Headlines News :
Home » » FMN: Presiden SBY Lamban Atas Kasus Erwiana, Negara Harus Bertanggung Jawab atas Perlindungan BMI

FMN: Presiden SBY Lamban Atas Kasus Erwiana, Negara Harus Bertanggung Jawab atas Perlindungan BMI

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Selasa, 21 Januari 2014 | 05.47


Kami dari Front Mahasiswa Nasional (FMN) kecewa atas lambannya penanganan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam menanggapi kasus penyiksaan kepada Erwiana. Erwiana adalah Buruh migran Indonesia(BMI) asal Ngawi Jawa Timur yang bekerja di Hong Kong. Erwiana adalah salah-satu dari sekian banyak kasus BMI atas kekerasan majikan akibat rendahnya perlindungan BMI oleh Indonesia. Kasus Erwiana sudah mulai menguak ke publik mulai dari 9 Februari. Namun Presiden baru angkat bicara pada hari Selasa(21/1/2013) di sela-sela rapat kabinet membahas banjir Jakarta.

Dalam Percakapan SBY melalui telepon dengan Erwiana dan keluarga pagi tadi, seperti biasa SBY menyampaikan rasa “keprihatinan” atas tindak kejahatan yang dialami oleh Erwiana. SBY menyuruh Erwiana beserta keluarga tabah menghadapi masalah ini. Ironinya, SBY lagi-lagi tidak menunjukkan sikap tegasnya selaku Kepala Negara atas penganiayaan warga negaranya yang bahkan BMI disebut-sebut sebagai pahlawan devisa. Presiden SBY juga tidak menyampaikan bentuk advokasi untuk memperjuangkan kasus Erwiana sehingga majikan dapat ditindak secara tegas sehingga tidak ada lagi Erwiana-Erwiana berikutnya.


Erwiana diberangkatkan PT Graha Ayu Karsa, Tangerang, Banten pada 15 Mei 2013. Ia bekerja di rumah Law Wan Tung sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) di Apartemen J 38F Blok 5 Beverly Garden 1, Tong Ming Street, Hong Kong mulai 30 Mei 2013. Selama bekerja, ia tidak diberi upah dan hanya dikasih waktu tidur 4 jam sehari. Selanjutnya Erwiana dipulangkan secara diam-diam oleh majikannya setelah sekujur tubuhnya mengalami luka-luka, melalui bandara Hong Kong dengan dibekali uang HK Dollar 100 ketika di Bandara ia bertemu dengan sesama BMI. Awalnya Erwiana tidak mau mengakui bahwa luka-luka di badannya akibat penganiayaan majikannya. Ia menyebutkan itu hanya sakit kulit. Namun pada akhirnya, Erwiana dengan tubuh yang sudah lemas akhirnya berterus terang bahwa dia sesungguhnya adalah korban penganiayaan majikannya. Dia takut berterus terang karena majikannya mengancam akan membunuh Erwiana dan keluarga jika ia menceritakan pada siapa pun.

Kini Erwiana pun harus dirawat di Rumah Sakit Sragen Jawa Tengah. Dia dinyatakan menderita infeksi kulit akut di bagian tangan dan kaki, memar ditubuh bekas benturan benda tumpul, bagian otaknya membengkak, penglihatannya bermasalah dan giginya patah sedikit karena dipukul majikan.

Kasus Erwiana hanya salah satu kasus yang diderita BMI. Pada 2013, sebanyak 187 awak buah kapal (ABK) Indonesia juga mengalami hal yang tidak jauh berbeda. Mereka didamparkan di Port of Spain (Trinidad dan Tobago) dan Pantai Abidjan (Pantai Gading) oleh perusahaan yang mempekerjakannya. Mereka diberangkatkan PT Karlwei Multi Global (Kartigo) yang beralamat di Jalan Jelambar Selatan XI Nomor 8 Jakarta Barat dan dipekerjakan di perusahaan penangkapan ikan Taiwan. Rata-rata mereka sudah bekerja di tengah laut selama dua (2) tahun dan diperlakukan tidak selayaknya manusia. Kini, kasusnya sedang diproses secara hukum dan sudah berjalan sidangnya di Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

Data Migran Care menyebutkan 265 TKI itu hingga Oktober 2013 masih menjalani proses hukum di sejumlah pengadilan di luar negeri dengan dakwaan hukuman mati.

Pada Juni 2013, ribuan BMI di Arab yang akan diputihkan rusuh di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah, Arab Saudi karena pelayanan yang tidak baik.

Menurut kompas.com terdapat puluhan ribu anak-anak BMI di Malaysia yang masuk dalam usia sekolah belum terlayani pendidikan sehingga terancam buta huruf. Rata-rata orang tua mereka bekerja diperkebunan sawit.

Berbagai permasalahan yang menimpa BMI di Negara penempatan tidak bisa dilepaskan dari buruknya system perlindungan oleh Pemerintah Indonesia terhadap warga negaranya. Pemerintah harus menciptakan system perlindungan sejati untuk BMI dan keluarganya. Menciptakan lapangan pekerjaan didalam negeri jugaharus menjadi prioritas pemerintah bukan terus mengekspor tenaga kerja Indonesia demi menghasilkan devisa.

Kelambatan respon presiden menunjukan ketidak seriusan pemerintah memberikan perlindungan kepada buruh migrant. Secara politik, perjuangan buruh migrant yang secara cepat merespon dan berjuang untuk keadilan Erwiana dan seluruh buruh migrant lebih terhomat daripada Presiden. Perjuangan, buruh migrant untuk mendapatkan hak-haknya sudah tepat karena pemerintah tidak bisa diandalkan.

Menyikapi kasus Erwiana dan problem yang dihadapi seluruh BMI, kami dari FMN menyatakan sikap: 
  1.  Menuntut kepada Pemerintah Republik Indonesia untuk secara aktif  menyelesaikan persoalan Erwiana. Mengusut dan menindak tegas majikan dan perusahaan yang memberangkatkan Erwiana.  
  2. Mendesak kepada Pemerintah, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, BNP2TKI untuk memastikan agar Erwiana dan keluarganya mendapatkan ganti rugi dan dibayar upahnya selama bekerja
  3. Menuntut kepada Presiden SBY untuk mencabut peraturan yang merampas hak-hak buruh migran (UU No.39 Thn 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan tenaga kerja
  4. Pemerintah harus menciptakan peraturan dan menjalankan konvensi PBB 1990 tentang perlindungan buruh migrant dan keluarganya secara konsekwen
  5. Wujudkan Perlindungan PRT  melalui Rativikasi C 189
  6.  Mendesak kepada pemerintah Indonesia, untuk segera menyelesaikan kasus yang dialami buruh migrant
  7.  Mendesak pemerintah untuk memberikan hak-hak atas pendidikan anak-anak buruh migrant
  8. Mengutuk pernyataan Direktur Pelayanan Pengaduan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI), Christofel De Haan yang menawarkan damai atas kasus Erwiana
  9. Mendukung perjuangan buruh migran untuk keadilan Erwiana dan seluruh buruh migran Indonesia.

Demikian pernyataan ini disampaikan.

Jakarta, 21 Januari 2014

Pimpinan Pusat
Front Mahasiswa Nasional

L Muh Hasan Harry Sandy AME
Sekretaris Jenderal
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger