Headlines News :
Home » » FMN: Hari Guru Nasional

FMN: Hari Guru Nasional

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Senin, 24 November 2014 | 21.22



““Guru dan murid menjadi tauladan, yang memandang pendidikan, realitas sosial dan perjuangan menjadi satu kesatuan”


25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Hal itu ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994. Selain Hari Guru Nasional, 25 November 1945 juga ditetapkan sebagai hari lahir Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Semangat perjuangan guru saat itu bukan sebatas perjuangan perbaikan nasibnya semata, namun guru-guru telah mempunyai semangat perjuangan kemerdekaan pula.

Demikian tokoh-tokoh seperti Dowes Deker, Tirto Adhi Soerjo, Multatuli dan Ki Hajar Dewantara dapat juga kita disebut sebagai guru yang mempunyai sumbangsih atas perkembangan pendidikan di Indonesia. Saat itu, pendidikan yang berkembang adalah pendidikan ala Belanda yang menciptakan kebudayaan inlander terhadap masyarakat Indonesia. Kemudian berlahan-lahan pendidikan diubah menjadi alat pembebasan untuk menentang penjajahan imperialis Belanda di Indonesia. Beriringan dengan perjuangan era kebangkitan nasional, guru-guru terlibat aktif pula untuk melawan penjajahan imperialis Belanda. Dari sentuhan-sentuhan mereka banyak organisasi era kebangkitan mulai bermunculan seperti Boedi Oetomo dan Serikat Dagang Islam-Serikat Islam yang nantinya sedikit banyak menjadi inspirasi melahirkan perjuangan-perjuangan massa hingga revolusi 17 agustus 1945.

Gambaran di atas, menjadi sebuah penyemangat bagi kita. Mengingatkan sosok-sosok guru yang mengembankan tugas dalam pembebasan rakyat Indonesia dari cengkraman penjajahan Imperialis Belanda. Pelajaran penting ini, telah menunjukkan peran penting guru mendukung perubahan sosial di Indonesia. Guru  sehari-harinya mengajar di sekolah. Mengorbankan waktu, pikiran dan tenaganya untuk mengajari peserta didiknya. Tentu guru yang baik adalah mereka yang mampu menjadi “murid diantara murid di sekolah”. Guru harus tetap memposisikan diri sebagai bagian murid yang bertanggung jawab mewujudkan pendidikan yang ilmiah, demokratis dan mengabdi kepada rakyat. Guru dan murid mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan masyarakat Indonesia. Mampu menjadikan realitas sosial sebagai objek yang dikaji, ditelaah sekaligus menghasilkan sebuah teori dan praktek yang berguna bagi rakyat.

Kehidupan guru di Indonesia pun masih rendah. Persoalan tenaga pengajar di Indonesia masih mempunyai problem yang tidak dapat dipecahkan oleh pemerintahan. Nasib para guru masih sangat memprihatikan dibanding pengabdiannya yang besar terhadap negara mengajari peserta didik di Indonesia. Rendahnya kesejahteraan guru tentu akan mempengaruhi kualitas dan keberpihakan guru untuk mendidikan peserta didik secara ilmiah, demokratis dan mengabdi kepada rakyat. Selain itu, nasib guru honorer di Indonesia sangat jauh dari kata sejahtera. Upah yang rendah dan tidak adanya tunjangan diterima guru honorer, membuat kehiupan mereka di bawah bayang-bayang kemiskinan. Kemudian rendahnya intensitas pendidikan dan pelatihan terhadap guru-guru di Indonesia, membuat guru-guru hanya mengandalkan sertifikasi mengajar yang sarat dengan praktek komersialisasi dan simbolis dari pemerintah. Belum lagi protes guru dalam menolak kurikulum 2013 yang dianggap tidak sesuai dengan semangat memajukan pendidikan di Indonesia.

Dalam momentum Hari Guru Nasional pada 25 november 2014 ini, Pimpinan Pusat FMN menyampaikan tuntutan kepada pemerintah untuk mensejahterakan guru dan dosen, Hapuskan Kurikulum 2013 serta wujudkan pendidikan yang ilmiah, demokratis dan mengabdi kepada rakyat. Terima Kasih.
25 November 2014

Hormat Kami,
Pimpinan Pusat
FRONT MAHASISWA NASIONAL

Rachmad P Panjaitan
Ketua
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger