Headlines News :
Home » , , » Buah Dari Persatuan & Keteguhan Berjuang, 2 Nelayan Dadap (Muh. Alwi dan Ade Sukanda) TELAH BEBAS!

Buah Dari Persatuan & Keteguhan Berjuang, 2 Nelayan Dadap (Muh. Alwi dan Ade Sukanda) TELAH BEBAS!

Written By PP FMN on Senin, 03 Februari 2020 | 05.49


Berakar dari proyek reklamasi teluk Jakarta yang mendapat penolakan dari masyarakat terutama yang berprofesi sebagai nelayan karena di nilai sama sekali tidak memberi dampak positif bagi mereka. Yang ada proyek tersebut hanya akan merampas dan menghilangkan mata pencaharian mereka yang turun temurun menjadi sumber penghidupannya. Hal itulah yang dirasakan oleh nelayan kampung baru Dadap dan Kamal sehingga warga melakukan penolakan. Namun apa yang didapatkan, 2 Nelayan Muh. Alwi dan Ade Sukanda dikriminalisasi oleh pihak pengemban.

Berawal pada 2015 silam telah terjadi pengerusakan 668 Bagan Ternak Kerang hijau milik nelayan yang dilakukan oleh sekelompok Satuan Pengamanan (Satpam) yang menjaga pulau C, salah satu pulau reklamasi yang ijin pembangunan dimiliki PT. Kapuk Naga Indah. Kejadian tersebut kemudian dilaporkan oleh nelayan ke Polsek Penjaringan, namun hingga saat ini  tidak ada tindak lanjut sama sekali, bahkan ada nelayan yang belum mendapatkan ganti rugi ,yang sudah dibayarkan pun tidak sesuai dengan kesepakatan 7 juta/bagan namun yang dibayarkan hanya Rp.500,000/bagan.

Lalu pada 7 Desember 2017, Nelayan Kampung Baru Dadap dan Kamal Muara melakukan aksi pemberhentian sementara aktivitas kapal tongkang Batu Merah yang ditemukan melakukan aktivitas pembangunan jembatan tanpa melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar ataupun nelayan. Aksi tersebut dilakukan lantaran aktivitas kapal pembangunan jembatan penghubung tersebut kembali mengganggu mata pencarian nelayan yang berakibat pada menurunnya hasil produksi nelayan Dadap & Kamal Muara di teluk Jakarta. Setelah aksi nelayan tersebut, aktivitas kapal tongkang Batu Merah sementara berhenti dan menjanjikan akan melukakan sosialisasi atau musyawarah ke masyarakat Dadap dan Kamal Muara terkait proyek.

Namun, pada 11 Desember 2017 bukannya melakukan sosialisasi PT. Kukuh Mandiri Lestari selaku pemegang tender pembangunan jembatan dan/atau reklamasi justru menurunkan kapal Hayyin 16 untuk menyedot pasir di wilayah Teluk Jakarta atau dikawasan proyek pembangunan jembatan. Aktivitas tersebut pun kembali di protes oleh nelayan dengan maksud mempertanyakan aktivitas kapal dan sosialisasi yang sudah warga ajukan sebelumnya. Namun, disaat yang bersamaan dari kejauhan sekitar 100 meter terlihat beberapa preman yang membawa senjata rakitan dan mereka melakukan penodongan serta penembakan ke udara dengan maksud menakut-nakuti nelayan. Tindakan preman tersebut jelas membuat nelayan panik dan memancing kemarahan dari nelayan.

Tujuh bulan setelah kejadian di kapal  Hayyin 16, yakni 30 Juli 2018, Muhammad Alwi mendapat surat panggilan Polda Metro Jaya dengan nomor: S.Pgl/6840/VII/2018/Ditreskrimum dan ditetapkan sebagai saksi dan dimintai keterangan dalam kasus dugaan ancaman kekerasan. Atas laporan PT. Kukuh Mandiri Lestari (anak perusahaan Sedayu Group) melalui kuasa hukumnya.

Akibat Aktivitas penolakan yang dilakukan, 2 (dua) Nelayan Teluk Jakarta, Muhamad Alwi dan Ade Sukandar menjadikorban kriminalisasi, ditahan dan mendekam di penjara Polda Metro Jaya sejak 13 November 2019 dan pada tanggal 09 Desember 2019 di pindah kan kedalam Rumah Tahanan Kelas 1 Cipinang sampai sekarang , atas pelaporan PT Kukuh Mandiri Lestari anak perusahaan dari Agung Sedayu Group dengan tuduhan pengancaman kepada pekerja proyek pembangunan jembatan penghubung pulau reklamasi  teluk Jakarta pada 2017 dengan dakwaan Pasal 335 Ayat (1) ke 1 dan 2 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dengan hukuman penjara paling lama 1 tahun.

Merespon hal tersebut, Warga Kp. Baru Dadap bersatu dan berjuang bersama untuk membebaskan Nelayan yang ditahan. Aksi massa berulang kali mereka lakukan, merangkul warga yang lain dan mengajaknya untuk terlibat dalam perjuangan. Bukan hanya untuk 2 NElayan yang ditahan, tapi untuk seluruh rakyat pesisir teluk Jakarta terkhusus warga Dadap. Mereka menyadari bahwa apa yang terjadi pada 2 nelayan tersebut adalah bukti bahwa Negara sama sekali tidak berdiri bersama rakyat yang berarti tidak akan memberikan kesejahtraan kepada rakyatnya. Dan untuk mendapatkan itu dibutuhkan persatuan untuk membangun kekuatan, berjuang bersama untuk hidup yang lebih sejahterah.

Saat ini Kasus penahanan sudah masuk ke meja Hijau Pengadilan Jakarta Utara Dengan sidang ke 1 Pembacaan Dakwaan Jaksa Penuntut Umum dengan tuduhan tindakan Ancaman, Pengerusakan hingga pemukulan kepada pihak pekerja PT kukuh Mandiri oleh M. Alwi & Ade sukanda dengan menggunakan pasal 335 ayat (1) ke - 1 jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. Kemudia sidang 2 Nota keberatan (eksepsi) dari kuasa hukum M. Alwi atas Dakwaan yang di layangkan oleh pihak JPU. Sidang ke 3 Tanggapan Penuntut Umum atas Eksepsi Penasehar Hukum Terdakwa Muhammad Alwi. Dan pada tanggal 3 Februari 2020 adalah sidang ke-4 M Alwi & Ade Sukanda dengan agenda Putusan Dakwaan yang di Dakwakan kepada M. Alwi & Ade Sukanda. Keduanya adalah pejuang nelayan Teluk Jakarta yang memperjuangkan keberlangsungan nasib ratusan nelayan Kp. Baru Dadap dan Kamal yang menggantungkan hidupnya di Teluk Jakarta.



Perjuangan panjang yang terus dilakukan warga Kp. Baru Dadap berbuah hasil, 3 Februari 2020 Ke-2 Nelayan tersebut dinyatakan tidak bersalah dan bebas. Bebasnya mereka bukan dikarenakan kebaikann dari Pengadilan Negeri Jakarta Utara, tapi karena desakan dan perjuangan yang tiak kenal lelah yang dilakukan warga Kp. Baru Dadap bersama aliansi. Ini membuktikan kepada kita bahwa keteguhan dalam berjuang tidak akan sia-sia. Terus memperbesar kekuatan melalui organisasi yang maju, yang memiliki pandangan yang kongkrit atas situasi Negara saat ini. Kemudian bersama-sama melawan segala bentuk penindasan yang dilakukan oleh Imperialisme dan kakitangannya dalam negeri yaitu Borjuasi besar Komprador dan Kapitalisme Birokrat.
Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger