Headlines News :
Home » » PP FMN: HARI IBU NASIONAL ke-61 Tahun

PP FMN: HARI IBU NASIONAL ke-61 Tahun

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Minggu, 21 Desember 2014 | 17.50

Selamat Hari IBU, Bangkitlah kaum Perempuan  & Rakyat Indonesia merebut hak-hak Demokratis kita yang Dirampas


Marilah kita mengangkat suara untuk memujikan wanita, Ibunda, sumber seluruh penaklukan kehidupan tak habis-habisnya. Marilah bernyanyi untuk memujikan wanita, Ibunda, satu-satunya kekuatan terdahulu di mana kematian menunduk merendahkan kapalanya – Novel Ibunda (Marxim Gorky)”

Pada 22 Desember 1928 ditandai dengan adanya Kongres pertama perempuan Indonesia 1928. Peristiwa ini menyepakati harus adanya keterlibatan perempuan dalam perjuangan rakyat untuk mengusir kolonial Belanda dari Indonesia menuju kemerdekaan. Kemudian momentum itu, secara resmi dijadikan pemeritahan di era Soekarno sebagai HARI IBU NASIONAL melalui Dekrit Presiden No. 316 thn. 1953, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928. Tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat perempuan Indonesia dalam meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara.

Perempuan merupakan elemen penting dalam perjuangan massa. Kebangkitan  perempuan akan membawa sebuah perjuangan yang  lebih dekat dengan takdir sejarah pembebasan rakyat Indonesia. Perempuan menjadi sector dan golongan unsur paling terbelakang, tertindas dan terhisap pada masyarakat setengah jajahan dan setengah feodal. Namun di tengah ketertindasan dan keterhisapan kaum perempuan, gerakan perempuan memiliki potensi yang luar biasa besar untuk memajukan perjuangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kesabarannya, keuletannya, kegigihannya dan ketahanannya, telah teruji dalam menghadapi kehidupan.

Perempuan Indonesia mengalami penindasan ganda, mereka mengalami penindasan feodal patriarki dan liberal machoisme dalam masyarakat setengah jajahan dan setengah feodal di bawah dominasi imperialisme AS melalui kaki tangan pemerintahan boneka di dalam negeri. Penindasan  ini terjadi di lapangan ekonomi, politik dan budaya. Akibat penindasan ini,  perempuan mengalami penindasan dan penderitaan yang berlipat-lipat. Perempuan menderita, ditindas dan dihisap bersama-sama, perempuan mengalami diskriminasi yang mengakibatkan perempuan lebih menderita, tertindas dan terhisap lebih dalam lagi. Selain itu, perempuan pun mengalami penderitaan, penindasan dan penghisapan atas dirinya sebagai perempuan, sebagai manusia klas dua yang tidak memiliki hak dan dan kedaulatan atas dirinya sendiri. Perempuan selalu diposisikan lebih rendah derajat, harkat dan martabatnya di dalam masyarakat Indonesia. Perempuan selalu diidentikan dengan persoalan domestik semata; dapur, kamar dan sumur. Padangan kolot ini tetap eksis dalam masyarakat Indonesia. Tentu ini akibat system yang lapuk dan busuk dari setengah jajahan dan setengah feodal di Indonesia.

Perempuan dianggap lemah dan dianggap tidak sekuat kaum laki-laki. Cara berpikir ini menjadikan posisi perempuan selalu dipandang sebelah mata dibanding kaum laki-laki dalam masyarakat Indonesia. Hal ini juga menjadi jurang pemisah atau diskriminasi yang dialami perempuan dalam masyarakat Indonesia. Di bidang kebudayaan, perempuan masih mengalami diskriminasi dalam mengecap pendidikan di Indonesia. Hal ini terutama akan tampak jelas di pedesaan dimana angka partisipasi pendidikan perempuan masih sangat rendah. Bahkan keadaan ini, dibiarkan Negara yang hakekatnya terus mempertahankan sistem busuk yang membuat terbelakang kaum perempuan. Di bidang politik; perempuan selalu mengalami diskriminasi untuk mempunyai hak yang sama dengan kaum laki-laki untuk mengeluarkan pendapat, berkumpul ataupun berserikat. Bahkan, system feodal patriarchal dan liberal machoisme ini melanggengkan pembodohan bahwa perempuan yang berorganisasi atau berpolitik adalah perempuan yang “tidak benar”. Tentu ini adalah penanaman nilai apolitis dari system setengah jajahan dan seetengah feodal yang merendahkan perempuan dan menjauhkan keterlibatan perempuan dalam berjuang. Sementara secara ekonomi; perempuan masih mengalami diskriminasi atas pekerjaan dan pengupahan. Perempuan dianggap hanya dapat bekerja dalam bidang-bidang tertentu saja. Dan dalam konteks pengupahan baik di perkotaan dan terutama di pedesaan, perempuan masih mendapatkan upah yang lebih rendah dibanding kaum laki-laki.

Inilah operasi penindasan feodal patriarchal dan liberal machoisme terhadap perempuan Indonesia. Penghisapan dan penindasan yang berlipat-ganda ini, menjauhkan perempuan terlibat aktif dalam perjuangan rakyat untuk menyongsong perubahan dalam bernegara dan berbangsa di Indonesia. Padahal kita ketahui, bahwa mustahil kemerdekaan sejati suatu Negara dapat diraih tanpa adanya peran dari perempuan. Sama halnya dengan keadaan Indonesia.

Untuk melawan cengkraman kekuatan imperialisme, feodalisme dan kapitalisme birokrat, yang mempertahankan keterbelakangan rakyat Indonesia,  peranan perempuan  dalam perjuangan pula yang dapat membebaskan rakyat Indonesia dari tiga musuh rakyat. Hanya dengan keterlibatan perempuan Indonesia, rakyat akan mampu menjalankan reforma agraria sejati dan industry nasional sebagai jalan terang menuju Indonesia yang merdeka, berdaulat dan mandiri di negerinya sendiri.

Dalam peringatan HARI IBU Nasional ke- 61 Tahun, kita harus mampu memaknai bahwa seorang perempuan atau IBU bukanlah seorang mahluk lemah. Kemudian bukan hanya mengidentikan perempuan atau IBU dari aspek kelembutan kasih sayangnya semata, tapi makna dari HARI IBU jauh dari itu semua. Selain memberikan kasih sayang sepanjang masa, IBU menjadi bagian perempuan hebat yang mempunyai peran dalam perjuangan rakyat Indonesia. Keterlibatan IBU dalam perjuangan rakyat Indonesia, akan memberikan sebuah sinar harapan yang terang benderang menuju masyarakat Indonesia yang bebas dari cengkraman imperialisme AS dan feodalisme.   Maka dalam peringatan HARI IBU NASIONAL pada 22 Desember 2014 yang ke-61 tahun, Pimpinan Pusat FMN menyampaikan“ Selamat Hari IBU, Bangkitlah kaum Perempuan bersama rakyat Indonesia merebut hak-hak demokratis kita yang dirampas ”. Terima kasih, Jayalah Perjuangan Perempuan dan Rakyat Indonesia.

22 Desember 2014,

Rachmad P Panjaitan
Ketua



Share this article :

1 komentar:

Slamet Raharjo mengatakan...

Jayalah perjuangan perempuan dan rakyat indonesia

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger