Headlines News :
Home » » FMN Hari Pendidikan Nasional 2015

FMN Hari Pendidikan Nasional 2015

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Jumat, 01 Mei 2015 | 22.08



Pemuda Mahasiswa Berjuang: Lawan Segala Bentuk Komersialisasi, Liberalisasi, dan Privatisasi Pendidikan.


Pendidikan merupakan proses dialektika dalam kehidupan manusia, dimana pendidikan memiliki peranan yang teramat penting. Pendidikan berguna sebagai alat untuk memajukan taraf kebudayaan rakyat yang mencerahkan dan  mampu  menjawab persoalan yang dialami masyarakat. Dalam abad pertengahan di dunia, pendidikan masih dianggap tabu dan dilarang perkembangannya. Kebenaran-kebenaran ilmiah yang lahir dari eksperimen-eksperimen serta sistem sosial masyarakat, dianggap sebagai sebuah pemberontakan terhadap kekuasaan raja yang disebut-sebut sebagai perwakilan Tuhan. Copernicus, Galilea galieo, menjadi ilmuwan sains yang dibungkam semasa itu. Mereka dianggap telah menyimpang dari ajaran-ajaran kekuasaan Raja. Keabsolutan  penguasa masa itu, menjadi salah-satu faktor pendorong lahirnya perjuangan atas kemerdekaan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan hingga saat ini.

Perkembangan  ilmu pengetahuan, teknologi yang terbungkus dalam pendidikan saat ini, menjadi sangat berguna untuk kemajuan peradaban masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegera. Hal ini diyakini, bahwa pendidikan mempunyai semangat memanusiakan manusia, yang artinya pendidikan menjadi instrumen yang mampu membebaskan umat manusia membangun peradaban yang maju dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Berangkat dari semangat inilah Indonesia pada penyusunan landasan negara berupa UUD 1945, menitikberatkan salah-satunya tentang penyelenggaraan pendidikan oleh Negara. Pendidikan dijadikan sebagai salah-satu tujuan kelahiran negara Indonesia, yang bertujuan Mencerdaskan Kehidupan Bangsa.

Akan tetapi, kenyataannya pendidikan di Indonesia mulai dari masa politik etis 1870 hingga saat ini, masih mengalami penyimpangan atas filosofi pendidikan yang mencerahkan dan membebaskan. Pendidikan saat ini, masih saja menjadi alat legitimasi Penguasa untuk memperkuat kebijakan-kebijakan yang kerap bertolak belakang dengan aspirasi rakyatnya. Kebijakan-kebijakan pemerintah di bidang ekonomi, politik, hukum, budaya, militer yang melibatkan akademisi-akademisi, malah sangat jarang bermanfaat untuk kemajuan masyarakatnya. Contohnya saja; terkait 2 kesaksian Prof. UGM yang melegitimasi pembangunan pabrik semen di rembang. Padahal dari hasil studi independen masyarakat, pabrik semen ini akan berdampak sosial mulai dari hilangnya sumber air untuk keperluan air minum, irigasi atau bahkan ancaman perampasan tanah masyarakat. Jadi, sangat wajar ibu-ibu rembang datang menggeruduk UGM atas kesaksian Profesornya yang tidak berpihak pada masyarakat, hingga bergulir gerakan “UGM Minta Maaf” dari mahasiswa-mahasiswa UGM sendiri.

Dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap 02 Mei 2015, tentu dapat menjadi refleksi kita bersama untuk menilai seberapa jauh relevansi pendidikan di Indonesia yang berguna untuk kemajuan bangsa dan negara. Jika melihat pendidikan di bawah pemerintahan Jokowi-JK hingga lebih 1 semester ini, ternyata wajah pendidikan di Indonesia tidak jauh berbeda. UU Pendidikan Tinggi masih tetap menjadi payung hukum di Perguruan tinggi. Alhasil, praktek komersialisasi, liberalisasi dan privatisasi dalam perguruan tinggi, masih terus berlanjut hingga saat ini. Turunan dari UU DIKTI berupa sistem pembayaran UKT, tercatat paling banyak menimbulkan persoalan dalam peguruan tinggi dalam kurun waktu 2 tahun ini.  Dalih ingin meningkatkan akses pendidikan melalui subsidi silang, ternyata pada realitanya di kampus-kampus yang sudah menerapkan UKT malah merasakan kenaikan biaya pendidikan tinggi dari tahun ke tahun hampir 100%. Selain itu, UKT dirasa melahirkan sistem pengkastaan yang diskriminasi akibat sistem penggolongan dalam pembayaran. Tentu ini bertentangan dengan semangat pendidikan yang tertulis dalam UUD 1945, bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara. Artinya pendidikan tidak dapat dibeda-bedakan berdasarkan latar belakang status sosial mahasiswa.

Kemudian sudah menjadi rahasia umum, bahwa pemerintahan mempunyai kepentingan yang kuat untuk mengubah sistem pengelolahan keuangan kampus yang sama halnya dengan perusahaan. Kampus yang dari nirlaba, terus didorong untuk menjadi lembaga profit. Selain, pungutan mahasiswa dan orang tua mahasiswa, kampus membuka ruang untuk menghadirkan investor-investor dalam negeri ataupun luar negeri, agar menanamkan modalnya di kampus-kampus Indonesia. Tentu hal ini akan semakin merongrong pendidikan tinggi di Indonesia yang jauh dari amanat UUD 1945.  Kini, pendidikan mahal masih menjadi coretan dinding bagi rakyat di atas kemegahan kampus-kampus di Indonesia.

Sementara program wajib belaar 12 tahun Jokowi-JK, juga masih belum terbukti berjalan. Walaupun sekolah-sekolah di beberapa wilayah telah menerapkannya, namun esensinya  masih dipungut biaya-biaya. Dan kita harus ingat, bahwa ketika wajib belajar 12 tahun ingin diterapkan di seluruh wilayah NKRI, maka Jokowi-JK harus mengubah UU Sisdiknas No.20 tahun 2003 yang masih mengacu pada wajib belajar 9 tahun. namun, hingga saat ini untuk merevisi UU Sisdiknas No.20 Tahun 2003, belum ada terdengar dari Jokowi-JK. Sedangkan persoalan lain seperti UN, carut marut Kurikulum 2013, kebebasan berdemokrasi di lingkungan akademik, masih mewarnai di dunia pendidikan di Indonesia.

Maka, dalam Peringatan Hardiknas 2 Mei 2015 ini, kami menegaskan kembali, bahwa Negara harus hadir  sepenuhnya untuk bertanggung jawab atas penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Di bawah pemerintahan Jokowi-JK yang telah berlangsung lebi 1 semester, namun perubahan atas dunia pendidikan di Indonesia tidak juga dirasakan rakyat. Malahan Pendidikan semakin mahal yang berbanding lurus dengan semakin sempitnya akses rakyat atas pendidikan. kami juga menolak komersialisasi, liberalisasi dan privatisasi di dunia pendidikan, karena pendidikan bukanlah barang dagangan. Tapi, pendidikan adalah hak rakyat. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2015. 

02 Mei 2015

Hormat kami,
PIMPINAN PUSAT FRONT MAHASISWA NASIONAL



Rachmad P Panjaitan
Ketua 
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger