Headlines News :
Home » » Rendahnya kualitas Pendidikan, Mendorong perilaku Amoral (Kekerasan, pelecehan seksual) di Institusi Pendidikan

Rendahnya kualitas Pendidikan, Mendorong perilaku Amoral (Kekerasan, pelecehan seksual) di Institusi Pendidikan

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Minggu, 27 April 2014 | 05.52


Pendidikan adalah sebuah intitusi yang memberikan jaminan atas sebuah perkembangan taraf kebudayaan masyarakat yang maju, berakhlak tinggi serta menanamkan nilai-nilai kebenaran. Intitusi pendidikan patut dikembangkan dan didayagunakan untuk menopang masyarakat yang mandiri dan Berdaulat dalam suatu Negara. Tentu kemajuan pendidikan suatu Negara akan berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan rakyat. Sebab ilmu dan teknologi dari dunia pendidikan, bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mampu memiliki dan mengelola sumber daya alam untuk kepentingan rakyat.

Akan tetapi, tujuan dari pendidikan berusaha memajukan taraf berpikir dalam membangun kebudayaan masyarakat yang maju, berakhlak tinggi serta menjunjung nilai kebenaran, tidak tercermin dari institusi pendidikan di Indonesia.  Dunia pendidikan di Indonesia belakangan ini santer dikejutkan kembali dengan berbagai polemik yang mencoreng wajah pendidikan di Indonesia, seperti tindakan kekerasan dan pelecehan seksual. Dimas Dikita Handoko (20), taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta, mahasiswa asal Kota Medan tewas tadi malam (26/04/2014) mengenaskan setelah dianiaya.[1] Ternyata kasus kekerasan yang dialami Dimas di STIP bukan pertama kali. Namun di STIP tersebut, sudah pernah terjadi kekerasan pada tahun 2008 yang menewaskan satu orang taruna. Bahkan masih segar ingatan kita, di penghujung tahun lalu 2013 intitusi pendidikan pun memakan korban kekerasan. Fikri Dolasmantya Surya, mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) tewas pada 12 oktober 2013 akibat mengalami kekerasan.[2] Tragedi Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang dinilai sebagai bentuk hilangnya eksistensi orientasi pendidikan untuk menciptakan pelajar dan mahasiswa yang berkarakter menjaga nilai-nilai perilaku baik.  Terhitung mulai dari bulan Januari sampai April 2014, korban tewas akibat kekerasan di dunia pendidikan berjumlah 4 orang[3].

Selain kekerasan fisik dalam bentuk penganiayaan, kekerasaan pelecehan seksual pun dilanggengkan di dalam intitusi pendidikan. Salah-satu kasus yang paling hingar-binggar muncul di permukan tahun 2014 adalah kasus pelecehan siswa JIS. Bahkan korban pelecehan seksual di JIS bukan hanya dialami oleh satu orang siswa, namun masih ada beberapa korban siswa yang mengalami pelecehan seksual. Sesungguhnya institusi pendidikan mempunyai kewajiban memberikan rasa aman dan nyaman terhadap peserta didiknya. Akan tetapi pelecehan seksual di JIS menjadi coretan amoral bagi intitusi pendidikan di Indonesia.  KPAI mendapatkan laporan kekerasan yang dialami peserta didik pada bukan januari-maret 2014 meningkat mencapai angka 379 orang[4]. Kekerasan tersebut dilakukan baik dalam bentuk penganiayaan dan pelecehan seksual di dalam intitusi pendidikan, Sungguh ironi wajah pendidikan Indonesia yang tercoreng akan tindakan-tindakan kekerasan yang dialami peserta didik. Pendidikan yang seharusnya  menjadi wadah dalam meningkatkan nilai-nilai baik terhadap peserta didiknya, telah berubah menjadi nilai buruk (amoral), bahkan peserta didik menjadi korban atas seluruh peliknya kasus kekerasan.

 Di dalam melihat kasus kekerasan di institusi pendidikan, tentu kami menilai tidak sebatas tindakan pelaku atau oknum. Namun menurut kami bahwa meningkatnya kekerasan di dunia pendidikan sebagi konsekuensi dari pendidikan yang tidak ilmiah, demokratis dan mengabdi pada rakyat. Tentu persoalan ini adalah persoalan stuktural di intitusi pendidikan di indonesia. Rendahnya kualitas pendidikan menjadi salah-satu faktor utama meningkatnya kekerasaan di institusi pendidikan. Sebab, dewasa ini kualitas pendidikan hanya bersandarkan pada nilai-nilai kompetisi, pragmatis serta individu, yang menggantikan  nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang harusnya menjadi dasar dalam dunia pendidikan di Indonesia. Akan tetapi, polemik kekerasan dalam dunia pendidikan tak dapat dipisahkan dari sistem masyarakat Indonesia yang msih dicengkram oleh kuatnya feodalisme dan imperialisme. Kekerasan di institusi pendidikan adalah salah satu bentuk dari manifestasi masih eksisnya feodalisme di indonesia. Sebab, budaya kekerasan secara turun-temurun menjadi budaya sekolah kampus yang menunjukkan kekuasaan hirarki ala tuan tanah. Tentu ini juga terhubung dengan cerminan karakter kepemimpinan di Indonesia yang anti demokratis atau fasis dengan menggunakan kekerasaan untuk mencambuk rakyatnya. Sedangkan budaya liberal yang diciptakan oleh Imperialisme melahirkan penyimpangan seksual yang di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, semakin teranglah bagi kita bahwa kekerasan adalah wujud nyata dari pendidikan yang tidak ilmiah, demokratis dan mengabdi kepada rakyat.

Jakarta, 27 April 2014


Rachmad P Panjaitan
Ketua PP FMN
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger