Headlines News :
Home » » Hari Musik Se-Dunia 21 Juni 2015

Hari Musik Se-Dunia 21 Juni 2015

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Senin, 22 Juni 2015 | 02.20



Wujudkan Musik Sebagai Seni Budaya yang mendukung Perjuangan rakyat Melawan Rejim anti Rakyat Jokowi-JK
“Kemarahan, ekspresi dalam bermusik adalah Hadiah untuk melawan PenguasaTirani – Zach De La Rocha (Vokalis RATM)

Musik merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Melalui music manusia dapat berkarya dan menunjukkan kebebasan ekspresinya. Musik sejatinya adalah upaya manusia untuk mengungkapkan kesadaran sosialnya di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dalam perkembangannya, music menjadi bagian seni dan budaya yang berkembang dalam masyarakat. Hal ini dapat dibuktikan dari sederet penemuan para arkeolog dan peninggalan alat musik tradisional dari berbagai bangsa di dunia. Ini membuktikan bahwa sejak dahulu, manusia telah mengembangkan musik sebagai bentuk ekspresinya, protesnya untuk menggambarkan kehidupan manusia.

Dewasa ini music hanya dikenal menjadi sebuah seni yang tidak mempunyai nilai-nilai untuk menggambarkan perjuangan masyarakat. Music hanya mengembangkan aspek artistic ala liberal maupun feudal, yang bertujuan untuk membangun kesadaran ataupun kebudayaan yang mempertahankan tradisi kolot, individual, dan anti social. Selain itu, music diorientasikan untuk kepentingan komersil yang menghasilkan semata-mata profit bagi pengusaha-pengusaha industry music. Sehingga music yang merupakan bagian seni dan budaya yang awalnya menyuarakan kesadaran social semakin kehilangan orientasi.

Sementara secara umum, lahirnya genre music di dunia adalah bentuk protes yang diekspresikan dalam sebuah harmonisasi lirik lagu dan alat music.Sebut saja beberapa genre yang kemudian berkembang pesat dan digandrungi oleh banyak orang serta memiliki daya dobrak dan kritik terhadap kondisi sosial yang  sedang  berjalan seperti , Reggae, Jazz, Punk dan sebagainya. Sebagaimana music Jazz yang sekarang ini banyak dianggap genre yang diperuntukkan bagi kalangan pengusaha-pengusaha maupun tuan tanah. Padahal sementara genre Jazz lahir sebagai bentuk protes kulit hitam di AS untuk melawan penindasan yang dilanggengkan kapitalis dan Negara. Demikian Reggae yang diidentikkan dengan style gimbal ditambah dengan marijuana. Padahal genre Reggae lahir dari tanah Jamaika yang ditujukan untuk melawan penindasan colonial yang merampas sumber daya alam serta mendiskriminasikan kulit hitam di Jamaika.

Demikian perkembangan music di Indonesia yang ikut serta pula menjadi alat seni dan budaya untuk mendukung pembebasan rakyat Indonesia.Semenjak masa colonial Belanda Indonesia hingga Revolusi 1945, lagu-lagu perjuangan telah membakar semangat rakyat Indonesia untuk melawan colonial Belanda. Lagu seperti; 12 November, Indonesia raya, Maju tak gentar, Halo-halo Bandung, dan sebagainya, menjadi produk music yang mengabdi kepada pembebasan rakyat Indonesia.

Sementara pentingnya peranan musik dalam kehidupan manusia inilah yang kemudian melahirkan ide untuk mendeklarasikan hari musik sedunia. Hal ini dimulai oleh musisi asal Amerika bernama Joel Cohen pada tahun 1976 yang mengadakan pementasan musik sepanjang hari tanpa jeda, yang kemudian mengusulkan untuk dideklarasikannya hari musik sedunia pada 21 Juni. Semenjakitu, tanggal 21 JunidijadikansebagaiperingatanHari music dunia. Akan tetapi, yang menjadi perhatian bagi kita bahwa sesungguhnya orientasi music saat ini telah mengalami pergeseran dari seni kebudayaan rakyat menjadi alat hegemoni bagi imperialism untuk menanamkan system yang menghisap dan menindas.

Pasca perang dunia II, AS muncul sebagai pimpinan tunggal dari imperialisme dunia. Skema penjajahan gaya baru yang dilakukan oleh imperialisme AS tentunya tidak luput dalam aspek budaya, khususnya musik. Perkembangan musik sebagai alat perlawanan rakyat membuat kubu imperialisme harus menyajikan musik tandingan untuk meredam kebangkitan musik perjuangan dan perlawanan rakyat. Perkembangan musik yang dilahirkan oleh kebudayaan imperialis AS kemudian dikenal dengan musik Pop. Musik Pop lahir beriringan dengan perkembangan dan penemuan teknologi rekam oleh Thomas A Edison. Perkembanganya pertama kali terjadi di Inggris dan kemudian berkembang ke benua Eropa dan Amerika. Musik Pop sebagai genre penghibur dan sebatas cerminan dari perasaansaja yang menanamkan nilai-nilai humanis dan cinta ala liberal AS. Sehingga pada perkembangannya, musik Pop terus dimodifikasi dan diarahkan untuk berkembang keseluruh dunia termasuk Indonesia yang saat ini sangat mempopolerkan Pop untuk menindabobokan masyarakat khususnya pemuda agar tidak produktif dan jauh dari kenyataan sosial.

Perkembangan industri musik juga tidak lagi sebagai hasil karya seni dan kebudayan manusia. Monopoli Label dunia seperti, Warner, Sony, Universal, EMI, yang menguasai lebih dari setengah industri musik dunia adalah bukti nyata bahwa musik kini telah menjadi komoditas dan segala bentuk serta isinya ditentukan oleh keinginan modal milik kapitalis monopoli.

Musik di Indonesia juga  menjadi bagian konstruksi kebudayaan dalam menopang kepentingan imperialisme, feodalisme, dan kapitalis birokrat. Bersama dengan perusahaan nasional bidang industry musik, rejim Jokowi-JK masih saja memproduksi musik-musik yang di luar kenyataan kehidupan rakyat kaum tani, klas buruh, miskin perkotaan, pemuda mahasiswa dan sebagainya. Artinya musik yang hadir terus ditujukan untuk menanamkan nilai-nilai yang anti rakyat, anti kritis dan anti kenyataan. Tidak ada orientasi musik di Indonesia untuk menguak hingga mengkritik keadaan dan penindasan yang dialami oleh rakyatnya. Maka dapat dilihat mulai dari genre pop hingga music dangdut hanya berceritakan kisah cinta yang membuat rakyat “terhanyut” dan cenderung bertindak liberal.

Berkaca dari fenomena perkembangan music dan khususnya kaitannya bagi pemuda mahasiswa yang erat dengan music, harus mampu memproduksi music-musik yang mengangkat realitas social mulai dari kehidupan klasburuh, kaum tani, mahasiswa yang masih ditindas oleh 3 musuh rakyat Indonesia. Oleh karena itu, FMN harus mampu mengoperasionalkan group-group musiknya untuk menyebarkan music sebagai alat seni dan budaya yang mendukung pembebasan rakyat Indonesia dari penghisapan dan penindasan yang dijalankan oleh rejim Jokowi-JK untuk melayani imperialism AS dan feodalisme di Indonesia.

21 Juni 2015,
PIMPINAN PUSAT
FRONT MAHASISWA NASIONAL



Symphaty Dimas

Ka.Dept Pendidikan & Propaganda
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger