Headlines News :
Home » , , » Mengecam Tindakan Kekerasan, Intimidasi dan Pengancaman yang Dilakukan oleh Rektorat Universitas Negeri Semarang (Unnes) Terhadap Mahasiswa

Mengecam Tindakan Kekerasan, Intimidasi dan Pengancaman yang Dilakukan oleh Rektorat Universitas Negeri Semarang (Unnes) Terhadap Mahasiswa

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Jumat, 08 Juni 2018 | 00.54


“Lawan Uang Pangkal, UKT dan Seluruh Praktik Komersialisasi Pendidikan”


Jakarta (08/06/2018), Pimpinan Pusat Front Mahasiswa mengutuk dan mengecam tindakan represif yang dilakukan oleh pihak rektorat melalui Satuan Pengaman kampus terhadap massa aksi mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes). Tindakan represif, intimidasi dan pengancaman kembali terjadi dalam dunia pendidikan tinggi. Aksi massa yang dilakukan oleh mahasiswa Unnes dalam menolak pemberlakukan uang pangkal berujung direspon dengan negatif oleh pihak rektorat. 

Sejak tanggal 4 Juni 2018, mahasiswa Unnes melakukan aksi protesnya terhadap kebijakan kampus yang memungut Uang Pangkal. Hal ini merupakan bentuk perjuangan melawan komersialisasi pendidikan yang semakin menjamur di berbagai kampus. Aksi kemudian berlanjut di hari berikutnya (5 Juni) dengan melakukan aksi diam. Namun upaya dari pihak rektorat untuk membungkam perjuangan mahasiswa kembali terjadi. Berdasarkan informasi yang di dapat, terdapat tiga orang mahasiswa yang kemudian mendapat Surat Dugaan Pelanggaran Tata Tertib. Surat tersebut menunjukan bahwa kampus semakin jauh dari prinsip ilmiah dan demokratis. Kritik, pendapat, dan ekspresi dari mahasiswa dengan mudah dibungkam melalui Peraturan Tata Tertib Kampus.

Tindakan intimidasi dan pengancaman tersebut tidak membuat mahasiswa Unnes mundur dari perjuangannya. Pada 7 Juni 2018 mahasiswa kembali menggelar aksi, mahasiswa menuntut agar Rektor Unnes dapat menemui massa aksi dan melakukan dialog bersama. Namun sejak pagi hingga sore hari, Rektor yang berada di dalam ruanganya tidak bergeming dan tetap bersikap tidak mau menemui massa aksi. Akhirnya, massa aksi membagi barisannya ke beberapa titik pintu gerbang kampus. Mahasiswa tetap meminta agar rektor menemui mereka. Namun yang terjadi justru sebaliknya, mahasiswa mendapat tindakan represif dari Satpam Kampus ketika ingin menghampiri Rektor yang sedang berada di dalam mobilnya dan ingin meninggalkan kampus begitu saja. Pemukulan, Dorongan, Tendangan, beberapa mahasiswa juga di seret-seret oleh keamanan kampus. Rektor dengan mobilnya tetap melaju meskipun massa aksi banyak yang menghalangi, bahkan sebagian massa aksi mengabil inisiatif untuk membuat barisan dengan berbaring di jalan. Massa aksi yang berbaring di jalan dan menghalangi lajunya mobil Rektor kembali mendapat tindak kekerasan, mereka di injak, dipukul, diseret oleh kemanan kampus, yang mengakibatkan satu orang jatuh pingsan. Tidak sampai disitu, kegigihan massa aksi untuk bertemu dengan Rektor terus dilakukan, dengan berupaya memberhentikan mobil Rektor. Namun, dengan arogan dan bar-bar Rektor tetap melanjutkan laju mobilnya dan menerjang massa aksi. Akibat terjangan itu salah satu massa aksi ada yang terpental dan tak sadarkan diri.

Kejadian tersebut semakin menambah catatan buruk tindasan fasis di dunia pendidikan selama rezim Jokowi berkuasa. Gerakan mahasiswa di kampus-kampus terus menjadi sasaran pembungkaman, tindakan represifitas, intimidasi dan ancaman pemberian sanksi. Itu semua tidak lain dilakukan demi upaya rezim Jokowi yang direpresentasikan oleh Rektor untuk melanggengkan skema liberalisasi dan praktik komersialisasi pendidikan tinggi. Sistem UKT, naiknya biaya kuliah, penarikan Uang Pangkal, dan berbagai bentuk pungutan lainnya terus mendapat tentangan dan perlawanan dari mahasiswa. Demi menjalankan semua itu, pemerintah termasuk di kampus tidak segan-segan untuk melakukan tindak kekerasan. Hal terebut merupakan cerminan dari watak fasis rezim Jokowi saat ini. Kampus terus di sulap menjadi lembaga pendidikan yang memaksa mahasiswa untuk berpikiran sama, tidak kritis, tidak ilmiah dan menjauhkan mahasiswa dari rakyat tertindas.

Berbagai upaya pembungkaman, kekerasan, intimidasi dan berbagai tindasan fasis lainnya justru semakin memberikan pelajan penting bagi gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa mendapatkan inspirasi dari seluruh tindasan yang dialaminya, bahwa untuk dapat merebut kembali hak-nya dan memenangkan tuntutannya, maka perjuangan mahasiswa harus lebih keras dan lebih kuat lagi. Sebab fakta telah membuktikan, tidak ada niat  baik dari pemerintah dan Rektorat kampus untuk memenuhi tuntutan mahasiswa. Gerakan mahasiswa harus memperkuat dirinya dan memajukannya dengan mempersatukan diri dengan perjuangan rakyat. Kampus harus direbut secara paksa oleh gelombang perjuangan yang besar. Gerakan mahasiswa harus mengembalikan kampus menjadi laboratorium yang ilmiah untuk kemajuan rakyat dan menjadi benteng kebudayaan rakyat.

Atas kejadian tersebut, maka kami Pimpinan Pusat FMN menyatakan sikap dan tuntutannya:

  1. Mengecam Tindak kekerasan, intimidasi, dan upaya pembungkaman melalui pemberian sanksi terhadap mahasiswa Universitas Negeri Semarang yang melakukan perjuangannya. 
  2.  Menuntut kepada Rektor Unnes untuk mencabut kebijakan Uang Pangkal, menurunkan biaya kuliah, dan menghentikan seluruh praktik komersialisasi pendidikan. 
  3. Menuntut kepada Rektor Unnes untuk memberikan permintaan maaf terbuka kepada seluruh mahasiswa Unnes dan Mahasiswa di Indonesia atas arogansinya, tindak kekerasanya yang menyebabkan beberapa massa aksi mengalami luka-luka, serta tindakan anti kritik dan anti demokrasi yang telah mencoreng spirit Universitas sebagai institusi kebudayaan yang maju.
  4. Mendukung penuh perjuangan mahasiswa Unnes dalam melawan liberalisasi dan komersialisasi pendidika serta seluruh tindasan fasis yang anti terhadap mahasiswa.

Dalam kesempatan kali ini, PP FMN juga menyerukan kepada seluruh mahasiswa untuk memperkuat persatuannya dan memajukan perjuangan melawan liberalisasi, privatisasi dan komersialisasi pendidikan. FMN juga mengajak mahasiswa di Indonesia untuk bersama-sama menentang rencana Pertemuan Tahunan World Bank – IMF yang akan diselenggarakan pada 8 – 14 Oktober di Nusa Dua, Bali. Karena kedua lembaga tersebut merupakan salah satu sumber petaka bagi pendidikan di Indonesia.

Jakarta, 8 Juni 2018
Pimpinan Pusat
Front Mahasiswa Nasional


Symphati Dimas Rafi’i
Ketua Umum
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger