Headlines News :
Home » » Pidato Jokowi dalam Pembukaan KAA 60 Tahun, Menjadi Lipstik untuk membohongi Rakyat

Pidato Jokowi dalam Pembukaan KAA 60 Tahun, Menjadi Lipstik untuk membohongi Rakyat

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Rabu, 22 April 2015 | 10.07




Presiden Joko Widodo secara resmi telah membuka Konferensi Asia Afrika yang dihadiri oleh pemimpin dan delegasi Negara pada hari Rabu (22/4). Jokowi dalam pidato pembukaannya menunjukkan sikap yang mengebu-ngebu yang seolah-olah menghadirkan semangat Pesan Bandung untuk mengeyahkan imperialisme di Negara Asia Afrika. Berbagai kutipan Soekarno disajikan Jokowi dalam pidatonya untuk memberikan bumbu semangat anti penjajahan atau Neo-kolonialialisme imperialisme AS. Jokowi menegaskan bahwa dideklarasikannya KAA 1955 didasari semangat solidaritas negara-negara Asia Afrika untuk melawan segala bentuk penjajahan maupun imperialisme.

Seperti kutipan dalam pidatonya, “Kini, 60 tahun kemudian, kita kembali bertemu di negeri ini, di Indonesia, dalam suasana dunia yang berbeda bangsa-bangsa terjajah telah merdeka dan berdaulat, namun perjuangan kita belum selesai”. Jokowi juga dalam pidatonya melontarkan “kritikan” atas tatanan baru dunia yang terlalu bergantung pada suntikan dana dari IMF, Word Bank maupun ADB. Jokowi tanpa rasa ragu menyerukan untuk membangun ekonomi baru yang bertumpu pada kekuatan Asia Afrika.

Selain melontarkan omongan membangun semangat Pesan Bandung, mengurangi intervensi lembaga keuangan internasional dan menyerukan kekuatan ekonomi baru, Jokowi juga mengkritik lembaga PBB yang selama ini masih belum mampu menunjukkan sikap tegas untuk menggalang perdamaian dunia. Jokowi juga di dalam pidatonya, sempat menyinggung gerakan radikal seperti ISIS yang harus dicegah penyebarannya secara global.

Namun apakah isi dari pidato Jokowi yang penuh dengan semiontik manis dalam pembukaan KAA berbanding lurus dengan kenyataannya ? Maka kita akan menjawab dengan tegas bahwa Pidato pembukaan Jokowi dalam KAA, hanyalah sebuah omong kosong yang asyik menyebar ilusi untuk menutupi borok megaproyek bisnis dari tuannya, yakni imperialisme AS. Jokowi mencoba membangun diskursus bahwa isi KAA ke-60 tahun sama dengan semangat Bandung KAA 1955. Hal ini tentu sangat naïf dan tidak berdasarkan fakta. Tentu itu sangat kontra dengan kenyataan melihat agenda  dalam peringatan KAA 19 hingga 24 april mendatang. Seluruh pertemuan konferensi tingkat tinggi baik SOM, lembaga internasional dan Kepala Negara/Pemerintah, semata-mata hanya menitikberatkan pelayanan pasar bisnis oleh Negara-negara Asia Afrika terhadap Negara-negara imperialisme khususnya AS. Sehingga forum KAA bukan lagi dijadikan sebagai forum persatuan Asia Afrika untuk melawan imperialisme, akan tetapi forum saat ini dapat dilihat sebagai bentuk pelayanan terhadap kepentingan imperialisme untuk meningkatkan super profit di tengah krisis di AS dan eropa yang masih berkecamuk. Sebut saja kegiatan Forum Asia Afrika Bisnis yang membicarakan kerjasama baik di bidang maritim, transportasi, pariwisata, pendidikan, dan pemberian ijin atas penguasaan sumber daya alam.

Demikian pula dalam pertemuan Word Economic Forum yang mengahdirkan 650 Ceo Manager TNC/MNC yang didominasi perusahaan raksasa AS seperti; Coca-cola, Exxon, PT. Freeport Morgan, Nestle dan lain-lain. Tujuan utama forum ini tentu bukan untuk membangun sebuah perjanjian perdagangan yang sifatnya adil dan saling menguntungkan yang memberikan kesejahteraan bagi rakyat Asia Afrika khususnya Indonesia. Akan tetapi, perusahan-perusahan raksasa ini berusaha untuk mempertahankan bentuk-bentuk penjajahan baru (Neo-kolonialisme) untuk semakin mengintensifkan dan meluaskan penguasaan atas sumber daya alam dan ekspolitasi rakyat oleh imperialisme.

Kemudian saat Jokowi menyerukan pembangunan ekonomi baru dengan kekuatan negara Asia Afrika secara mengebu-ngebu, sama saja dengan cerita yang meninabobokan rakyat agar tertidur lelap dengan cerita-cerita dogengnya.  Kekuatan ekonomi baru Asia Afrika atau Indonesia sama saja dengan kebohongan besar yang mengilusi rakyat. Negara Asia Afrika khususnya Indonesia akan tetap menjadi negara yang bergantung atau negara boneka yang melayani kepentingan imperialisme AS dan feudal, yang senantiasa melahirkan kemiskinan dan penderitaan bagi rakyatnya. Mustahil Negara Asia Afrika atau Indonesia dapat berdaulat, mandiri yang mensejahterakan rakyatnya apabila pembangunannya masih bersandarkan pada kekuatan investasi maupun Utang luar negeri dari Imperialisme khususnya AS. Seperti yang kita ketahui bahwa Jokowi memproyeksikan pembangunan Indonesia sampai 2019  senilai 3.700 Triliun rupiah dari dana pinjaman atau investasi asing. Sekali lagi pidato Jokowi ini semakin menunjukkan tipu mislihatnya yang licik untuk mengelabui rakyat.
Sementara kritikan atas gerakan radikal dalam mencengah penyebaran ISIS,  tentu senada dengan program tuannya imperialisme AS memerangi teroris untuk kepentingan menancapkan dominasinya serta mengembangkan penjualan untuk profit perusahan-perusahan raksasa persenjataannya. Hakekatnya AS lah menjadi teroris dunia dari dulu hingga saat ini, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa kelompok-kelompok teroris sangat erat dengan operasi yang direkayasa bentukan AS. Isu ISIS dan kemudian disuntikkan untuk dipromosikan melalui negara-negara setengah jajahannya seperti di Indonesia untuk menjadikan ISIS sebagai musuh bersama. Dengan demikian, AS yang notabenenya sebagai lembaga dewan kemanan PBB mendapatkan legitimasi untuk memperkuat kerjasama di bidang militer di seluruh Negara-negara atau bahkan  berkesempatan mendirikan pangkalan-pangkalan militernya.

Kemudian Jokowi menyebutkan bahwa Word Bank, IMF dan ADB tidak penting bagi Negara Asia Afrika, sama halnya dengan kata-kata manis yang membuat orang-orang terbuai dengan lagak tegasnya. Namun kenyataan dalam program resmi RPJM 2015-2019 yang diterbitkan pemerintah, Jokowi memproyeksikan pinjaman lunak untuk pembangunan infrastuktur ke Word Bank senilai US$ 1,2 Miliar. Sementara pinjaman ke  ADB senilai US$ 559,2. Jadi, semakin jelas bahwa omongan ini hanya bahasa kebohongan yang digembor-gemborkan oleh Jokowi tanpa malu.

Sementara Isu dukungan kemerdekaan Palestina yang diangkat dalam pidato Jokowi , juga sebatas formalitas tanpa adanya tindakan konkrit semacam menggalang dukungan atau bahkan mengkritik Israel maupun AS sebagai pihak yang paling bertanggung-jawab atas penjajahan di Palestina. 

Jokowi mendapatkan pujian dari Kepala Negara imperialisme Jepang saat menyindir lembaga PBB untuk segera direformasi. Namun pada hakekatnya Jokowi tidak akan berdaya untuk melawan keistimewaan negara-negara imperialisme khususnya AS yang memegang kendali penuh atas PBB sebagai alat instrumennya untuk mendikte seluruh bidang yang menguntungkan pihak imperialisme AS, mulai dari hak veto hingga mampu mengatur skema monopoli perdagangannya. 

Oleh karena itu, berdasarkan paparan di atas kami dari Pimpinan Pusat Front Mahasiswa Nasional (PP FMN) menyampaikan secara tegas bahwa Pidato Jokowi dalam pembukaan KAA ke-60 tidak lebih hanya sebuah KEBOHONGAN BESAR untuk MENGILUSI Rakyat di tengah kritikan atas penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika yang menjadi forum untuk melayani kepentingan imperialisme khususnya AS oleh Jokowi. Konferensi Asia Afrika bukan untuk imperialisme, namun Konferensi Asia Afrika untuk mengenyahkan imperialisme menuju Negara Asia Afrika dan Indonesia yang berdaulat dan mandiri sepenuhnya. #JokowiBerbohong

23 April 2015

Hormat Kami,
PIMPINAN PUSAT
FRONT MAHASISWA NASIONAL



Rachmad P Panjaitan
Ketua

Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger