Headlines News :
Home » » Selamat Hari Kartini, Perempuan Bangkit Melawan Penindasan Dengan Jalan Berorganisasi

Selamat Hari Kartini, Perempuan Bangkit Melawan Penindasan Dengan Jalan Berorganisasi

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Senin, 21 April 2014 | 06.04



Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini [1]adalah seorang tokoh suku Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Hari lahirnya Kartini kemudian ditetapkan untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Beberapa karya-karya kartini sebut saja Surat-surat kartini yang bertemakan tentang bangsa, Negara, nasionalisme, feminisme tentu menjadi inspirasi bagi rakyat Indonesia khususnya bagi perempuan Indonesia untuk mengambil perasan pengalaman praktek kartini yang maju. Walau ia berlatar belakang priyayi, namun ia tetap mempunyai sikap untuk melawan segala bentuk penindasan yang dilancarkan oleh Belanda terhadap Indonesia.  Perempuan Indonesia yang mengalami penindasan budaya feudal patriarchal dan liberal machoisme [2]akibat masyarakat setengah jajahan setengah feudal. Kartini sudah menunjukkan bentuk-bentuk perlawanannya. Mulai dari mengencarkan kampanye pendidikan terhadap kaum inlander rakyat Indonesia khususnya perempuan sebagai salah-satu bentuk perlawanan terhadap budaya diskriminasi yang dialami oleh perempuan Indonesia.

Kutipan Buku sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer tentang “Panggil  aku Kartini saja” [3]menjelaskan Kartini meminta agar dia dipanggil tanpa gelar kebangsawanannya, panggil aku Kartini saja, begitu tulis Kartini dalam sebuah suratnya, suatu kemajuan berpikir dan bertindak yang dilakukan bangsawan Jawa pada masa itu. Dalam surat yang lain Kartini menulis Sebagai pengarang, aku akan bekerja secara besar-besaran untuk mewujudkan cita-citaku, serta bekerja untuk menaikkan derajat dan peradaban rakyat kami”. Memang Kartini dapat dijadikan sebagai inspirasi rakyat Indonesia khususnya kaum perempuan untuk berjuang atas diskriminasi yang dialami baik secara ekonomi, politik, social-budaya.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa feodal patriarchal dan liberal machoisme masih menyarang di Indonesia. Bentuk-bentuk diskriminasi dan kekerasaan tentu dapat ditemukan di kampus pula. Seperti rendahnya partisipasi pendidikan perempuan mengecap pendidikan khususnya dari perempuan pedesaan, menunjukkan masih eksisnya diskriminasi terhadap perempuan di Indonesia untuk memberi ruang dalam mengakses pendidikan. Selain itu, di sekolah dan perguruan tinggi dalam kehidupan berorganisasi yang semestinya menjadi hak setiap pelajar dan mahasiswa, perempuan masih enggan untuk terlibat aktif belajar dan berjuang di dalamnya. Tentu hal itu akibat budaya yang menganggap bahwa perempuan harus dipimpin oleh kaum laki-laki. Sehingga kaum perempuan terjebak dalam budaya  lama yang menindas perempuan Indonesia.

Demikian pula di sector rakyat. Perempuan yang bekerja di pabrik masih mengalami diskriminasi dan perampasan hak atas posisinya sebagai pekerja. Mulai dari perbedaan upah antara laki-laki dan perempuan, tidak mendapatkan cuti haid dan hamil serta hak untuk mendapatkan waktu untuk memberikan kasih saying pada anak atau keluarganya. Di desa-desa, perempuan pun mengalami diskriminasi dan penghisapan yang mendalam. Rendahnya pendidikan, kesehatan, upah yang diterima serta tingginya angka KDRT dan perceraian yang dialami kaum permpuan. Seperti itu juga Buruh migrant Indonesia yang bekerja di luar negeri yang mayoritas perempuan. Berita selalu menanyangkan bagaimana buruh migrant mengalami kekerasan fisik-seksual oleh majikan, ancaman hukuman mati, perampasan upah. Namun kita menyadari bahwa semua persoalan yang dialami oleh perempuan Indonesia akibat rendahnya upaya yang dilakukan pemerintah dalam memberantas diskriminasi yang dialami oleh perempuan baik secara politik, ekonomi dan sosial-budaya. Pun kita memahami tidak sedikit kaum perempuan menjadi tulang punggung keluarga. Namun Pemerintah condong mempertahankan budaya lama yang mengungkung kaum perempuan dalam keterbelakangan yang melestarikan perempuan sebagai mahluk no. 2 di dalam masyarakat Indonesia.
Oleh karena itu di moment “Hari kartini” ini, kami dari Pimpinan Pusat FRONT MAHASISWA NASIONAL mengucapkan rasa salut dan hormat kepada seluruh kaum perempuan Indonesia yang gigih melawan budaya diskriminasi serta yang melecehkan kaum perempuan. Dan kami  menegaskan bahwa perempuan harus bangkit melawan penindasan dengan jalan berorganisasi.

Rachmad P Panjaitan



Ketua PP Front Mahasiswa Nasional




[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Kartini, Diunduh pada tanggal 21 April 2014, Pukul 18.34 WIB
[2] Feodal patriarchal lahir akibat basis social Indonesia yang masih setengah feudal berdampak sebagai budaya yang menindas kaum perempuan Indonesia yang memposisikan perempuan selalu dinomorduakan dan mengungkung perempuan dalam keterbelakangan yang mendalam. Sedangkan liberal machoisme lahir sebagai konskwensi setengah jajahan dimana Imperialisme yang masih mendominasi Indonesia.liberal machoisme ini dapat dilihat dengan berbagai bentuk mulai dari perempuan yang dianggap lemah, perempuan menjadi komoditas pasar atau bahkan seksual.
[3] Pramoedya Ananta Toer. Panggil Aku Kartini Saja. Lentera Dipantara, Jakarta 2003
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger