Headlines News :
Home » , , , » Pidato Politik Ketua Umum FMN: Memperingati 17 Tahun FMN

Pidato Politik Ketua Umum FMN: Memperingati 17 Tahun FMN

Written By PP FMN on Minggu, 17 Mei 2020 | 19.43

Pemuda Mahasiswa Bangkit Bersatu Bersama Klas Buruh dan Kaum Tani: Wujudkan Pendidikan yang Ilmiah, Demokratis dan Mengabdi Pada Rakyat




Salam Demokrasi,

Belajarlah tentang kenyataan, pahami secara mendalam dan ubahlah! Demi kedaulatan rakyat, demi masa depan dan nasib baru, demi kemerdekaan sejati sebagai manusia.

Pada 18 Mei 2020 Front Mahasiswa Nasional (FMN) organisasi yang kita cintai telah berusia 17 tahun. Tentu usia ini ditapaki dengan penuh kesulitan dan kerikil tajam, seluruh tingkatan organisasi, pimpinan dan anggota FMN selama ini terus berupaya untuk belajar, memperteguh diri, memperbaiki kelemahan dan kesalahan dan meningkatkan seluruh capaian yang telah diraih. Kita sedang menapaki jalan yang benar, untuk perubahan sejati pemuda mahasiswa dan seluruh rakyat Indonesia.

Kami sampaikan salut dan hormat setinggi-tingginya kepada seluruh pimpinan dan anggota Front Mahasiswa Nasional (FMN) yang selama 17 tahun ini terus berupaya keras untuk menunjukan konsistensi dan ketangguhannya demi kemajuan organisasi dan demi perjuangan massa.

Inspirasi dan pelajaran yang diberikan oleh berbagai organisasi rakyat, klas buruh, kaum tani, perempuan dan sektor rakyat tertindas lainnya mengiringi perjalanan FMN selama ini. Begitu banyak yang kami petik dari keteguhan hidup dan militansi rakyat dalam berjuang. Begitu menginspirasi untuk terus memupuk dan menebalkan semangat juang pemuda mahasiswa dalam pengabdiannya terhadap rakyat dan perjuangannya.

Hormat dan apresiasi yang tinggi juga kami sampaikan kepada seluruh lulusan FMN yang hingga saat ini tetap teguh dan konsisten berjuang, mengembangkan dan memperbesar organisasi rakyat. Sungguh jalan hidup yang mulia dan patut menjadi tauladan bagi seluruh pimpinan dan anggota FMN. Pemuda-Mahasiswa memiliki tugas suci nan panjang untuk berjuang bersama rakyat, mengabdikan ilmu pengetahuan, tenaga, dan seluruh miliknya untuk perjuangan rakyat.


Kawan – kawan FMN yang militan,
Selama 17 tahun ini juga FMN telah diperlihatkan kebenaran dari pandangan dan pendirianya tentang kondisi global dan masalah nasional di Indonesia. Krisis kronis dalam tubuh dan sistem yang dibangun oleh imperialisme di bawah komando Amerika Serikat semakin jelas terlihat.

Imperialis AS tidak lagi bisa menemukan obat untuk mengatasi krisis dalam tubuhnya. Sehingga sisa tenaganya dicurahkan untuk melipatgandakan penghisapan dan tindasan terhadap seluruh rakyat dunia. Menjaga dominasinya dari kontradiksi antar negeri imperialis, dan dari gerakan rakyat untuk pembebasan di berbagai negeri yang semakin meluas.



Saat ini dunia sedang dihadapkan dengan krisis ekonomi, politik hingga krisis kesehatan. Pandemi Covid-19 adalah kenyataan dari hancur dan tidak mampunya imperialisme bersama sistem neoliberalnya memastikan dan menjamin kesehatan rakyat. Covid-19 adalah satu dari begitu banyak penyakit berbahaya yang tidak pernah menjadi perhatian serius pemerintah di berbagai negeri. Tiongkok yang disebut sebagai pesaing utama Amerika Serikat dalam persoalan ekonomi, kini tertunduk lesu dan harus mengakui bahwa Covid-19 telah membuktikan bahwa sistem sosial dan ekonomi mereka jauh lebih rapuh dari yang terlihat. Begitu pula negeri-negeri Uni Eropa yang sama tidak berdayanya, mereka bersaing untuk pengembangan kapital dan ekspansinya ke berbagai negeri miskin seperti Indonesia, namun luluh lantah oleh Covid-19. Kondisi lebih buruk pun terjadi di Amerika Serikat sebagai negara pengusung utama dikte neoliberal, menjadi kekuatan ekonomi dan militer terbesar di dunia, memiliki begitu banyak pemerintahan bonekanya di berbagai negeri (termasuk Indonesia), namun Covid-19 membungkam Donald Trump yang tidak lagi bisa berpidato dengan percaya diri dan lantang.
Namun, bukan imperialis namanya jika tidak berupaya untuk berkelit, mencari obat penyembuh sementara dari krisisnya. Jalan yang ditempuh tidak lain adalah dengan mengorbankan rakyat berbagai negeri dengan penghisapan yang berlipat. Di AS, terdapat 22 juta orang pekerja yang di PHK dan tidak mendapatkan jaminan kesehatan selama pandemi Covid-19 terjadi. Bahkan secara global, International Labour Organization (ILO) mencatat sebesar 81% atau 2,67 Miliar orang pekerja di seluruh dunia dihadapkan dengan penutupan sementara perusahaan dan 1,25 miliar buruh di antaranya dalam kondisi terkena PHK, pemotongan upah dan pengurangan waktu kerja.
Persoalan pendidikan juga semakin meluas dan membebani rakyat di AS. Mahasiswa dipaksa untuk berhutang untuk membiayai pendidikannya. Akibat kebijakan tersebut, 70% dari mahasiswa di AS adalah penerima Student Loan dan lebih dari 44 juta di antaranya memiliki total pinjaman senilai US$ 1,4 triliun. Bahkan sebuah penelitian dari One Wisconsin Institute mengemukakan bahwa butuh 19,7 tahun bagi mahasiswa untuk dapat melunasi utang pendidikan tersebut. Bank Sentral AS (The Fed) menyampaikan bahwa akibat dari kebijakan tersebut rakyat AS memiliki rata – rata sisa pinjaman pendidikan sebesar US$ 33.765 per orang di usia 40 tahun. Inilah sistem yang diadopsi dan diagungkan berbagai negeri di eropa, negeri-negeri kapitalis di Asia, hingga pemerintah Indonesia yang juga mengadopsi sistem tersebut. Pendidikan memang dijadikan bisnis besar dari imperialis dan pemerintah anti rakyat untuk mendapat keuntungan yang sangat besar.

Situasi tersebut semakin memperterang pandangan kita bahwa imperialisme AS adalah musuh dari seluruh rakyat dunia, merupakan musuh dan sumber masalah dari rakyat Indonesia. Oleh karenanya, sistem dan era imperialisme saat ini juga menunjukan pembusukan dan kemerosotannya kepada kita. Maka semakin jelas bahwa hari depan dari sistem dan era imperialisme adalah Liang Kubur, sementara hari depan dari perjuangan rakyat adalah kemenangan yang gemilang.


Kawan, Mari Berjuang dan Jangan Takut!
Di Indonesia, di bawah kekuasaan rezim Joko Widodo (Jokowi) telah semakin menindas dan memerosotkan penghidupan seluruh rakyat Indonesia.  Rezim Jokowi terus menipu rakyat dengan program strategisnya dan aturan-aturan sebagai pelaksanaan Paket Kebijakan Ekonomi neoliberal, sejak tahun 2015, yang membiarkan perampokan kapitalis monopoli internasional, menguatkan monopoli tanah dalam sistem pertanian terbelakang, industri terbelakang yang bergantung pada utang dan investasi asing serta mengandalkan upah murah bagi buruh! Ini pula yang menjadikan industi dan sektor kesehatan di Indonesia tidak berkembang dan tetap terbelakang. Sementara, rakyat terus dipaksa untuk menanggung beban krisis.
Bahkan di tengah Pandemi Covid-19, pemerintahan Jokowi tetap berupaya untuk memberikan stimulus dan kemudahan bagi korporasi dalam negeri maupun milik imperialis. Di saat Tiongkok sedang berjibaku dengan Covid-19, pemerintah Indonesia justru terus berkeras untuk mengesahkan RUU Cipat Kerja yang ditolak oleh berbagai gerakan demokratis rakyat. Lebih buruk lagi, pemerintah justru memanfaatkan bencana Covid-19 dengan melakukan langkah stimulus ekonomi untuk sektor jasa transportasi, khususnya pesawat terbang dan sektor pariwisata. Seperti apa yang diputuskan oleh Jokowi dengan memberi harga diskon 30% tiket pesawat dengan 10 destinasi wisata dengan anggaran Rp 443,39 miliar dan pembebasan pajak bagi hotel serta restoran dengan memberikan hibah kepada pemerintah daerah sebesar Rp 3,3 triliun.
Sedangkan nasib klas buruh dan seluruh rakyat Indonesia dipertaruhkan untuk hidup di bawah terror Covid-19, PHK, pemotongan upah, tidak bisa berdagang, hingga terror dari pemerintah dengan berbagai sanksi. Saat ini lebih dari 2 juta buruh di Indonesia yang di PHK, dirumahkan dan mengalami pemotongan upah. Sebagian besar klas buruh juga tetap dipaksa untuk bekerja meskipun perusahaan tersebut tidak ada korelasinya dengan penanganan covid-19 secara langsung. Hal tersebut dilakukan oleh perusahaan demi mendapatkan super profit dan mengkambing hitamkan Covid-19 saat ini.
Masalah krisis kesehatan tidak berdiri sendiri, hal tersebut juga terjadi karena imbas dari monopoli dan perampasan tanah demi melanggengkan sistem setengah feodal di perdesaan. Monopoli pada sektor agraria berimbas hancurnya kedaulatan pangan rakyat. Selain menguasai tanah, tuan tanah dan borjuasi besar juga menguasai hasil produksi pertanian dari kaum tani. Membeli dengan harga yang murah dari kaum tani dan menjualnya dengan harga yang jauh lebih tinggi. Sementara itu, kaum tani dan klas pekerja lainnya di Indonesia hidup dengan upah rendah dan tidak mampu untuk menkonsumsi makanan yang bergizi, apalagi jika harus menambahnya dengan vitamin. Hal tersebut berimbas menjadi bencana kelaparan, gizi buruk, semakin rentannya rakyat terhadap berbagai penyakit, termasuk yang disebabkan oleh virus.
22 juta rakyat Indonesia mengalami kelaparan. Begitu pula dengan kondisi balita Indonesia, lahir dari rahim rakyat miskin yang sulit mengakses pangan dan nutrisi bukanlah takdir. Namun kenyataanya, UNICEF pada tahun 2019 menyatakan di Indonesia terdapat 50 – 59% mengalami pertumbuhan yang tidak baik diakibatkan oleh masalah gizi. Bahkan di tengah pandemi Covid-19, Jokowi justru menghantam rakyat dengan menaikan iuran BPJS Kesehatan melalui Peraturan Presiden No 64 Tahun 2020.

Kawan-kawanku, Mahasiswa Harus Bangkit Berjuang!
Imbas besar juga menimpa kita sebagai pemuda mahasiswa. Pemuda terus dihadapkan oleh realita hidup yang semakin sulit. Sempitnya lapangan pekerjaan, mahalnya biaya pendidikan, dan dirampasnya demokrasi membuat masa depan pemuda kian suram.
Melalui kurikulum dan orientasi pendidikannya, pemerintah terus memperlebar jarak pemisah antara pemahaman teori ilmu pengetahuan dan pengembangan kemampuan praktik. Seolah-olah untuk kemajuan rakyat, pendidikan harus dipisahkan antara ilmu pengetahuan teoritik dan program praktik kejuruan. Namun itu semua semata hanya untuk memastikan ketersediaan cadangan tenaga kerja melalui pengingkatan jumlah program vokasional.
Dengan demikian itu, maka kebutuhan perusahaan-perusahaan besar atas tenaga kerja berskill rendah dan berupah murah akan semakin tersedia luas. Bahkan pemerintah terus mempromosikan dan mendorong dihapuskannya berbagai jurusan yang tidak sesuai dengan kebutuhan pasar dan menggantinya dengan yang lebih adaptif terhadap fenomena yang disebut-sebut revolusi industri 4.0. Pemerintah mendorong dibukanya jurusan baru seperti jurusan Logistik, Ritel, Packaging, E-Sport, Elektronika dan Green Building. Lulusan sekolah kejuruan dan vokasi dilempar untuk menjadi buruh-buruh murah di berbagai cabang industri di Indonesia. Mereka terus memadati kawasan pabrik manufaktur, pertambangan, industri pengolahan, buruh jasa, dan pekerja serabutan. Dipaksa tunduk dihadapan mesin, tidak memiliki kedaulatan dalam melakukan kerja produksi, na’as sekali nasib pemuda mahasiswa.
Sementara itu, di tengah krisis ekonomi yang semakin akut, rakyat juga dibebani dengan beban kehidupan akibat pandemi Covid-19. Mahasiswa dibebani dengan sistem pembelajaran jarak jauh, kenaikan uang kuliah, dan tanpa bantuan berarti dari pemerintah. Saat ini gerakan mahasiswa terus berupaya untuk berjuang menuntut haknya. Mulai dari menuntut subsidi untuk belajar online, hingga tuntutan pengembalian uang semester dan menggratiskan biaya kuliah selama beberapa semester kedepan. Tuntutan tersebut harus diperjuangkan oleh massa mahasiswa, bungkam rektor kampus dan pemerintah dengan gerakan demonstrasi besar di berbagai kampus!
Ilmu pengetahuan yang diajarkan tidak pernah memberikan jawaban atas kemiskinan yang terjadi, hanya sebatas insturksi untuk saling berbagi, solidaritas sosial, donasi sosial yang tidak akan pernah melepaskan rakyat dari belenggu kemiskinan. Pemerintah juga mengelabui rakyat dengan menyatakan bahwa Indonesia tidak bisa hidup tanpa utang dan investasi asing. Fenomena korupsi dipersempit sebatas masalah oknum dan moralitas. Sementara itu, demi menjaga pengaruh dan dominasi penghisapan feodalisme oleh tuan tanah, pemerintah mengubah esensi dari nilai-nilai kebudayaan rakyat, seperti “menjaga adat dan tradisi” dan “budaya timur”. Sungguh pemutarbalikan nilai yang hanya bertujuan untuk menundukan rakyat. Semua itu merupakan peran aktif kampus-kampus di Indonesia dalam memproduksi ilmu pengetahuan yang berpihak pada kepentingan imperialisme dan feodalisme.
Sungguh realita yang tentunya tidak bisa kita terima begitu saja. Itu semua bukan alamiah, bukan pula takdir kita. Seluruh petaka yang disebabkan oleh musuh rakyat dapat dihentikan dan diubah. Pemuda-mahasiswa harus terus berjuang bersama rakyat, ubah keadaan untuk kemenangan sejati !


Kawan – kawanku yang Cinta Perubahan,
Front Mahasiswa Nasional yang telah menginjak usia 17 tahun tentu sudah melalui perjuangan panjang untuk menjadi semakin besar dan maju dalam membangkitkan, mengorganisasikan dan menggerakan massa mahasiswa. Tugas sejarah FMN sebagai alat perjuangan mahasiswa untuk menjadi tenaga pendukung yang aktif dalam perjuangan massa rakyat tertindas di Indonesia belum usai. Ribuan anggota dari ratusan kampus yang telah kita organisasikan adalah capaian yang harus ditingkatkan. Sementara pengalaman praktik dan teori maju yang kita pelajari harus mampu dijadikan pembelajaran memperbaiki seluruh kelemahan.
Seluruh Pimpinan dan Anggota FMN harus mengubah dan meninggalkan cara kerja yang keliru, penyebab lahirnya berbagai problem dalam tubuh organisasi. FMN harus kembali pada prinsip kerja massa yang telah ditetapkan oleh organisasi, prinsip yang selama ini terus berupaya untuk ditegakan namun masih belum dipahami dan dijalankan secara konsekuen oleh seluruh tingkatan organisasi. Hal ini yang menyebabkan FMN kerap mengalami kesulitan dan terhambat dalam mengembangkan organisasi secara cepat meluas dan besar.
FMN harus kembali giat dan tanpa lelah melakukan pembelajaran, memahami keadaan objektif rakyat dan lingkungan di mana kita melakukan kerja organisasi. Menghubungkan temuan-temuan objektif dengan analisa yang tepat sehingga mampu menghasilkan pengetahuan yang sistematis, tidak sepotong, dan tidak menyesatkan. Buang jauh – jauh subjektivisme dalam mejalankan kerja organisasi. Tidak ada istilah “jalanin yang gampang saja”, “yang penting jalan”, apalagi anggapan bahwa pemikiran kita yang paling benar tanpa melakukan investigasi yang sistematis dan mendalam.
Bekerja dengan dipandu melalui program, target, sasaran dan berbasis pada pengetahuan objektif adalah syarat pertama seluruh kerja politik dan organisasi kita dapat tepat diterima oleh massa. Kita harus memiliki visi membangun organisasi yang besar di seluruh kampus, khususnya di Universitas/Institut besar dan strategis yang sudah ditetapkan bersama. Kampus besar dan strategis adalah tembok kebudayaan yang dibangun oleh klas penguasa untuk menopang tindasan dan penghisapan yang mereka jalankan. Oleh karena itu, FMN harus mampu bertarung di tempat-tempat tersebut, merebut keberpihakan massa dan membangun kekuatan untuk meruntuhkan tembok milik imperialis, tuan tanah, dan rezim anti rakyat. Menggantinya menjadi laboratorium ilmiah dan mengabdi pada rakyat.
FMN harus menjadikan kampus mampu melahirkan sarjana, insinyur, professor, guru, dokter, wartawan, sastrawan, seniman, dan ahli dalam berbagai ilmu dari rakyat. Lulusan perguruan tinggi harus memiliki semangat untuk pengabdian pada rakyat, mengubah keadaan, dan memajukan peradaban.  Tidak lagi membedakan dan memisahkan antara pengetahuan teori dengan praktek, kerja otak dan kerja fisik, sehingga paripurnalah pengetahuan intelektual yang demikian itu. Seluruh intelektual yang tidak kenal lelah untuk mengabdi pada rakyat-lah yang sejatinya mendapat penghargaan atas capaian dan ilmu pengetahuan yang mereka miliki.
Hanya intelektual yang mengabdikan diri, pengetahuan dan tenaganya bagi rakyat yang mampu mendorong perjuangan reforma agraria sejati dan pembangunan industri nasional di Indonesia. Maka, kerja keras FMN untuk membangkitkan, mengorganisasikan, mengorganisasikan, mengorganisasikan, dan menggerakan massa mahasiswa harus terus ditingkatkan. Gelombang pasang kemenangan sejati rakyat akan kita ciptakan bersama, jayalah perjuangan demokratis nasional !
FMN dalam kesempatan ini juga menyampaikan dengan penuh kerendahan hati kepada seluruh pemuda mahasiswa Indonesia, kami mengajak seluruh mahasiswa untuk bergabung menjadi anggota FMN. Mari kita belajar, berorganisasi dan berjuang bersama rakyat!
Kawan-kawan sekalian, demikian pidato singkat ini saya sampaikan. Sekali lagi, saya haturkan rasa bangga kepada seluruh pimpinan dan anggota FMN. Selamat Hari Lahir ke-17 tahun bagi organisasi kita.

Majulah Perjuangan Massa, Majulah Perjuangan FMN !

Panjang Umur Front Mahasiswa Nasional !

Jayalah Front Mahasiswa Nasional !

Hidup Mahasiswa !

Jakarta, 18 Mei 2020

Hormat Kami,

PIMPINAN PUSAT

FRONT MAHASISWA NASIONAL



Symphati Dimas Rafi'i
Ketua Umum

Share this article :

0 komentar:

 
Support : PP FMN | wisata jogja | SPOER
Copyright © 2011. Front Mahasiswa Nasional - All Rights Reserved
Thanks to: Mas Kolis
Proudly powered by Blogger