Headlines News :
Home » » Menakar Konsep Pembangunan SDM dan Iptek dalam Debat Cawapres 2014

Menakar Konsep Pembangunan SDM dan Iptek dalam Debat Cawapres 2014

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Rabu, 02 Juli 2014 | 02.41



Pemilu disebut-sebut sebagai instrumen dalam Negara demokrasi. demikian pemilu di Indonesia yang masih bersumber dari pemikiran Tokoh AS Abraham Lincoln yang menyebutkan pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat (government of the people, by the people, and for the people). Pengertian itu pun sesungguhnya tameng untuk melegitimasi Pilpres 2014 yang merupakan demokrasi palsu milik tuannya, Imperialisme AS. Pemilu 2014 dilaksanakan dua kali; Pertama Pemilu legislatif tanggal 9 April yang lalu dan kedua akan diikuti Pemilu Presiden pada tanggal 9 Juli nanti yang akan memilih Presiden dan Wakil Presiden.

Dalam Pilpres kali ini, seluruh mesin penyelenggara Pemilu yang disiapkan rejim boneka SBY (KPU) untuk menjalankan tugas secara efesien dan efektif untuk menciptakan suasana iklim "pesta rakyat" Pemilu yang meriah yang sesungguhnya adalah milik borjuasi besar komprador, tuan tanah dan kapitalisme birokrat. Masyarakat tampak berpartispasi aktif sebagai penonton layaknya menonton pergelaran seni atau 17 agustus yang ditayangkan di televisi. memang dalam debat Capres-cawapres  2014 kali ini, terhitung paling rame, tanpa disadari rakyat mengikuti pertarungan yang sebenarnya pura-pura antara Prabowo dan Jokowi, dimana antara pendukung saling menebar sinis dan kebencian.

Tujuan dari debat Capres-Cawapres disebut-sebut untuk mensosialisasikan kedua pasangan dengan visi dan misi beserta programnya agar masyarakat mengetahui dan dapat menentukan pilihannya. Di sisi lain, debat ini bertujuan untuk mendorong animo masyarakat untuk memilih 9 Juli nanti. Sehingga terhindarlah angka golput yang meningkat setiap Pemilu. karena apabila golput meningkat, mereka kuatir kehilangan legitimasi pemilu yang selalu dijadikan mereka sebagai ukuran kemajuan demokrasi di Indonesia dengan mengabaikan inti demokrasi yakni mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Kali ini kita akan soroti pada debat Cawapres pada  Minggu (29/06/2014) dengan tema Pembangunan SDM dan IPTEK. Menurut kami, berbicara tentang SDM dan Iptek akan berbicara tentang  pendidikan di Indonesia. Akan tetapi, kedua Cawapres masih memaparkan dalam kerangka normatif dalam program pembangunan SDM dan Iptek. Kedua Calon menyuguhkan konsep reformasi politik (No.1) dan revolusi mental (No.2). berdasarkan penilaian kami, kedua konsep ini belum berkaitan langsung dengan persoalan pendidikan di Indonesia saat ini yaitu rendahnya akses atas pendidikan akibat pendidikan mahal sebagai konsekuensi kebijakan liberalisasi, privatisasi dan komersialisasi yang diterapkan dalam  pendidikan di Indonesia. Yang kemudian, kita menilai kedua calon tidak berbicara tentang konsep bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan yang bertujuan untuk memajukan taraf kehidupan rakyat menuju masyarakat yang mandiri dan berdaulat. Artinya kedua calon masih abai bagaimana usaha menyelenggarakan pendidikan secara menyeluruh (holistik) dengan memberikan pendidikan kepada seluruh warga negara yang merupakan hak dasar bagi rakyatnya. Ini membuktikan bahwa siapa pun diantara kedua capres-cawapres yang terpilih, tidak memberi perhatian bagaimana mewujudkan dan memposisikan kembali tanggung jawab Negara atas penyelenggaraan pendidikan. Artinya mereka akan tetap memuluskan sistem pendidikan yang sudah berlangsung di bawah rejim SBY saat ini, yakni menjadikan pendidikan sebagai barang komoditas untuk meraup keuntungan oleh institusi pendidikan yang bekerja sama dengan  perusahan-perusahan besar, investor pendidikan dan tuan-tuan tanah. 

Sebagaimana dijelaskan oleh Cawapres No.1 Hatta Rajasa dalam debat hari minggu yang lalu, hanya menjelaskan pendidikan yang inklusif dan berkualitas, penambahan tenaga pengajar dan menambah anggaran untuk pendidikan. Sementara Pasangan Cawapres No.2 menjelaskan pengembangan budi pekerti serta menjadikan guru sebagai agen perubahan. Artinya kedua calon tidak menyinggung bagaimana persisnya usaha-usaha kedua calon untuk memberikan pendidikan bagi seluruh rakyat yang merupakan hak konstitusi rakyat sebagai salah satu cita-cita Negara Indonesia didirikan. 

Oleh karena itu, kita memandang bahwa pendidikan belum menjadi prioritas dalam visi misi dan program dari kedua kandidat yang dipaparkan dalam debat Cawapres Minggu lalu. Kami pun menilai bahwa wajah pendidikan di Indonesia pun akan tetap sama pasca pemilu presiden 2014, yaitu pendidikan akan tetap semakin mahal, pendidikan yang berorientasi mempertahankan karakter inlander (jajahan) untuk tetap menjadikan pendidikan mencetak SDM dan IPTEK yang berkualitas rendah untuk mengabdi kepada tuannya imperialisme AS dan Feodalisme.

02 Juli 2014
PIMPINAN PUSAT
FRONT MAHASISWA NASIONAL


Rachmad P Panjaitan
Ketua
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger