Headlines News :
Home » , » FMN Cabang Purwokerto Aksi Bersama Ribuan Mahasiswa untuk Mengecam Tindak Penangkapan dan Kekerasan terhadap Massa Aksi Selamatkan Slamet

FMN Cabang Purwokerto Aksi Bersama Ribuan Mahasiswa untuk Mengecam Tindak Penangkapan dan Kekerasan terhadap Massa Aksi Selamatkan Slamet

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Selasa, 10 Oktober 2017 | 12.05



Front Mahasiswa Nasional (FMN) Cab.Purwokerto bersama Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Selamatkan Slamet menggelar aksi respon cepat di alun-alun Purwokerto pada 10 Oktober 2017. Aksi respon cepat ini dalam rangka menyikapi tindakan penangkapan 24 aktivis dan kekerasan dalam aksi protes Pembagunan Pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTPB) di Kab. Banyumas. Jawa Tengah pada tanggal 9 oktober 2017.

Pada awal aksinya, massa yang dipimpin oleh Rizki Aritonang/Kibe selaku Koordinator Lapangan (Korlap) dipandu untuk meneriakan Yel-yel tuntutan seperti "Usir PT. SAE !". Menurut Rizki, "Aksi ini adalah bentuk respon kami dari berbagai elemen mahasiswa untuk mengecam tindakan fasis aparat kepolisian Banyumas dan Bupati Banyumas yang telah melakukan kekerasan dan penangkapan terhadap kawan-kawan kami". Setelah itu aksi dilanjutkan dengan orasi-orasi politik dari berbagai perwakilan mahasiswa.

Dalam kesempatannya, Didit yang mewakili FMN Cabang Purwokerto menyampaikan Orasinya "Teman-teman semalam diintimidasi, direpresif itu adalah bukti nyata rezim yang anti rakyat anti demokrasi dan fasis. Mahasiswa perlu bersatu dan berjuang bersama rakyat untuk melawan tindasan ini. Khususnya tindasan yang terjadi akibat pembangunan PLTPB ini. FMN berkomitmen untuk terus bertalian dengan rakyat melawan rezin fasis saat ini."ujarnya. 

Orasi dengan tekanan yang sama berupa kecaman terhadap Bupati Banyumas dan Polres Banyumas terus disuarakan oleh orator tiap organisasi. Seperti yang disampaikan oleh Ibra dari FMN dan Fud dari FISIP Unsoed bahwa rakyat berhak bersuara namun pemerintah terus merepresif dan menginjak-injak HAM. Orasi-orasi politik selanjutnya dilakukan oleh berbagai organisasi lainnya, seperti dari BEM Universitas Wijaya Kusuma (UWIKU), IAIN Purwokerto, dan Univ.Muhammadiyah Purwokerto (UMP).



Merespon orasi politik dari massa aksi, Bambang Y.S selaku Kapolres Banyumas  menyampaikan klarifikasinya "Di kantor polisi sedang ada pemeriksaan terhadap anggota polisi yang melakukan kekerasan. Pihak kepolisian siap mengawal dan menyesali kejadian tersebut. Pihak kepolisian minta maaf atas kejadian semalam. Pihak kepolisan memiliki aturan kode etik dan kedisiplinan, kapolres mengakui bahwa petugas semalam melanggar itu. Oknum yang bertindak semalam segera diproses dan barang-barang yang hilang mohon dilaporkan. Kali ini di aksi sekarang polisi melakukan tindakan keamanan tanpa kekerasan.”, menurutnya yang bersalah hanyalah sebatas oknum polisi semata.

Sementara itu Ahmad Husein selaku Bupati Bayumas datang menghampir massa aksi dan urun suara ”mohon maaf sebesar-besarnya atas kejadian semalam. Saya merasa menyesal. Saya datang kesini untuk memenuhi permintaan kalian kemarin. Tuntutan kalian sudah saya sampaikan ke Gubernur. Tinggal tunggu keputusan dari gubernur. Barang yang rusak akan saya ganti" demikian ujaran permintaan maafnya.

Dalam menanggapi perkataan Polres dan Bupati Banyumas, Symphati Dimas (Ketua Umum FMN) menyampaikan "Permintaan maaf dan klarifikasi yang demikian tidak ada gunanya bagi rakyat dan tidak menyelesaikan masalah yang ada. Dengan perkataan tersebut, mereka justru menunjukan ingin lepas tanggungjawab dari seluruh masalah. Kapolres seolah menyalahkan oknum polisi dan Bupati hanya berpangku pada keputusan Gubernur. Sebenarnya mereka berupaya melempar tuntutan rakyat yang ditujukan kepadanya." . Sementara menanggapi kejadian penangkapan dan tindak kekerasan pada hari sebelumnya, Dimas menyampaikan "Tindakan kemarin itu bukti bahwa pemerintah Banyumas fasis,seperti halnya rezim Jokowi. Jika demikian, tidak ada cara dan jalan lain bagi rakyat selain memperbesar organisasi dan perlawanannya" tutupnya. 

Aksi ditutup dengan orasi politik dari Adam Kuncoro (Ketua FMN Cab. Purwokerto) "kedatangan husen tadi tidak memeberikan kejelasan apapun atas keberlangsungan PLTPB.  Kami menilai tindakan  pemerintah banyumas tetap abai terhadap  dampak  dari PLTPB yang telah memerosotkan hidup rakyat, merusak ekosist, kurasakan dan kelangkaan air,  dan  lain lainnya. Padahal pejabat daerah punya wewenang untuk menghentikan proyek" ujarnya tegas.

Setelah aksi, kemudian dilanjutkan dengan Konferensi Pers yang diwakilkan oleh Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Banyumas yang menyampaikan kronologi penangkapan dan tindak kekerasan yang terjadi. Kemudian disusul pernyataan yang di keluarkan oleh LBH Yogyakarta bahwa penangkapan 24 aktivis tersebut tanpa dasar hukum. Massa aksi menutup seluruh rangkaian kegiatannya dengan berkomitmen untuk terus berjuang menolak PLTPB dan mengusut terus kesewang-wenangan aparat kepolisian.(Bdr)

Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger