Headlines News :
Home » » Hari Kebangkitan Nasional 108 Tahun

Hari Kebangkitan Nasional 108 Tahun

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Kamis, 19 Mei 2016 | 21.43




Bangkitkan Semangat Perjuangan Melawan Penghisapan dan penindasan Terhadap Rakyat
Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908, tentu menjadi masa keemasan dalam sejarah perjuangan rakyat Indonesia melawan penghisapan dan penindasan kolonial Belanda dan tuan tanah feodal. Perjuangan rakyat di daerah-daerah Nusantara, melebur menjadi satu-kesatuan untuk meneguhkan jalan pembebasan nasional menghangcurkan cengkraman kolonial Belanda beserta sekutunya tuan tanah feodal. Kesadaraan perjuangan nasional melawan kolonial Belanda dan tuan tanah feodal yang termanifestasikan di 20 Mei 1908, merupakan sebuah keniscayaan atas cita-cita rakyat meraih kemandirian dan kedaulatan bangsa sepenuhnya.

Hari Kebangkitan Nasional menjadi tonggak perjuangan rakyat Indonesia abad 19 yang ditandai dengan era kebangkitan pembangunan organisasi-organisasi rakyat untuk  melawan kolonial Belanda dan tuan tanah feodal. Organisasi-organisasi rakyat dan secara khusus didominasi kepeloporan dari organisasi pemuda pelajar-mahasiswa, telah menanamkan semangat untuk berjuang atas kemerdekaan sepenuhnya di tangan rakyat. Nilai cinta tanah air, anti penindasan, melandasi kuat kesadaraan akan musuh-musuh rakyat yang menjerat kemajuan rakyat Indonesia selama ini. Perjuangan  Boedi 0etomo yang dipimpin oleh Dokter Wahidin Soedirohoesodo dan Dokter Soetomo tersebut kemudian dilanjutkan  oleh kaum muda pada tahun 1928 yang kemudian melahirkan Soempah Pemoeda yang mengikarkan bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu.

Pasca hari Kebangkitan Nasional, terbentuk berbagai organisasi rakyat yang berkembang berbasikan klas dan sektor untuk bertujuan menguatkan perjuangan melawan kolonialis Belanda dan Tuan tanah feodal. Berdirinya Indische partij, Saraket Dagang Islam, Muhammadiyah, Saraket Rakyat, VSTP, ISDV menjadi organisasi pelopor yang memimpin rakyat Indonesia secara nasional untuk melawan kolonial Belanda. Selain itu, seperti ISDV paling aktif mempropagandakan perjuangan untuk melakukan perlawanan terhadap tuan-tuan tanah (feodalisme) sebagai sekutu kolonial Belanda yang membelenggu rakyat Indonesia. selanjutnya, Revolusi Agustus 1945 hingga Gerakan Penumbangan Rejim Fasis Soeharto 1998, organisasi-organisasi rakyat telah menunjukkan peran sejarahnya untuk senantiasa melawan penghisapan dan penindasan terhadap rakyat.

20 Mei 2016 tepat Hari Kebangkitan Nasional telah menginjakkan usianya ke-108 Tahun. Tentu menjadi pertanyaan bagi kita, apakah semangat Hari kebangkitan Nasional hanya semata-mata seremonial melalui upacara bendera dan ziarah ke makam pahlawan sebagaimana kegiatan yang diselenggarakan pemerintah Jokowi-JK saat ini ? Tentu tidak. Karena sejatinya Hari Kebangkitan Nasional bukanlah terhenti di dalam perjuangan melawan Kolonialis Belanda yang menjajah Indonesia selama 350 tahun dan Jepang 3,5 Tahun. Karena nyatanya pasca Revolusi Agustus 1945 dan puncaknya Konferensi Meja Bundar Desember 1949, Indonesia resmi menjadi negara setengah jajahan dan setengah feodal. Bentuk penjajahan Baru (setengah jajahan/neo-kolonial) dengan mempertahankan basis sosial di Indonesia setengah feodal sebagai sekutunya, masih senantiasa menjadi akar persoalan rakyat Indonesia untuk mencapai kemerdekaan sepenuhnya baik secara ekonomi, politik, sosial dan budaya. Maka,

Jadi, memaknai Hari Kebangkitan Nasional bukanlah sebagaimana tema pemerintahan Jokowi-JK saat ini yaitu “Mengukir Makna kebangkitan Nasional dengan mewujudkan Indonesia yang bekerja nyata, mandiri dan berakarakter”.

Karena kenyataannya, Jokowi-JK mengarahkan seluruh rakyat Indonesia untuk menerima skema investasi dan utang luar negeri yang menjadi sandaran utama pembangunan ekonomi Indonesia. Dengan diksi “kerja nyata” tersebut hanyalah berupaya mendorong masyarakat untuk melayani borjuasi-borjuasi internasional khususnya AS, borjuasi-borjuasi komprador dan tuan tanah besar. Kebijakan Neoliberalisasi Imperialisme AS yang diintensifkan Jokowi-JK dan dikemas dalam Paket kebijakan Ekonomi Jilid I-XII, di sisi lain hanya akan memperparah krisis ke krisis di tengah rakyat. Kemiskinan dan penderitaan hanyalah menjadi hari depan setiap kebijakan Jokowi-JK tersebut. Jadi, Dalih untuk menstimulus ekonomi Indonesia hanyalah memuluskan kepentingan imperialisme AS dan feodalisme untuk semakin menghisap dan menindas rakyat serta melakukan perampokan-perampokan atas kekayaan alam rakyat Indonesia.

Selain itu, Pidato Menteri Komunikasi dan Informatika sebagai komandan yang mengkordinasikan peringatan Harkitnas tahun ini, menyinggung persoalan mempertahankan keutuhan NKRI,  melawan gerakan teroris dan radikalisme di Indonesia.

Pesan ini mencoba mendiskreditkan gerakan-gerakan demokratis rakyat yang berjuang atas hak-hak dasarnya. Apalagi pemerintah saat ini, coba menunjukkan berbagai sikap-sikap fasis terhadap rakyat. Tentu isu NKRI, Teroris, gerakan radikal hingga simbol-simbol laten, hanya menjadi menifestasi fasisme yang semakin masif dan meluas di tengah-tengah rakyat. Usaha untuk meredam gerakan rakyat atas kebangkitan perjuangan massa di tengah kebijakan Jokowi-JK yang menyengsarakan, menjadi latar belakang atas meningkatnya kadar fasisme di Indonesia hari ini dan ke depan.

Hari Kebangkitan Nasional ke 108 Tahun tentu menjadi momentum yang berharga bagi rakyat. Berbeda dengan rejim yang hanya menjadikan semangat Hari Kebangkitan Nasional 1908 yang menjauhkan semangat perjuangan rakyat untuk melawan imperialisme, feodalisme dan kapitalisme birokrat. Bagi rakyat, Hari Kebangkitan Nasional ke-108 Tahun menjadi kekuatan untuk menyatukan pandangan ide dan tindakan atas perjuangan untuk melawan imperialisme, feodalisme dan kapitalisme birokrat. Perampasan dan monopoli tanah, politik upah murah, PHK dan lapangan kerja terbatas, pendidikan dan kesehatan mahal, penguasaan SDA oleh Asing yang semakin diintensifkan Jokowi-JK, menjadi agenda perjuangan utama rakyat. Dengan demikian, Makna akan Hari kebangkitan Nasional menjadi roh semangat perjuangan rakyat yang berjuang atas hak-hak dasarnya yang dirampas oleh imperialisme AS, feodalisme dan kapitalisme birokrat. Di bawah pemerintahan Jokowi-JK yang semakin mengintensifkan kebijakan neoliberalisasi di Indonesia, menjadi keharusan bagi seluruh organisasi-organisasi rakyat untuk menggerokan perjuangan dan perlawanan. Karena hanya dengan persatuan dengan kepimpinan organisasi massa rakyat,  perjuangan rakyat akan menuju kemenangan sejatinya.

Secara khusus, FMN sebagai Ormass Mahasiswa Pemuda, harus menjadikan momentum Hari Kebangkitan Nasional untuk mengobar perjuangan massa mewujudkan pendidikan ilmiah, demokratis dan mengabdi kepada rakyat, serta melawan segala bentuk komersialisasi, liberalisasi dan privatisasi di dunia pendidikan. Dan terpenting, FMN memahami bahwa hari Kebangkitan Nasional tahun ini, mengingatkan kembali bahwa organisasi pemuda adalah pelopor yang senantiasa bertalian erat dengan perjuangan organisasi massa rakyat khususnya klas buruh dan kaum tani. Perjuangan umum rakyat atas landreform sejati dan industrialisasi nasional yang bebas dari cengkraman imperialisme dan feodalisme, menjadi syarat pokok hari depan Indonesia yang mandiri dan berdaulat sepenuhnya di tangan rakyat.


Rachmad P Panjaitan (Ketua PP FMN)
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger