Headlines News :
Home » » Ijazah Palsu Semakin Mencoreng Wajah Pendidikan di Indonesia

Ijazah Palsu Semakin Mencoreng Wajah Pendidikan di Indonesia

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Minggu, 07 Juni 2015 | 01.36




Ijasah Palsu menjadi gambaran buruknya pendidikan di Indonesia

Perkembangan pendidikan Indonesia sejak zaman kolonial hingga saat ini telah berjalan sangat panjang. Seharusnya itu menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia agar mampu membentuk sistem pendidikan nasional yang ilmiah, demokratis dan berguna bagi rakyat.  Akan tetapi, kenyataannya perkembangan dunia pendidikan di Indonesia masih saja mengalami berbagai polemik. Permasalahan-permasalahan di dunia pendidikan tersebut, semakin mengikis dan menghilangkan tujuan pendidikan Indonesia untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Saat ini,  di bawah pemerintahan Jokowi-JK yang telah memimpin Indonesia  selama ± 7 bulan, belum sama sekali menunjukkan adanya perubahan yang siknifikan di dalam dunia pendidikan Indonesia. Pada saat ini, justru permasalahan di dunia pendidikan semakin banyak dan rumit saja.  Sehingga pendidikan saat masih terus diorientasikan sebagai alat memproduksi ilmu pengetahuan yang tidak ilmiah dan anti terhadap rakyat. Hal ini juga beririsan kuat dengan semakin mahalnya biaya pendidikan, khususnya pendidikan tinggi Indonesia. Seperti kita ketahui bahwa saat ini biaya pedidikan berkisar antara Rp 500.000 hingga Rp 23.000.000.

Permasalahan pendidikan terus berlanjut seperti penerapan Kurikulum ganda (Kurikulum 20013 dan KTSP 2006), kisruh UN kecurangannya, Moratorium dan ilusi menaikkan tarif UKT, hingga yang terbaru adalah persoalan maraknya kasus Ijazah palsu di Indonesia.

Dan belakangan ini, kita disuguhkan dengan berbagai berita kasus ijasah palsu di berbagai daerah. Tentu ini semakin memperburuk kualitas pendidikan di Indonesia melalui ijasah palsu yang didapat melalui bisnis jual beli oleh institusi pendidikan perguruan tinggi maupun institusi ilegal yang berkedok Perguruan tinggi. Padahal Ijazah merupakan tanda bukti legal bagi individu yang telah menyelesaikan suatu proses pendidikan dalam suatu institusi pendidikan dan telah dinyatakan lulus/tamat. Ijazah dengan demikian memiliki arti penting dalam dunia pendidikan karena dengan ijazah juga menjadi salah-satu bentuk apresiasi atas kelulusan peserta didik setelah mengecap dunia pendidikan yang bergelut dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membangun masyarakat Indonesia yang mandiri dan berdaulat.  Oleh karena  itu, seharusnya institusi pendidikan mampu mendefenisikan ijasah bukan menjadi sebuah simbolis, namun menjadi sebuah hal prestasi bagi lulusan peserta didiknya.

Institusi pendidikan memiliki tanggung jawab sebagai sarana untuk mempertinggi kebudayaan bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan memproduksi ilmu pengetahuan dan tenaga-tenaga intelektual yang cakap dan berorientasi mengabdi pada rakyat. Oleh karena peran yang demikian penting tersebutlah, sistem pendidikan yang dijalankan dan diterapkan dalam suatu negara haruslah ilmiah dan sesuai dengan kepentingan rakyat, sehingga sistem pendidikan yang diterapkan oleh setiap institusi pendidikan haruslah mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dari peserta didik dan mampu menjawab segala permasalahan yang dialami oleh rakyat. Hal ini berlaku tidak terkecuali dalam negara Indonesia.

Indonesia yang sejatinya adalah negara yang memiliki tujuan dan cita-cita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan. Namun, hingga kini rejim Jokowi-JK masih masih mengorientasikan untuk melanggengkan sistem usang setengah jajahan setengah feodal. Oleh karena itu kurikulum yang dijalankan di Indonesia juga sudah barang tentu dibuat sedemikian rupa untuk membentuk dan menyesuaikan dengan kebutuhan dan kepentingan dari imperialis dan tuan tanah. Hal ini yang melahirkan pendidikan di Indonesia yang anti ilmiah. Salah satunya tercermin dari permasalahan yang belakangan sedang mengemuka yaitu jual beli ijazah palsu

Ijasah Palsu adalah Dampak  Komersialisasi dan Anti Ilmiahnnya Kampus

Polemik maraknya kasus ijazah palsu saat ini, semakin membuktikan bahwa kondisi pendidikan Indonesia sedang dalam permasalahan besar. Padahal hakekatnya, pendidikan bertujuan untuk membentuk nilai-nilai luhur masyarakat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian pendidikan yang ada di Indonesia  akan mengabdi untuk membangun kehidupan masyarakat yang mandiri dan berdaulat.  Namun dengan adanya ijasah palsu malah semakin mencoreng institusi pendidikan. Dimana institusi-instusi pendidikan khususnya perguruan tinggi malah terlibat praktek mengeluarkan ijasah palsu. Motif ijasah palsu yang diperjualbelikan di kampus-kampus yang terdaftar maupun tidak terdaftar (ilegal), adalah menjadi bisnis untuk meraup keuntungan puluhan hingga ratusan juta berdasarkan tingkatan kelulusan baik strata maupun diploma.  Bisnis jual beli ijasah palsu yang merebak di berbagai kota saat ini,  tentu sangat erat kaitannya dengan praktek komersialisasi yang dilanggengkan di dunia pendidikan itu. Karena komersialisasi menjadikan pendidikan hanya untuk mengejar gelar semata saja  sebagai modal untuk urusan bekerja dan prestile di tengah masyarakat. Sehingga perguruan-perguruan tinggi tidak lagi menjadi pusat untuk mengembangkan teori dan praktek yang berguna bagi  kehidupan rakyat.

Dan yang menjadi pengguna ijasah palsu ironinya banyak dari unsur-unsur kepala daerah hingga akademisi maupun pejabat kampus. Dan berita ijasah palsu ini juga ternyata dituduhkan juga pada Menteri pariwisata kabinet Kerja Jokowi-JK. Ini sungguh preseden buruk bagi pemerintahan Jokowi-JK, yang selalu menyebutkan dirinya sangat selektif dalam memilih pejabat negara.

Ijasah palsu dengan Jual beli ijazah tentunya adalah suatu tindakan yang anti terhadap keilmiahan dalam institusi pendidikan. Ijazah palsu ini menjadi cerminan betapa buruknya sistem pendidikan Indonesia yang dijalankan institusi pendidikan. Institusi pendidikan dengan mudah melakukan proses jual beli ijazah palsu juga terjadi dikarenakan minimnya pengawasan dari pemerintah.

Demikian perkembangannya, pemerintah justru menyerahkan kasus ijazah palsu kepada pihak kepolisian. Sebagaimana kita ketahui bahwa ijasah palsu yang berkembang saat ini telah ada sejak lama. Permasalahan ini pun akan terus berulang-ulang apabila pendidikan masih saja mempraktekkan komersialisasi di dunia pendidikan. Yang seharusnya dilakukan adalah melakukan evaluasi total terhadap pendidikan yang bebas dari komersialisasi dan kemudian mengembalikan pendidikan menjadi hak setiap warga Negara. Selain komersialisasi yang mendorong ijasah palsu adalah pendidikan non-ilmiah. Karena Pendidikan yang saat ini hanya  membentuk karakter individu, pragmatis, anti ilmiah, liberal. Sehingga banyaknya yang menggunakan ijasah palsu dari kalangan pemerintah, akademisi bertujuan untuk mengejar jabatan atau gelar  dengan menghalalkan segala cara. Oleh karena itu, ijasah palsu akan tetap menjadi salah-satu borok pendidikan di Indonesia apabila praktek komersialisasi dan pendidikan bersifat non-ilmiah, masih tetap dipertahankan di Indonesia.
Lawan Ijasah Palsu, Lawan komersialisasi dan anti keilmihan pendidikan !

Symphaty Dimas
Ka. Dept Pendidikan dan Propaganda
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger