Headlines News :
Home » » Bagian I : Mayday 2016, Mahasiswa Bergerak bersama Klas Buruh dan Kaum Tani !

Bagian I : Mayday 2016, Mahasiswa Bergerak bersama Klas Buruh dan Kaum Tani !

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Kamis, 28 April 2016 | 04.31






Lahirnya klas buruh sebagai pemimpin pembebasan sejati
Perjuangan kelas yang sedang berjalan dari hari ke hari di seluruh dunia, menunjukkan kegigihan dan keteguhan kepimpinan klas buruh untuk memerosotkan hingga menghancurkan sistem kapitalisme monopoli internasional yang dipimpin Imperialisme AS saat ini.  Sejarah perjuangan klas di seluruh dunia di masa lampau, telah memberikan pelajaran atas perjuangan massa yang maha dasyat untuk memutuskan mata rantai penghisapan dan penindasan manusia atas manusia.

Komune paris (bahasa Perancis: La Commune de Paris) sebutan untuk pemerintahan kota Paris selama Revolusi Perancis. Istilah ini merujuk pada pemerintahan rakyat yang memimpin kota Paris sejak tanggal 18 Maret (formalnya dimulai pada tanggal 26 Maret) sampai tanggal 28 Mei 1871. Komune Paris merupakan pemerintahan pertama yang dikuasai oleh kelas buruh. Karl Marx melukiskan dengan kalimat ini:
"Hasil perjuangan kaum produsen melawan kelas penghisap, sebuah bentuk politik yang akhirnya ditemukan yang dibawahnya kita dapat menjalankan emansipasi ekonomis kaum buruh."
Pelajaran lain kemenangan klas buruh dan kaum tani adalah kehancuran pemerintahan Tsar yang diikuti keruntuhan pemerintahan borjuis dalam revolusi oktober 1917 di Rusia. Perjuangan klas buruh dan kaum tani ini telah mengantarkan rakyat berkuasa pertama kali di dunia. Slogan yang paling terkenal dalam revolusi rusia ini adalah “Pekerja dari semua negara, bersatulah”. Di tengah gemuruh revolusi Rusia, klas buruh dari Barat juga terbangun dari kesadaraan palsu dan ilusi yang dibangun kapitalisme. Pemogokan dan demonstrasi di Jerman, demonstrasi di Austria dan Bulgaria, pemogokan dan pertemuan konsolidasi hingga pemberontakan berkembang di Inggris dan Perancis. Percikan-percikan perjuangan klas ini menjadi penanda sejarah kebangkitan klas buruh melawan kapitalisme monopoli internasional.

Demikian kemenangan perjuangan massa kaum tani dan klas buruh dalam revolusi 1949 di Tiongkok, telah memberikan pula hari depan gilang-gemilang bagi kehidupan rakyat Tiongkok yang bebas dari penghisapan dan penindasan tuan tanah besar, borjuasi monopoli internasional beserta pemerintahan reaksi Cha kai shek. Perjuangan klas buruh dan kaum tani di Tiongkok telah berlangsung hampir 100 tahun khususnya dalam karakter masyarakat setengah jajahan setengah feodal. Tiongkok semenjak perang candu tahun 1840, bukan lagi menjadi negeri dalam babak perkembangan masyarakat feodal, namun telah menjadi masyarakat setengah jajahan dan setengah feodal[1]. Pengaruh kapitalisme asing dari agresi imperialisme di Tiongkok masa itu, tentu memberikan syarat berkembanganya kapitalisme di Tiongkok. Sehingga lahirnya proletariat di Tiongkok yang berasal dari kalangan kaum tani dan pekerja kerajinan tangan. Akan tetapi, agresi imperialisme di Tiongkok bukan berarti ingin mengubah karakter masyarakat feodal menjadi kapitalisme. Itu hanyalah menjadi mimpi di siang bolong bagi masyarakat Tiongkok. Tapi sebaliknya, imperialisme hanya ingin menjadikan Tiongkok pada masa itu menjadi negeri setengah jajahan setengah feodal. Kemudian imperialisme melakukan persekutuan dengan tuan tanah feodal Tiongkok, yang melahirkan kapitalisme birokrat atau pemerintahan boneka yang nantinya akan dipimpin oleh Chai Kai Shek. Atas dasar penghisapan dan penindasan tersebutlah, melahirkan perjuangan klas buruh dan kaum tani dalam mewujudkan landreform sejati sebagai syarat industrialisasi nasional di Tiongkok masa itu.

Perjuangan klas buruh dan kaum tani di Indonesia dalam sejarah perkembangan masyarakat Indonesia, juga telah menunjukkan kegigihan, keuletan dan kepeloporannya untuk melawan imperialisme beserta tuan tanah feodal. Semenjak Indonesia dikuasai kolonialis Belanda, telah memberikan warna bagi perkembangan zaman di Indonesia. Bahkan ketika kerajaan Sriwijaya dan Majapahit belum mampu mengkonsolidasikan Nusantara dalam sistem feodalisme, Kolonialis Belanda mampu mengukuhkan sistem feodalisme di Nusantara. Di bawah kolonialis Belanda, kehidupan bangsa Indonesia mengalami kemiskinan dan kepapaan. Tentu ini melahirkan perjuangan yang maha besar dari rakyat untuk melawan Belanda. Perang-perang di berbagai daerah yang dilancarkan rakyat Indonesia, telah menimbulkan kerugian yang teramat besar bagi belanda. Di sisi lain, secara bersamaan Belanda juga dikuasai oleh pemerintahan Prancis dan Inggris. Maka untuk menghindari kehancurannya, Kolonialis Belanda menerapkan sistem tanam paksa  1830-1870. STP menjalankan usaha membangun perkebunan dan pertanian yang menanam tanaman komoditi yang sangat menguntungkan, serta juga mendirikan pabrik pengolahannya dengan administrasi yang modern. Sementara untuk memobilisasi tanah dan tenaga kerja adalah tanggung jawab para tuan tanah-tuan tanah sebagai sekutu kolonialis Belanda.

Akan tetapi yang perlu diingat, bahwa STP tidak sedikit pun mempunyai orientasi untuk mengubah masyarakat Indonesia dari era feodalisme menjadi kapitalisme. Kolonialis Belanda hanya menjadikan Indonesia sebagai penghasil bahan mentah untuk komoditas internasional bagi perusahan kapitalis internasional dan mendapatkan tenaga kerja gratis. Jaman cultuurstelsel adalah jaman yang sangat gelap bagi rakyat Indonesia. Dengan cara yang sangat kejam kaum kolonialis Belanda menyedot darah rakyat Indonesia. Multatuli melukiskannya  [2]berikut:

“Suatu kumpulan pipa yang bercabang-cabang dan
       tak terhitung banyaknya. Cabang-cabang ini masih terbagi lagi
menjadi ranting-ranting yang kecil. Semuanya itu bermuara dalam
dada jutaan penduduk Jawa dan dihubungkan dengan satu induk pipa
yang disedot dengan satu pompa raksasa yang digerakkan dengan
uap. Dalam pengusahaan swasta setiap petualang bisa berhubungan
dengan semua pipa dan bisa menggunakan mesin pompanya sendiri
untuk mengeduk sumbernya.”

STP yang menghisap dan menindas rakyat tersebut, telah melahirkan perjuangan klas untuk menghapuskannya. Hasilnya STP dihapuskan.  Akan tetapi, sistem monopoli lama semacam STP yang kejam kemudian diganti dengan cara yang modern yang hakekat tetap merampas dan memonopoli tanah rakyat. Kaum kapitalis Belanda berusaha keras mendapat jaminan hak tanah bagi investasi kapital mereka di Indonesia

Pada tahun 1870 dikeluarkannya kebijakan Agrarisch wet de Waal (de Waal adalah menteri urusan jajahan ketika itu), selanjutnya lebih terkenal sebagai Domeinverklaring. Isi pokok Domeinverklaring adalah “Semua tanah yang tidak terbukti dimiliki dengan hak eigendom adalah kepunyaan negara.” Dengan pernyataan ini semua tanah milik rakyat dengan nama hak apa saja asal tidak dengan hak eigendom adalah milik negara, milik pemerintah  kolonial Belanda. Tujuannya jelas adalah untuk menjamin kepentingan modal besar partikulir (kapitalis internasional, tuan tanah feodal)  yang akan bergerak di bidang pertanian dan perkebunan, dan yang untuk itu memerlukan tanah yang luas dan subur. Modal swasta Belanda mulai membanjiri Indonesia. Saat itu tanah dapat dikuasai hingga 75 tahun. Di samping pengembangan pertanian dan perkebunan secara masif, mereka mengembangkan pertambangan-pertambangan yang diikuti dengan pembangunan infrastuktur seperti rel kereta api dan pelabuhan untuk kepentingan sirkusi kapitalnya.  Skema penghisapan dan penindasan kolonialis Belanda di Indonesia, telah meneguhkan kepentingannya di Indonesia yang diantaranya; Pertama: sebagai daerah pengambilan bahan baku bagi industri barat. Kedua: sebagai pasar penjualan hasil industri Eropa. Ketiga: sebagai daerah penanaman modal raksasa asing. Keempat: sebagai sumber tenaga kerja murah.

Kebijakan ekonomi politik Kolonialis Belanda melalui monopoli dan perampasan tanah hingga pembangunan industri manufatur di Indonesia tersebut, telah melahirkan klas proletariat atau buruh di Indonesia. Tentu perkembangan klas buruh di Indonesia berbeda dengan di Eropa atau Amerika. Sebab klas buruh di Indonesia bukan lahir dari revolusi borjuis, namun lahir dari hubungan produksi jajahan dan setengah feodal. Karakteristik klas buruh Indonesia ini kemudian berkembang hingga di masyarakat Indonesia setengah jajahan setengah feodal  yang mengharuskan persekutuan kaum tani untuk melancarkan perjuangan landreform sejati. Sebab klas buruh tanpa ambil bagian aktif dalam perjuangan landreform sejati, tidak akan mampu membebaskan dirinya dari penghisapan dan penindasan imperialisme.  Karena perjuangan atas landreform sejati menjadi lompatan menuju industrialisasi nasional atau pembebasan bagi klas buruh dan rakyat Indonesia menghancurkan cengkraman imperialisme, feodalisme dan kapitalisme birokrat.

Peran sejarah yang dimainkan Klas Buruh di Indonesia


Semenjak kelahiran klas buruh di Indonesia di era Kolonial Belanda 1870, klas buruh terus-menerus telah menunjukkan peran besarnya dalam sejarah perjuangan klas di Indonesia[3]. Pada awalnya perjuangan klas buruh membentuk organisasi SS Bond yang anggotanya terdiri dari orang Indonesia dan Belanda. Akan tetapi, SS Bond bukanlah sebuah organisasi militan yang melawan kolonialis Belanda dan tuan tanah feodal di Indonesia. SS Bond menjadi organisasi buruh reformis yang mengambil jalan damai antara kepentingan buruh dengan kapitalis perusahaan di Indonesia. Secara berlahan-lahan akibat penindasan dan penghisapan kolonialis Belanda dan tuan tanah feodal, muncullah organisasi buruh yang mulai berkarakter militan, patriotik dan demokratis yang bertujuan untuk melawan musuh-musuh rakyat Indonesia.  Klas buruh kemudian bergabung dengan organisasi baru yang bernama VSTP yang berdiri pada tahun 1908 dan dilanjut organisasi buruh yang bernama ISDV. Organisasi ISDV nantinya yang akan menjadi organisasi buruh yang secara tegas menentang dominasi kolonialis Belanda beserta tuan tanah feodal untuk menuju kemerdekaan sejati bagi rakyat Indonesia. Tentu ISDV mulai menyadari bahwa organisasi ini bukan saja menghimpun klas buruh, akan tetapi menggalang pula kekuatan utama di Indonesia yakni kaum tani sebagai syarat kemenangan perjuangan rakyat melawan kolonialis Belanda dan tuan tanah feodal.  ISDV ini menjadi cikal bakal terbentuknya partai buruh pertama kali di Asia.

Secara nyata ISDV melahirkan program umum perjuangannya yang menitikberatkan pada isu; kebebasan aksi politik melakukan demostrasi dan mogok kerja, Bubarkan Tentara reaksi Belanda, pemberlakuan 8 jam kerja, menghapuskan diskriminasi pekerja laki-laki dengan perempuan, larangan sewa tanah bagi asing dan tuan tanah feodal, wajib belajar 14 tahun, jaminan sosial dan sebagainya. Hingga menuju revolusi agustus 1945, perjuangan klas buruh telah menorehkan doktrin historisnya sebagai garda terdepan bersama kaum tani Indonesia melawan dominasi kolonialis Belanda beserta tuan tanah feodal. Walaupun catatan pahit revolusi agustus 1945 hingga puncak pengkhianatan kelompok borjuis (Hatta-Syarir) dalam KMB 1949, klas buruh dan kaum tani belum mampu memimpin perubahan rakyat Indonesia. Hal ini kemudian yang mempertahankan karakter masyarakat Indonesia setengah jajahan setengah feodal hingga saat ini.

Sementara di masa Orde Lama di bawah kepemimpinan nasionalis Soekarno, tentu memberikan sebuah harapan dalam pengembangan organisasi buruh. Berkembang pesatnya SOBSI menjadi organisasi Vaksentral buruh, menjadi penantang utama bagi kekuatan imperialisme beserta borjuasi besar komprador dan tuan tanah besar di Indonesia. Saat itu SOBSI sangat aktif memperjuangan nasionalisasi perusahaan asing milik AS, Belanda, Inggris dan Belgia serta mengkampanyekan landreform untuk melawan tuan tanah feodal sebagai sekutu imperialisme di Indonesia. Sementara sejak masa orba, praktis gerakan buruh patriotik dibubarkan. Organisasi buruh dan masyarakat sipil dibentuk oleh pemerintahan fasis Soeharto untuk menjadi bagian dari  kekuatannya. Di sektor buruh dibangun organisasi semacam SPSI sebagai organisasi buruh di bawah kuasa penuh pemerintahan orba. Tentu SPSI menjadi organisasi buruh plat kuning yang tidak bertentangan dengan kepentingan Orba sebagai kaki tangan pemerintahan boneka imperialisme AS di Indonesia. SPSI menjadi organisasi buruh yang berusaha memerosotkan perjuangan klas buruh untuk menjalankan tugas sejarahnya memimpin pembebasan perjuangan rakyat melawan imperialisme AS, feodalisme dan kapitalisme birokrat.

Pasca kejatuhan Orba Mei 1998, gerakan buruh patriotik, militan dan demokratik  mulai dibangun kembali.  Setidaknya hingga saat ini, GSBI menjadi satu-satunya organisasi buruh sebagai harapan rakyat Indonesia untuk memimpin perlawanan atas imperialisme, feodalisme, kapitalisme birokrat di bahwa kepimpinan rejim boneka Jokowi-JK. Karena GSBI satu-satunya menjadi organisasi buruh yang berjuang atas dasar keadaan objektif masyarakat Indonesia setengah jajahan setengah feodal. Itu kemudian menjadi ciri khas perjuangan buruh di Indonesia yang harus bersatu pada dengan kekuatan utama di Indonesia yaitu kaum tani. 

Sejarah Hari Buruh Internasional (Mayday)
Peringatan hari buruh internasional pada tanggal 1 mei, lahir dari deretan panjang perjuangan buruh di dunia. Sejarah perjuangan buruh diawali  sejak bulan april 1886 pada awalnya didukung oleh sekitar 250 ribu buruh yang selama dua minggu membesar menjadi 350 ribu di AS. Kota Chicago adalah jantung kebangkitan gerakan buruh pada waktu itu yang diikuti oleh sekitar 90 ribu buruh. Di New York, demonstrasi serupa diikuti 10 ribu buruh, di detroit 11 ribu buruh, demonstrasi terus menjalar ke berbagai kota seperti Louisville dan Baltimore. Kemudian pada tanggal 1 mei 1886, demonstrasi kian meluas dari Maine ke Texas dan dari New Jersey ke Alabama yang diikuti setengah juta buruh di negeri tersebut.

Perkembangan dan meluasnya demonstrasi tersebut memancing reaksi yang juga besar dari kalangan pengusaha dan pemerintahan setempat pada saat itu. Chicago's Commercial Club, mengeluarkan dana sekitar USD 2.000 untuk membeli peralatan senjata mesin guna menghadapi demonstrasi. Demonstrasi damai menuntut pengurangan jam kerja itu pun berakhir dengan kerusuhan dan telah menelan banyak korban, dimana ketika sekitar 180 polisi melakukan penghadangan terhadap para demonstran dan memerintahkan agar membubarkan diri. Akibatnya pada tanggal 3 Mei 1886, empat orang buruh tewas dan puluhan lainnya terluka, delapan orang aktivis buruh ditangkap dan dipenjarakan.

Setelah kejadian berdarah tersebut polisi pun menerapkan larangan terhadap buruh untuk melakukan demonstrasi. Namun kaum buruh tidak menyerah begitu saja, pada tahun 1888 para buruh kembali melakukan aksi dengan mengusung tututan yang sama. Rangkaian demonstrasi yang terjadi pada saat itu, tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi juga telah meluas di kawasan Eropa. Bahkan, demonstrasi menuntut pengurangan jam kerja menjadi 8 jam perhari tersebut sebenarnya diinsipirasi oleh demonstrasi yang terjadi sebelumnya di Australia pada tahun 1856.

Kemudian pada tahun 1889 diselenggarakan Kongres Buruh Internasional di Paris yang dihadiri oleh ratusan delegasi gerakan buruh dari berbagai negeri dan menetapkan peristiwa di AS pada 1 Mei menjadi Hari Buruh Sedunia (Mayday). Keputusan ini berdasarkan hasil resolusi Kongres yang berisi:

“Sebuah aksi internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu dimana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional Perancis.”

Peristiwa tersebutlah yang telah menjadi momentum puncak dari persatuan gerakan buruh dunia yang kemudian memutuskan 8 jam kerja per hari menjadi kemenangan kaum buruh seluruh dunia.
Selain itu, Kongres juga menyambut usulan delegasi buruh dari Amerika Serikat yang menyerukan pemogokan umum 1 Mei 1890, guna menuntut pengurangan jam kerja dan menjadikan tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh sedunia.Delapan jam/hari atau 40 jam/minggu (lima hari kerja) kemudian telah ditetapkan menjadi standar perburuhan internasional oleh ILO melalui Konvensi ILO No. 01 tahun 1919 dan Konvensi no. 47 tahun 1935.

Perjuangan panjang klas buruh dna rakyat tertindas di Indonesia telah menjadikan Hari buruh Internasional  Mayday di Indonesia diresmikan sejak disahkannya UU No. 1 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya UU Kerja Tahun 1948, yang mana dalam pasal 15 ayat 2 menyebutkan, "Pada tanggal 1 Mei, buruh dibebaskan dari kewajiban bekerja". Namun, karena alasan politik, rejim Orde Baru kemudian melakukan larangan terhadap peringatan Hari Buruh Sedunia. Sejak saat itupula, peringatan 1 Mei tidak pernah diakui oleh pemerintah Indonesia. Barulah pasca runtuhnya kekuasaan Orde Baru, melalui perjuangan massa rakyat yang tersebar di seluruh daerah dan dipelopori oleh gerakan pemuda mahasiswa beserta klas buruh dan kaum tani, peringatan May day kembali diperingati secara gegap gempita di Indonesia. Dan pada tahun 2014, klas buruh dan kaum tani serta rakyat Indonesia meraih kemenangan kecil atas perjuangan klasnya, dimana 1 Mei kemudian ditetapkan menjadi Hari Libur Nasional.

Symphaty Dimas (Ka Dept. Dikprop PP FMN)


[1] W.F. Wertheim. Dari Dunia Ketiga-dan Kemana ?. Institut Studi Arus Informasi, Jakarta  Agustus 2008
[2] Multatuli. Max Havelaar. Narasi, Yogyakarta, 2008.
[3] M.C. Ricklefs. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. PT. Serambi Ilmu Semesta, Jakarta 2007.

Share this article :

1 komentar:

Harry Kusuma mengatakan...

Saya tunggu analisa kondisi ekonomi saat ini, dan kebijakan pemerintah terhadap kondisi buruh indonesia dan rakyar indonesia pada umumnya

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger