya kesepakatan yang sudah diratifikasinya GATS (General Agreement on Trade Service) oleh pemerintah pada tahun 1995. Kesepakatan itu menjadikan pendidikan tinggi dijadikan salah satu komoditas perdagangan dan jasa. Dengan menjadikan pendidikan tinggi sebagai salah satu komoditas perdagangan jasa maka setiap input, proses dan output penyelanggaraan pendidikan tinggi harus melahirkan profit atau keuntungan terhadap institusi pendidikan. Hal ini terlihat sejak pemerintah mengesahkan PP no 61 tentang PT BHMN pada tahun 1999 dan menetapkan 7 PTN sebagai PT BHMN seperti UI, UGM, ITB, IPB, USU, UPI dan UNAIR. Sejak ditetapkannya ke lima PTN tersebut sebagai wujud kebijakan liberalisasi pendidikan tinggi yang melahirkan praktek komersialisasi pendidikan.
Penetapkan kebijakan liberalisasi pendidikan tinggi akan mendatangkan keuntungan bagi pihak institusi pendidikan melalui seperti penjualan hak cipta, kerjasama, perjanjian, penelitian, penyewaan fasilitas, biaya pendidikan yang tinggi, pendirian badan usaha dan atau portofolio. Dengan bentuk-bentuk tersebutlah suatu perguruan tinggi akan mendanai kebutuhan atas pembiayaan suatu perguruan tinggi. Padahal sudah seperti yang kita ketahui bahwa penyelenggaraan pendidikan merupakan tanggung jawab Negara baik dalam aspek pendanaan, penyediaan fasilitas dan sebagainya yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan pendidikan. Liberalisasi ini juga dilegalkan melalui Undang-Undang No 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Berdasarkan UU tersebut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengatur biaya kuliah melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2013 Tentang Biaya Kuliah Tunggal Dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) Pada Perguruan Tinggi Negeri Di Lingkungan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan. Namun peraturan menteri ini tidak menjadikan biaya kuliah murah.
Di Universitas Brawijaya Malang misalnya berdasarkan Keputusan Rektor Nomor 078/SK/2013 tertanggal 4 Maret 2013 tentang Penetapan Uang Kuliah Tunggal bagi mahasiswa baru program S1 melalui SNMPTN  dan Undangan tahun 2013/2014 mencapai Rp 4.680.000 hingga Rp 21.450.000 per semester untuk kategori pertama. Kategori IV antara Rp 2.545.000 hingga Rp 12. 870.000 per semester.
Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia  Nomor  55 Tahun 2013 untuk Universitas Brawijaya UKT ditetap Rp 4.680.000- Rp 21.450.000, tetap mahal.
Di UB untuk Seleksi Penerimaan Minat Dan Kemampuan (SPMK) biaya kuliah jauh lebih tinggi. Berdasarkan KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS BRAWIJAYA NOMOR : 300/SK/2013 TANGGAL : 19 JUNI 2013  untuk kategori I sumbangan mencapai Rp 9.375.000 – Rp 115.500.000 tergantung jurusan. Kategori III lebih tinggi yakni Rp 15.625.000 hingga Rp 232.500.000. sungguh biaya kuliah yang sulit dijangkau oleh anak buruh dan tani. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 72 tahun 2012 tentang Upah Minimum Kabupaten/ Kota di Jawa Timur tahun 2013 Rp 866. 250 hingga Rp 1.740.000.
Tingginya biaya kuliah di UB mengakibatkan mahasiswa kesulitan untuk membayar sumbangan. Dengan kondisi itu bahkan ada mahasiswa yang ingin menjual ginjalnya untuk membayar sumbangan yang tinggi.  Disisi lain pengajuan keringanan membayar telah di hapus. Solusi yang di berikan kepada mahasiswa oleh rektorat untuk membayar SPP ada memberikan pinjaman melalui bank. Hal ini tentu akan memberatkan mahasiswa. Galih, salah satu mahasiswa yang akan menjual ginjalnya untuk membayar biaya kuliah(http://news.detik.com).
Tingginya biaya kuliah telah membangkitkan mahasiswa Universitas Brawijaya. Pada tanggal 20 Agustus 2013 mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Brawijaya melakukan demonstrasi menuntut diturunkannya biaya kuliah di kampus itu. Namun aksi ini tidak ditemui rector karena sedang berada diluar negeri. Mahasiswa berencana melakukan aksi hingga tuntutan di kabulkan.
Pendapatan UB dari uang gedung rata-rata mencapai Rp260 miliar sampai Rp 265 miliar per tahun dengan asumsi setiap mahasiswa membayar sebesar Rp20 juta. Menurut Pembantu Rektor I Universitas Brawijaya Malang Prof Dr Bambang Suharto menurun dengan adanya UKT. Menurutnya di FISIP pada tahun 2012 pendapatan sumbangan mencapai Rp 12 miliar belum termasuk SPP per semester (http://www.republika.co.id).
Penurunan pendapatan perguruan tinggi tidak dapat dijadikan alasan pembenar untuk memungut biaya pendidikan yang tinggi. Pendidikan adalah hak bagi setiap warga Negara, pemerintah harus bertanggung jawab untuk membiayai melalui subsidi bukan menjadikan mahasiswa sebagai sapi perahan.
Berdasarkan pemaparan diatas, kami dari Front Mahasiwa Nasional menyatakan sikap “Mendukung Penuh Perjuangan yang dilakukan Mahasiswa Universitas Brawijaya untuk mendapatkan hak-haknya yang tertuang dalam tuntutan”. Selain itu, kami juga menuntut :
 
1.   Mendesak Rektor UB Merealisasikan tuntutan mahasiswa
2.   Menuntut kepada pemerintah untuk meningkatkan subsidi pendidikan dan menurunkan biaya kuliah.
3. Mendesak Rektor UB untuk Menghentikan Privatisasi dan Komersialisai pendidikan di lingkungan kampus UB
4. Memberikan kebebasan berorganisasi, berpendapat, mimbar akademik dan berekspresi bagi mahasiswa.
Demikian pernyataan sikap ini dibuat. Kami juga mengajak seluruh mahasiswa Indonesia menolak komersialisasi pendidikan dan menuntut ditutunkannya biaya kuliah.
Jakarta, 20 Agustus 2013
Pimpinan Pusat
FRONT MAHASISWA NASIONAL (FMN)
 
L. MUH. Hasan Harry Sandy.AME
Sekretaris Jenderal
 
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger