Headlines News :
Home » » Pernyataan Sikap; Hari Pemberantasan Buta Aksara Internasional

Pernyataan Sikap; Hari Pemberantasan Buta Aksara Internasional

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Minggu, 07 September 2014 | 20.59



Sulitnya Akses Pendidikan Adalah Sumber tingginya Buta Aksara Di Indonesia
Oleh: Pimpinan Pusat Front Mahasiswa Nasional

           
Pada tanggal 8 September, dunia serentak memperingati hari yang  bersejarah yaitu hari pemberantasan buta aksara. Sejak 8 September 1964, UNESCO menetapkan dan membangun komitmen bersama seluruh negara di belahan dunia untuk memberantas penyakit buta aksara. Semangat ini merupakan usaha untuk mencerdaskan seluruh masyarakat dunia. Momentum ini juga dijadikan penekanan oleh UNESCO untuk menekan negara-negara di dunia, termasuk Indonesia agar menjalankan program pemberantasan buta aksara. Tentu untuk memberantas buta aksara di Indonesia diperlukan upaya untuk memperbaiki sistem pendidikannya.
            Saat ini justeru pendidikan di Indonesia merupakan sumber dari tingginya buta aksara. Lepasnya tanggung jawab negara dan didorongnya kebijakan liberalisasi, komersialisasi dan privatisasi Pendidikan melahirkan mahalnya biaya pendidikan di Indonesia. Biaya pendidikan yang mahal di Indonesia adalah tembok tebal penghalang akses rakyat terhadap pendidikan. Bukti nyata dari problem akses rakyat terhadap penidikan Indonesia telah dipaparkan oleh data partisipasi sekolah BPS tahun 2014, pada usia 7-12 (SD) angka partisipasinya sebesar 98,36%, Usia 13-15 (SMP) menurun menjadi 90,68%, sedangkan untuk usia 16-18 (SMA) kemabli menurun 63,38%, dan usia 19-24 (Pendidikan Tinggi) hanya sebesar 19,97%. Partisipasi rakyat mengecap pendidikan mengalami penurunan yang drastis di setiap jenjangnya. Fenomena ini patut dijadikan sorotan kritis, karena Indonesia telah bercita-cita dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Namun cita-cita luhur itu tidak diikuti oleh kerja konkrit pemerintahnya dalam menyelenggarakan pendidikan.
Problem utama dari kecilnya partisipasi rakyat Indonesia dalam mengakses pendidikan bukan dikarenakan sebuah watak malas dari rakyat, namun dikarenakan mahalnya biaya pendidikan yang berbanding lurus dengan tingkat ekonomi masyarakat yang lemah. Menurut data BPS, tahun 2014 ini dari total penduduk Indonesia hasil Sensus Penduduk 2010 sebesar 237.641.326 jiwa, dari semua itu rakyat miskin di Indonesia mencapai 28,07 juta jiwa. Terdiri dari 17,74 juta jiwa adalah rakyat di pedesaan, sementara 10,33 juta jiwa berada di perkotaan.  Parameter miskin pun ini diukur dengan penghasilan-per-kapita per-bulan sebesar Rp 289.041 untuk perkotaan dan Rp 253.273 di desa. Standart pendapatan yang sangat rendah bila dibanding dengan ketetapan kemiskinan oleh PBB yakni berpendapatan 2 dollar AS per hari. Tentu, masih banyak lagi rakyat miskin di Indonesia bila memakai angka batas pendapatan minimum kemiskinan PBB.
            Jelas sudah bahwa rakyat Indonesia sangat  kesulitan dalam mengakses pendidikan dan untuk memenuhi kebutuhan penunjang pendidikannya (Buku, Seragam, Uang Saku, Ongkos, dll). Dengan penghasilan yang hanya Rp 289.041/bulan akan begitu saja habis untuk memenuhi kebutuhan pokoknya tanpa bisa menyisihkan untuk biaya pendidikan. Dari sinilah banyak rakyat Indonesa usia sekolah yang terpaksa mengambil jalan untuk menjadi pekerja, petani, TKI, dan profesi lainnya demi membantu kehidupan keluarga.
Fenomena inilah yang menjadi sumber dari masih menjangkitnya penyakit buta aksara pada rakyat Indonesia. Saat ini, rakyat yang menderita buta aksara sekitar 9,9 Juta. Sedangkan 880.000 lainnya rentan mengalaminya. Belum lagi dengan ancaman putus sekolah bagi jutaan anak Sekolah Dasar yang harus membagi waktunya terpaksa bekerja demi membantu mencari nafkah keluarga. Hal ini semua adalah bukti nyata bahwa pemerintah Indonesia abai dalam penyelenggaraan pendidikan. Pimpinan Pusat Front Mahasiswa Nasional (PP FMN) Rachmad, mengajak seluruh mahasiswa dan rakyat Indonesia untuk mengkampanyekan Pemberantasan Buta Aksara di Indonesia untuk menyongsong kemajuan rakyat. Serta menuntut pemerintahan mendatang agar mempunyai orientasi memajukan pendidikan dengan meningkatkan akses pelayanan pendidikan terhadap seluruh rakyat Indonesia.


08 September 2014
Hormat Kami,
PIMPINAN PUSAT
FRONT MAHASISWA NASIONAL


Rachmad P Panjaitan S.IP
Ketua
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger