Headlines News :
Home » » Peringatan satu (1) Tahun Kebijakan Drop Out 3 (tiga) Mahasiswa UIM. Perkuat Persatuan Pemuda Mahasiswa Dalam Perjuangan Melawan Kebijakan Anti Demokratis Di Dunia Pendidikan

Peringatan satu (1) Tahun Kebijakan Drop Out 3 (tiga) Mahasiswa UIM. Perkuat Persatuan Pemuda Mahasiswa Dalam Perjuangan Melawan Kebijakan Anti Demokratis Di Dunia Pendidikan

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Kamis, 16 Februari 2017 | 22.03



Mahasiswa Bertanya ?
Ibu Rektor Jawab Dengan SK Drop Out! 

Tanggal 17 Februari 2017 merupakan momentum 1 tahun kebijakan Drop Out yang dikeluarkan Dr. Ir. Andi Majdah Selaku Rektor Universitas Islam Makassar (UIM)  kepada Tiga Mahasiswanya. Tiga Mahasiswa yang mendapatkan kebijakan Drop Out itu adalah Bakrisal Rospa (Nomor Induk Mahasiswa 12023014026, Jurusan Teknik Elektro, Semester 7), Henry Foord Jebss (Nomor Induk Mahasiswa 13022014002, Jurusan Teknik Mesin, Semester 7), Dzulhilal M ( Nomor Induk Mahasiswa 12024014033, Jurusan Teknik Informatika, Semester 7). Kebijakan Drop Out ini ditenggarai lantaran ketiga mahasiswa ini menanyakan masa jabatan Rektor UIM yang sudah 3 Periode.

Kebijakan Drop Out ini tentunya membuat masa depan ketiga mahasiswa ini berada diujung tanduk dalam perkuliahan. Ketiga mahasiswa ini melakukan berbagai upaya agar Rektor UIM mencabut kebijakan ini. Setidaknya sudah puluhan aksi demonstrasi yang dilakukan untuk menuntut hak demokratis sebagai mahasiswa dikembalikan oleh Rektor. Selain itu, mereka juga melakukan hearing dengan pihak Kopertis wilayah IX yang menaungi UIM di tingkat wilayah, lalu juga ke komisi D DPRD Provinsi Sulawesi Selatan.

Hearing yang dilakukan ternyata tidak mendapatkan respon yang baik dari pihak kopertis wilayah IX dan DPRD provinsi. Ketiga mahasiswa ini hanya dijanjikan semata tanpa realisasi konkret dari dua lembaga tersebut. Selain melakukan Hearing, ketiga mahasiswa ini juga mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

Usaha yang dilakukan melalui jalur hukum ini ternyata memiliki hasil yang baik, dimana gugatan ketiga mahasiswa ini dimenangkan. PTUN Makassar memenangkan gugatan tiga mahasiswa ini pada tanggal 8 November PTUN Makassar mengeluarkan keputusan Pokok perkara yakni  :

1. Mengabulkan Gugatan Para Penggugat untuk seluruhnya;
2. Menyatakan batal Keputusan Tergugat berupa Surat Keputusan Rektor   Universitas Islam Makassar Nomor : 863/UIM/Skep/ll/2016 tanggal 17 Februari 2016, tentang Pemberhentian Dengan Tidak Hormat Mahasiswa FakultasTeknik UIM sepanjang atas nama :
a. Bakrisal Rospa, NIM. 12023014026;
b. Henry Foord J, NIM. 13022014002;
3. Mewajibkan Tergugat untuk mencabut Surat Keputusan Rektor Universitas Islam Makassar Nomor : 863/UIM/Skep/ll/2016 tanggal 17 Februari 2016, tentang Pemberhentian Dengan Tidak Hormat Mahasiswa Fakultas Teknik UIM sepanjang atas nama :
a. Bakrisal Rospa, NIM. 12023014026;
b. Henry Foord J, NIM. 13022014002;
4. Mengembalikan Para Penggugat pada kedudukan semula sebagai mahasiswa Universitas Islam Makassar
5. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara ini sebesar Rp. 301.000 (Tiga Ratus Satu Ribu Rupiah);
Kemenangan yang didapatkan oleh ketiga mahasiswa ini ternyata tidak membuat pihak Rektor UIM sadar akan kesalahannya. Pihak Rektorat UIM justru tetap keras kepala dengan mendaftarkan upaya banding atas putusan PTUN Makassar. Tentu kondisi ini, tidak jua menyurutkan semangat dari ketiga mahasiswa UIM untuk menuntut haknya, ketiganya semakin semangat menuntut haknya terhadap pihak Rektor UIM

Kebijakan Drop Out terhadap 3 mahasiswa UIM pada Februari tahun 2016 menambah catatan buruk dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. selain itu juga, mencerminkan watak pendidikan Indonesia yang anti demokratsi dan anti kemajuan. Pasalnya, kebijakan anti demokrasi seperti kebijakan Drop Out terjadi beberapa kampus. Menurut catatan Front Mahasiswa Nasional (FMN) sepanjang 2016, kebijakan Drop Out  tidak hanya terjadi di UIM.  Namun juga terjadi di beberapa kampus di Indonesia seperti kebijakan Universitas Muhamadiyah Sumatra Utara (UMSU) yang telah mengeluarkan Kebijakan Drop Out kepada 24 mahasiswa pada bulan oktober 2016  karena melakukan aksi menuntut transparansi dana kampus. Kebijakan Drop Out yang di keluarkan rector Universitas Negeri Jakarta kepada 1 mahasiswa karena melakukan aksi, dalam perkembanganya SK Drop Out di cabut karena meluasnya dukungan pemuda mahasiswa dan rakyat.

Kebijakan anti demokrasi dan anti kemajuan ini juga menimpa siswa dan guru di SMAN 13 Depok. Pak dika sebagai guru yang kerap mempertanyakan kebijakan pungutan Liar yang terjadi di SMAN 13 dihadapkan dengan pemecatan. Siswa  SMAN 13 Depok yang melakukan aksi atas pemecatan pak dika dan pungutan liar mengalami intimidasi dan ancama drop Out oleh pihak sekolah. Kondisi ini semakin menegaskan bahwa kebijakan anti demokrasi dan anti kemajuan tidak hanya terjadi di  pendidikan tinggi tapi juga di pendidikan dasar dan menengah di Indonesia.

Selain kebijakan kebijakan Drop Out, mayoritas kampus juga menjalankan tindakan anti demokrtis lainnya seperti pelarangan beraktifitas, intimidasi, dan refresifitas terhadap mahasiswa yang berjuang atas hak demokratisnya. padahal menjadi hak-hak demokratis mahasiswa menjadi hal yang fundamental dalam kehidupan di kampus. Kondisi –tindakan anti demokrasi- tersebut sesungguhnya telah menghancurkan kemajuan kebudayaan rakyat, karena pendidikan tinggi yang seharusnya dapat mencerdaskan justru mengebiri mahasiswa dengan kebijakan-kebijakan yang anti kemajuan.

Kedepan tindakan anti demokratis dikampus akan semakin menjadi jadi, baik dalam bentuk tindakan intimidasi, refresifitas hingga Kebijakan Drop Out kepada mahasiswa. Seiring dengan menguatnya praktek liberealisasi, privatsiasi dan komersialisasi pendidikan di kampus-kampus yang berorentasi untuk melipat gandakan keuntungan dengan cara menghisap mahasiswa sehingga kebijakan Drop Out terhadap 3 mahasiswa UIM bukan hanya persoalan mahasiswa UIM. Namun persoalan tersebut menjadi persaolaan seluruh pemuda mahasiswa.

17 Februari 2017 merupakan momentum 1 tahun ketiga mahasiswa UIM berjuang menuntut haknya. Maka, Kami Pimpinan Pusat Front Mahasiswa Nasional mengajak kepada seluruh mahasiswa Indonesia untuk mendukung perjuangan ketiga mahasiswa UIM. Selain itu juga, Kami Pimpinan Pusat Front Mahasiswa Nasional mengutuk keras tindakan anti demokrasi di kampus serta mengajak kepada seluruh mahasiswa untuk melawan berbagai tindakan anti demokrasi yang dijalankan oleh kampus.  

setahun berlalu, kami tetap berlawan 
kembalikkan hak demokratis kami 

Jakarta, 17 Februari 2017
Hormat Kami


Badarudin
SEKJEN PP FMN



Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger