Headlines News :
Home » » Perjuangan Pemuda Tak akan Mati Ditelan Zaman. Kita Akan menjadi Mimpi Buruk bagi Penguasa Tirani

Perjuangan Pemuda Tak akan Mati Ditelan Zaman. Kita Akan menjadi Mimpi Buruk bagi Penguasa Tirani

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Rabu, 28 Oktober 2015 | 08.03


 Anak Muda, Keberanian itu seperti sikap keberimanan. Jika kau peroleh keberanian maka kau memiliki harga diri -Surat Che Guevara buat Anak Muda

Pemuda di Indonesia selama ini telah menunjukkan berbagai peran kepeloporannya untuk membangkitkan, mengorganisasikan dan menggerakkan perubahan-perubahan di Indonesia. Tahun 1908 menjadi kongres pertama pemuda Indonesia yang menjadi tanda kebangkitan pemuda dan rakyat untuk membangun persatuan dan kesatuan melawan colonial asing yang menjajah di Indonesia. Tepat pada tanggal 28 Oktober 1928, pemuda menyelenggarakan kembali Kongres Pemuda ke 2 di Jakarta. Perwakilan dari masing-masing pemuda yang berasal dari berbagai wilayah melahirkan sebuah moment persatuan dan kesatuan yang sangat berharga bagi kemajuan perjuangan pemuda dan rakyat Indonesia melawan colonial asing di Indonesia. Dalam pertemuan ini, pemuda-pemuda mengikarkan Sumpah Pemuda yang berisikan “Bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu yaitu Indonesia”.

Sejak kebangkitan hingga Hari Sumpah Pemuda tersebut, telah melahirkan berbagai organisasi pemuda dan rakyat sebagai alat perjuangan dengan memiliki semangat patriotisme yang tinggi untuk membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu colonial asing dan kekuatan feodalisme di Indonesia. Organisasi semacam Boedi utomo, Perhimpunan Indonesia, ISDV, dan kelompok-kelompok diskusi menjadi pemersatu dan alat perjuangan yang sangat mempunyai sumbangsih besar untuk membawa Indonesia ke era Kemerdekaan melalui revolusi agustus 1945. Selain organisasi-organisasi rakyat yang bermunculan, lembaga-lembaga pers yang dipimpin oleh pemuda lahir pula menjadi alat perjuangan. Deretan pers dan tokoh semacam Seperti Dowes Dekker (De Expres), HOS Tjokroaminoto (Oetoesan Hindia), Tjipto Mangoenkoesoemo (Penggugah), Mas Marco Kartodikromo (Dunia Bergerak), Haji Misbah (Medan Moeslimin), dan lain-lain. 

Pasca kemerdekaan 1945 pemuda tidak berhenti menunjukkan perjuangannya. Ketika pergolakan agresi militer I dan II, pemuda tidak berhenti memobilisasi rakyat serta pemerintahan Soekarno untuk meneruskan cita-cita revolusi Agustus 1945. Namun sayang, berbagai manuver kolaborasi pemerintahan Indonesia yang diwakilkan Hatta-Sjarir dengan belanda dan Sekutu, berujung pada penyerahan kedaulatan dan kemandirian Indonesia yang puncaknya ditandai dengan perjanjian KMB 1949 yang sangat merugikan bangsa dan negara.

Setelah memasuki era Orde Baru yang dipimpin Soeharto, kondisi rakyat Indonesia selama 32 tahun berada dalam tindasan kediktatoran fasis Soeharto yang merupakan pelayan setia Imperialis AS. Seluruh kekayaan alam Indonesia digadaikan kepada imperialism khususnya AS. Perkebunan, pertambangan, perdagangan, seluruhnya diperuntukkan bagi kepentingan imperialism khususnya AS. Borjuasi besar komprador dan tuan tanah besar yang merampas dan memonopoli tanah menjadi sekutu yang dikembangbiakkan oleh Rejim boneka Soeharto untuk menopang kepentingan imperialis AS di Indonesia. Hak-hak demokratis rakyat baik secara ekonomi, politik dan budaya, seluruhnya dirampas oleh rejim Soeharto. Sedangkan kondisi gerakan nyaris dibungkam dan dibantai oleh rejim Soeharto. Akan teapi, sekali lagi pemuda menunjukkan peran kepeloporannya di Indonesia. Perjuangan-perjuangan pemuda dan rakyat mulai ditujukan menentang pemerintahan Soeharto. Isu militerisme, korupsi hingga Soeharto sebagai antek AS, menjadi  pemersatu pemuda dan rakyat Indonesia.

Alhasil, dengan perjuangan rakyat khususnya pemuda yang gigih, kekuasaan 32 tahun Soeharto harus meletakkan jabatannya. Peristiwa ini dikenal dengan gerakan reformasi 1998. Mahasiswa, pemuda-pemuda hingga gerakan buruh dan tani meramaikan jalanan untuk menuntut Soeharto turun. Ini sebagai bukti kemenangan rentetan sejarah yang dimana pemuda secara aktif dalam perjuangan rakyat 1998 Indonesia.

Di era reformasi, kran demokrasi dan HAM mulai terbuka. Pemuda khususnya mahasiswa menikmati era kebebasan ini. Namun perkembangannya era reformasi yang telah memasuki usia ke-17 tahun,ternyata perjalanan demokrasi dan HAM semakin surut. Demokrasi yang dikembangkan bukan secara substansi yakni sebagai proses memperjuangkan hak-hak rakyat. Namun demokrasi yang dijalankan hanya menekankan aspek politik electoral semata yang hingga saat ini masih saja menghasilkan penguasa-penguasa yang tidak berpihak pada rakyat.

Ironinya mereka tidak bisa menyembunyikan kejahatan dan kekejiannya terhadap rakyat. Di zaman Jokowi-JK berkuasa saat ini, topeng demokrasi borjuis liberal ala imperialis AS mulai dicopot. Jokowi-JK mulai menunjukkan watak aslinya sebagai kepemimpinan dictator fasis untuk melayani kepentingan imperialism demi menyelamat  krisis akut yang mengerogoti. Kebijakan-kebijakan neo-liberalisme imperialis AS dimanifestasikan dalam RPJMN dan paket ekonomi yang sangat membuat klas buruh, kaum tani, pemuda mahasiswa dan rakyat Indonesia secara umum semakin menderita. Investasi asing dan utang luar negeri menjadi sandaran utama Jokowi-JK. Skema investasi asing dan utang luar negeri yang menguat di era Jokowi-JK menjadi wujud pelayanannya untuk meningkatkan eksport capital imperialism khususnya AS di Indonesia. Dengan alasan neraca perdagangan dan APBN deficit, menjadi alasan yang selalu dijadikan jokowi-Jk untuk mengintensifkan investasi asing dan utang luar negeri di Indonesia.

Kunjungan Jokowi-JK baru-baru ini ke AS yang bertemu Obama dan pengusaha-pengusaha korporasi AS, telah melahirkan berbagai kesepakatan. Kado Jokowi dari AS membawa investasi sebesar 20 Miliar USD. Ini adalah adalah investasi yang sangat tinggi yang akan membiayai beberapa objek penjarahan AS nantinya di Indonesia. Philp Morris, Coca-cola, general Electric, , Cargil, Hubbel Power dan sebagainya menjadi deretan perusahan raksasa AS yang akan semakin mengintensifkan penghisapan dan penindasan terhadap rakyat dunia. Dalam pertemuannya ke AS, Jokowi juga berkomitmen kepada Obama untuk segera bergabung TPP yang merupakan skema regional monopoli produksi, barang dan jasa yang menguntungkan imperialis AS.

Dewasa ini keadaan negeri ini semakin buruk.  Kebijakan Neo-liberalisme imperialis AS yang dijalankan di Indonesia selain membuat rakyat menderita, juga membuat masa depan pemuda semakin suram. Persoalan pendidikan yang mahal dan lapangan kerja yang terbatas, menjadi persoalan pokok pemuda Indonesia saat ini. dari total 7,5 juta pengangguran di Indonesia, hampir 40% berasal dari Pemuda. Sementara pengangguran pemuda yang berasal dari lulusan perguruan tinggi berjumlah 1 juta jiwa.

Kondisi ini semakin menghancurkan tenaga produktif pemuda Indonesia. Jika kondisi saat ini masih kita biarkan, tentu pemuda akan semakin mengalami degradasi menunjukkan perannya yang ambil bagian menjadi mesin perubahan setiap zamannya di Indonesia. Kondisi yang menyulitkan ini bukan  berarti membuat pemuda Indonesia berputus asa atau mengambil sikap apatis, individu dan sebagainya. Pemuda mahasiswa khususnya harus menunjukkan dirinya sebagai kaum intelektuil progresif yang siap menjadi kawan, sahabat bagi rakyat untuk melakukan aksi-aksi perubahan. Dan Pemuda harus segera membangkitkan dirinya, mengorganisasikan dan menggerakan seluruh kekuataannya untuk menunjukkan kembali peran besar pemuda untuk merebut kemenangan di Indonesia. Nilai-nilai perjuangan pemuda yang tak pernah mati, harus menjadi peluru yang mampu menembus kesombongan dan ketidakberpihakan penguasa yang masih saja menindas pemuda dan rakyat demi menuju Indonesia yang Berjaya bagi rakyatnya sendiri!

Rachmad P Panjaitan
Ketua
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger