Headlines News :
Home » » Imperialisme AS Mengobarkan Perang : Konflik Israel dengan Palestina. Berdoa Untuk Jalur Gaza.

Imperialisme AS Mengobarkan Perang : Konflik Israel dengan Palestina. Berdoa Untuk Jalur Gaza.

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Rabu, 09 Juli 2014 | 13.28





Keadaan di Jalur Gaza kembali memanas akibat meningkatnya eskalasi ketegangan antara Israel dengan Palestina. Serangan udara Israel ke wilayah jalur Gaza berdalih sebagai serangan atas balasan untuk melumpuhkan basis pertahanan kelompok perlawanan Hamas Palestina dan penculikan tiga warga Israel[1]. Sejak Senin kemaren, serangan udara Israel telah menjatuhkan roket sebanyak 160 yang menghantam jalur Gaza. Atas insiden itu, terhitung warga Palestina meninggal 28 orang dan 300 orang mengalalami luka-luka[2]. Serangan udara ini merupakan bentuk pelanggaran dan menginjak-injak hak asasi manusia untuk mendapatkan kemerdekaan dan hidup.

Ditinjau dari perspektif sejarah konflik Israel dengan Palestina adalah konflik perebutan wilayah antara dua bangsa. Konflik berawal dari gerakan zionisme atau nasionalisme Yahudi, yang menyebabkan terjadinya perpindahan masyarakat Yahudi secara besar-besaran dari Eropa ke Timur tengah. Sementara saat itu baik kawasan Israel atau Palestina adalah wilayah di bawah kekuasaan ottoman. Eksistensi kekuasaan Ottoman akhirnya berakhir dengan adanya pemberontakan yang dilakukan bangsa arab untuk merdeka yang ditopang oleh Inggris dan Prancis. Namun, Pemerintah Arab independen yang dijanjikan toleh Inggris dan Prancis, tidak kunjung diberi kepada bangsa Arab. Bahkan Imperialisme Inggris dan Prancis kemudian melakukan perjanjian bilateral yang membagi bangsa Arab menjadi dua bagian yakni irak, Yordania dan sebagian wilayah Haifa (Inggris) dan Turki, Irak bagian utara, Suriah dan Libanon (Prancis). Perjanjian bilateral itu pun disebut sebagai Sykes-Picot Agreement.. sedangkan wilayah Palestina belum diserahkan kepada Negara manapun, sehingga palestina masih dikuasai bersama oleh Inggris dan Prancis. 

Dengan adanya Sykes Picot Agreement, cita-cita pemerintah bangsa Arab yang independen menjadi cita-cita yang terhambat oleh imperialisme yang ingin menguasai bangsa Arab. Bahkan di Imperialisme Inggris malah ,memberikan signal kepada Yahudi untuk membangun Negara Israel di Palestina. Dukungan tersebut termuat dalam Balfour Declaration yang memberi legitimasi bagi Bangsa Israel melakukan Zionisme untuk mendirikan Negara di Palestina. Janji-jani yang diberikan oleh Imperialisme Inggris menjadi latar belakang kuat bagi bangsa Arab khususnya Palestina dan Israel mengklaim wilayah itu adalah wilayah mereka. 

Pada tahun 1948, melalui PBB melakukan perjanjian damai antara Israel dan Palestina yang berisikan pembagian negara mandiri yang terpisah antara Negara Palestina dan Israel. Akan tetapi proposal perdamaian yang disebut UN Partition Plan tersebut, malah menunjukkan ketidakadilan PBB yang memberikan wilayah palestina ke Israel 55 % dan negara Arab 45 %. Padahal secara demografis, jumlah penduduk Yahudi di Palestina hanya 7% sedangkan 93% merupakan bangsa arab. Hal ini menjadi penyulut terjadinya konflik, bahkan semakin menajam setelah bangsa Yahudi mempraklamirkan Negara Israel dengan pengakuan AS. Hal ini memicu perang, namun bangsa arab Palestina kalah. Kemudian tahun 1967, terjadinya letusan peperangan Israel dengan bangsa Palestina (Six Day War). Bukan hanya itu, Israel semakin memperluas wilayah jajahannya sampai ke wilayah bagian Mesir. Kemudian tahun 1979 letusan perang kemudian terjadi. pada perang ini, bangsa Arab menang dengan keberhasilan mengambil alih kembali semenanjung sinai dan Gaza yang dilanjut dengan perjanjian perdamian.

Pada tahun 1988, Palestina dideklarasikan sebagai Negara Merdeka di atas kaki sendiri, meskipun untuk mencari pengakuan Internasional Negara Palestina menggunakan Organisasi Kebebasan Palestina sebagai perwakilan karena Negara Palestina belum diakui secara Internasional.’

Keterlibatan AS sebagai Negara Imperialisme yang mempunyai kepentingan di Negara Timur Tengah, semakin melibatkan diri dalam intervensi atas wilayah Palestina. Dengan kedok perdamaian dunia mulai dari Madrid Conference (1991), Oslo Accourd (1993), Hebron Agreement dan Wye River memorandum. Lalu dilanjut Camp davidi (2000), Amnapolis Coference (2007)[3]. Namun kesepakatan itu adalah sebuah skema yang dilahirkan AS yang seolah-olah menjadi mediator yang peduli perdamaian. Padahal sudah menjadi watak imperialisme AS yang merupakan pimpinan diantara imperialisme, tentu mempunyai kepentingan atas wilayah Timur tengah terutama penguasaan minyak dan eksport perusahaan persejataan AS melalui perang yang selalu dikobarkan. 

Sehingga kita tidak boleh melihat bahwa konflik antara Israel dengan Palestina semata-mata adalah konflik peradabaan. Bila kita meletakkan dasar berdasarkan padangan teologis, yang menyebut bahwa tanah Palestina adalah “Tanah yang dijanjikan” dan Mayoritas meyakini bahwa Yahudi ingin mengembalikan Yerusalem menjadi ibu kota israel, akan menutup kenyataan pada perkembangan ekonomi politik yang dipengaruhi intervensi dari Imperialisme AS serta aspek kesejarahaan wilayah Palestina. Sama halnya dengan dengan negara-negara Timur Tengah, seperti di Iran, Irak, Libya, Suriah, Tunisia, Mesir, Arab. menjadi megaproyek Imperialisme AS untuk membangun rejim-rejim boneka. 

Imperialisme AS yang dipimpin Obama adalah Negara yang paling bertanggung jawab atas kejahatan manusia di Jalur Gaza[4]. Sebab, Israel melakukan serangan-serangan militer ke Palestina merupakan atas dukungan AS baik melalui pasokan persenjataan, tentara sampai mengucilkan Palestina agar tidak diakui dunia.

Demikian juga dengan presiden-presiden di negara-negara dunia khususnya Negara berkembang seperti asia, afrika. AS akan membangun rejim boneka melalui pemilihan umum yang seolah-olah dijalankan secara demokratis, namun secara prakteknya AS melalui pemerintah negara tersebut berusaha menaikkan Capres yang pro terhadap AS. Dan perkembangannya, AS akan selalu menaikkan capres yang mempunyai watak fasisme sebagai konsekuensi perkembangan krisis yang semakin akut di tubuh AS. Demikian pula di Indonesia yang baru-baru ini menyelesaikan Pilpres. Tentu peran dari AS sangat besar untuk memastikan rejim boneka pengganti SBY mempunyai watak yang sama dengan capres yang baru, yakni menggunakan cara fasisme yang menindas dan menghisap rakyat untuk menjamin keberlangsungan AS dan pengusaha-pengusaha besar, tuan tanah besar untuk mengeruk kekayaan alam di Indonesia secara besar-besaran. Oleh karena itu tugas kita adalah memastikan agar calon yang paling fasis dan didukung penuh oleh SBY serta Imperialisme AS, bisa kita likuidasi demi perkembangan perjuangan rakyat atas pemenuhan hak demokratisnya.

Oleh karena itu, kami dari Pimpinan Pusat FRONT MAHASISWA NASIONAL, Mengutuk Serangan udara yang dilancarkan Israel yang menjatuhkan korban di jalur Gaza, dan mengecam imperialisme AS agar tidak mengintervensi konflik Israel dengan Palestina serta Keterlibatan aktif pemerintahan RI dalam memberikan dukungan kemerdekaan bagi Palestina.


09 Juli 2014

PIMPINAN PUSAT
FRONT MAHASISWA NASIONAL





Rachmad P Panjaitan
Ketua








[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik_Israel_dan_Palestina, Diakses pada tanggal 09 juli 2014, pukul 23.34 WIB

[4] Chomsky, Noam. The Fateful Triangle: The United States, Israel and the Palestinians. South End Press, 1999.


Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger