Headlines News :
Home » » Pemuda Mahasiswa dan Rakyat bergandeng tangan, Mengkampenyekan Hak Rakyat dan Menolak Rejim Fasis

Pemuda Mahasiswa dan Rakyat bergandeng tangan, Mengkampenyekan Hak Rakyat dan Menolak Rejim Fasis

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Senin, 07 Juli 2014 | 12.24



Menghalalkan segala cara untuk merebut kekuasaan dalam Pemilu Presiden 2014 telah dipertontonkan oleh calon presiden-wakil presiden 2014. Tindakan-tindakan intimidasi, saling cerca, manipulasi data, kampanye hitam sampai dengan meningkatnya kerusuhan-kerusuhan, merupakan manifestasi demokrasi palsu ala imperialisme AS yang terus disebar oleh rejim boneka SBY melalui Pilpres 2014. Pemilu disebut-sebut sebagai salah-satu istrumen kehidupan demokrasi di Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Kemudian Pilpres disebut-sebut dapat melahirkan pemerintah “dari, oleh dan untuk rakyat”. Namun pada kenyataannya, dari pemilu ke pemilu selalu melahirkan pemerintah baru, yang tidak ubahnya adalah .rejim bersama antara borjuasi komprador, tuan tanah besar dan kapitalisme birokrat untuk mendukung tuannya imperialisme AS mempertahankan Indonesia sebagai negeri setengah jajahan dan setengah feodal.

Kisruh politik diantara dua pasangan menjelang pencoblosan 9 Juli, menjadi tradisi kolot yang dijalankan dalam sistem demokrasi palsu. Kedua pasangan saling tuding-menuding yang berlahan menunjukan watak asli dari setiap pasangan. Bahkan diantara pasangan. mulai menunjukkan tindakan-tindakan fasis dengan menggunakan cara-cara provokasi sampai dengan teror yang mencekam di tengah masyarakat Indonesia. Di satu sisi, Capres-Cawapres mulai gencar menghembuskan kembali isu-isu lama yang seksi yang bertujuan mendompleng suara untuk memenangkan pertarungan. Padahal hal itu dapat berpotensi memecah-belah persatuan rakyat yang menumpulkan perjuangan-perjuangan atas hak-hak demokratis. Rejim SBY sebagai operator dalam menjalankan demokrasi palsu melalui Pilpres, berusaha memastikan Presiden yang terpilih tidak bertentangan dengan kebijakan yang telah ia diambil. Seperti kebijakan MP3EI, KEK, UU Pengadaan tanah, UU Minerba, UU Penanaman modal, UU PT, yang seluruhnya adalah untuk menopang imperialisme AS dan feodalisme di Indonesia. Sehingga SBY akan berusaha menyukseskan Pilpres dan memastikan sekutunya yang paling siap menggantikan sebagai rejim boneka baru bagi AS. 

Pemuda mahasiswa dan rakyat memahami betul bahwa Pilpres 2014 tidak akan mampu menyelesaikan persoalan dalam pemenuhan hak atas kehidupan layak. Pilpres tak ubahnya menjadi tontotan pergantian rejim sekali 5 tahun yang menyebar ilusi sejenak bagi rakyat Indonesia. Rakyat berbondong-bondong ke TPS lalu pulang dengan harapan tidak pasti. Partispasi rakyat dalam Pilpres, menjadi Nyanyian bisu akan kesejahteraan dan kedaulatan. Rakyat berharap bagimana upah naik, diberikannya tanah rakyat, lapangan kerja serta akses-akses publik yang diberikan Pemerintah. 

Konstelasi politik pun semakin memanas menjelang Pilpres 2014. Dan demokrasi palsu ini pun sangat rentan dimanfaatkan oleh kekuatan fasis untuk naik kursi kekuasaan untuk menghisap dan menindas rakyat Indonesia tiada ampun.

Kebebasan yang telah sedikit diperoleh oleh rakyat Indonesia melalui gerakan rakyat dengan menumbangkan rezim fasis orde baru dibawah pimpinan Soeharto adalah capaian rakyat yang harus dipupuk dan dijaga untuk memberi syarat berkembangnya gerakan mahasiswa dan rakyat yang masif. Namun saat ini kembali terancam oleh terkonsolidasinya elemen-elemen fasis yang mampu memberangus gerakan rakyat dan menginjak-injak kemenangan kecil dalam reformasi 1998. Diskursus yang menyebutkan militer netral dalam Pilpres 2014 adalah sempalan omong kosong rejim SBY dan Capres-Cawapres. Sebab, militer akan selalu didorong untuk terlibat aktif dalam kaca politik di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Karena imperialisme AS akan selalu berusaha untuk mendorong klik militer fasis menjadi rejim boneka di negara-negara berkembang. Imperialisme mempercayai dengan kekuatan fasisme akan selalu mampu menjaga stabilitas perpolitikan suatu negara melalui tindasan-tindasan fasisme terutama dengan fasisme terbuka.

Fasisme dengan kekuatan penuh militer yang menindas rakyat, akan kerap memanfaatkan demokrasi palsu ala borjuis untuk merebut tampuk kekuasaan di suatu Negara. sejarah dunia telah membuktikan bagaimana kenaikan kekuatan fasisme seringkali difasilitasi seperti yang terjadi di Jerman di bawah kepemimpinan Hitler, Spanyol di bawah kepemimpinan Franco, Italia dibawah pimpinan Musolini, Jepang dibawah Kaisar, dan Indonesia dibawah rezim Orde Baru Soeharto.

Absennya kepemipinan politik nasional yang berdaulat dan mengabdi rakyat disebabkan pemerintah yang lahir berasal dari borjuasi komprador, tuan tanah besar dan kapitalisme birokrat yang membuka potensi kelompok fasis untuk mengkampanyekan jargon-jargon nasionalisme sempit dan palsu sebagai kampanye politik mereka. Sehingga kekuatan Fasisme yang terbuka adalah teror, ancaman bagi pemuda mahasiswa, kelas buruh, kaum tani dan rakyat Indonesia dalam membangun keberlangsungan demokrasi dan gerakan rakyat.

Oleh karena itu, FRONT MAHASISWA NASIONAL menyatakan bahwa perubahan adalah karya berjuta-juta massa, dan terus kampanyekan persoalan dan tuntutan pemuda mahasiswa serta rakyat sebagai usaha perjuangan sejati dan menolak rejim fasis yang anti demokrasi, anti pemuda mahasiswa dan anti rakyat. Belajar, berorganisasi dan berjuang.


08 Juli 2014


PIMPINAN PUSAT
FRONT MAHASISWA NASIONAL





Rachmad P Panjaitan
Ketua 









Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger