Headlines News :
Home » » Negara Mbok Jangan Nakut-nakutin, Gak seseram itu. Yang Menyeramkan ini, Rakyat makin Miskin PAK

Negara Mbok Jangan Nakut-nakutin, Gak seseram itu. Yang Menyeramkan ini, Rakyat makin Miskin PAK

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Jumat, 13 Mei 2016 | 23.13




Krisis menjadi ladang subur tumbuhnya Fasisme. Negara sekian kali Membungkam Kebebasan Rakyat

Krisis yang terus-menerus semakin akut dan kronis di tubuh imperialisme, telah mendorong berbagai rakyat negara-negara dunia harus menanggung bebannya. Kemiskinan, pengangguran, PHK massal, pendapatan dan daya beli menurun, perampokan sumber daya alam besar-besaran menjadi cerminan imperialisme di dunia.  Iya, imperialisme menggali lubang kuburnya sendiri. Watak eksploitasi, ekspansi dan akumulasi kapital, hanya akan melahirkan krisis ke krisis. Mengapa tidak ? sejak kapitalisme muncul di era abad ke 16 hingga kapitalisme mencapai puncaknya Kapitalisme monopoli internasional  (Imperialisme) di abad 19, krisis menjadi tanda kegagalan sistem sosial yang ditawarkan kepada masyarakat.

Perihal dalam catatan sejarah, imperialisme tidak dapat menyelesaikan kontradiksi krisis yang ada di tubuhnya. Era kebijakan liberalisme hingga Neo-liberalisme yang sudah dijalankan imperialisme, hanya semakin memperparah keadaan yang berimplikasi pada kehidupan rakyat yang bertambah menderita. Mengapa ? karena krisis ke krisis yang dimunculkan, hanya akan mengintensifkan penghisapan, penindasan, penjarahan atas hasil kerja rakyat yang dibarengi dengan perampokan besar-besar atas sumber daya alam. Dewasa ini, kebijakan-kebijakan Neo-liberal yang disebar ke seluruh dunia dengan berbagai varian beserta renovasinya, hanya melipatgandakan beban penghisapan dan penindasan kepada rakyat. Inilah yang disebut “imperialisme menggali lubang kuburnya sendiri”.

INGAT, Krisis ke krisis akan melahirkan kegaduhan/krisis politik. Negara sesama imperialisme itu akan saling memprovokasi rakyat dunia yang tujuan untuk memberikan keleluasan kepada imperialisme mendominasinya. Bukan provokasi dengan berbagai cap saja, namun dewasa ini mereka gencar pula mengembangkan isu demokrasi, ham, yang sejatinya adalah kedok untuk menjalankan skema penghisapan dan penindasannya terhadap rakyat dunia. Tapi, di tengah krisis yang semakin memberikan lonceng kematian bagi borjuasi internasionalnya, mereka bahkan memilih akan mengobarkan Perang di seluruh penjuru negeri untuk mendikte negara-negara dunia. Apakah itu menjadi sekutunya, atau menjadi negara-negara jajahan dan setengah jajahannya.  Iya imperialisme dan rejim reaksioner dalam negeri-negeri, akan menunjukkan sifat FASISME untuk membungkam dan merampas seluruh hak-hak dasar rakyat baik dalam aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Liat saja, Perang dunia I dan II.  Tentara-tentara Hero negara-negara imperialisme yang berperang, tidak sedikitpun untuk menyelamatkan rakyat dari kemiskinan. Sebaliknya, tentara-tentara imperialisme yang berperang dan bahkan melibatkan rakyat-rakyat dunia, hakekatnya adalah perang antar imperialisme. Iya kita mengenal ada 2 blok kekuatan imperialisme saat itu yakni Sekutu (Inggris, Prancis, AS) dan Sentral (German, Italia, Jepang). Dan dua kekuatan ini akan menarik seluruh negara-negara jajahannya untuk ambil bagian. Perang antar imperialisme ini hakekatnya hanya persaingan untuk keluar sebagai pemenang. Alhasil, pasca perang dunia ke II, AS keluar sebagai pemenangnya dan menjadi penguasa tunggal di antara imperialisme menguasai dunia dan bahkan hingga saat ini.

Pasca perang dunia ke II disebut Perang dingin. Ya yaaaa, perang ini lagi-lagi bagaimana memainkan perang ideologi diantara Blok Barat dan Timur. Perkembangannya AS dan sekutunya menang. AS semakin meneguhkan dirinya menjadi penguasa tunggal dunia dan mampu mengontrol sekutunya (G7), negara kapitalis hingga mendirikan negara-negara bonekanya yang banyak di Asia, Afrika dan Amerika Latin (indonesia masuk tuh).

Tapi lagi-lagi hukum dalam perkembangan imperialisme tidak dapat diperbaiki walaupun dengan berbagai cara memperbaruhinya. Maka jelas hari depannya tidak akan pernah memberikan keadilan maupun kesejahteran terhadap rakyat dunia. Dari Invisible Hand hingga era monopoli, keadaan rakyat tetap jatuh ke dalam jurang yang memiskinkan. Walaupun golongan-golongan borjuasi, memoleskan dengan “indah” namun imperialisme akan tetap menjalankan penghisapan, penindasan, perampokan dengan cara-cara halus hingga keji/fasis. Walaupun kaum intelektuil borjuis kemudian disuruh meneriakkan pemerataan ekonomi, namun lagi-lagi ketimpangan akan menghantuinya hingga di akhir hidupnya.

Iya krisis imperialisme era di tahun 2008 tidak bisa diselesaikan hingga saat ini. Yang ada, kondisi rakyat dunia semakin kacau, perang terus dikobarkan yang dikomandoi AS. Lagi-lagi rakyat menjadi korbannya, kawan. Di Indonesia, krisis imperialisme secara langsung semakin memerosotkan kehidupan rakyat. mengapa ? karena Indonesia adalah negeri setengah jajahan setengah feodal (SJSF) ? apa itu SJSF ? SJSF adalah negeri yang dikuasai oleh imperialisme AS dalam bentuk penjajahan barunya (setengah jajahan) melalui topangan basis sosial di dalam negeri yakni borjuasi besar komprador, tuan tanah besar (setengah feodal. jadi liat semata-mata raja atau bangsawan ya feodal hihi). Nah, persekutuan antara imperialisme AS dan feodalisme, melahirkan pemerintahan boneka broooo yang melayani. Tuh, makanya di desa-desa tanah dikuasai ama imperialisme borjuasi besar komprador dan tuan tanah besar. Apakah setan itu berbentuk PT. Freeport, Chevron, Sinar Mas, Lonsum, Lippo Group, Astra Group dan banyaklah (padahalkan tanah adalah alat produksi kaum tani. Iya klo dimonopoli, kaum tani hanya akan menjadi buruh tani atau tani miskin yang terus dililit kekuatan feodal). ahh, liat juga pabrik-pabrik kita, yang ada hanya industri manufaktiur dan rakitan, kagak ada juga yang menunjukkan pengembangan industri nasional. Atau bahasa pemerintah itu dari hulu ke hilir. Makanya persoalan monopoli tanah menjadi akar persoalan rakyat Indonesia yang ebrdampak pada kegagalan pembangunan industri nasional yang mandiri, berdaulat bebas dari kekuatan imperialisme AS dan feodalisme.   

Kebijakan neoliberalisasi imperialisme semakin dimasifkan di Indonesia. Pake kebijakan ekonomi Jilid I-XII menjadi bukti konkrit manifestasinya di dalam negeri. Efisiensi 3 jam, pemberian pajak insentif, pengadaan fasilitas logistik dan infrastuktur, liberalisasi BANK, dan sebagainya, semuanya memberikan keleluasan yang seluas-luasnya pada tuan imperialisme AS dan sekutunya (ehh Borjuasi besar komprador dan tuan tanah besar juga ya).
Sudah pasti paket kebijakan ekonomi Jilid I-XII ini melahirkan kemiskinan yang semakin parah. Mengapa ? karena paket ini sejatinya hanya menjadi dikte imperialisme dan feodalisme untuk semakin menghisap dan menindas nilai lebih kelas buruh dan hasil kerja kaum tani serta perampokan secara maksimal atas kekayaan alam di Indonesia dari Aceh hingga Papua Barat.

Karena paket kebijakan ekonomi merugikan rakyat dan bangsa, sudah tentu gerakan rakyat Bangkit. Nah, gitu-gitu latar belakang menguatnya fasisme saat ini kawan. Jadi bukan juga serta merta lahir secara alamiah yang tanpa penyebab.



Pembungkaman, Pembodohan semakin Nyata
 
Saat ini sangat santer berbagai isu yang menghantui rakyat Indonesia di tengah penghidupan ekonominya semakin menurun (jangan disusah-susahin, kami mau berjuang). Mulai dari isu China (Ohh iya, kita bukan nolak pekerja China omm, nanti ngikut pada gerakan Neo-fasis dikembangkan imperialisme di eropa dan amerika yang nolak imigran. Klas pekerja seluruh dunia itu bersahabat, musuh mereka adalah imperialisme) lambang, simbol yang mengidentifikasikan bahaya-bahaya Laten.

2 Pedagang di Blok M diringkus tim gabungan Polri dan TNI, karena kedapatan menjual kaus bergambar palu dan arit, yang identik dengan simbol organisasi yang dilarang negara. Bukan polisi aja yang nagkap tapi bersamaan dengan Kapendam Jaya Kolonel Inf Heri Prakosa.

Naas bagi pedagang ini, karena mereka hanya berjual baju yang selama ini bertemakan kaos-kaos band dari luar. Dan kaos yang ditangkap ini adalah gambar grup band kreator asal Berlin, German[1] (wah, sangat anti sekali dengan perkembangan seni budaya ya. Hmm, mati sudah kreativitasmu berseni).

Penangkapan tidak berhenti disitu ahh, Dua pemuda di Lampung diamankan aparat TNI setempat karena memakai kaus palu arit (09/05/2016). Lambang itu melukai hati bangsa, “ujar TNI sebagai alasan penangkapannya (hhmm, Baper nih).

Lalu seorang Pria diamankan Polres Malang lantaran memakai kaos gambar palu-arit, Sabtu (7/5/2016). Tragis! Pria bernama berumur 36 ini setelah diperiksa mengaku tidak tahu-menahu soal arti gambar pada kaos yang dipakainya. Ia sekadar memakainya saja. Jadi Pria ini berulang kali menjelaskan bahwa dirinya tidak mempunyai motif apa-apa akan simbol itu. Tapi pihak Polres Malang tetap saja memprosesnya.

Aksi penangkapan terjadi lagi terhadap mereka yang mengenakan benda-benda yang dianggap identik dengan phobia yang dibangun negara. Semalam, empat aktivis di Ternate, Maluku Utara, ditangkap aparat TNI dari Komando Distrik Militer 1501 Ternate[2].
Di antara mereka, tercatat dua aktivis Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Maluku Utara: Adlun Fiqri dan Supriyadi Sawai. Dua orang lainnya berstatus mahasiswa, Muhammad Yunus Alfajri (Universitas Khairun Ternate), dan M. Radju Drakel (Universitas Muhammadiyah Maluku Utara) pada jumat, 13 Mei 2016.

Mereka diamankan karena mengoleksi sejumlah kaus dan buku yang dianggap berpahamkan ideologi yang dilarang negara. Kaos “Pecinta Kopi Indonesia” dianggap sangat identik dengan partai yang dilarang itu.

Berbagai alasan penangkapan yang digunakan oleh Negara
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyatakan mulai emosi dengan isu penyebaran kembali paham komunisme di tengah masyarakat. Dia menuding (tidak jelas siapa) ada pihak yang hendak membangkitkan kembali Partai Komunis Indonesia secara terselubung[3].

“Saya berkali-kali mengingatkan agar jangan ada pihak-pihak yang memancing, memantik emosi, lama-lama terpancing juga ini,” kata Ryamizard dalam acara silaturahmi purnawirawan TNI/Polri serta ormas keagamaan dan kepemudaan yang digelar di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (13/5). Menhan ini menyatakan dasar penangkapan dan referesif kepada masyarakat sipil atas kasus ini mengacu pada Ketetapan MPRS Nomor XXV Tahun 1966 yang berisi pembubaran PKI dan pelarangan penyebaran paham komunisme.

Sementara alasan Kapolri atas berbagai penangkapan ini adalah tindakan kejahatan akibat penyebaran paham yang dilarang oleh negara. Itu diatur dalam UU nomor 27 tahun 1999 yang merupakan perubahan dari Pasal 107 KUHP yang berkaitan dengan kejahatan terhadap keamanan negara. Kapolri menjelaskan bahwa siapa yang menyebarkan paham ini akan ditindak secara tegas oleh pihak kepolisian

Dirinya menjelaskan tempat yang boleh menjadi sarana diskusi atau diizinkan untuk menunjukkan lambang palu arit disebutnya misalkan dalam sesi kuliah. Sebab itu disebut Badrodin dalam kapasitas akademik. Tapi sangat Hipokrit di dalam kenyataan dunia pendidikan. Karena realitanya banyak diskusi-diskusi kajian ilmiah atas paham ini dibubarkan kepolisian, TNI dan organisasi paramiliter di kampus-kampus[4].

Sedangkan Kepala BIN menyikapi permasalah ini dengan reaksioner. Dirinya menilai penindakan terhadap maraknya penyebaran atribut berlambang palu arit masih sesuai aturan dan undang-undang yang berlaku. Jadi tidak ada kebablasan dalam penindakan yang dilakukan TNI/Polri.

Dirinya menegaskan Regulasi yang mengatur larangan soal komunisme, marxisme, dan leninisme adalah Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS Tahun 1966 tentang Larangan Partai Komunis Indonesia masih berlaku di Indonesia. Ketetapan ini tidak termasuk yang diubah dalam TAP MPR Nomor 1 Tahun 2003[5].

Dan akhirnya Kepala dan wakil Negara/Pemerintahan kemudian memberikan arahan kepada TNI/Polri untuk melakukan pendekatak hukum (hmm, maka pendekatan militer sudah pasti diserukan) menindak para pelaku yang ditanggkap. Wakil Presiden JK, menjelaskan bahwa kita tidak perlu takut dengan komunisme. Karena paham ini sudah gagal di Indonesia. sama halnya dengan di Uni soviet maupun RRT (Hmm, belajar lagi ya pak, gimana kedua negara ini merestorasi kapitalisme disitu) sudah runtuh.

Presiden Jokowi tegas kemudian mmengintrusikan kepada jajaran pemerintahan khususnya TNI dan Polri menggunakan pendekatan hukum menyikapi maraknya atribut berlambang palu arit di Indonesia. Simbol palu arit digunakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Hal ini menjadi keputusan pertemuan antara Presiden Joko Widodo, Jaksa Agung Prasetyo, Kepala Badan Intelijen Negara Sutiyoso, dan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Mulyono, mewakili Panglima TNI. Jokowi tetap menegaskan menggunakan Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS Tahun 1966 tentang Larangan Partai Komunis Indonesia dan Pasal 107 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999 tentang perubahan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang berkaitan dengan Kejahatan terhadap Keamanan Negara.

Iyaa mereka menuai ketakutan, pembungkaman untuk merampas kebebasan rakyat memperjuangkan Hak-haknya. Lawan Fasisme.

Iya, krisis imperialisme yang ditransformasi di dalam negeri, menjadi akar menguatnya fasisme di Indonesia. Sebab, sudah menjadi Hukumnya apabila kebijakan neoliberalisasi imperialisme semakin menghisap dan menindas rakyat, maka fasisme akan berjalan secara beriringan. Fasisme merupakan wujud nyata dari kapitalisme birokrat (pemerintah) untuk menindas dan menghisap rakyat sebagai usaha untuk memuluskan kebijakan-kebijakan anti rakyat dan berpihak pada kepentingan imperialisme dan feodalisme. Di sisi lain, Penindasan dan penghisapan pasti melahirkan perjuangan. Apakah itu bersifat spontanitas ataupun terorganisir yang ditujukan untuk menuntut hak-hak dasar rakyat yang dirampas oleh imperialisme, feodalisme dan kapitalisme birokrat. Demikianlah fasisme semakin kuat yang esensinya adalah usaha untuk meredam gerakan rakyat memperjuangan hak-hak dasarnya.

Pemerintah akan melancarkan fasisme terselubung dan terbuka. Fasisme terselubung dilakukan dengan wujud mempertahankan dan mengeluarkan kebijakan yang merampas hak-hak rakyat untuk berekspresi, berpendapat dan berorganisasi. Lihat RUU Kamnas, UU Organisasi masyarakat, UU Intelijen, Re-militerisme (Revisi UU TNI, OBVNI dan sebagainya. Selain itu, akan menghembuskan  isu SARA hingga bahaya-bahaya laten sebagai jalan untuk membungkam dan mereferesif rakyat. Sementara bentuk Fasisme terbuka akan secara terang-terang menggunakan kekuatan TNI/POLRI hingga organisasi paramiliter untuk memukul hingga membantai seluruh rakyat yang melakukan perjuangan atas hak-hak dasarnya. Contohnya; Menangkap, memobilisasi TNI/Polri untuk merampas tanah yang diikuti kriminalisasi, menjaga kawasan industri hingga memukul gerakan buruh, membungkam dan mereferesif gerakan mahasiswa di kampus.

Jadi jelas bray, sist, bahwa fasisme itu menjadi salah-satu ciri kapitalisme birorakrat yang tujuannya hanya untuk; memuluskan kepentingan imperialisme dan feodalisme merampas hak-hak rakyat, mencegah dan memberangus gerakan rakyat sejatinya atas perjuangan hak-hak  ekonomi, politik dan budaya. Dan akhirnya, kita pun menyebutkan bahwa fasisme adalah buah dari krisis yang dimunculkan imperialisme beserta kaki tangannya di dalam negeri.  Karena perampasan dan monopoli tanah, politik upah murah, reklamasi, megaproyek infrastuktur, investasi, komersialisasi pendidikan, membutukan fasisme. Ohh iya, karena itu ini, menhan minta dinaikkan tuh anggarannya hahaha

Yukk sama-sama lawan fasisme dan perjuangkan kebebasan berekspresi, berpendapat dan berorganisasi serta majukan perjuangan rakyat atas akses demokrasi. 

Rachmad P Panjaitan (Ketua PP FMN)

Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger