Headlines News :
Home » » Perseteruan Imperialisme menimbulkan duka bagi korban Pesawat MH17

Perseteruan Imperialisme menimbulkan duka bagi korban Pesawat MH17

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Sabtu, 19 Juli 2014 | 22.00


Imperialisme adalah macan kertas yang tampak buas namun mudah dirobek-robek oleh rakyat. Karena hukum imperialisme adalah hancur akibat sistem yang menindas dan menghisap rakyat.

Perang perebutan dominasi dan hegemoni di dunia antar imperialisme akan selalu menjadikan rakyat sebagai korban. Melalui usaha agresi militer secara langsung ataupun melalui negara boneka, imperialisme semakin gencar meningkatkan perang untuk memperluas wilayah jajahan-setengah jajahan sebagai usaha mengatasi krisis yang semakin akut dan kronis.  Kini giliran Pesawat Malaysia MH17 (kamis, 17 Juli 2014) mengalami bencana di wilayah perbatasan Ukraina. Pesawat itu jatuh di antara Krasni Luch di Luhansk dan Shakhtarsk di Donetsk. Menurut berita yang beredar, pesawat komersil MH17 yang mengangkut warga sipil 283 orang dan 15 awak[1], meledak di udara setelah terkena tembakan rudal milisi oleh kelompok yang sedang bertikai yakni Pro-Rusia dan Ukraina dalam  memperebutkan wilayah kekuasaan.

Belum selesai juga penyidikan maskapai Malaysia MH370 yang hilang kontak sejak 08 Maret 2014, telah dihadapkan dengan penembakan pesawat MH17 ini.  Berita terkait Pesawat MH370 yang hilang kontak, juga disyalir dibajak oleh kelompok teroris. Namun analisis lain menganggap bahwa hilangnya pesawat tersebut merupakan ulah AS dengan skema konspirasi untuk mendapatkan legitimasi agar terus dapat menduduki negara Timur tengah khususnya Afganistan melalui perang melawan teroris. Analisis ini diperkuat lagi bahwa imperialisme AS, adalah Negara yang paling maju secara teknologi yang dapat menghilangkan radar pendeteksi kotak hitam.

Pesawat MH17 yang ditembak peluru kendali (rudal) lagi-lagi akibat perseteruan sesama imperialisme merebut dominasi ekonomi dan politik di Ukraina. Dari 283 korban penumpang MH17, terdapat 12 orang WNI yang turut menjadi korban. Mari sejenak kita panjatkan rasa belangsukawa dan doa kepada seluruh korban. Namun sekali lagi ini adalah akibat kebiadapan imperialisme yang selalu mengobarkan perang untuk menguasai negara-negara dunia.

Insiden terjadi penembakan rudal pesawat komersil MH 17 yang berangkat dari Belanda menuju Malaysia adalah buntut panjang terjadinya konflik ukraina yang melibatkan intervensi imperialisme AS dan Rusia. Dua kubu mempunyai kepentingan yang sama yakni menguasai Ukraina secara ekonomi dan politik.

Ukraina merupakan Negara yang strategis di perbatasan Asia-Eropa yang mempunyai penduduk ±52 juta jiwa[2]. Dari segi sumber daya alam, Ukraina memiliki sumber daya alam yang meliputi gas, batu bara, biji besi, logam warna, dan lain sebagainya. Selain itu Ukraina memiliki Crimea, sebuah kawasan yang luasnya 26 ribu km persegi,  hampir seluruhnya dikelilingi oleh Laut Hitam dan terhubung dengan daratan Ukraina melalui daerah tanah genting Perekop. Sehingga tanah ukraina sangat subur yang cocok untuk pertanian. Bahkan Ukraina menjadi pemasok terbesar kebutuhan pangan di Uni eropa. Negara ini merupakan penghasil gandum dan juga jagung. Secara khusus Rusia mempunyai kepentingan di Ukraina yaitu jalur pipa gas yang dimiliki Rusia dalam distribusi ke wilayah Eropa. Dari segi demografi, Ukraina ini berpenduduk ± 52 juta jiwa, yang menggiurkan bagi pangsa pasar imperialisme. Selain itu, Ukraina merupakan jalur perdagangan laut strategis yang  menghubungkan Eropa dengan Asia.

Melihat kekayaan alam yang ada di Ukraina, tentu semakin terang mengapa Negara ini diperebutkan, apalagi kepentingan imperialisme AS dalam menyelesaikan krisis ditubuhnya. Perang yang dilancarkan milisi Ukraina Pro Rusia adalah skema dari imperialismeAS dan Rusia yang terus-menerus bersitegang untuk mendapatkan pengaruh di Ukraina. Dengan adanya intervensi dari imperialisme khususnya AS, dapat melahirkan bencana sosial yang mengorbankan masyarakat Ukraina.

Terjadinya penembakan rudal terhadap pesawat MH17, langsung memberi signal kepada AS agar segera menduduki Ukraina atas nama perang melawan teoris untuk menegakkan perdamaian. Sebagaimana pernyataan rejim Obama [3]menyebutkan, “Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai pihak yang juga harus bertanggung jawab dalam tragedi mengerikan ini”. Rusia terus membiarkan bantuan persenjataan kepada kelompok milisi tersebut, termasuk senjata anti-pesawat dan sejumlah aliran dana”. Lanjutnya, menyerukan dilakukannya penyelidikan internasional yang kredibel terkait jatuhnya MH17. "Ini adalah tragedi global,” katanya. Pernyataan Obama ini kemudian diperkuat instrumen imperialisme AS  melalui Dewan keamanan PBB meminta pertangung-jawaban kelompok milisi yang diberikan bantuan persenjataan dan dana dari Rusia. Ini akan membuka ruang yang luas bagi imperialisme AS agar segera menduduki Ukraina untuk menandingi kekuatan rusia dan milisi. 

Oleh karena itu, terjadinya kecelakaan penembakan rudal terhadap pesawat MH17 merupakan dampak krisis Ukraina yang diperparah dengan adanya perebutan dominasi imperialisme AS dan Rusia yang melahirkan suasana perang dan menimbulkan jatuhnya korban  masyarakat sipil. Kejadian ini semakin memperpanjang kebusukan dari imperialisme khususnya AS mengobarkan perang untuk menghilangkan kedaulatan suatu bangsa seperti  yang dilakukan di jalur Gaza, Negara Timur tengah dan Afrika. Perang digunakan saat-saat krisis imperialisme untuk mempercepat proses menanggulangi penyelamatan perusahan-perusahan multinasionalnya. Maka cenderung juga imperialisme mengobarkan perang yang mengatasnamakan Demokrasi, HAM dan melawan teroris  di negara-negara dunia khususnya negara berkembang. Oleh karena itu, mari kita Kecam Penembakan atas Pesawat MH17 yang membuat jatuhnya korban 298 masyarakat sipil, serta menuntut  Imperialisme AS-Rusia  bertanggung jawab atas kejadian ini. Resist Resist US Imperialisme, No.1 Teroris.

20 Juli 2014

Rachmad P Panjaitan, S.IP
Ketua


Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger