Headlines News :
Home » » Bagian II : Konferensi Asia Afrika ???

Bagian II : Konferensi Asia Afrika ???

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Sabtu, 18 April 2015 | 00.14



 
Kini, KAA menjadi Forum Rejim Boneka melayani Imperialisme AS.
Perjuangan kemerdekaan merupakan babak sejarah perlawanan rakyat Asia Afrika yang ditandai letusan-letusan revolusi di abad 20 dalam mengusir kolonialisme maupun neo-kolonialisme. Perjuangan yang tiada ampun dalam mempertahankan kemerdekaan pun telah dipertontonkan rakyat Indonesia dalam menentang pendudukan kembali Belanda dan sekutu dalam perang agresi militer pertama dan kedua.Demikian pula perjuangan Vietnam yang menentang pendudukan imperialisme AS yang berusaha memecah belah negara Vietnam ke kubunya untuk memukul gerakan rakyat yang sedang melawan. Pada saat itu pula, semangat rakyat Afrika utara dan Aljazair bergelora dalam menentang pendudukan kolonial Prancis. Sejarah perjuangan rakyat yang gilang-gemilang ini bertujuan menghapus penghisapan dan penindasan imperialisme, dan sekaligus menjadi semangat mengantarkan dideklarasikannya KAA 1955.
Akan tetapi, dalam perkembangannya semangat anti imperialisme KAA 1955 setahap demi setahap mulai memudar dan berubah tujuan. Negara-negara Asia Afrika yang awalnya mempunyai pemerintahan yang secara gigih melawan imperialisme, berangsur-angsur takluk dan berubah menjadi rejim-rejim boneka imperialisme AS yang notabenenya sebagai pemenang perang dunia ke-2. Sehingga menjadi pimpinan imperialisme no.1 di dunia hingga saat ini. Konsolidasi-konsolidasi KAA mengalami kemandekan, bahkan secara cepat suara perlawanan terhadap imperialisme AS semakin hilang. Rejim-rejim Negara Asia Afrika khususnya Indonesia menjadi pemerintahan yang tunduk dan setia pada Imperialisme AS.
Hal ini dapat dinilai pertemuan KAA baru dapat terselenggara lagi pada tahun 2005 memperingati 50 tahun KAA yang berbeda tujuan. Dalam pertemuan KAA 2005 menghasilkan NAASP (New Asian-African Strategic Partnership, Kerjasama Strategis Asia-Afrika yang baru).
Akan tetapi, inti pertemuan KAA 2005 lebih menekankan pada aspek kerjasama investasi, keuangan, perdagangan, energi, kesehatan, pertanian, pendidikan yang terintegrasi dengan kepentingan Neo-liberalisme Imperialisme AS. Program NAAPS yang berlandaskan Dasasila hanya kedok KAA untuk menutupi kepentingan imperialisme AS di Negara-negara Asia Afrika khususnya Indonesia. Program yang dibahas adalah memperlancar bisnis imperialisme AS di Asia Afrika. Ini merupakan bentuk pengkhianatan pemerintahan negara-negara Asia-Afrika yang menjadikan KAA sebagai forum kerjasama bagi imperialisme AS dan dulu KAA menentangnya. Pembahasan KAA 2005 bukan lagi menegakkan kedaulatan dan kemandirian  serta upaya perjuangan melawan imperialisme maupun membicarakan kemerdekaan Palestina. Namun pembahasannya adalah upaya bisnis dan invetasi maksimal antara Negara peserta KAA dengan perusahaan TNC/MNC milik imperialisme, khususnya AS.
Beberapa kerjasama yang menghisap dan menindas imperialisme AS dalam forum KAA 2005 adalah menciptakan iklim bisnis yang nyaman bagi para korporasi internasional untuk melakukan investasi dan pembangunan unit usahanya di negara-negara Asia Afrika. Kerja sama AA tersebut juga tidak diletakkan berdiri sendiri, tetapi dikaitkan dengan berbagai institusi kerja sama yang sudah ada antara dua benua itu, antara lain Tokyo International Conference on African Development (TICAD), China-Afrika Cooperation Forum (CACF), India-Africa Cooperation, Pusat Kerjasama Teknik Selatan-Selatan yang disponsori Indonesia dan Brunei Darussalam, Vietnam-Africa Business Forum, dan terutama New Partnership for Africa’s Development (NEPAD). Dimana kerjasama ini hakekatnya adalah milik AS, karena di Negara Asia Afrika pelaku utama pasarnya adalah borjuasi-borjuasi internasional milik imperialisme AS.
Kini, upaya KAA 1955 untuk menjaga kedaulatan negara-negara Asia Afrika dari dominasi imperialisme seakan menjadi sejarah yang tercabik-cabik akibat berubahnya tujuan KAA menjadi skema persekutuan rejim boneka Negara-negara Asia Afrika dengan tuannya imperialisme AS. Semangat KAA 1955 semakin terkubur dan sekaligus menjadi lonceng kemiskinan dan penderitaan bagi rakyat Negara-negara Asia-Afrika. Rakyat di negeri Asia Afrika justru semakin jauh dari kesejahteraan dan kemandiriannya. Negara Asia-Afrika menjadi sasaran eksploitasi  Imperialisme AS baik sumber daya alam maupun manusianya. Asia Afrika terus menjadi saranan pengerukan kekayaan alam dan terus didorong menyediakan buruh-buruh murah agar dapat menopang tenaga kerja bagi perusahaan-perusahaan milik imperialisme. Juga, berkaitan dengan jumlah pendudukanya yang banyak (75% penduduk dunia), Asia Afrika menjadi pasar yang sangat potensial untuk menjual segala over produksi milik imperialisme AS. Dan saat ini imperialisme AS terus memasifkan Negara Asia Afrika khususnya Indonesia menjadi sasaran investasi utama bagi borjuasi-borjuasi internasional milik imperialisme AS.
Untuk memastikan dominasi imperialisme AS di Asia Afrika, mereka akan senantiasa menggunakan forum-forum regional seperti KAA untuk mengintervensi dan memaksa kehendaknya melalui rejim-rejim bonekanya. Saat ini pula bahkan di negeri imperialisme seperti Jepang di Asia, rakyatnya terus-menerus diintimidasi dengan pangkalan militer milik AS di Pulau Okinawa. Hal yang sama juga terjadi di Filipina, ditengah perjuangan rakyat yang semakin hari semakin besar menuntut perbaikan nasib dan perjuangan kemerdekaan sejati, imperialisme AS justru terus gencar melakukan berbagai tindakan militeristik, dengan menempatkan pasukan militernya di Filipina. Sementara bagian Timur Tengah seperti, Irak, Iran, Palestina, Afganistan, dan masih banyak negara lainnya telah menjadi korban kebrutalan imperialisme AS untuk bisa menjadikan Negara ini sebagai Negara boneka yang setia.
KAA akan diselenggarakan kembali dalam rangka 60 Tahun KAA dan 10 tahun NAAPS. Kegiatan ini dilaksanakan pada 19-23 April di Jakarta dan 24 April 2015 di Bandung. Acara KAA 2015 ini akan diisi dengan pertemuan Senior Official meeting/SOM, pertemuan tingkat menteri dan diakhiri pertemuan tingkat Kepala Negara/Pemerintahan di Bandung dalam rangka napak tilas 60 tahun KAA dan penguatan 10 Tahun NAAPS. Pada Pertemuan KAA 2015 mengundang 109 Kepala Negara dan 25 organisasi Internasional.Sedangkan Tema yang diusung adalah Memperkuat kerjasama Negara-negara selatan untuk mendorong kesejahteraan dan kemakmuran dunia.
Pertemuan KAA 2015 akan membicarakan tiga prioritas pembahasan. Pertama yaitu mengenai “Pesan Bandung”,  yang pasti hanya akan menjadi sampul menututupi kepentingan imperialisme AS di dalam forum KAA yang diselenggarakan. Kedua, adalah pembahasan mengenai pembaharuan kerjasama antar negara Asia Afrika. Dalam hal ini akan diisi dengan pertemuan para korporasi imperialisme guna membahas bisnis di wilayah Asia Afrika. Dan Ketiga, adalah pembahasan tentang Palestina, yang bertujuan mendorong dukungan publik dan para peserta KAA lainnya untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina. Namun esensinya hingga saat ini dukungan solidaritas atas kemerdekaan Palestina masih juga menjadi isapan jempol belaka dari Kepala Negara-negara Asia Afrika seperti Indonesia. Karena hakekatnya dukungan untuk kemerdekaan Palestina tidak akan sungguh-sungguh pernah diberikan pemerintahan khususnya Indonesia, karena permasalahan Palestina adalah persoalan yang diciptakan oleh tuannya imperialisme AS melalui Israel.  Jadi, Indonesia tidak akan pernah membantu sedikit pun kemerdekaan Palestina melawan kekejaman imperialisme AS dan Israel yang mengobarkan perang di Negeri Palestina.

Sementara pada pertemuan KAA 2015 nanti, secara bersamaan akan diselenggarakannya pertemuan Word Economic Forum di Hotel Shangri-La Jakarta pada 19-21 April, yang akan resmi dibuka oleh Jokowi. Setidaknya dalam pertemuan ini akan dihadiri 20 Negara-negara imperialisme mulai dari AS, China, Jepang dan lain-lain. Tema yang akan diangkat adalah pendidikan, infrastuktur hingga teknologi. Peserta yang akan hadir pula adalah 650 CEO Manager dari perusahaan korporasi TNC/MNC yang didominasi AS. Dalam pertemuan ini, Jokowi berharap pada Negara-negara imperialisme dan perusahan-perusahan TNC/MNC yang hadir agar bersedia berinvestasi tahun ini sebesar 401 Triliun Rupiah mendanai infrastuktur. Selain itu investasi di bidang infrastuktur, Jokowi-JK akan melayani memberikan akses investasi yang luas pada imperialisme untuk meningkatkan nilai investasinya di bidang pendidikan dan teknologi, yang artinya akan semakin dikomersilkan atau diliberalisasi. Kegiatan Word Economic Forum ini terintegrasi dengan kegiatan KAA 2015. Maka, semakin jelas bahwasannya KAA bukan lagi menjadi ajang memperkuat Negara-negara Asia Afrika melawan dominasi imperialisme AS yang selama ini menghancurkan kedaulatan dan kemandiriannya Negara AA. Akan tetapi sebaliknya, KAA menjadi forum konsolidasi rejim-rejim boneka Asia Afrika yang difasilitasi oleh Jokowi-JK.  Tanpa malu-malu juga Jokowi mengkonsultasikan konsep KAA 2015 ini ke New York AS melalui kantor perwakilan KBRI disana.
Untuk menyukseskan agenda KAA 19-24 April, Jokowi-JK melakukan pengamanan yang ekstra untuk menjaga peserta KAA khususnya imperialisme AS. Jokowi melalui Polda metro jaya, bahkan menerbitkan surat edaran untuk melarang bentuk kegiatan semacam Aksi dari masyarakat selama KAA berlangsung. Tidak tanggung-tanggung, apabila masih tetap melakukan aksi maka pihak kepolisian dan TNI tidak segan-segan untuk menindaktegas rakyatnya. Di Jakarta dalam rangka mengamankan penyelenggaraan KAA,  Polisi dan TNI diturunkan sebanyak 4.236 personil. Sedangkan di Bandung sendiri, TNI dan Polisi akan diturunkan sebanyak 3.700 personil dan 33 sniper di beberapa titik. Dari segi pengamanan yang diterapkan oleh Jokowi-JK yang super ketat, tampak sikap anti demokratisnya pemerintah. Terutama terkait surat edaran yang melarang aksi. Padahal kebebasan menyampaikan pendapat umum adalah HAK masyarakat Indonesia yang diatur UUD 1945 yang tidak dapat diganggu-gugat oleh siapapun. Akan tetapi, Jokowi menunjukkan watak yang fasis untuk membungkam aspirasi dan tuntutan rakyat atas forum KAA yang telah melenceng dari semangat anti Neo-kolonialisme Imperialisme AS.
Perkuat Persatuan, Raih Kejayaan KAA untuk Melawan Dominasi Imperialisme

Imperialisme AS sebagai penguasa tunggal dunia mulai dari pasca Perang Dunia ke II, menjadikan seluruh Negara-negara di dunia tunduk pada kekuatan imperialisme AS baik di bidang ekonomi, politik, kebudayaan dan militer. Demikian pula di negara-negara Asia Afrika atau dikenal dengan Negara-negara selatan, seluruhnya berada di bawah dominasi imperialisme AS. Negara-negara Asia Afrika yang mayoritas sebagai Negara berkembang menjadi negara setengah jajahan setengah feodal yang terdiri dari pemerintahan Boneka yang mengabdi kepada kepentingan imperialisme AS. Seperti di Indonesia, puncak terkonsolidasinya kekuatan imperialisme AS menguasai sumber kekayaan alam dan manusia, dimulai semenjak pemerintahan berada di tangan fasis Soeharto. Akan tetapi, 32 tahun Soeharto menjadi pengabdi setia atau boneka AS melayani kepentingan tuannya menguasai sumber daya alam dan rakyat, tidak memberikan pelajaran bagi pemimpin-pemimpin bangsa di Negeri ini untuk menjadikan imperialisme AS beserta tuan tanah menjadi musuh rakyat. Akan tetapi rejim yang lahir dari pemilu ke pemilu masih menunjukkan karakter yang sama menjadi rejim boneka AS. Hingga pemerintahan Jokowi-JK memimpin saat ini, posisi sebagai rejim boneka AS masih tetap diperkokoh untuk demi melayani kepentingan tuannya.
Rejim ini menjadi Jongos bagi imperialisme AS. Praktek liberalisasi, privatisasi, deregulasi, pencabutan subsidi, pengetatan anggaran, sistem asuransi menjadi roh yang dikembangan rejim Jokowi-JK sebagai amanat dari kebijakan Neo-liberalisme imperialisme AS untuk meningkatkan penghisapan dan penindasan di Indonesia. Demikian penyelenggaraan KAA 19-24 nanti. ini hanya menjadi bentuk kesetian dan kepatuhan Jokowi-JK untuk memberikan forum bagi AS yang menggunakan  KAA untuk memasifkan investasi dan utangnya dalam penguasaan di negara Asia Afrika khususnya di Indonesia. Di tengah kondisi krisis yang masih berkecamuk di AS dan Eropa, tentu imperialisme AS akan mendorong rejim bonekanya seperti Jokowi-JK untuk menyelenggarakan KAA ini. Sesungguhnya inilah yang menjadi dasar penyelenggaraan KAA Tahun 2015 ini.
Sehingga KAA bukan lagi menjadi persatuan Negara Asia Afrika untuk bersama-sama meneriakkan “Go to Hell With Your Aid”. Namun, rejim-rejim boneka imperialisme AS di Asia Afrika khususnya Indonesia, akan memberikan infus untuk menunda kematian imperialisme dengan menghisap darah dan keringat rakyatnya. Forum KAA 2015 akan diisi mayoritas rejim boneka dan imperialisme, sudah pasti pertemuan ini akan memperbincangkan bagaimana skema investasi dan pembangunan yang akan dijalankan imperialisme AS secara masif di negara-negara Asia Afrika.  Sementara kemerdekaan, kemandirian dan kedaulatan Rakyat Asia Afrika akan menjadi khiasan semata yang dipermainkan dalam slogan-slogan dalam pertemuan KAA April nanti. Semangat KAA kini telah menjadi semangat untuk menyalurkan nafsu kepentingan imperialisme AS.
Namun, rakyat tidak perlu gentar dan patah arang. Perlawanan atas imperialisme AS dan rejim boneka di Asia Afrika khususnya Indonesia, akan semakin membesar seiring dengan kesadaraan rakyat yang diasah dengan perjuangan-perjuangan massa untuk sama-sama belajar, berorganisasi dan berjuang. Terbukti perjuangan rakyat Asia Afrika di tahun 1955 yang besar, mampu membendung dominasi imperialisme AS, hingga melahirkan KAA. Yang menjadi tugas kita saat ini dalam menyikapi KAA adalah bagaimana rakyat Asia Afrika khususnya Indonesia mampu mengembalikan semangat perjuangan rakyat Asia Afrika untuk melawan dominasi imperialisme AS yang menghambat kemajuan rakyat. Persatuan dam perjuangan rakyat Asia Afrika khususnya Indonesia, akan senantiasa mengobarkan perlawanan terhadap imperialisme dan menolak rejim-rejim boneka AS khususnya Jokowi-JK mengkhianati semangat anti imperialisme dalam KAA 1955. Karena hanya dengan terbebasnya rakyat Asia Afrika dari dominasi Neo-kolonialisme imperialisme AS, barulah rakyat akan merasakan Kemerdekaan, Kedaulatan dan kemandirian yang menjadi cita-cita bersama.
Maka, FMN yang bergabung di dalam Aliansi FPR telah mengadakan berbagai kegiatan untuk menyikapi Konferensi Asia Afrika 19-24 April 2015. Diskusi-diskusi publik, penerbitan artikel-artikel, konferensi pers, Aksi, telah FPR jalankan untuk mengabarkan bahwa neo-kolonialisme imperialisme AS masih mengisap dan menindas rakyat. Sementara mulai dari 19-24 April, FMN bersama FPR akan mengadakan kampanye Rakyat Asia Afrika Anti Imperialisme sebagai puncak acara yang secara bersamaan diselenggarakannya KAA. Kampanye rakyat Asia Afrika ini akan diisi kegiatan Konferensi Petani Se-Asia (17-18 April), Aksi pembukaan secara serentak se-Nasional dan Luar Negeri (19 april), Aksi Piket di Jakarta (20-23 April), (21-24 Konferensi rakyat dan Deklarasi Rakyat Asia Afrika anti imperialisme AS). Ayoo berjuang melawan kekuatan yang menghisap dan menindas kita. Enyahkan Imperialisme AS dari Bumi Pertiwi, lawan Rejim Boneka AS yang menyengsarakan rakyat !

Rachmad P Panjaitan
Ketua PP FMN

Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger