Headlines News :
Home » » FMN Mengecam Tindak Pemukulan dan Intimidasi Kepolisian Makassar terhadap Mahasiswa UNM

FMN Mengecam Tindak Pemukulan dan Intimidasi Kepolisian Makassar terhadap Mahasiswa UNM

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Senin, 11 November 2013 | 21.30



Tindak kekerasan aparat kepolisian terhadap rakyat kembali dilakukan. Kali ini menimpa dua mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM)pada Sabtu, 9 November lalu yaitu Muh Alwi dan Heriansah. 

Paska kejadian pembakaran Gedung PKM UNM (7/11) dua mahasiswa dari jurusan Pendidikan Sejarah di mintai keterangan oleh pihak kepolisian Polrestabes Makassar. Sabtu(9/11) dini hari sekitar pukul 03.00 kedua mahasiswa tersebut dijemput kepolisian dengan alasan, pihak kepolisian telah menemukan pelaku pemukulan. 

Dalam perjalanan menuju Polrestabes, kedua mahasiswa di arahkan ke Pos Polisi di Jalan Sungai Saddang Baru Makassar dan dipukuli oleh aparat kepolisian. keduanya dipaksa mengaku bahwa yang melakukan pembakaran Gedung PKM adalah mereka dan teman-temannya. Setelah babak belur, kedua mahasiswa baru dibawa ke Polrestabes Makassar. 

Muh Alwi dan Heriansah berstatus sebagai saksi. Intimidasi kembali dilakukan oleh aparat kepolisian saat melakukan interogasi kepada kedua mahasiswa. Polisi kembali memaksa agar Muh Alwi dan Heriansah mengaku sebagai pembakar gedung PKM UNM namun keduanya tidak mau mengaku karena saat kejadian mereka berada dikos masing-masing. Pemeriksaan berlangsung hingga hari Minggu, dan melebihi batas pemeriksaan 1 x 24 jam karenanya Kuasa Hukum Mahasiswa dari LBH Makasar mendatangi Polrestabes Makasar untuk meminta polisi membebaskan mahasiswa. Kepolisian tidak menemukan bukti bahwa kedua mahasiswa terlibat pembakaran.

Terdapat kejanggalan dalam pengungkapan pelaku pembakaran gedung PKM UNM. Pembantu Rektor 3 UMN dalam keterangannya(9/11) menyampaikan ketiga pelaku pembakaran sudah dikantongi penyidik yang pasti dari jurusan sejarah.  Namun ketiga mahasiswa yang disebut pembantu rector tidak terbukti sebagai pelaku berdasarkan hasil penyelidikan kepolisian.

Keterangan Rektorat UNM yang tidak sesuai fakta menunjukan bahwa belum ada budaya ilmiah di kalangan birokrasi UNM. Kebudayaan ilmiah adalah roh Perguruan tinggi, sehingga tidak tepat Pembantu Rektor 3 memberikan keterangan yang tidak berdasar pada penyelidikan terlebih dahulu.

Kejadian di UNM harus menjadi perhatian semua Perguruan Tinggi untuk melakukan evaluasi secara komprehensif. Ini hanyalah imbas dari buruknya system pendidikan di Indonesia. Proses belajar di kelasa belum mampu membentuk karakter mahasiswa sebagaimana tujuan pendidikan itu sendiri. 

Berdasarkan Pemaparan diatas Kami dari Pimpinan Pusat Front Mahasiswa Nasional menyatakan sikap Mengecam Aparat Kepolisian Polrestabes yang melakukan Intimidasi dan Pemukulan kepada Mahasiswa UNM saat Melakukan Penyidikan. Selain itu kami juga menyatakan sikap:


  1. Kepada Polda Sulawesi Selatan Untuk menindak tegas aparat kepolisian Polrestabes Makassar yang telah melakukan Intimidasi dan Pemukulan terhadap mahasiswa UNM saat melakukan penyidikan
  2. Kepada Rektorat Universitas Negeri Makassar untuk terlebih dahulu melakukan penyelidikan sebelum memberikan keterangan kepada media, sebagai cerminan budaya ilmiah didalam kampus
  3. Kepada Rektorat Universitas Negeri Makassar untuk secara objektif dalam mengungkap kasus pembakaran Gedung PKM UNM.


Demikian Pernyataan ini disampaikan, kami mengajak kepada seluruh mahasiswa Indonesia untuk melawan segala bentuk intimidasi, tindak kekerasan oleh pemerintah beserta aparatusnya.

Jakarta, 12 November 2013
Pimpinan Pusat
Front Mahasiswa Nasional

L Muh Hasan Harry Sandy AME
Sekretaris Jenderal

Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger