Headlines News :
Home » » Debat Capres-Cawapres terakhir, menggelitik jutaan rakyat Indonesia

Debat Capres-Cawapres terakhir, menggelitik jutaan rakyat Indonesia

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Sabtu, 05 Juli 2014 | 23.39


Penyelenggaraan Debat Capres-Cawapres 2014 yang terakhir (05/07/2014) menjadi tontonan menarik yang menyedot perhatian jutaan warga negara Indonesia. Dalam tema debat Capres-Cawapres yang diselenggarakan KPU dan ditayangkan di stasiun televisi, mengangkat tema “Pangan, Energi dan Lingkungan”. Pendukung yang menyaksikan langsung di Hotel Bidakara Jakarta memberikan yel-yel sebagai dukungan kepada Capres-Cawapres masing-masing. Bahkan suara riuh atau ejekan terdengar pula di tempat acara debat berlangsung. Tentu hal ini dipengaruhi atmosfir yang semakin panas menjelang 4 hari menuju pencoblosan 9 Juli 2014. 

Ada beberapa moment yang menarik terutama saat sesi tanya jawab sesama Capres-Cawapres. Contohnya ketika Jusuf kalla bertanya pada pasangan Prabowo-Hatta tentang padangan atas kebijakan impor beras. Prabowo menjawab bahwa menolak impor beras, karena Indonesia harus mampu memenuhi kebutuhan domestik pangan melalui pembukaan lahan food estate. Lanjutnya,“saya pernah mengusulkan ini, tapi jusuf kalla selaku Wapres SBY masa itu dan Ketum Golkar semasa saya (Baca: Prabowo) menjadi anggota di partai itu, bapak menolak”. Mendengar itu, Jusuf kalla sempat terdiam, dan kemudian tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian momen yang mengelitik lainnya, ketika Cawapres dari Prabowo yaitu Hatta Rajasa bertanya tentang penghargaan lingkungan kota yang menyebut Kalpataru. Lalu dengan semangatnya Jusuf kalla menjawab “Saya tidak mau menjawab, karena pertanyaan bapak Hatta salah. Harus penghargaan lingkungan di kota itu Adipura”. Mendengar pernyataan itu, Hatta pun tertunduk yang diikuti suara riuh dari penonton. 

Namun yang tidak boleh kita lupakan adalah esensi dari debat Capres-Cawapres yaitu tentang visi misi dan program yang berhubungan dengan pangan, energi dan kedaulatan. Tentu sebagai warga negara sudah menjadi kewajiban memberikan tanggapan atas setiap debat yang disuguhkan kepada kita. Pasangan urut No. 1 Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dalam hal pangan akan menyediakan pangan yang berkecukupan, mengurangi impor, mengembangkan diversifikasi pangan. Sedangkan di bidang energi meningkatkan produksi migas, melakukan penghematan dan diversifikasi energi. Sementara di bidang lingkungan mengatasi perubahan iklim, menjaga ekosistem lingkungan, pendidikan lingkungan serta menghubungkan pertumbuhan ekonomi dengan SDGs. Sedangkan Pasangan No.urut 2 Jokowi-JK mempunyai program di bidang pangan adalah kedaulatan pangan, meningkatkan Sarprodi pertanian, dan meningkatkan hasil pertanian untuk mengurangi impor pangan. Sedangkan kebijakan di bidang energi menyebutkan konversi minyak ke gas, mengembangkan energi di lahan marjinal. Dan di bidang lingkungan adalah menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan hajat hidup orang banyak dengan menjaga kelestarian lingkungan.

Jika kita menilai dari visi misi dan program dalam konteks pangan, energi dan lingkungan dalam acara debat tersebut, kita belum mampu mempnyai ekspektasi besar terhadap kedua Pasangan atas pengelolahanketahanan pangan, energi dan lingkungan yang menopang kedaulatan dan kemandirian rakyat Indonesia. Sebab kedua Pasangan sekali lagi tidak akar persoalan dari ketimpangan pangan, energi dan lingkungan di Indonesia. Kedua calon belum mampu secara tegas menilai bahwa hancurnya ketahanan pangan di Indonesia akibat monopoli dan perampasan tanah oleh pekerbunan, pertambangan dan pertanian skala besar di Indonesia. Perkebunan skala besar tersebut tidak mempunyai orientasi memenuhi kebutuhan pangan domestik di Indonesia. Namun perkebunan di Indonesia saat ini, masih sama halnya dengan masa kolonial Belanda, yakni lahan-lahan di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan bahan baku (pasar) bagi negara-negara maju. Di sisi lain, runtuhnya ketahanan pangan di Indonesia akibat rendahnya akses masyarakat untuk bertani, baik akses atas tanah, sarana produksi sampai harga pertanian yang rendah akibat kebijakan impor produk pertanian yang membanjiri pasar Indonesia. Monopoli agroindustri yang dikuasai oleh perusahan monopoli pangan di Indonesia bahkan seperti seperti Monsanto, Cargill, DuPont, Dow Agrisciences, Syngenta, TNCs, Nestle, The BinLaden Group of Saudi Arabi. Kedua calon tidak menyinggung ini, hanya menyebut kepentingan kelompok sebagai mafia. 

Sama halnya dengan energi. Kedua pasangan mendegungkan energi terbarukan. Hal ini tentu sejalan dengan kepentingan negara-negara maju untuk mengembangkan energi alternatif (energi nabati) sebagai bahan energi dan bahan baku untuk kepentingan perusahan-perusahaan raksasa. Padahal yang menjadi akar runtuhnya ketahanan energi Indonesia adalah penguasaan yang besar oleh perusahaan Negara maju atas sumber-sumber energi di Indonesia. Hampir 90 % sumber energi baik gas dan minyak dikuasai oleh Chevron, Exxon, Total E&P, BP, Shell. Sementara Pertamina hanya menjadi tenaga operator yang mengelola kurang lebih 10% saja.

Demikian pula dengan isu lingkungan. Kedua calon selalu berkilah bahwa menjaga kelestarian lingkungan akan terintegrasi dengan pembangunan ekonomi Indonesia. Sementara kita pahami bahwa mereka memandang bahwa pembangunan ekonomi selalu dihubungkan dengan pembukaan lahan skala luas oleh perkebunan, pertambangan dan pertanian. Sedangkan kita tahu, bahwa perkebunan, pertambangan skala luas akan merusak kelestarian lingkungan, mengganggu ekosistem alam yang menimbulkan bencana seperti longsor, banjir dan perubahan iklim yang ekstrem.


O6/07/2014



PIMPINAN PUSAT
FRONT MAHASISWA NASIONAL



Badarudin
Sekretaris Jenderal
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger