Headlines News :
Home » » Hari Masyarakat Adat Sedunia 09 Agustus 2015

Hari Masyarakat Adat Sedunia 09 Agustus 2015

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Minggu, 09 Agustus 2015 | 05.33


“Lawan Segala Bentuk Perampasan dan Monopoli Tanah Adat yang dilanggengkan Negara”

Masyarakat Adat Dunia Semakin Terusir
09 Agustus merupakan momentum khusus bagi masyarakat adat di seluruh dunia. Pasalnya tanggal tersebut merpakan momentum yang dijadikan sebagai hari masyarakat adat seluruh dunia. Hal ini berkaitan dengan pertemuan pertama PBB untuk masyarakat adat pada 1982 di Jenewa Swiss, yang ditindaklanjuti pada deklarasinya 09 Agustus tahun 1994. Masyarakat adat dunia yang tersebar di negara-negara, telah menegaskan bahwa tanah menjadi sumber penghidupan di komunitas mereka. Selain itu, tanah, alam, hutan telah menjadi rumah sekaligus adanya seperangkat nilai-nilai atau adat istiadat yang telah turun-temurun didapatkan dari nenek moyangnya. Masyarakat adat di dunia mempunyai sebuah entitas yang kuat yang berkorelasi dengan akses atas tanah sebagai sumber penghidupannya. Sehingga tanah menjadi instrument utama yang telah memberikan corak/adat istiadat bagi seluruh masyarakat adat di negara-negara dunia.
Bagi masyarakat adat, bahwa tanah menjadi hidup mati yang menentukan eksistensi komunitasnya untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus mempertahankan nilai-nilai luhur yang mereka yakini dan jalani.
Akan tetapi dalam perkembangan masyarakat dunia, telah terjadinya praktek penghisapan dan penindasan semenjak system masyarakat  perbudakan hingga zaman imperialism saat ini. Sistem ini menunjukkan praktek perampasan dan monopoli atas sumber-sumber kehidupan manusia, yang membuat umat manusia mengalami keterasingan atas alam dan masyarakat. Dmeikian pula dengan masyarakat adat yang semakin terasing atau mengalami penggusuran akibat kerakusan dari masa ke masa. Hingga saat ini, masyarakat adat semakin mengalami penghilangan atas hak-haknya. Mereka kerap mendapatkan penggusuran atas tanahnya akibat praktek imperialism khususnya AS yang ingin memonopoli tanah dan alat produksi sebagainya.
Sebut saja suku Aborigin. Aborigin merupakan suku atau kelompok masyarakat yang sebenarnya menemukan pertama kali benua Australia, kurang lebih 70.000 tahun yang lalu. Kemudian suku Aborigin meninggalkan Australia dengan menyebar ke berbagai daerah, terutama daerah pantai dan daerah dengan curah hujan yang cukup untuk kesuburan tanahnya. Namun kondisi yang bersatu dan melekat dengan alam tersebut menjadi terbalik saat Cook, seorang kewarganegaraan Inggris berlabuh di Australia pada tahun 1770. Pelayaran tersebut ditujukan untuk mencari wilayah-wilayah baru bagi kerajaan kolonial inggris. Wilayah tersebut akan digunakan untuk tempat eksploitasi sumber daya alam bagi kepentingan kolonialisme dalam memperbesar bisnis dan daerah kekuasaanya. Persinggungan antara kolonialis Inggris dan suku Aborigin tak pelak harus terjadi. Kolonialis Inggris dengan buasnya menjadikan suku Aborigin sebagai budak untuk melakukan setiap pekerjaan berat demi kepentingannya, seiring dengan perkembangannya suku tersebut terus melakukan pemberontakan atas kondisi yang dialaminya. Hal ini kemudian direspon oleh kolonial Inggris dengan melakukan penyiksaan, hingga pembantaian kepada suku Aborigin.  Pembantaian terhadap suku Aborigin terjadi dimulai pada 1806, puncaknya terjadi pada 1824-1908. Hal ini menjadi semakin parah ketika pada tahun 1851 di bagian barat Australia ditemukan tambang emas yang besar. tindakan pembantaian ini telah menewaskan setidaknya 10.000 jiwa suku Aborigin. Tidak selesai sampai disitu, sisa dari suku Aborigin pada awal abad 20 tetap mendapat perlakukan yang kejam dari pemerintah dan kolonial. Terkenal dengan Program Asimilasi, suku Aborigin dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan moderitas yang dibawa oleh kolonial. Ratusan ribu anak-anak suku dipaksa berpisah dari orang tua dan komunitasnya dan ibesarkan dalam lingkungan baru. Hal ini terus berlanjut hingga saat ini.
Gambaran singkat kondisi kesejarahan suku Aborigin ini membuktikan bahwa kolonialisme hingga imperialisme tidaklah berniatan baik kepada suku adat. Alhasil saat ini Australia adalah bagian negara yang paling setia untuk mengekor pada imperialisme AS. Australia saat ini justru menjadi bagian dari skema yang dibagun oleh imperialis AS untuk menjajah selurh belahan dunia, termask penjajahan dan penghisapan terhadap suku-suku adat untuk kepentingan kapitalis monopoli internasional di seluruh negeri.
Sejalan dengan nasib dari suku Aborigin, suku Indian di benua Amerika juga mengalami hal yang sama. Pengusiran dan pembantaian kerap dialami oleh  mereka sejak kedatangan kolonialis baik dari Spanyol maupun Inggris. Seorang misionaris Spanyol menggambarkan kondisi suku Indian di bawah penjajahan dan ekspansi dari Spanyol sebagai berikut:

"Suatu hari di depan Las Casas, orang-orang Spanyol memotong anggota badan, memenggal kepala, dan memperkosa sekitar 3000 (orang Indian). Kebiadaban dan barbarisme itu mereka lakukan tepat di depan saya, betul-betul tidak ada tandingannya dalam sejarah ... Mereka memotong kaki anak-anak yg mencoba kabur dari mereka. Mereka menumpahkan sup panas yg isinya ternyata (mayat) manusia. Mereka bertaruh siapa yg dapat memotong badan manusia dalam sekali ayunan pedang. Mereka lepaskan anjing yg kemudian mencabik Indian bagaikan babi hutan dalam waktu sekejap. Mereka umpankan bayi yg masih menyusu kepada anjing mereka tersebut"

tidak hanya itu, oleh kolonial Inggris suku indian juga mendapatkan penindasan dan penghisapan. Tujuan dari kolonial di Amerika adalah melakukan pengambilalihan seluruh tanah dan sumber daya di dalamnya untuk kepentingan kolonial. Keberlimpahan sumber daya alam dan kesuburan alamnya, adalah faktor utama dari kehadiran an segala tindakan kejam kolonial.

Kondisi Masyarakat Adat di Indonesia
Indonesia sebagai negara yang luas dan terdiri dari pulau-pulau, tentu didiami berbagai masyarakat adat yang jumlahnya sangat-sangatlah besar. Bahkan pergeseran stuktur masyarakat Indonesia dengan masuknya pengaruh modernisasi, masyarakat-masyarakat adat di Indonesia masih bertahan dengan nilai-nilai/adat istiadat diperoleh dari nenek moyangnya. Namun ironinya, kondisi masyarakat adat di Indonesia tidak jauh berbeda dengan nasib suku aborin maupun Indian yang terasing di negerinya. Di Indonesia, kondisi masyarakat adatnya tentu makin hari makintergusur. Pasalnya sejak kemerdekaan hingga rejim Jokowi-Jk saat ini, penghancuran atas masyarakat adat semakin nyata. Proyek MP3EI hingga pembangunan infrastuktur Jokowi-JK, telah menjadi gurita yang mengusir masyarakat adat dari tanahnya.

Masyarakat Indonesia seperti suku Anak Dalam di Jambi, suku Samin di Jawa, Suku Asmat di Papua, suku Dayak di Kalimantan, dan beribu sub suku lainnnya, masih terus tergerus, terusir akibat semakin masifnya perampasan dan monopoli atas tanah adat di Indonesia. Di Kalimantan misalkan, Pulau ini dihuni lebih dari 500 sub suku Dayak. Perkembanganya masyarakat adat disana terus terpinggirkan seiring dengan makin pesatnya pembukaan lahan sawit oleh perkebunan besar baik milik swasta, asing bahkan Negara. Saat ini, Jokowi-JK juga berencana terus menambah komplek perkebunan sawit skala besar di Kalimantan. Pemerintah sudah melakukan konsolidasi bersama pihak swasta baik dalam maupun asing untuk berkontribusi membangun perkebunan sawit di daerah tersebut. Sasaran pembangunannya adalah di sepanjang garis perbatasan dengan malaysia, khususnya di Kalimantan Barat dan Timur dengan rencana hingga jutaan Ha. Kebijakan pembukaan lhan-lahan baru untuk perkebunan skala besar, akan menjadi semakin ancaman semakin tergusurnya masyarat adat dayak di Kalimantan.
Tidak jauh berbeda dengan yang berada di ujung timur. Mega proyek  MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate) di selatan tanah Papua. MIFEE akan menghancurkan 2.823.000 juta hektar tanah rakyat yang sebagian besar hutan purba (virgin forest).[1] Jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk proyek pertanian skala raksasa ini adalah sekitar 6,4 juta orang—tiga kali lipat dari jumlah penduduk Papua yang saat ini berjumlah 2,1 juta jiwa. Program MIFEE diluncurkan pada tanggal 17 Januari 2010 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Slogan dari proyek ini adalah “Feed Indonesia and then the world” (Indonesia Berswasembada Pangan, Agar Bisa Mengatasi Krisis Pangan Dunia), namun para petani lokal berpandangan bahwa proyek tersebut akan merusak pertanian tradisional dan kedaulatan pangan di kawasan ini. Proyek MIFEE akan menyewakan tanah untuk selama 90 tahun.[2]
Pembangunan MIFEE  bukanlah untuk memenuhi kebutuhan pangan di Indonesia. buktinya, hingga pemerintahan Jokowi-JK ini, Indonesia malah semakin meningkatkan impor beras dari luar negeri. akan tetapi, MIFEE ini menjadi megaproyek pemerintahan yang memberikan kepada perusahaan Bin Laden Group dan AS untuk menguasai tanah dan bisnis pangan di Indonesia bahkan internasional. Akibat MIFFE ini, telah mengancam dan mengusir ratusan ribu atau setidak 19 masyarakat adat yang adi Merauke.
Kemudian yang rahasia umum lagi adalah, penghancuran masyarakat adat di Papua oleh PT. Frerport Indonesia. Semenjak beroperasi PT.PI tahun 1967, telah menimbulkan berbagai persoalan bagi masyarakat adat Papua. Selain perampokan besar-besar atas kekayaan Mineral (Emas, Perak, Tembaga), Tidak segan-segan melalui TNI-Polisi melakukan kekerasan terhadap masyarakat adat Papua. Hingga saat ini, telah tercatat ratusan ribu masyarakat adat Papua meninggal semenjak PT. PI beroperasi. PT. FI yang menguasai lahan di Papua saat ini 2,1 juta dan akan bertambah 4,6 juta Ha (baca; Rencana Jokowi-Jk), akan semakin memasifkan penggusuran dan pembunuhan terhadap masyarakat adat Papua. Namun, walau selama ini PT. PI telah terbukti merampas kekayaan alam dan meningkatkan kekerasan terhadap masyarakat adat Papua, Jokowi-JK malah akan member isyarat akan diperpanjak kontrak PT. PI hingga 2049 yang sebenarnya akan berakhir tahun 2021.
Sementara itu, kehidupan suku anak dalam di jambi tidak kalah pula memprihatinkan. Hutan yang selama ini menjadi sumber penghidupan suku anak dalam, telah berubah menjadi hamparan perkebunan sawit. Hal ini berdampak ancaman kelaparan bagi suku anak dalam karena rusak dan tergusurnya mereka dari hutannya. Tercatat, semenjak jokowi-JK menjabat, sudah hambir 11 suku anak dalam meninggal akibat kelaparan dan 3.000 suku anak dalam terusir dari hutan rimbanya.
Kondisi yang memprihatinkan masyarakat adat di Indonesia ini adalah akibat semakin meluasnya praktek perampasan dan monopoli tanah hingga hari ini. Dapat dilihat, ancaman penggusuran dan terusirnya masyarakat adat dari tanah atau hutannya semakin tidak terbendung. Pemerintahan Jokowi-Jk yang semasa kampanye dan bahkan dalam Visi misinya, telah menegaskan penghormatan dan pemberian hak-hak kepada masyarakat adat. Namun saat ini, kenyataannya derita yang dialami masyarakat adat semakin berat saja.  Perluasan perkebunan, pertambangan dan bisnis infrastuktur Jokowi-JK, malah semakin mempersempit dan menghancurkan harapan masyarakat adat Indonesia untuk berdaulat di tanah air atau hutannya sendiri.

Lawan Monopoli dan perampasan tanah yang mengusir masyarakat adat Indonesia
Factor semakin hilangnya akses masyarakat adat Indonesia atas tempat hunian, berkembang biak hingga terancam hilangnya nilai/adat istiadatnya, diakibatkan masih berlangsungnya praktek perampasan dan monopoli tanah di Indonesia hingga pemerintahan jokowi-Jk saat ini.  Tanah atau hutan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat adat, telah berubah menjadi perkebunan-perkebunan sawit skala luas, pertambangan atau infrastuktur, yang memaksa masyarakat adat harus terusir. Ancaman atas keberlangsungan masyarakat adat semakin meningkat, walau disebut-sebut pemerintahan ini berkomitmen melindungi dan memberikan hak masyarakat adat. Akan tetapi, lagi-lagi program Jokowi-JK hanya menjadi isapan jempol belaka. Sebalaliknya, program pemerintahan jokowi-Jk malah bertentangan dengan penghormatan dan pemberian hak-hak masyarakat adat. Jokowi-JK tetap melanjutkan bahkan memasifkan kepentingan imperialism, pengusaha-pengusaha dan tuan tanah besar untuk memnopoli tanah termasuk merampas tanah atau hutan masyarakat adat.
Oleh akrena itu, dalam momentum Hari Masyarakat Adat Sedunia ini, kami mengeaskan bahwa perjuangan masyarakat adat di Indonesia untuk memperoleh tanah maupun hutan adalah hak yang harus dihormati, dilindungi dan diberikan oleh negara. Jokowi-Jk harus menghentikan langkan perampasan dan monopoli tanah-hutan yang hanya mengusir masyarakat adat di Indonesia.  kami juga berharap bagi seluruh pemuda mahasiswa untuk menunjukkan keberpihakannya untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat adat yang masih dirampas oleh pemerintahan Jokowi-JK. Bersatulah masyarakat adat di Indonesia, untuk tanah-hutan demi anak cucu dan adat istiadat leluhur yang memanusiakan manusia.

Symphaty Dimas (Ka. Dept.Pendidikan & Propaganda PP FMN)





[1]. Materi Aliansi Gerakan Reforma Agraria. “ Perampasan Tanah: Sebab, Bantuk, dan Akibatnya Bagi Kaum Tani”.
[2] . Peter Robson, “West Papua: Land grab to displace locals”, dalam Green Left online, 10 April 2010.
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger