Headlines News :
Home » » Dunia Perfilman Kita Masih gitu-gitu Doang, Gak ada Benarnya

Dunia Perfilman Kita Masih gitu-gitu Doang, Gak ada Benarnya

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Senin, 30 Maret 2015 | 05.46


"Jadikan Film Sebagai Media kebudayaan Mengajarkan Kenyataan dan Mencerdaskan Rakyat Indonesia"

Sejarah Kelahiran dan Perkembangan Awal Perfilman Indonesia
Film merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kebudayaan manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong perkembangan media elektronik yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Salah-satunya adalah kemajuan dunia perfilman yang didorong oleh upaya untuk menyampaikan pesan ekspresi yang berisi nilai-nilai kebudayaan kepada masyarakat yang menekankan audiovisual. Berangkat dari dua faktor utama ini kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,  film kemudian terus berkembang dan menjamur ke seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia.

Di Indonesia lahir dan berkembangnya dunia perfilman juga tidak terlepas dari kondisi pada zaman kolonialisme Belanda. Perkembangan produksi film yang semakin banyak di belahan Benua Eropa mendorong negara-negara Eropa, termasuk Belanda untuk mengekspor film-filmnya ke Indonesia. Pada 5 Desember 1900, untuk pertama kalinya rakyat Indonesia menyaksikan pertunjukan film, yang pada waktu itu ditayangkan di Jakarta berupa film dokumenter. Namun, pertunjukan film semasa itu di Indonesia, tentu tidak untuk memajukan cara berpikir rakyat pribumi. Film-film yang ditayangkan di Indonesia ditujukan untuk menjadi legitimasi penghisapan dan penindasan belanda di Indonesia. Membentuk kesadaraan masyarakat sangat terbelakang, karena muatan Film yang diputar imperialisme Belanda adalah yang menunjukkan "kebaikan" serta kekuatan Belanda menduduki Indonesia.  Di sisi lain, Film semata-mata menjadi Hiburan Imperialisme Belanda di Indonesia. Sehingga masif dan maraknya produksi film di Indonesia ditujukan untuk membangun industri perfilman dan menguasainya secara penuh untuk menghibur bangsa-bangsa Eropa yang menjajah di Indonesia. Bahkan dalam setiap pertunjukan film tertentu, rakyat Indonesia tidaklah diperbolehkan untuk ikut serta menikmati pertunjukan, dan kolonialisme Belanda dengan keji melabeli rakyat dengan sebutan “kelas kambing”.

Berangkat dari kondisi orientasi Film yang diproduksi oleh imperialisme Belanda terhadap rakyat Indonesia, dimulailah produksi film yang diorientasikan untuk mayoritas rakyat Indonesia. Film produksi dalam negeri dan menggunakan mayoritas pemerannya rakyat Indonesia adalah film “Terang Boelan” pada tahun 1934. Film ini diterima di kalangan rakyat Indonesia. hal ini dikarenakan film ini lebih membumi dan menarik sehingga alur cerita dan nilai-nilai yang disampaikan dapat lebih dimengerti rakyat Indonesia. Dengan alunan musik keroncong yang mengiringi film tersebut, bertambah menariklah film “Terang Boelan” untuk dinikmati rakyat.

Film selanjutnya yang juga mampu mengguncang dunia perfilman Indonesia dan mampu menunjukan kemampuan dan sebagai tandingan dari film-film Eropa dan Amerika adalah film “Darah dan Doa” yang diadaptasi dalam bahasa Inggris judulnya menjadi (Long March of Siliwangi). Film ini pertama kali diproduksi pada 30 Maret 1950. Dalam ceritanya film ini mencoba mengangkat dan menyuguhkan usaha dan upaya yang keras dari tentara dan rakyat Indonesia untuk bersama-sama berjuang melawan imperialisme Belanda yang kembali datang setelah kemerdekaan Indonesia. Hingga pada akhirnya usaha yang berdarah-darah tersebut membuahkan hasil kemerdekaan bagi rakyat Indonesia. film ini menjadi pusat perhatian rakyat Indonesia saat itu, karena isi dan cerita film ini sangat nyata terhadap kondisi rakyat Indonesia, yang saat itu seluruh rakyat mendambakan sebuah negeri dan bangsa yang benar-benar merdeka. Atas andil besar film ini, kemudian ditetapkanlah 30 Maret 1950 sebagai Hari Film Nasional.

Namun, saat ini seiring dengan perjelanan sejarah bangsa Indonesia, kondisi perfilman pun terus mengalami dinamikanya. Semangat untuk memproduksi film-film untuk menguak kebenaran dan mencerdaskan rakyat setahap demi setahap mulai hilang seiring hegemoni dan pengaruh kebudayaan terbelakang dari imperialis dan kebudayaan terbelakang feodal yang terus ditransformasikan oleh rejim melalui seluruh mesin kebudayaan negara.

Kondisi Perfilman Indonesia Kekinian
Indonesia merupakan negeri setengah jajahan setengah feodal yang berada di bawah dominasi imperialisme AS. Struktur ekonomi, politik dan kebudayaan negeri tentunya akan terpengaruh dan terdominasi oleh sistem sosial yang ada. Hal ini mempengaruhi bahkan menentukan kondisi Perfilman di Indonesia. Dominasi imperialisme AS dan feodalisme di Indonesia menjadikan perfilman rakyat Indonesia terus mengalami degradasi dan keterbelakangan. Tentunya untuk terus memastikan hegemoni penindasan dan penghisapan yang dijalankan, rejim berkuasa Jokowi-JK akan terus melanjutkan secara maksimal kondisi perfilman yang sangat memprihatinkan di Indonesia.

Kondisi perfilman di Indonesia saat ini masih menyuguhkan nilai-nilai yang anti kenyataan yang tidak sama sekali mencerdaskan kehidupan rakyat. Sesungguhnya telah terkuak bahwa sejak Belanda menjajah di Indonesia mereka telah menanamkan dunia perfilman yang berorientasi alat legitimasi dalam kebudayaan dan komersil. Bahkan hingga kemerdekaan, perkembangan film-film di Indonesia banyak yang diproduksi untuk menjauhkan rakyat. Nilai feodal dan penyembahan terhadap negara maju (imperialisme telah ditanamkan kuat). Bahkan film-film dari negara Imperialisme khususnya AS dipasaok secara besar-besaran ke Indonesia. Sehingga wajar rakyat Indonesia sangat mendambakan Sylvester Stallone dalam Film Rainbow sebagai tentara AS yang melawan rakyat Vietnam. Padahal itu adalah skema bagaimana AS menanamkan nilai-nilai inlander ke seluruh dunia melalui produksi perfilman untuk menunjukkan bahwa mereka adalah Negara Super power dan tentara dunia yang harus menjadi kiblat dunia khususnya Indonesia.

Sementara itu, sedikit film dan dokumenter di Indonesia yang menggambarkan wawasan yang mengangkat kondisi objektif rakyat Indonesia. Contohya Film yang bertemakan kondisi penghisapan di wilayah timur khususnya Papua seperti Film “Tanah Mama, Mentari dari Ufuk Timur, Tanah surga katanya dan lain-lain”.  Demikian pula cerita Film tentang “Batas, Tanah Surga Katanya” yang menceritakan kondisi tentang kehidupan masyarakat perbatasan dengan Malaysia yang serba kekurangan. Sementara yang menceritakan kondisi buram pendidikan di Indonesia juga masih dapat dihitung dengan nyali. Seperti; ”Temani aku bunda, Denias Senandung di Atas Awan, Laskar pelangi, Tanah air Beta”.

Saat ini kondisi perfilman di Indonesia telah dirongrong dengan perkembangan Industri perfilman yang sangat mengiurkan bagi para pengusaha besar, dan bahkan bekerjasama dengan produksi film internasional seperti Hollywood yang mempunyai kepentingan komersil dan penanaman nilai kebudayaan liberal atau keagungan AS di seluruh dunia khususnya Indonesia. Sehingga Film-film di Indonesia bertemakan ilusi yang jauh dari kenyataan dan tidak mendidik. Berbagai Film hanya bertemakan cinta anak muda yang membuat alam berpikir rakyat menjadi terbelakang dan tidak berealita. Setiap hari stasiun Televisi menyuguhkan Film-film baik cinema maupun sinetron semacam FTV yang membuat rakyat khususnya anak muda terbuai akan mimpi-mimpi cinta maupun kemewahan hidup.  

Maka, persatuan rakyat Indonesia, khususnya pekerja seniman film Indonesia harus berusaha keras untuk mengubah kondisi perfilman di Indonesia yang tidak mendidik dan menjauhkan rakyat dari kenyataan. Film harus mampu dijadikan sebagai alat kebudayaan yang memajukan kesadaraan rakyat. Sehingga Film-film Indonesia bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai kondisi objektif rakyat dari setiap alur cerita yang disuguhkan.  Oleh karena itu, kita harus mampu mengkampanyekan penolakan atas film-film di Indonesia yang menjauhkan rakyat dari kenyataan hidupnya dan tidak mendidik. Di sisi lain, kita sebagai pemuda mahasiswa sudah saatnya mampu berlahan-lahan memproduksi berbagai Film atau dokementer yang bertemakan kondisi objektif rakyat yang mendidik, sebagai usaha mewujudkan film yang berkualitas dan mendidik.

Symphaty Dimas
Ka. Dept. Dikprop
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger