Headlines News :
Home » » Peringatan Hari Anti Kekerasan (Valentine Day )2017 Terus Kobarkan Cinta dan kesetiaan mengabdi pada Rakyat serta lawan Segala Tindak Kekerasan Rezim Boneka Jokowi-JK

Peringatan Hari Anti Kekerasan (Valentine Day )2017 Terus Kobarkan Cinta dan kesetiaan mengabdi pada Rakyat serta lawan Segala Tindak Kekerasan Rezim Boneka Jokowi-JK

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Senin, 13 Februari 2017 | 22.33




Hasil gambar untuk fmn aksi hari perempuan
foto aksi FMN dalam peringatan hari perempuan internasional 
Pengantar
14 Februari selalu di peringati sebagai hari kasih sayang, di mana kasih sayang sesama manusia merupakan hal yang hakiki. Pada kesejarahannya momentum ini merupakan bentuk pengabdian dari St. Valentine, yang mendapat hukuman mati dari kekaisaran Romawi karena melanggar aturan-aturan yang berlaku. Terlepas dari berbagai kontroversi mengenai latar kesejarahannya, kasih sayang sesama manusia tidaklah dimaknai sebatas  hubungan individual semata, namun cinta kasih yang sejati dimaknai sebagai ketulusan dan kesetiaan diri untuk pengabdian kepada rakyat. Pengabdian yang dipenuhi cinta dan ketulusan untuk terus membuat perubahan.
Momentum kasih sayang pada tahun ini memiliki kedudukan yang istimewa, di tengah maraknya tindakan kekerasan, perdagangan manusia, teror dan perang agresi yang di lancarkan kepada rakyat dunia oleh imperialisme yang di topang penuh oleh rezim boneka di negeri jajahan dan tengah jajahan.  
Imperialisme AS pelaku kejahatan kemanusiaan sesungguhnya
Donald Trump sebagai presiden terpilih Amerika Serikat pada tanggal 25 Januari 2017 menandatangani Perintah Eksekutif berisikan penangguhan penerimaan pengungsi dan penerapan pengawasan ketat bagi wisatawan dari sejumlah negara Muslim yang di anggap membahayakan Amerika Serikat dengan mencap mereka sebagai “teroris”. Aturan eksekutif ini memastikan pemerintah menangguhkan sementara seluruh program penempatan pengungsi di Amerika untuk setidaknya 120 hari ke depan. Amerika tidak akan mengeluarkan izin visa selama 90 hari bagi pengunjung yang berasal dari Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Suriah, dan Yaman. Pada perkembangannya, kebijakan tersebut dibatalkan oleh kehakiman AS. Namun demikian, Trump tetap bersikeras untuk menjalankan kebijakan tersebut dengan membawanya ke ranah pengadilan bahkan hingga mempersiapkan kebijakan pengganti dengan esensi yang sama. Kebijakan ini secara esensial merupakan bentuk dari upaya imperialisme AS mengkambing hitamkan dan memberikan tendensi kepada umat muslim sebagai teroris, yang sesungguhnya tindakan teror yang terjadi di dunia merupakan tindakan dari imperialisme Amerika Serikat itu sendiri.
Trump juga mengeluarkan surat keputusan tentang pembangunan tembok perbatasan yang panjangnya 2.000 mil (3.200 KM) dan tinggi 12 meter, dengan biaya lebih dari USD 8 miliar atau Rp 106 triliun, sebagai usaha mencegah imigran gelap masuk dan penyelundupan narkoba. Proyek pendirian Tembok Perbatasan AS-Mexico tersebut merupakan kelanjutan implementasi UU Keamanan Perbatasan (The Secure Fence Act) tahun 2006, yang sesungguhnya didukung Obama dan Hilary Clinton saat menjadi senator. Pada pemerintahan Obama, justru telah mendeportasi 2 juta warga Latin yang menyeberang perbatasan dan merupakan jumlah terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Trump ingin melanjutkannya lebih intensif dan mengancam bagi warga yang menawarkan perlindungan kepada pekerja tidak berdokumen dan pengungsi. Hal tersebut merupakan bentuk nyata dari upaya imperialisme AS melakukan cuci tangan atas segala tindakan, kebijakan, dan skema yang selama ini mereka jalankan yang melahirkan kemiskinan dan kemelaratan akut di negeri-negeri Latin. Kemiskinan dan keterpurukan ekonomi serta masalah keamanan adalah alasan utama begitu banyaknya gelombang  migrasi di dunia.
Rezim Trump didukung oleh pengusaha-pengusaha minyak monopoli dunia, yang memperoleh keuntungan besar dari invasi rejim George W Bush dahulu. Mereka menggunakan Islamphobia untuk memprovokasi krisis, sehingga membenarkan adanya perang lain, dan menargetkan Iran sebagai sasaran berikutnya. Trump sesungguhnya melanjutkan histeria anti Islam dan Perang Anti Teror yang dikampanyekan AS pada masa George W. Bush sejak Peristiwa 11 September 2001 (9/11), untuk melancarkan perang agresi, menguasai kekayaan alam, dan mengontrol sepenuhnya. Ketujuh negeri yang masuk kategori larangan masuk warganegaranya ke AS, menjadi tempat yang telah dirusak dan di-bom oleh AS untuk dikuasai cadangan minyak besar dan sumber alamnya. Usaha AS (Navy SEAL) akhir-akhir ini dilakukan di Yaman dalam menyerang Al-Qaida, merupakan bagian dari skema AS untuk menguasai Yaman atas nama perang melawan teror.
Sesungguhnya Donald Trump terpilih sebagai Presiden AS ke-47 melalui kampanye anti imigran, pengungsi, dan anti rakyat miskin dengan menyebarkan rasisme, xenophobia (fobi orang asing), neo fasis, perang, mengusir imigran dan Muslim, misoginis (kebencian terhadap perempuan), dan menyebarkan ketakutan. Donald Trump beserta segelintir elit dan korporasi raksasa berusaha mengalihkan kemarahan rakyat AS kepada umat Muslim, Mexico, dan para imigran. Ini merupakan cara menciptakan keuntungan berlipat bagi segelintir elit dan korporasi di pundak klas pekerja dan rakyat terhisap dan tertindas seluruh dunia.
Kebijakan-kebijakan dikriminatif ini merupakan bentuk konkret dari cuci tangan imperialisme AS terhadap seluruh kejahatan kemanusian yang terjadi di dunia. Larangan imigrasi yang dikeluarkan seolah melupakan dosa bawaan dari imperialisme AS yang telah menghancurkan kehidupan rakyat dunia dan menjerumuskan seluruh rakyat dunia kedalam jurang penderitaan akibat kehilangan tempat tinggalnya. Selain itu, Donald Trump yang ditopang oleh perusahaan-perusahaan monopoli dunia telah menebar kebencian dan teror kepada seluruh rakyat dunia dengan berbagai skema yang dijalankan guna mengeruk keuntungan dan meningkatkan derajat penghisapan terhadap seluruh rakyat dunia.
Tidak Ada Sedikitpun Cinta Kasih Rezim Boneka Jokowi-Jk Terhadap Rakyat    
Jokowi-JK yang telah memasuki tahun ketiga memimpin indonesia. sepanjang perjalannya, Rezim Jokowi-JK semakin menujukkan dirinya sebagai rezim yang tidak cinta dan anti terhadap rakyat. berbagai kebijakan yang dikeluarkan ditujukkan untuk pelayan prima bagi imperealisme AS,  justru semakin membuat rakyat masuk kedalam jurang pederitaan  yang berlipat ganda. kebijakan paket kebijakan ekonomi yang sudah mencapai 14 jilid, telah melahirkan PP No 78 Tahun 2015, Program Reforma Agraria palsu (sertifikasi tanah dan pengadaan tanah untuk pembangunan), pembangunan infrastruktur dan lain lain, telah merampas hak demokratis rakyat terutama hak rakyat atas Upah, tanah dan lapangan pekerjaan.
Rezim Jokowi-JK dalam menjalankan segala kebijakan semakin memperterang watak aslinya yang anti rakyat dan fasis. Terbukti dengan meningkatanya tindaka pelarangan berpendapat, kriminalisasi,  penangkangan hingga pembunuan terhadap rakyat yang berjuang atas hak demokratisnya.  Di sektor Buruh, tindakan PHK, kekerasan dan penangkapan terhadap  buruh yang melakukan perjuangan menutut upah layak semakin marak dilakukan. Sedangkan tani, berdasarkan catatan Aliansi Gerakan Reforma Agraria di sepanjang 2016, ada 30 konflik agraria di 12 provinsi, dari konflik tersebut terdapat 92 petani menjadi korban kekerasan, 39 orang menjadi korban penembakan, 228 orang ditangkap dan 83 orang dikriminalisasi.
Di sektor Buruh migran. Berdasar catatat Keluarga Besar Buruh Migrant Indonesia (KABAR BUMI) tindakan perdagangan manusia di indonesia tinggi, jumlah korban perdagangan manusia terbesar dari NTT. Selama tahun 2015 dan 2016 (periode Januari-Juli) ada 1667 orang yang diberangkatkan. Selain itu,  ada 53 orang Buruh migrant yang dipulangkan dalam kondisi tidak bernyawa ke NTT.
Pada sektor pemuda mahasiswa, FMN mencatat 4 kali pembubaran dan pelarangan kegiatan maupun aktivitas mahasiswa, 115 mahasiswa mendapatkan skorsing sepihak dari pihak kampus, 24 orang mendapatkan Drop Out karena melakukan aksi demonstrasi di kampus, 7 mahasiswa di tangkap, dan 1 mahasiswa di kriminalisasi. Catatan-catatan ini menambah suram kondisi rakyat indonesia di bawah rezim Jokowi-JK
Perkuat Organisasi: Terus Kobarkan Cinta dan kesetiaan mengabdi pada Rakyat
Di tengah berbagai penderitaan dan tindakan fasis dialami rakyat Menjadi dasar ilmiah untuk meletakkan cinta dan kesetiaan mengabdi pada rakyat. .kecintaan dan pengabdian kepada rakyat terwujud dalam kerja keras untuk  membangkitkan mengorganisasikan dan menggerakkan massa untuk melawan segala kebijakan Rezim Jokowi-JK anti rakyat dan fasis. 
Dalam momentum Valentine Day kali ini, Front Mahasiswa Nasional menjadikan momentum hari valentien menjadi ruang untuk memperkuat kecintaan dan kesetian mengabdi pada rakyat. selain kami  mengajak seluruh pemuda mahasiswa untuk untuk diri mengabdi pada rakyat. dengan ambil bagian secara aktif dalam perjuangan rakyat melawan segala kebijakan yang anti rakyat dan fasis sebagai bentuk dari cinta sejati sesama manusia.


Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger