Headlines News :
Home » » FMN : Sambut Peringatan Mayday 2014, Dengan Menyuarakan Upah, Kerja, Tanah Serta Berikan Jaminan atas Pendidikan & Kesehatan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

FMN : Sambut Peringatan Mayday 2014, Dengan Menyuarakan Upah, Kerja, Tanah Serta Berikan Jaminan atas Pendidikan & Kesehatan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Rabu, 30 April 2014 | 17.02



Peringatan Mayday adalah sebuah tonggak sejarah panjang perjuangan yang ditorehkan klas buruh untuk menuntut pengurangan jam kerja yang panjang. Sekilas Peringatan Hari buruh internasional (mayday) diawali demontrasi kaum buruh  di Amerika Serikat pada tahun 1886, yang menuntut pemberlakuan delapan jam kerja. Tuntutan ini lahir atas keadaan kongkrit kaum buruh yang menderita akibat dipaksa bekerja selama 12-16 jam/hari. Demonstrasi besar yang berlangsung sejak april 1886 pada awalnya didukung oleh sekitar 250 ribu buruh yang selama dua minggu membesar menjadi 350 ribu. Kota chicago adalah jantung kebangkitan gerakan buruh pada waktu itu yang diikuti oleh sekitar 90 ribu buruh. Di New York, demonstrasi serupa diikuti 10 ribu buruh, di detroid 11 ribu buruh, demonstrasi terus menjalar ke berbagai kota seperti Louisville dan Baltimore. Kemudian pada tanggal 1 mei 1886, demonstrasi kian meluas dari Maine ke Texas dan dari New Jersey ke Alabama yang diikuti setengah juta buruh di negeri tersebut. Bahkan perjuangan klas buruh yang menyebar ke seluruh penjuru di amerika, disambut dengan tindakan fasis oleh pemerintah AS yang bersekutu dengan persatuan pengusaha Chichago (Chicago's Commercial Club) untuk melakukan referesif terhadap gerakan buruh di AS. Atas insiden biadap tersebut, menewaskan 4 buruh, puluhan luka-luka serta beberapa aktivis dipenjarakan.

Tapi sebagaimana kita ketahui bahwa setiap perjuangan melawan penindasan akan selalu memberi kemenangan bagi rakyat. Demikian pula perjuangan klas buruh yang menuntut 8 jam kerja dimenangkan melalui Kongres buruh Internasional tahun 1989 yang juga menetapkan 1 Mei sebagai Hari buruh internasional. Delapan jam/hari atau 40 jam/minggu (lima hari kerja) kemudian telah ditetapkan menjadi standar perburuhan internasional oleh ILO melalui Konvensi ILO No. 01 tahun 1919 dan Konvensi no. 47 tahun 1935.

Namun  penghidupan klas buruh Indonesia secara nyata masih mengalami berbagai polemik yang dilahirkan rejim yang lebih mempersentasekan kepentingan pengusaha daripada buruh tersebut. Sehingga perjuangan atas upah dan kondisi kerja yang layak serta kebebasan berserikat hingga sekarang, masih menjadi sorotan utama kaum buruh Indonesia. Menurut FMN, Upah kaum buruh di Indonesia meskipun secara nominal mengalami peningkatan setiap tahunnya, namun tetap masih belum dapat memenuhi kebutuhan riil sehari-hari atau tidak sesuai dengan kenaikan harga barang-barang yang terus mengalami inflasi. Tentu hal ini tidak dapat dilepaskan dari kebijakan-kebijakan pemerintah yang secara sistematis mempertahankan keberlangsungan  upah murah di Indonesia. Selain itu, upah murah juga disebabkan oleh sistem pembayaran upah yang masih didasari buruh lajang.  Artinya buruh dan keluarga belum mendapatkan hak atas upah sepenuhnya.  Demikian juga Kepmen nomor 231 tahun 2003 tentang Tata Cara Penangguhan Upah Minimum, Inpres nomor 9 tahun 2013 tentang Pembatasan Upah Minimum, senantiasa memberi ruang bagi Pengusaha untuk terus menindas dan merampas  Kesejahteraan Pekerja.

Momentum Mayday 2014 kali ini, tentu berbeda dengan peringatan Mayday yang sudah- berlalu di Indonesia. Sebagaimana kita ketahui, bahwa rejim boneka Soeharto pada tahun 1973 melarang dan tidak mengakui Mayday sebagai hari libur. Akan tetapi,  dengan kegigihan dan keteguhan dari perjuangan buruh dan rakyat Indonesia, peringatan Mayday sebagai Hari Libur Nasional dikembalikan setelah dirampas selama 40 tahun oleh Orba. Tentu dengan penetapan Hari Libur Nasional sebagai peringatan Mayday di Tahun 2014 adalah kemenangan dari seluruh buruh dan rakyat Indonesia menuntut hak mereka yang dirampas rejim. Melalui Keppres Nomor 24 Tahun 2013, menetapkan Tanggal 1 Mei Sebagai Hari Libur Nasional. Namun yang menjadi sangat istimewa bagi kaum buruh dan rakyat Indonesia dalam peringatan Mayday 2014 tahun ini, adalah  tahun 2014 menjadi tahun politik bagi borjuasi besar komprador, tuan tanah besar di dalam pemilihan legislatif dan pada Pilpres 2014. Ramainya para politisi yang berlatar belakang pengusaha besar, tuan tanah, birokrat mengobral janji kepada klas buruh dan rakyat Indonesia dengan ilusi mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat. Tentu klas buruh dan rakyat Indonesia sudah memahami bagaimana watak dari Caleg bahkan Capres yang hanya memanfaatkan rakyat menjadi kantong suara untuk melanggengkannya menuju lembaga-lembaga kekuasaan yang anti rakyat. Rakyat sudah mulai sadar bahwa pemilu ke pemilu yang telah berlangsung di Indonesia sampai ke Pilpers pada 9 Juli nanti, tidak akan dapat melahirkan pemimpin yang mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya. FMN menganggap bahwa, siapa pun Presiden yang terpilih dalam pilpres juli 2014 nanti tidak ubahnya seperti rejim SBY, yakni pemerintahan boneka Imperialisme AS sebagai pemerintahan bersama antara borjuasi besar komperador, tuan tanah serta kapitalis birokrat. Pemeritahan yang baru tersebut tentu akan melanggengkan bahkan akan lebih meningkatkan penghisapan dan penindasaan terhadap klas buruh, kaum tani, pemuda mahasiswa, BMI serta seluruh rakyat Indonesia.

Bagi FMN sebagai Ormass Mahasiswa, dengan segala kerendahan hati selalu menegaskan perjuangannya yang bertalian erat dengan gerakan buruh, untuk terus menopang kampanye klas buruh  atas kesejahteraan dan jaminan sosial yang dirampas oleh pengusaha melalui sistem yang dilanggengkan oleh Rejim boneka SBY. FMN menyadari bahwa rendahnya upah yang diterima oleh klas buruh, akan berdampak pada rendahnya akses anak-anak buruh dan pemuda untuk mengecap dunia pendidikan. Apalagi kita paham betul bahwa pendidikan di Indonesia yang semakin jauh dari cita-cita “Mencerdaskan kehidupan bangsa”,akibat pendidikan mahal sebagai bentuk komersialisasi serta lepasnya tanggung jawab negara atas pendidikan (liberalisasi). Dengan demikian FMN menyatakan sikap Sambut Peringatan Mayday 2014, Dengan Menyuarakan Upah, Kerja, Tanah Serta Berikan Jaminan atas Pendidikan dan Kesehatan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Adapun tuntutan lain FMN dalam Mayday 2014 adalah;
1.      Hapus Politik Upah Murah
2.      Hapus Inpres No. 9 Th 2013 tentang pembatasan upah dan Kepmenakertrans No. 231 Th 2003 tentang tata cara penanguhan Upah minimum sebagai bentuk perampasan Upah buruh
3.      Hapus BPJS dan Berikan Jaminan social bagi seluruh rakyat Indonesia yang sepenuhnya ditanggung Negara
4.      Jalankan Landreform Sejati – Tanah untuk Rakyat
5.      Hentikan pemberangusan berserikat serta berikan kebebasan berorganisasi dan berserikat bagi rakyat Indonesia
6.      Cabut UU DIKTI dan Hapuskan UKT
7.      Tolak Perkebunan, Pertambangan milik Tuan tanan besar, pengusaha besar serta asing yang merusak ekonomi dan lingkungan bagi rakyat.

Demikian pernyatan sikap Pimpinan Pusat Front Mahasiswa Nasional (PP FMN) dalam Hari Buruh Internasional 2014. Selamat Hari Buruh Internasional dan Ayo galang persatuan rakyat menuntut hak demokratisnya. Terima kasih.

01 Mei 2014
Hormat saya




Rachmad P Panjaitan
Ketua PP FMN
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger