Headlines News :
Home » , , , , » Mengecam Rektor Unnes atas Pemberian Sanksi Skorsing Terhadap Julio Belnanda Harianja: Lawan Seluruh Kebijakan Komersialisasi dan Tindasan Fasis Di Dunia Pendidikan

Mengecam Rektor Unnes atas Pemberian Sanksi Skorsing Terhadap Julio Belnanda Harianja: Lawan Seluruh Kebijakan Komersialisasi dan Tindasan Fasis Di Dunia Pendidikan

Written By Pimpinan Pusat Fmn on Selasa, 10 Juli 2018 | 01.57




Tindakan anti demokrasi terus ditunjukan oleh kampus terhadap perjuangan yang dilakukan oleh mahasiswa. Upaya untuk membungkam gerakan mahasiswa dalam memperjuangkan hak-hak demokratisnya kembali terjadi, kali ini menimpa mahasiswa dari Universitas Negeri Semarang (Unnes). Pada 29 Juni 2018 Rektor Unnes melalui Wakil Rektor Bidang Akademik mengelurkan Surat Keputusan Skorsing selama 2 Semester dan larangan untuk mengikuti seluruh kegiatan Akademik serta Non Akademik terhadap mahasiswa atas nama Julio Belnanda Harianja.

SK Skorsing tersebut dilatari dari meningkatnya gelombang perjuangan mahasiswa Unnes dalam menolak komersialisasi pendidikan dengan bentuk penarikan Uang Pangkal. Gerakan mahasiswa Unnes telah melakukan perjuangan yang militan dan berani dalam menentang kebijakan Uang Pangkal yang dikeluarkan oleh Rektor Unnes. Gelombang demonstrasi terjadi begitu masif dan mampu menggerakan banyak mahasiswa. Dalam aksi-aksi yang dilakukan oleh mahasiswa Unnes, tidak jarang pihak kampus meresponnya dengan tindak kekerasan dan intimidasi. Namun demkian, tekad dan keteguhan mahasiswa Unnes tidak juga meredup.

Secara prinsip, perjuangan mahasiswa Unnes dalam bentuk aksi-aksi massa merupakan hak demokratis mahasiswa. Kampus sebagai representasi dari lembaga ilmiah seharusnya membuka secara luas kebebasan berdemokrasi di dalamnya. Iklim demokrasi seharusnya dibuka seluas-luasnya, termasuk di dalamnya adalah kritik yang dilayangkan oleh mahasiswa melalui aksi demonstrasi.

FMN menilai SK Skorsing tersebut merupakan upaya nyata untuk membungkam gerakan mahasiswa di Unnes. Tudingan Rektor Unnes atas pelanggaran berupa tindakan memicu atau menghasut keonaran sangat tidak berdasar. Apa yang dilakukan oleh Julio dan kawan-kawan Unnes adalah upaya untuk membangkitkan kesadaran massa melalui berbagai aktifitas yang produktif. Berbagai kegiatan diskusi, edukasi, propaganda dan berbagai publikasi adalah tindakan yang tepat dan ilmiah dalam mendidik massa mahasiswa. Hasilnya jelas, mahasiswa di Unnes makin sadar untuk melawan seluruh kebijakan kampusnya yang merugikan mahasiswa dan rakyat.

Dengan dikeluarkanya SK Skorsing tersebut telah menambah catatan buruk iklim demokrasi di Indonesia selama pemerintahan Jokowi berkuasa. Sejak awal tahun 2017, FMN mencatat pemerintah Jokowi melalui kampusnya telah melakukan tindak kekerasan terhadap 192 mahasiswa, 52 di antaranya mendapat sanksi Drop Out. Belum lama ini juga kegiatan dari Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) di Malang dan Surabaya mendapat tindak represi dari aparat keamanan negara. Begitu juga beberapa waktu lalu terjadi kekerasan terhadap peserta aksi mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Artinya, kampus terus menunjukan watak fasis dari rezim Jokowi. Hal tersebut tidak lain adalah cara untuk memastikan seluruh skema ekonomi, politik dan kebudayaan dari rezim dapat berjalan. Kampus kini pun juga terus dijadikan alat legitimasi mulusnya skema neoliberal di jalankan. Melalui berbagai skemanya termasuk membuat berbagai pungutan biaya, meningkatkan biaya pendidikan dan memangkas anggaran adalah cara untuk meliberalisasi sektor pendidikan tinggi.

Mahasiswa tidak hanya dibenturkan dengan berbagai tipu daya teori dan konsepsi yang anti rakyat, namun juga dibenturkan dengan berbagai skema depolitisasi dan tindasan fasis. Kampus digunakan sebagai Menara Gading untuk mengungkung mahasiswa dan menjauhkannya dari realita kehidupan rakyat. Bahkan lebih jauh nya, kampus melalui berbagai riset, kajian dan teorinya kerap menjadi alat legitimasi kebijakan yang menindas rakyat.
 
Atas dasar itu, Pimpinan Pusat FMN menyatakan “MENGECAM TINDAKAN FASIS REKTOR UNNES YANG MENERBITKAN SURAT KEPUTUSAN PEMBERIAN SANKSI SKORSING TERHADAP KAWAN JULIO DAN SELURUH TINDASAN REPRESIFNYA KEPADA MAHASISWA UNNES”, serta menuntut:


  1. Cabut SK Skorsing (Keputusan Rektor Universitas Negeri Semarang Nomor 304/P/2018) ! 
  2. Cabut Peraturan Rektor Nomor 19 Tahun 2016 tentang Etika dan Tata Tertib Mahasiswa !
  3. Rektor Unnes harus menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada seluruh mahasiswa Unnes atas tindakannya yang telah menciderai spirit perguruan tinggi untuk menjunjung tinggi demokrasi dan keilmiahan !
  4. Menolak Penerapan Uang Pangkal di Unnes dan seluruh PTN di Indonesia. Hentikan seluruh praktik komersialisasi dan liberalisasi pendidikan !
  5. Hentikan seluruh tindak kekerasan, intimidasi, teror, dan kriminalisasi terhadap perjuangan mahasiswa !
  6. Cabut Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi !
  7. Wujudkan Sistem Pendidikan Nasional yang Ilmiah, Demokratis dan Mengabdi Kepada Rakyat!
  8. FMN menyampaikan dukuang penuh terhadap gerakan mahasiswa Unnes dalam perjuangannya melawan komersialisasi pendidikan dan melawan tindasan fasisme di dunia pendidikan !



Dalam momentum ini, FMN juga menyerukan dan mengajak seluruh mahasiswa di Indonesia untuk memperkuat persatuan dan membangun organisasi massa sejati di seluruh kampus. Gerakan mahasiswa juga harus bersatu dengan perjuangan rakyat, khususnya klas buruh dan kaum tani untuk melawan seluruh kebijakan dan tindasan rezim Jokowi.

Jakarta, 10 Juli 2018
Hormat Kami,
Pimpinan Pusat
Front Mahasiswa Nasional
                                            

Symphati Dimas Rafi’i
Ketua Umum


 

Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger