Headlines News :
Home » » Kenaikan kebutuhan Pokok setiap bulan Ramadhan bukanlah Kewajaran

Kenaikan kebutuhan Pokok setiap bulan Ramadhan bukanlah Kewajaran

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Kamis, 25 Juni 2015 | 03.16





Kembali Memaknai Bulan Ramadhan dan Ibadah Puasa
Bulan Ramadhan tentunya merupakan momentum yang selalu dinanti-nantikan oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia. Demikian pula umat muslim Indonesia yang selalu menyambut bulan Ramadhan dengan hati dan pikiran yang bersih nan suci.  Bulan Ramadhan adalah bulan yang selalu diyakini sebagai bulan yang penuh dengan kesempatan memperbaiki diri dan upaya untuk meningkatkan kualitas diri.

Ibadah puasa yang dilakukan pada bulan ramadhan merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam. Definisi pegertian puasa secara bahasa adalah menahan diri dari perbuatan hawa, nafsu. Sedangkan secara syariah puasa merupakan menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa dari sejak terbit fajar shadiq hingga terbenamnya matahari.

Bulan puasa disebut juga sebagai bulan tarbiyah (pendidikan),  sekurang-kurangnya ada enam nilai pendidikan yang terkandung dalam puasa ramadhan[1]pertama,puasa mengembangan kecerdasan jiwa ( melawan subjektif). Puasa mendidik manusia agar dapat mengendalikan diri untuk melawan subjektif pada diri manusia yang masih mempunyai sifat-sifat negatif. Bentuk subjektif yang dimaksud adalah melawan hawa nafsu manusia yang mengedepankan prinsip keinginannya sendiri untuk kesenangan dirinya sendiri. Orang yang seperti ini digambarkan dalam Al-Quran tergolong mempunyai kecerdasan yang rendah (QS. At-Tin: 5). Kedua, puasa mendidik kejujuran. Orang yang berpuasa akan menahan rasa lapar, haus serta hal-hal yang membatalkan puasa dengan penuh kesadaran tanpa ada yang mengawasinya. Hubungan antara nilai puasa dengan sikap jujur menjadi pelajaran penting bagi kita dalam menjalani segala aktivitas. Sikap jujur yang dimiliki manusia dapat melahirkan sebuah tatanan masyarakat yang adil. Ketiga, puasa mendorong kita untuk senantiasa belajar dalam memahami ilmu pengetahuan dan teknologi. Keempat, puasa mendidik kesetaraan. Sebagaimana umat manusia dalam perkembangan masyarakat, senantiasa berjuangan untuk kesetaraan untuk menghapuskan diskriminasi serta penghisapan manusia atas manusia. Kelima, puasa mendidik kita bersikap disiplin. Dalam berpuasa kita diajari untuk meningkatkan kedisiplinan diri dalam menjalankan  kehidupan dalam bermasyarakat. Dan keenam, puasa mendidik kesabaran. Oleh Karen itu, Puasa mengajarkan nilai-nilai tarbiyah yang seyogyanya mempunyai kesamaan dengan sikap hidup aktivis massa yang kita pegang teguh. Melawan subjektif, jujur, disiplin, menjungjung kesetaraan, sabar, belajar merupakan bagian sikap dari aktivis massa yang selalu kita terapkan dalam menjalankan kerja massa atau kehidupan sehari-hari.

Penyebab Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok di Bulan Puasa
Pada momentum puasa kali ini rakyat Indonesia kembali dirundung masalah yang sepertinya menjadi kelumrahan, yaitu kenaikan harga kebutuhan bahan pokok. Fenomena kenaikan harga kebutuhan bahan pokok menjadi persoalan yang terus membayangi kehidupan rakyat Indonesia menjelang puasa hingga lebaran. Fenomena ini tak terkecuali hadir pada masa kepemimpinan rejim Jokowi-JK kali ini yang sempat menjadi harapan rakyat sebagai pemimpin yang peduli kepada nasib rakyat Indonesia. Namun, citra rejim Jokowi-JK sebagai rejim yang populis semakin hari semakin terkikis di hadapan rakyat Indonesia. Bagaimana tidak, rakyat mulai kecewa kepada rejim Jokowi-JK yang kian hari memperlihatkan watak aslinya, sebagai pemerintahan yang mengeluarkan kebijakan yang anti rakyat. Bahwa Jokowi-JK semakin menunjukkan keberpihakannya sebagai kaki tangan imperialis AS. Kebijakan pencabutan subsidi, kenaikan harga BBM-TDL, bertambahnya Utang luar negeri, berkuasanya investasi asing di Indonesia, semakin mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan, tindakan refesifitas,  menjadi bukti yang semakin hari semakin menyengsarakan rakyat Indonesia.

Saat rakyat Indonesia khususnya umat islam dengan gegap-gempita menyambut bulan Ramadhan menjalankan ibadah puasa, rejim Jokowi-JK malah kembali mengeluarkan kebijakan yang anti rakyat, yaitu kembali menaikan harga kebutuhan bahan pokok. Kebijakan ini tentunya sangat bertentangan dengan kehendak rakyat Indonesia yang ingin menikmati bulan ramadhan dengan baik dan hikmat. Pemerintah justru semakin memperberat hidup rakyat Indonesia dengan kebijakan tersebut.

Di pasar-pasar Indonesia, beberapa sembako yang mengalami kenaikan antara lain minyak goreng yang sebelumnya seharga Rp 11.500,- kini menjadi Rp 15.000 per kilogram, sementara Gula Pasir melonjak dari Rp 10.000 menjadi Rp 12.300, per kilogram. Telur ayam juga kembali mengalami kenaikan, dari Rp 22.000,- menjadi Rp 22.500.- .

Sementara Cabai juga mengalami kenaikan harga.  Jenis Cabai Merah Keriting dari Rp 27.000,- menjadi Rp 30.000,- per kilogramnya. Sementara, jenis Cabai Merah Besar naik dari Rp 32.000,- menjadi Rp 42.000,- per kilogram. Cabai Jenis Rawit Merah pun naik, dari Rp 28.000,- menjadi Rp 30.000,- per kilogram. Bawang merah juga mengalami kenaikan hingga mencapai angka Rp 38.000,- per kilogram. Untuk Bawang Putih mengalami kenaikan dua kali lipat dari Rp 6.000,- menjadi Rp 12.000,- per kilo nya. Sedangkan harga merica yang tadinya berkisar di harga Rp 200.000,- kini mencapai Rp 220.000,- per kilogramnya. Demikian juga dengan kebutuhan pokok jenis daging yang mengalami kenaikan. Daging Sapi naik signfikan dari Rp 91.000,- hingga menyentuh angka Rp 98.000,- per kilogramnya. Sementara untuk daging Ayam naik dari Rp 28.000,- menjadi Rp 38.000,- per ekor.

Kenaikan harga yang begitu signifikan ini tentunya merupakan imbas dari serentetan kebijakan pemerintah yang anti terhadap rakyat. setidaknya ada beberapa poin pokok mengapa saat ini harga kebutuhan bahan pokok kembali naik dan mencekik rakyat. Pertama; tidak berdaulatnya petani untuk memenuhi kebutuhan pokok di Indonesia. Sehingga di saat bulan Ramadhan dengan kenaikan permintaan kebutuhan pokok, dijawab dengan peningkatan impor dari luar negeri. Tentu monopoli oleh Negara dan perusahaan besar penyedia pangan seperti; Cargil, Musanto, Nestle hingga Bulog, meraup keuntungan dari permintaan pasar yang meningkat. Sehingga kenaikan kebutuhan pokok ini menjadi momentum bagi Negara dan Perusahaan besar untuk meraup keuntungan yang besar dari rakyat Indonesia.  Kedua; kenaikan harga BBM dan mekanisme penentuan harga BBM pada pasar internasional. Hal ini menjadi salah-satu factor yang mempengaruhi perekonomian di Indonesia menjadi tidak stabil. Hal ini secara langsung mempengaruhi naiknya ongkos produksi baik industri maupun sektor pertanian, yang secara otomatis pula menaikan harga kebutuhan hidup rakyat. Ironinya,  kenaikan harga ini tidak diimbangi dengan kenaikan upah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Ketiga; Rendahnya pengawasan Pemerintahan Jokowi-JK mengontrol harga-harga kebutuhan pokok di pasar. Karena jelas bahwasan Negara terlibat aktif pula meraup keuntungan di momentum bulan ramadhan ini. Selain itu, Negara masih berpihak pada perusahaan-perusahaan besar untuk melindungi menaikkan kebutuhan pokok yang membebani rakyat.

Turunkan harga-harga Kebutuhan Pokok, Pemerintah harus berpihak pada rakyat
Kenaikan harga kebutuhan pokok di saat bulan ramadhan bukanlah menjadi kewajaran yang harus diterima rakyat. Kondisi ini bukanlah menjadi kado bagi masyarakat ataupun kaum tani sebagaimana disebut Jusuf Kalla. Motif kenaikan harga kebutuhan pokok di bulan ramadhan hanya menjadi akal-akalan dari kepentingan Negara dan perusahaan besar untuk meraup keuntungan yang lebih besar lagi dari rakyat. Sehingga Nampak bahwa Negara yang dipimpin oleh Jokowi-JK ini hanya mengedepankan kepentingan klasnya dengan mengorbankan rakyat. Aspirasi rakyat atas keadaan ini ialah segera TURUNKAN kebutuhan pokok agar tidak semakin membuat rakyat menderita. Sehingga seluruh rakyat Indonesia bisa menjalankan ibadah puasanya dengan khidmat dan baik.

25 Juni 2015

Badarudin
Sekjend PP FMN


[1] M. Syukron Maksum, Kedahsyatan Puasa, Jadikan Hidup Penuh Berkah, Pustaka Marwa, Yogyakarta, 2009
v
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger