Headlines News :
Home » » Resensi Buku "Surat Berdarah Untuk Presiden"

Resensi Buku "Surat Berdarah Untuk Presiden"

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Sabtu, 28 September 2013 | 05.54



Judul Buku :
Suara Berdarah Untuk Presiden (Suara Hati BMI Hong Kong)

Pengarang :
Nadia Cahyani Dkk

Penerbit :
Lini Jendela (Cetakan Pertama, Desember 2010)

Jumlah Halaman :
400 Hlm

A.     Pendahuluan :
6,5 juta rakyat Indonesia (TKI) tersebar ke seluruh negeri di dunia untuk mencari lapangan pekerjaan. Dari angka yang funtastis tersebut, hampir 70% di dominasi oleh perempuan (TKW) Indonesia yang sebagian besar bekerja di sektor informal atau menjadi pekerja rumah tangga. TKW mempunyai peran penting dalam pemasukan APBN di Indonesia, sampai-sampai TKW secara khusus mampu menghasilkan devisa terbesar bagi negara setelah pendapatan dari Pajak dan Migas. Tak ayal, TKI atau TKW secara khusus disebut-sebut sebagai pahlawan devisa negara.

Namun konstribusi yang besar yang diberikan TKI khususnya TKW kepada Negara, ternyata tidak sebanding didapatkan dari Pemeritahan  Indonesia. TKW yang pergi mengadu nasib ke Negeri orang, tak henti-henti menjadi korban siksaan, kekerasan, pembunuhan, kriminalisasi bahkan perkosaan yang menghancurkan segala impian mereka yang bersusah-payah meninggalkan sanak saudara (anak, suami, orang tua, pacar). Tak henti-hentinya televisi lokal dan internasional  membuat hati kita teriris, tersayat-sayat melihat saudara kita (TKW) diperlakukan secara tidak manusiawi di luar negeri. Persoalan TKW pun datang silih berganti. Pukulan, cacian dari majikan menjadi coretan merah bekerja di luar negeri (untung-untung tidak diperkosa). TKW  juga mendapatkan ketidakadilan dari Agen-PJTKI bahkan Negara  (BNP2TKI)  yang merampas Hak-hak upah mereka melalui pemotongan yang tinggi (Overcharging) serta Kartu Tanda kerja Luar Negeri (KTKLN) yang memberatkan.  Di sisi lain, perlakuan kekerasan, terhadap TKW sudah tak asing lagi di telinga kita. Malah hal itu dibiarkan dengan perlindungan yang rendah oleh pemerintah RI untuk menjaga Pahlawan Devisa Negara kita.

Buku ini membahas TKW atau Buruh Migran Indonesia (BMI) yang ada di Hong Kong dalam bentuk kumpulan surat dan artikel. Puluhan bahkan ratusan ribu menyambangi negeri Hong Kong sebagai gambaran sempitnya lapangan pekerjaan di Indonesia.  Di desa tanah mereka dirampas oleh tuan tanah, sedangkan di kota pekerjaan murah sekalipun tidak gampang untuk didapat. Tentu hal inilah yang melandasi tingginya angka TKI khususnya TKW mencari kerja di Luar Negeri. Tentu serikat-serikat buruh migran yang ada di Hong Kong berjuang membekali TKW dengan keahlian-keahlian khusus agar harapan dapat pulang ke Negeri tercinta untuk tidak menjadi budak di Negeri orang (walau nanti di negeri sendiri akan lebih kejam).

B.      ISI :
Bagian 1 : Hong Kong, Negeri Seribu Kisah BMI
I.                    Surat Berdarah untuk Presiden

Surat ini ditulis oleh Rosminah asal TKW dari Kediri. Bekerja di Hong Kong mengurus 5 ekor Anjing majikan. Anak Rosminah yang masih balita, terpaksa ditinggal di kampung dan diurus oleh neneknya yang sudah tua. Surat ini ditujukan pada bapak Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai keresahan dan kekacauan hati bekerja di Negeri orang yang hanya menjaga 5 ekor Anjing majikan. Minah  hanya tamatan SD. ia tak mampu melanjutkan SMP apalagi membayangkan Universitas yang mahal, mengingat ia adalah anak seorang buruh tani. Rosminah menikah dengan seorang suami yang bekerja menjadi Petani penggarap tembakau. Namun karena lahan yang sempit dan gagal panen, membuat kehidupan mereka bertambah menderita dan miskin. Mereka berhutang dimana-mana. Dan pada suatu ketika, suaminya meninggalkan ia dengan buah hatinya yang masih balita.

Dalam penggalan suratnya ia menulis “Bapak Presiden yang saya hormati. Dahulu saya bercita-cita menjadi Presiden, tapi ndak bisa mungkin karena nasib saya jelek, malah jadi pembantu. Saya pernah diceritakan bapak saya, kalau Pak Presiden itu serba tahu dan serba bisa menyelesaikan permasalahan rakyatnya. Pokoknya, pak Presiden itu orang paling pinter dan paling baik Se-Indonesia. Maka dengan itu Rosminah menceritakan permasalahan yang sedang saya alami. Saya ingin Pak Presiden membantu saya”.

Rosminah menulis Surat Kepada Presiden di tengah-tengah kesibukan menjaga 5 ekor anjing. Terkadag ia mengeluarkan coretannya dengan hati was-was, karena apabila dia tidak berhati-hati, anjingnya bisa lari. Bila majikannya mengetahui, bisa-bisa ia tak diberi makan selama 3 hari. Ia pernah dihukum 3 hari tidak diberi makan karena dianggap tidak mengurus 5 anjing majikannya dengan baik. 1 hari pertama ia masih bisa menahan rasa lapar. Hari ke-2 ia sudah mulai lapar, bahkan ia memakan nasi anjing dengan campuran air mata. Di hari ke-3 ia memakan sedikit nasi anjing karena ia takut kalau majikannya tahu jatah nasi anjing kepunyaannya berkurang. Dan terkadang iya berpikir, apakah Ia lebih hina dari 5 Ekor Anjing !  Setiap hari ia mengajak anjing majikannya jalan-jalan ke taman. Dengan makannan secukupnya, membuat anjing-anjing tersebut  sejenak tenang. Di sela-sela itulah dia melanjutkan surat buat bapak Presiden SBY. Mungkin dia juga binggung ketika suratnya selesai. Ia tak tahu kemana alamat untuk dikirim. Jika ia pun tahu mungkin biaya pengirimannya mahal dan lebih baik ditabung untuk dikirim ke anak dan orang tuanya di kampung. Tapi hatinya tetap bersikeras melanjutkan Suratnya buat Presiden.

Rosminah di dalam tulisan Surat Berdarah untuk Presiden, ingin menyampaikan segala permasalahan yang membuatnya terhina bahkan mengalami kekerasan fisik. Penderitaan itu ditambah dengan perampasan hak-hak normatif atas upah, libur, kebebasan berorganisasi yang sesungguhnya harus dijamin oleh pemerintahan RI dan negara tempat ia bekerja. Ia juga menyampaikan kekecewaan atas pendidikan yang mahal di Indonesia, yang membuat dia dulu harus putus sekolah dan sekarang hanya menjadi pembatu rumah tangga bahkan penjaga anjing di negeri orang. Selain itu, Tanah yang sempit dan pekerjaan yang terbatas, akan membuat derita panjang bagi kami Buruh Migran Indonesia Pak Presiden, Ujarnya di akhir Surat Berdarah untuk Presiden.

II.                  Ibarat Kaca Benggala

Ketika Ramadhan menjelma, hatiku (TKW) sungguh gundah, disadari bahwa seharusnya mereka sudah siap-siap untuk mudik, berlebaran dan dapat berkumpul bersama untuk mendapatkan kehangatan dari anak, suami, orang tua bahkan pacar. Namun keadaan memang tidak selalu mendukung bagi BMI agar bisa bersama sekali pun moment Hari Besar umat beragama. Ribuan bahkan jutaan mil terbentang, tidak bisa ditempuh dengan jalan kaki atau naik bus. Klo toh pun bisa, itu adalah mukzijat dari majikan atau bisa-bisa mendapatkan ancaman PHK. Pertimbangan yang tak kala menjadi factor utama selain izin majikan adalah Dana, waktu dan lain-lain yang membuat beku akan kerinduan kebersamaan. Sehingga para TKW hanya bisa berangan-angan akan indahnya kebersamaan lewat udara dan mimpi di malam hari. Tak kala TKW ingin mencurahkan seluruh air mata, ketika keluarga majikannya saling berbagi kasih dengan anak-anaknya atau dengan pasangan majikannya. Dan aku bertanya mengapa aku tak dapat merasakan seperti mereka rasakan akan indahnya kebersaman.

III.                Rumah Singgah Penuh Berkah

Ratu TKW yang berasal dari Subang. Sebagaimana tradisi untuk melegitimasi merampas Hak buruh migran Indonesia, para BMI harus berada di bawah pengawasan 3 bulan penuh oleh PJTKI dengan dalih mempersiapkan mereka menjadi TKW yang handal dan mampu menjamin kualitas di negeri sasaran Tentu itu adalah perdagangan manusia sesungguhnya, yang melengkapi skill menjadi PRT, sedikit berbahasa agar efektifnya komunikasi dengan majikan di Hong Kong, sehingga nantinya majikan tidak mencaci dan memukul bahkan membunuh kami (TKW) jika salah bekerja. Tempat singgah di PJTKI adalah konspirasi negara dengan agensi untuk merampas upah buruh selama ± 9 bulan, sebagai pengganti biaya pembinaan di PJTKI (Rumah singgah).

Dua bulan di PJTKI, Ratu mendengar orang tuanya sakit keras. Dengan hati yang bimbang sebenarnya Ratu ingin menjengguk beliau dan berada di sampingnya. Namun manager PJTKI ibarat singa berbulu domba, yang halus dipermukaan namun sesungguhnya menakutkan. Sehingga Ratu pun harus mengurungkan niat untuk menjegguk. Namun tak berselang lama, ia mendengar jika emaknya meninggal dunia. Ratu dengan hati sedih menghadap sang manager yang galak dan menyampaikan berita duka itu. Namun ironi, manager PJTKI  itu tak sedikit pun mempunyai rasa belangsukawa, bahkan ia mengatakan “kalau sudah mati, ya tinggal dikubur saja. Memang kamu mau apa? Mau pulang ? klo kamu pulang memang bisa apa ? mau menemaninya tidur di kuburan ?” dan Ratu pun pasrah untuk tidak melihat emak walau hati sakit sungguh mendalam. Dan Pada akhirnya, tanggal 12 Desember 2005 ia pergi meninggalkan Indonesia menuju Hong Kong demi menjadi PRT.

IV.                Ramadhan Dalam Ikhlas

Juwana Azza adalah TKW yang teramat menjungjung tinggi nilai-nalai agama. Ia bertepatan seorang muslim. Maka sudah menjadi kewajiban bahkan seluruh umat manusia untuk menjalankan ibadah yang harus dijamin dan dilindungi oleh Negara manapun. Namun itu berbeda dengan yang dialami Juwana. Ia bekerja setahun di rumah majikannya dan tidak medapatkan kebebasan dari majikannya untuk menjalankan ibadahnya. Alasan dari majikan sederhana,  ibadahnya nanti dapat mengganggu pekerjaan merawat anak-anak si majikan. Bahkan ia pernah melaporkan kepada PJTKI atau kedutaan besar republik Indonesia (KBRI) di Hong Kong, namun sampai surat ini termuat, belum ada tanggapan sama sekali.

Pada tahun ke-2 tepatnya pada bulan ramadhan, ia ketahuan majikannya berpuasanya. Ia dimarahi sama majikannya karena kondisi badannya bisa lemah ketika harus berpuasa dan bekerja. Namun Juwana dengan sedikit ketakutan mengatakan bahwa tahun lalu sebenarnya dia juga sudah berpuasa, namun pekerjaannya tidak ada sedikit pun terkendala. Mendengar itu, majikannya pun lantas tidak pernah lagi mempermasalahkan ibadahnya. Namun hati Juwana sesungguhnya terbelenggu dan ingin berontak atas ketidakadilan yang ia alami.

V.                  Terima Kasih Peri Kehidupan
Namanya Yuni Shandira Ratmoko, umur 36 tahun TKW asal dari Jawa Tengah, ia hanya lulusan SMP. Keputusan pergi ke luar negeri menjadi TKW untuk bekerja hanya untuk menyekolahkan adik-adiknya yang masih kecil dan ia pun sadar harus bekerja keras agar dapat membayar biaya sekolah yang mahal. Sementara bapaknya bukan tidak bertanggung jawab, namun bapaknya sudah lama mengidap penyakit setruk. Tentu sebagai anak paling tua, ia menjadi tulang punggung keluarga.

VI.                Artikel-artikel dalam bagian satu masih tersisa beberapa lagi, namun penulis menganggap bahwa tulisan di atas sudah menjadi representatif atas gambaran umum kehidupan BMI di Hong Kong yang masih mendapatkan kesejahteran dan perlindungan yang rendah oleh Pemerintahan RI. Seperti tindakan kekerasan, siksaan, pelecehan seksual dan pulang tak bernyawa ke negeri tercinta, Indonesia. Artikel pada bagian Pertama memuat surat dan tulisan narasi diskripsi sebagai kisah nyata yang di alami BMI di Indonesia khususnya di Hong Kong.

Bagian 2 : Surat-surat Presiden

Bagian ke-2 dalam buku ini memuat surat-surat BMI atas segala persoalan yang dihadapi TKW di Luar negeri tempat ia bekerja. Mulai dari persoalan upah rendah, pemotongan upah oleh agen bahkan negara sekalipun sampai pada rendahnya akan perlindungan terhadap BMI di Luar Negeri. KBRI/KJRI sebagai perwakilan di luar negeri tempat bekerja, bagaikan sebuah lembaga yang tak mempunyai fungsi sama sekali. Tentu ini adalah gambaran buruk pemerintahan dari SBY yang mereka lukiskan dalam bentuk Surat Berdarah untuk Presiden.

Pada bagian kedua (2) ini ada 17 Surat yang ditujukan pada Presiden SBY. Namun penulis akan memaparkan satu tulisan sebagai perwakilan atas surat-surat lain.
Judul Surat: “Banyak Cerita Kecil Untukmu”

Kepada Yth.
 Bapak Presiden RI

Assalamu’alaikum wr.wb

Ketika surat ini sampai kepada Bapak Presiden, semoga bapak membacanya di waktu shubuh. Ketika pikiran Bapak masih fresh, dari masalah utang negara yang trilyunan  US$ dollar. Saya Cuma ingin menceritakan masalah-masalah ‘kecil’, tentang saya dan beberapa nasib yang dialami oleh tetangga saya.

Pak Dasman, setiap pagi dia berangkat ke sawah dan pulang sore hari. hal ini dia lakukan semenjak saya kecil hingga kini. Kenapa harga padi turun, di waktu panen ? itu yang ia keluhkan setiap enam bulan sekali, sewaktu panen ‘kecil-kecilan’. Apa jawaban Bapak atas pertanyaan Pak Dasman, tetangga saya ini? Tidak usah menggunakan istilah bahasa yang rumit. Seperti subsidi atau kebijakan otonom. Saya yakin dia tidak akan mengerti. Karena dia tidak begitu pandai baca tulis apalagi istilah-istilah ilmu ekonomi. Dan dia juga jarang menonton televisi ketika kabinet bapak mengadakan rapat di Gedung DPR RI. Katanya buat apa? Hanya menonton orang ngantuk yang berdasi ?

Saya juga ingin mengabarkan nasib Cardi bocah kecil di belakang rumah. Sejak kecil dia bermain sendiri di pekarangan rumah, dengan ingus yang mengering dan rambut merah jagung yang terbakar matahari. Ia ditinggal ibunya pergi ke Arab Saudi menjadi TKW. Ketika ia kembali hanya dengan satu kaki karena ditebas sang majikan akibat berontak ketika akan dijadikan sebagai pelampiasan nafsu. Dan ironinya, ia kembali ke Indonesia tanpa membawa uang sepeser pun dan tunjangan apapun. Di mana fungsi KBRI yang seharunya melindungi ibu Cardi ?

Itu salah satu bukti tertindasnya kaum buruh di Luar negeri, baik oleh majikan dan terlebih-lebih oleh pemerintahan negeri sendiri. Padahal setahu saya bahwa pemerintah digaji dari pajak yang selalu kami taati. Sungguh kami tak ikhlas, para pejabat seolah memakan gaji buta dari hasil keringat kami.
Pak Presiden yang saya hormati,

Kenapa juga kian hari kian banyak koruptor, yang seolah-olah KPK tak berguna lagi. Dari pejabat rendah sampai terlebih-lebih pejabat tinggi, semua melakukan korupsi. Bapaklah yang bertanggung jawab atas ini, ujarku.

Sekarang negeri yang Bapak pimpin juga tak memberi kesempatan kerja kepada saya, yang hanya memiliki dua lembar ijasah. Hal ini memaksa saya untuk menggadaikan tahun demi tahun ke negara orang-orang, bersama jutaan orang warga negara Bapak. Walaupun kami mendapatkan gelar Pahlawan Devisa, tetapi kami tidak terlalu bangga. Karena kami sering mendapatkan perlakuan tidak manusiawi dari Agen, PJTKI bahkan Negara (BN2PTKI).

Banyak pejabat yang datang menemui kami di luar negeri, entah untuk keperluan apa. Karena gaji kami tetap terpotong sembilan bulan untuk memberi makan para agensi dan pemerintah RI. Dan para pejabat itu tak pernah menanggapi tuntutan kami, mengenai hak buruh Luar Negeri. Demo setiap minggu seolah lelucon bagi KJRI. Mungkin kedatangan para pejabat itu lebih pantas dikatakan agenda wisata ke luar negeri, yang tak memberikan perubahan apa-apa bagi nasib TKW atau TKI secara menyeluruh.

Pak Presiden yang terhormat,

Saya berharap setelah membaca surat pribadi saya ini, Bapak bisa menemukan solusi untuk permasalahan-permasalahan seperti ini. Masalah Pak Darsim seorang petani yang menuntut kesejahteraan yang layak, dengan stabilnya harga padi dengan sembako ketika panen. Masalah Cardi atas nasib ibunya yang mendapatkan pelecehan seksual, kekerasan dan  kurangnya perlindungan hukum dari KJRI. Dan nasib saya yang kesulitan mencari pekerjaan di usia produktif di negeri sendiri.

Cukup ini yang ingin saya sampaikan, sebenarnya bukan masalah kecil bagi kami. Tapi mungkin tidak pernah terlintas dalam benak Bapak urusan kecil seperti ini.

Salam Hormat
Kurnengsih



C.      Komentar

Buku ini sungguh menceritakan sisi buram kehidupan Pahlawan Devisa Negara. Secara komprehensif dalam bentuk kumpulan surat dan artikel, dapat memberi gambaran umum bagaimana persoalan yang dihadapi oleh BMI khususnya TKW  atas kesejahteraan Upah dan perlindungan yang rendah oleh Negara melalui Pemerintahan SBY. Pemotongan Upah yang berlebihan (Overcharging) sebagai bentuk manifestasi perampasan upah BMI. Hampir 9 bulan TKW yang bekerja di Luar Negeri, upahnya dipotong penuh. Dari hampir 6,5 juta rakyat Indonesia yang mengantungkan diriny di Luar Negeri, hampir 70 % didominasi oleh TKW yang bekerja di sektor Informal (Pembantu Rumah Tangga). TKI yang bekerja di Luar Negeri sebagian besar berasal dari desa yang orang tua, suami bekerja menjadi petani  miskin dan buruh tani. Sementara saat bekerja di Luar Negeri, TKW Indonesia malah kerap harus mendapatkan ancaman perlakukan yang tidak manusiawi seperti cacian, siksaan, pelecehan seksual bahkan yang berujung pada kematian oleh majikan, yang dibiarkan oleh Negara sasaran dan khususnya Negara kita.

Namun tingginya angka BMI yang bekerja di Luar negeri, Penulis menarik sebuah kesimpulan sebagai  analisis atas buku ini adalah sebagai berikut;
1.      Tingginya BMI bekerja di Luar Negeri Akibat dari Sempitnya akses atas penguasaan tanah oleh petani di desa. Bahkan tanah petani terancam atas perampasan dan  monopoli Tanah dalam bentuk perkebunan, pertanian, pertambangan skala besar oleh Negara  (PTPN, Taman Nasional, Perhutani/Ihutani, dll atau perusahan swasta besar (Borjuasi besar komprador dan tuan tanah besar seperti Sinar Mas, Wilmar, Salim Group dll)
2.      Sempitnya akses atas tanah sebagai topangan hidup petani, membuat petani kehilangan pekerjaan di desa, sehingga mendorong rakyat Indonesia mencari pekerjaan di Luar  Negeri
3.      Di Sisi lain, Negara melalui Pemerintahan SBY tak mampu menjamin Lapangan Pekerjaan yang luas bagi rakyat Indonesia
4.      Tingginya angka BMI khsusunya TKW bekerja menjadi PRT disebabkan rendahnya akses atas pendidikan dikarenakan biaya pendidikan mahal dan fasilitasi yang rendah khususnya di Pedesaan.
Tak ada gading tak retak, sama halnya dengan buku ini. Namun, Penulis menganggap bahwa  Buku ini tetap menarik untuk menjadi salah-satu literatur melihat sisi kehidupan  BMI khususnya TKW yang diterlantarkan oleh Pemerintah Indonesia.

Oleh : Rachmad P Panjaitan
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger