Headlines News :
Home » » FMN: Menyambut Hari Anak Nasional 23 Juli 2014, Hak anak atas pendidikan dan perlindungan

FMN: Menyambut Hari Anak Nasional 23 Juli 2014, Hak anak atas pendidikan dan perlindungan

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Rabu, 23 Juli 2014 | 07.05

Memperhatikan pentingnya nilai-nilai tradisi dan budaya setiap bangsa demi perlindungan dan pengembangan anak yang serasi”.
(Mukadimah Deklarasi Hak Anak 1959)

Di Indonesia, Hari Anak Nasional diperingati setiap 23 Juli sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984 tanggal 19 Juli 1984 [1]. Anak adalah mereka yang berumur di bawah 18 Tahun, hal tersebut tertulis dalam konvensi  tentang perlindungan anak yang di sahkan oleh majelis umum PBB, 20 November 1989.  Selain itu negara juga bertanggungjawab untuk melindungi dan memenuhi segala hak baik sosial, ekonomi maupun budaya bagi anak-anak, aturan-aturan lain mengenai perlindungan anak sesungguhnya sangat jelas diatur dalam konvensi PBB tentang perlindungan anak tahun 1989. Bahkan dalam konvensi sudah diatur tentang hak kemerdekaan anak untuk berserikat dan berkumpul secara damai.  Sehingga peran besar dalam upaya melindungi dan memenuhi hak anak atas kehidupan dan masa depannya diletakan pada tanggung jawab negara.

Dalam perjalanannya Indonesia sesungguhnya telah menandatangani konvensi tentang perlindungan atas hak anak, karena bagaimanapun juga anak-anak adalah bagian dari masa depan sebuah negara sehingga pentingnya untuk melindungi hak-hak anak menjadi hal yang tidak bisa ditinggalkan. Dalam hal ini salah satu aspek penting dalam perkembangan anak adalah jaminan atas pendidikan yang berkualitas dan mampu di akses secara luas.

Ironisnya, komitment negara untuk menandatangani konvensi perlindungan anak tidak sejalan dengan prakteknya. Kasus-kasus yang melibatkan anak-anak tidak mendapat perhatian yang semestinya dari pemerintah, perdagangan anak, pekerja anak di bawah umur,kekerasan terhadap anak sampai perampasan hak anak atas pendidikan masih sering terjadi, dan penanganannya seperti hanya seperlunya saja. 

Mahalnya biaya pendidikan menjadi factor utama tingginya angka putus sekolah dari tingkatan dasar sampai pendidikan tinggi. Pada tahun 2013 saja, angka putus sekolah mencapai 182.773 anak. Sementara tingkatan SMP mencapai 209.976 anak. Sedangkan tingkatan SMA yang putus sekolah sebanyak 223.676 anak[2]. Kemudian Dari 80 persen yang lulus SD, hanya sekitar 61 persen yang melanjutkan ke SMP maupun sekolah setingkat lainnya. Kemudian dari jumlah tersebut, yang sekolah hingga lulus hanya sekitar 48 persen. Tentu Ini jumlah yang sangat memprihatinkan dan membongkar kebohongan sekolah gratis sebagai program 9 tahun wajib belajar seperti yang digalak-galakkan oleh pemerintah. Sementara itu, dari 48 persen tersebut, yang melanjutkan ke SMA tinggal 21 persen dan berhasil lulus hanya sekitar 10 persen. Sedangkan yang melanjutkan ke perguruan tinggi hanya sekitar 1,4 persen[3].

Selain rendahnya akses anak-anak mendapatkan pendidikan, anak-anak juga mengalami persoalan tindak kekerasan yang semakin tinggi baik secara fisik ataupun seksual. KPAI mendapatkan laporan kekerasan yang dialami peserta didik pada bukan januari-maret 2014 meningkat mencapai angka 379 orang[4]. Kekerasan tersebut dilakukan baik dalam bentuk penganiayaan dan pelecehan seksual di dalam institusi pendidikan, Sungguh ironi wajah pendidikan Indonesia yang tercoreng akan tindakan-tindakan kekerasan yang dialami peserta didik. Pendidikan yang seharusnya  menjadi wadah dalam meningkatkan nilai-nilai baik terhadap peserta didiknya, telah berubah menjadi nilai buruk (amoral), bahkan peserta didik menjadi korban atas seluruh peliknya kasus kekerasan.

Oleh karena itu, kami dari Pimpinan Pusat FRONT MAHASISWA NASIONAL menyatakan sikap pemerintahan SBY selama 10 tahun gagal dalam memberikan pendidikan bagi anak-anak di Indonesia serta memberikan perlindungan dari tindak kekerasan. Oleh karena itu, kami secara tegas meminta kepada Rejim yang baru agar mampu memberikan pendidikan bagi anak-anak serta seluruh rakyat Indonesia, yang merupakan hak demokratis yang harus dipenuhi Negara. Selain itu, Rejim baru harus mampu memberikan perlindungan terhadap anak-anak di tengah-tengah semakin meningkatnya tindak kekerasaan fisik, pelecehan terutama di dunia pendidikan. Terima kasih.

23 Juli 2014
Hormat Kami,
PIMPINAN PUSAT
FRONT MAHASISWA NASIONAL


Rachmad P Panjaitan, S.IP
Ketua


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Anak, diunduh pada tanggal 23 juli 2014, pukul 19.00 WIB
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger