Headlines News :
Home » » FMN: Peringatan Peristiwa Trisakti adalah Kecaman atas Rejim Fasis di Indonesia

FMN: Peringatan Peristiwa Trisakti adalah Kecaman atas Rejim Fasis di Indonesia

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Minggu, 11 Mei 2014 | 23.31



Tragedi Trisakti merupakan peristiwa penembakan, pada tanggal 12 Mei 1998, terhadap kawan-kawan mahasiswa yang menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Peristiwa ini menewaskan 4 mahasiswa Universitas Trisakti serta puluhan lainnya luka. Kawan-kawan yang tewas adalah Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977-1998), Hafidin Royan (1976-1998), dan Hendriawan Sie (1975-1998). Mereka tewas tertembak di dalam kampus, terkena peluru tajam di tempat-tempat vital seperti kepala, tenggorokan, dan dada. Ini adalah sejarah yang buruk yang dipertontonkan oleh penguasa Orde Baru, Soeharto.

Peristiwa Trisakti tentu bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi. Sebab Kebebasan rakyat mendapatkan akses atas hak demokratis, baik mencakup pekerjaan, pendidikan, kesehatan, penghidupan yang layak sampai kebebasan menyampaikan pendapat dan tuntutan adalah prinsip Negara yang menganut system Demokrasi yang harus dijalanan. Negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, mempunyai kewajiban menjalankan  dan memberikan hak demokratis kepada rakyat. Negara yang berdaulat dan mandiri secara politik, ekonomi dan budaya, tentu mempunyai tanggung jawab mendorong dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Akan tetapi sistem demokrasi yang ada di Indonesia masih berbanding terbalik dengan prinsip kekuasaan ada di tangan rakyat. Namun system demokrasi yang pernah ada di Indonesia, masih saja dikerudungi sejarah kelam melalui perampasan-perampasan hak rakyat. Contohnya peristiwa Trisakti dan kekerasan- kekerasan yang masih berlangsung sampai sekarang. Itu semua akibat pemerintah yang berkuasa adalah pemerintah boneka yang menggunakan cara-cara kepemimpinan fasis untuk memukul rakyat. sebab ciri-ciri rejim boneka adalah menggunakan cara-cara kekerasan untuk melanggengkan dan mempertahankan kekuasaannya guna memaksakan seluruh paket kebijakan yang anti terhadap rakyat. Kebijakannya tersebut akan dipersembahkan kepada tuannya Imperialisme beserta borjuasi komprador dan tuan tanah besar. Jadi, akan berbeda pengertian fasis dalam kaca mata teoritis borjuasi yang hanya memandang fasis sebagai perampasan hak-hak pluralisme dan hak individu. Namun kita memandang lebih komprehensif, bahwa penguasa yang berkarakter rejim boneka di Indonesia, akan selalu mempunyai watak otoriter dengan melakukan tindasan teror fasis untuk memaksakan seluruh kepentingan tuannya Imperialis beserta borjuasi komprador, tuan tanah dan kabir. 

Dengan demikian,  kita akan tetap menentang tindakan-tindakan fasis yang digunakan rejim boneka baik secara terselubung atau pun terbuka yang semakin meningkat masa rejim boneka SBY. Tentu pada pergantian rejim pasca pemilu 2014 nanti, akan dipastikan mempunyai watak yang sama seperti Rejim Boneka SBY. Sehingga kita harus memblejeti seluruh tindasan kebijakan yang anti terhadap rakyat dan tindasan teror terbuka melalui  intimidasi, kekerasan, penangkapan sampai tindakan penghilangan nyawa terhadap rakyat sebagai manifestasi bentuk fasis yang anti demokrasi.

Kami dari Pimpinan Pusat FMN, menyampaikan rasa hormat dan bangga setinggi-tingginya kepada kawan-kawan aktivis yang nyawanya dihilangkan oleh rejim Soeharto pada Peristiwa Trisakti 12 Mei 1998. Kita akan terus mengenang dan melanjutkan perjuangan kawan-kawan   untuk konsisten melawan Rejim boneka yang fasis.

12 Mei 2014,

Hormat Saya,


Rachmad P Panjaitan
Ketua PP FMN


Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger