Headlines News :
Home » » Menuju Hardiknas 02 Mei 2014-Gelorakan Perjuangan Atas Pencabutan UU PT dan Penghapusan UKT

Menuju Hardiknas 02 Mei 2014-Gelorakan Perjuangan Atas Pencabutan UU PT dan Penghapusan UKT

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Kamis, 24 April 2014 | 07.11



         


           Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap tanggal 02 Mei sebagai hasil kemenangan sejarah panjang rakyat Indonesia menentang diskriminasi pendidikan oleh colonial belanda di Indonesia. Pada Masa colonial Belanda , pendidikan hanya diperuntukkan bagi bangsa Belanda dan keturunan Priyayi (bangsawan dan tuan tanah local). Pendidikan dijadikan sebagai alat legitimasi untuk mempertahankan kekuasaaan Belanda atas Indonesia untuk menghisap dan menindas alam dan rakyat Indonesia. Adapun politik etis yang salah-satunya mengatur tentang pendidikan adalah sebuah kebohongan sejarah sebagai politik balas budi dengan dalih memberikan pendidikan bagi seluruh rakyat. Sebab pendidikan masa itu masih saja ditujukan untuk bangsa colonial dan keturunan priyayi. Bahkan pendidikan masa itu, masih mempertahankan paradigma pendidikan  bagi Negara-negara Inlander (terjajah). Sehingga pendidikan masa itu bukan sebagai alat pembebasan rakyat dari colonial, namun pendidikan dijadikan sebagai institusi yang mempertahankan kepentingan Belanda untuk terus menghisap dan menindas rakyat. Namun demikian pentingnya posisi pendidikan dalam bangsa dan negara Indonesia ini, sehingga  terukirnya momentum Hari Pendidikan Nasional, setiap tanggal 2 Mei sebagai hasil perjuangan rakyat Indonesia.
Sejarah pun berkembang, namun wajah pendidikan di Indonesia masih saja sama dengan pendidikan yang telah lama berlangsung. Masalah pendidikan bahkan menjadi arena liberalisasi, komersialisasi dan privatisasi dari borjuasi komprador, tuan tanah, kapitalis birokrat yang dipersembahkan bagi tuannya Imperialisme yang anti rakyat. Tujuan pendidikan telah melenceng jauh dari cita-cita mulianya untuk membebaskan manusia Indonesia dari penjajahan Imperialisme dan Feodalisme yang terbelakang[1]. Hingga saat ini, pendidikan bahkan ditujukan untuk merawat dan melanggengkan sistem tua setengah jajahan dan setengah feodal yang telah terbukti menindas dan menyengsarakan rakyat Indonesia.
Faktanya bahwa, dari sekian kali pergantian rezim, pendidikan justeru tidak pernah terlepas dari kepentingan Imperialisme[2] dan borjuasi komprador[3] di dalam negeri, baik kepentingan secara Ekonomi: institusi yang berorientasi meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Menjadikan institusi pendidikan menjadi lembaga bak perusahan yang menerapkan liberalisasi, komersialisasi dan privatisasi. Dengan demikian berdampak pada pendidikan yang mahal dan hanya berorientasi menciptakan tenaga kerja yang murah., Secara Politik: Sebagai mesin yang melahirkan analisis-analisis yang menguatkan, melegitimasi atau bahkan melahirkan suatu kebijakan Pemerintah yang mengabdi kepada Imperialisme dan feodalisme, dan secara Kebudayaan:  Pendidikan sebagai corong propaganda, sebagai salah satu sandaran bagi Imperialisme dalam mentransformasikan ide dan kepentingannya, yang sesungguhnya bertentangan dengan kepentingan rakyat.
Kondisi pendidikan tinggi pun semakin jatuh pada skema Imperialis. Undang-undang pendidikan tinggi sebagai payung hukum mengaplikasikan secara komprehensif pendidikan tinggi sebagai intitusi yang otonom sebagai bentuk lepasnya tanggung jawab Negara atas pendidikan. Berbagai persoalan pun dilahirkan UU Dikti. Mulai dari biaya pendidikan tinggi yang mahal, diskriminasi, anti demokrasi, kualitas pendidikan yang rendah, sempitnya akses rakyat atas pendidikan dan masih banyak lagi. Bahkan yang paling nyata mendapatkan Protes dari mahasiswa di perguruan-perguruan tinggi adalah pemberlakuaan UKT sebagi amanat dari UU Dikti. UKT meniscayakan kenaikan biaya pendidikan tinggi dari tahun ke tahun sebab UKT akan menghitung setiap mahasiswa baru yang masuk ke perguruan tinggi dengan logika pasar (inflasi dan kenaikan harga-harga).
Oleh karena itu kami dari Pimpinan Pusat Front Mahasiswa Nasional (FMN) Mengajak seluruh jajaran organisasi FMN beserta elemen mahasiswa dan masyarakat luas untuk Menggelorakan perjuangan dalam momentum Hardiknas 02 Mei 2014 Sebagai estapet perjuangan dalam mewujudkan Pendidikan yang Ilmiah, Demokratis, mengabdi kepada rakyat serta pendidikan yang anti terhadap Imperialisme dan Feodalisme.
Pendidikan berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti , pikiran (intellect) dan keselarasan dengan alam dan masyarakatnya – Ki Hajar Dewantara”.


Rachmad P Panjaitan
Ketua PP FMN




[1] Lihat: Program Perjuangan FMN 2014-2016, Paragraf I
[2] IMPERIALISME: Kapitalisme monopoli, yakni Fase akhir atau puncak tertinggi dari sistem kapitalisme. Secara esensial, didalam fase inilah watak dari sistem kapitalisme semakin nyata (Eksploitatif, Akumulatif dan Ekspansif) yang tercermin dalam hubungan produksinya yang semakin anarkis dan brutal dalam menghisap rakyat,-R. Kamus Progressif, Buletin Gelora, tentang Imperialisme. 
[3] BORJUASI BESAR KOMPRADOR, Yakni pengusaha yang terhubung lansung dengan kapitalisme monopoli (Imperialisme)
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger